Feature: Supyan dan Realita Pahit Bertani di Tengah Ancaman Hama dan Tengkulak
WKUTM — Pagi baru saja menyapa, sinar matahari mulai mengintip dari ufuk timur, menerangi hamparan padi yang tampak bak tumpukan emas berkilauan di tengah ladang. Padi-padi itu bergoyang lembut tertiup angin, seolah mengisyaratkan waktu panen telah tiba. Sejumlah petani berbaris rapi, di antaranya seorang pria tua yang masih tampak gagah meski kulitnya keriput dan coklat, tanda kerasnya hidup sebagai petani. Dengan cangkul di pundak, mereka berjalan menuju ladang, siap mencabut padi dan mengolah hasil panen. Di bawah terik matahari pagi, mereka dengan sabar memetik padi, memukulnya hingga biji-biji padi berhamburan, kemudian mengumpulkannya ke dalam goni yang akan diangkut ke mobil pengangkut untuk dikeringkan. Teras rumah mulai dipenuhi tumpukan padi yang dijemur, menunggu proses pengeringan alami. Petani tua itu bernama Supyan, pria berusia 59 tahun yang masih tekun mengelola sawah di desa Windurejo. “Sejak kecil, saya sudah terbiasa bekerja di sawah, sejak SMP,” ungkap Supyan saat ...