Postingan

Menampilkan postingan dengan label esai

Buletin Selebaran Edisi Ramadan 2026

Gambar
Salam Redaksi Setiap Ramadan selalu membawa cerita yang hampir serupa: pasar takjil yang ramai, jadwal buka bersama yang padat, hingga waktu-waktu siang yang terasa lebih lambat dari biasanya. Di balik suasana tersebut, Ramadan sejatinya menghadirkan ruang untuk belajar menahan diri dan memahami makna kesederhanaan. Buletin Selebaran edisi Ramadan 2026 ini mencoba menyoroti beberapa fenomena yang sering hadir dalam keseharian kita selama bulan puasa. Dari kebiasaan berburu hidangan berbuka hingga cara kita memaknai waktu ketika berpuasa. Semoga edisi ini dapat menjadi bacaan ringan yang menemani perjalanan Ramadan kita, sekaligus menghadirkan ruang refleksi kecil di tengah rutinitas yang dijalani. Selamat menunaikan ibadah puasa dan selamat membaca!  Baca Buletin Selebaran Edisi Ramadan 2026

Esai: Apa-Apa Madura: Menengok Stigma dan Kegagalan Negara dalam Menyejahterakan Rakyatnya

Gambar
Sumber foto: kompas.com Akhir-akhir ini, saya sering merasa lelah setiap kali membuka media sosial. Polanya hampir selalu sama. Setiap ada kabar kehilangan, keributan kecil, atau parkir liar yang dianggap mengganggu, arah tudingan cepat sekali mengerucut pada satu nama: Madura. Situasi ini kian memanas setelah muncul kabar pengusiran yang disebut-sebut melibatkan organisasi masyarakat yang anggotanya orang-orang Madura. Dari rangkaian peristiwa itu, muncul satu pertanyaan yang sebenarnya jauh lebih penting daripada sekadar saling menyalahkan: mengapa orang Madura bisa ada di sini, dan jumlahnya tidak sedikit? Bagi orang Madura, merantau bukan cerita sok keren tentang menaklukkan kota besar. Jauh dari itu, merantau lebih mirip strategi bertahan hidup. Ada falsafah lama yang melekat kuat dalam ingatan kolektif mereka: abhantal omba’, asapo’ angin —berbantal ombak, berselimut angin. Ungkapan ini bukan sekadar puisi, tapi gambaran nyata tentang hidup yang keras, penuh ketidakpa...

Esai: Menilik Aksi Demo Warga Israel, Berharap Perang Segera Usai

Gambar
Sumber foto: Pinterest/@USnewsper War is never a solution, it is an aggravation. -Benjamin Disraeli- Aksi demonstrasi yang dilakukan masyarakat Israel belakangan ini nampaknya menjadi arah baru bagi dinamika konflik Palestina dan Israel. Sayangnya, gelombang aksi tersebut belum mampu menggoyahkan sikap Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu. Terbukti dari aksi unjuk rasa masyarakat Israel pada 17 Agustus kemarin, Benjamin justru melontarkan pembelaan yang berseberangan dengan aspirasi massa. Ia beranggapan aksi tersebut justru akan menguntungkan Hamas dan menghalangi kemenangan perang. Mendengar argumen tersebut, saya meyakini bahwa Benjamin tidak pernah turun langsung ke medan perang dan melihat langsung efek yang mereka hasilkan dari ambisi ini. Berbeda dengan pemerintahnya, sebagian masyarakat Israel kini mulai mendapatkan “pencerahan” bahwa perang tidak pernah menghasilkan apa pun selain sebagai wadah tumbal nyawa. Mereka merasa arah peperangan semakin lama semakin...

Esai: Males Mikir? Tenang, AI Solusinya

Gambar
Selamat datang di dunia serba cepat. Makan tinggal klik pesan, bikin tulisan tinggal copas . Tugas kuliah? sat, set, tinggal ketik: “Tolong bikinin saya makalah 1000 kata lengkap dengan daftar pustaka.” Dalam hitungan detik, jadi deh. Hebat, kan? Mahasiswa jadi semakin pintar. Pintar menyuruh mesin berpikir. Tapi anehnya, di tengah segalanya yang makin canggih, hoaks masih saja laku keras. Bahkan yang dikemas rapi sekalipun, bahasanya formal, narasinya mengalir, ada data—eh, ternyata informasi bodong. Lucunya, banyak yang percaya. Mungkin karena tampilannya mirip jurnal ilmiah, atau karena sumbernya kelihatan meyakinkan. Pokoknya, kalau tampilannya profesional, berarti isinya benar. Belum lagi tren FOMO ( Fear of Missing Out ), alias ketakutan akan ketertinggalan. Tiap ada isu viral, langsung nimbrung. Lihat sumber sih nanti aja, yang penting update dulu. Jangan sampai ketinggalan biar bisa ngomong: “Aku sih, udah baca kasusnya dari kemarin.” Walau aslinya yang dibaca cum...

Esai: Siap Bergabung dengan Kru Topi Jerami?

Gambar
Peringatan kemerdekaan Indonesia kali ini sedikit berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Selain bendera merah putih yang berkibar, terlihat bendera dengan logo tengkorak khas bajak laut dan memakai topi jerami. Para Nakama (pecinta anime One Piece ) pasti sudah tahu arti dari bendera tersebut. Itu merupakan bendera bajak laut dalam anime One Piece , tepatnya bendera kelompok Luffy, si topi jerami. Lalu, apa maksud dari aksi pengibaran bendera bajak laut ini? Apalagi kalau bukan bentuk protes atas serupanya pemerintahan Indonesia dengan pemerintahan di dunia One Piece yang Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN). Ini kata netizen loh ya... Kondisi seperti ini, mirip dalam serial anime One Piece , di mana siapa pun yang berani bersuara atau sebagai oposisi, maka akan dianggap pembangkang, dan dikriminalisasi. Menariknya, wakil DPR kita, Sufmi Dasco Ahmad mengomentari jika pemasangan bendera One Piece saat Agustus-an adalah upaya pemecah belah bangsa. Hal ini mirip dengan s...

Esai: Menyambut Mahasiswa Baru

Gambar
Berhentilah bilang kebohongan tentang aku, dan aku akan berhenti bilang kebenaran tentang dirimu. (Gordon Gekko kepada Bretton James dalam film Wall Street: Money Never Sleep ) Kurang dari satu bulan penutupan pendaftaran LPM-SM 2025, sebuah akun Tiktok mengirim komentar tentang salah satu persyaratan yang kami buat. Katanya, kuliah adalah ruang belajar sehingga tidak masuk akal bila mencantumkan syarat tidak bebal sebagai kategori pendaftaran, sebab mahasiswa harus bisa berpikir kritis dan mempertanyakan semua hal. Tulisan ini tidak akan menjabarkan alasan di baliknya, sebab akan terlalu panjang. Akan tetapi yang pasti, kami memiliki sebuah alasan. Tentu saja, kami tidak menutup kemungkinan bahwa akan ada banyak kontra untuk organisasi kami, karena memang kami masih terus berusaha memperbaiki diri. Bahkan tak jarang juga mereka merasa kontra disebabkan berita-berita yang kami tulis seringkali menyoroti kelemahan kampus. Sejujurnya, kami bukanlah musuh kampus, cara kami p...

Esai: Pancasila dan Sejarah yang Lagi Makeover

Gambar
Kemarin, kita baru saja merayakan Hari Lahir Pancasila. Hari yang katanya diperingati sebagai momentum untuk menyatukan bangsa. Tapi, di tengah perayaan ini, kita justru sedang sibuk membentuk ulang masa lalu. Ya, pemerintah kita saat ini lagi gencar-gencarnya menyusun sejarah resmi versi terbaru. Katanya sih demi membentuk sejarah dengan orientasi kebangsaan. So sweet , ya? Mirip brosur properti, padahal isinya renovasi total. Alih-alih jujur dan menyeluruh, revisi sejarah ini lebih mirip proses whitewashing . Luka-luka masa lalu yang belum sembuh, bukannya dirawat, malah ditutupin. Dibalur cat putih, dibungkus pita merah putih. Supaya apa? Supaya nggak terlalu keliatan negative vibes , biar cocok jadi bahan bacaan anak muda yang suka scroll-scroll sambil ngopi . Tempo, salah satu media yang masih waras di tengah euforia nasionalisme estetika, membongkar isi draf proyek sejarah ini. Mereka menemukan sejumlah lubang besar yang bikin pembaca—kalau masih punya ingatan sejar...

Esai: Setiap May Day Demo Terus, Hasilnya Apa?

Gambar
Seperti namanya, May Day! Kerap diperingati dengan aksi demonstrasi yang menyuarakan hak-hak buruh. Setiap tanggal 1 Mei, para buruh di seluruh dunia, termasuk Indonesia akan turun ke jalan, dengan membentangkan spanduk, baliho, dan pengeras suara. Berharap, pejabat hingga atasan mereka mengerti tentang apa yang dirasakan oleh para buruh ini. Sejarah May Day memang tak pernah bisa dilupakan, mulai dari gerakan buruh Amerika yang menuntut hak 8 jam kerja, di saat pada waktu itu, normalnya jam kerja buruh adalah 10-16 jam sehari. Tentunya perjuangan ini tidak gratis, karena ratusan orang tertangkap, dan setidaknya 4 orang dihukum mati pada demonstrasi itu, karena diduga telah melakukan pengeboman terhadap warga sipil dan juga polisi. Meskipun begitu, hingga kini dalang pengeboman tersebut tidak pernah terbukti. May Day, harusnya tidak hanya sebagai pengingat bagi kita para pejuang kelas yang pada akhirnya memenangkan perlawanan buruh proletariat melawan kaum borjuis kapitalis...

Esai: Revolusi Industri di Depan Mata! Kita Siap Gak, Nih?

Mungkin euforia film animasi Jumbo sudah tidak semeledak minggu-minggu lalu, saat masih hangat-hangatnya animasi ini diputar di bioskop seluruh Indonesia. Kini kebanyakan orang Indonesia sudah mulai membicarakan film garapan Joko Anwar yang berjudul "Pengepungan di Bukit Duri." Walau begitu, masih belum terlambat rasanya ketika saya ingin membahas tentang film Jumbo ini. Tentu, kita patut berbangga diri. Karena untuk pertama kalinya, dunia film animasi Indonesia mendapatkan atensi dan dukungan sebesar ini. Bahkan, sampai-sampai Mas Wapres Gibran mengajak anak-anak yatim untuk nobar di bioskop. Sungguh mulia Mas Wapres kita, siapa coba yang tak terharu dengan kebaikannya? Tetapi, di sini saya hadir bukan untuk menjadi influencer yang sedang membenarkan atau nyinyirin tindakan beliau. Saya hanya merasa kurang pas saja. Mas Gibran mungkin saat melakukan tindakan populis semacam itu ingin mengajak masyarakat untuk menonton film animasi terbaik karya anak bangsa, dan untuk ta...