Reformasi Dimulai dari Dalam Kampus
“Buruh tani, mahasiswa, rakyat miskin kota, bersatu padu rebut demokrasi” Sejak hari pertama masa orientasi mahasiswa, potongan lirik lagu itu telah ratusan kali kudengar. Masih kuingat amarah para panitia yang mengepalkan tangan saat mengawal nyanyian. Mereka berulang kali berupaya menanamkan ide sebagai agen perubahan dalam melawan ketimpangan maupun tirani. Namun, dua tahun berlalu aku mulai ragu, mereka tak benar-benar melawan; mereka justru lebih tampak mereplikasi tirani yang ditunjukkan pemerintah. Di berbagai forum, kutemui kawan-kawan mendiskusikan kebobrokan proses politik di negeri ini. Mereka tahu pemerintahan kini dibangun dari pondasi nepotisme, jegal-jegalan, hingga jualan program populis. Tentunya, mereka juga paham betul kalau cara-cara yang digunakan tersebut sangatlah biadab, terutama di negara demokrasi. Sayangnya, seringkali hal ini juga diterapkan di kampus oleh mereka sendiri yang bermain peran sebagai pemerintah. Saat pemilihan umum (pemilu) mahasisw...