Postingan

Menampilkan postingan dengan label Esai

Reformasi Dimulai dari Dalam Kampus

Gambar
“Buruh tani, mahasiswa, rakyat miskin kota, bersatu padu rebut demokrasi” Sejak hari pertama masa orientasi mahasiswa, potongan lirik lagu itu telah ratusan kali kudengar. Masih kuingat amarah para panitia yang mengepalkan tangan saat mengawal nyanyian. Mereka berulang kali berupaya menanamkan ide sebagai agen perubahan dalam melawan ketimpangan maupun tirani. Namun, dua tahun berlalu aku mulai ragu, mereka tak benar-benar melawan; mereka justru lebih tampak mereplikasi tirani yang ditunjukkan pemerintah. Di berbagai forum, kutemui kawan-kawan mendiskusikan kebobrokan proses politik di negeri ini. Mereka tahu pemerintahan kini dibangun dari pondasi nepotisme, jegal-jegalan, hingga jualan program populis. Tentunya, mereka juga paham betul kalau cara-cara yang digunakan tersebut sangatlah biadab, terutama di negara demokrasi. Sayangnya, seringkali hal ini juga diterapkan di kampus oleh mereka sendiri yang bermain peran sebagai pemerintah. Saat pemilihan umum (pemilu) mahasisw...

Buletin Selebaran Edisi Hari Kebangkitan Nasional 2026

Gambar
Salam Redaksi Setiap tanggal 20 Mei, kita kembali dipertemukan dengan peringatan Hari Kebangkitan Nasional. Sebuah momen yang sering kali hadir lewat slogan-slogan penuh semangat, ucapan seremonial, hingga unggahan media sosial yang silih berganti memenuhi linimasa. Namun di tengah semua itu, muncul satu pertanyaan sederhana: masihkah kebangkitan dimaknai lebih dari sekadar peringatan tahunan? Generasi muda kerap disebut sebagai agent of change . Sebuah julukan yang terdengar gagah, tetapi perlahan terasa semakin berat ketika dihadapkan pada realitas hari ini. Di tengah arus informasi yang begitu cepat, krisis kepedulian sosial, hingga budaya ikut-ikutan tanpa banyak mempertanyakan, kebangkitan tidak lagi cukup dimaknai sebagai semangat yang dihafalkan dalam pidato. Ia perlu hadir dalam keberanian untuk berpikir kritis, bersuara, dan tetap peduli pada sekitar. Buletin Selebaran edisi Hari Kebangkitan Nasional 2026 ini mencoba menghadirkan ruang refleksi kecil tentang bagaim...

Esai: Mengapa Seni dan Sastra Diburu Saat Pengarangnya Mati atau Hidup Menderita?

Gambar
Tahun 1888, Vincent van Gogh memotong telinga kirinya dengan pisau cukur. Ia sedang mengalami depresi parah hingga kondisi psikologisnya terganggu. Semasa hidup, ia telah menghasilkan lebih dari 2.100 karya seni. Namun, pengakuan atas karyanya justru baru datang setelah beberapa dekade setelah kematiannya.  Kisah penderitaan lain juga dialami oleh Franz Kafka. Pada tahun 1912, Kafka hampir mengakhiri hidup karena ayahnya menentang pilihannya menjadi penulis dan memaksanya untuk bekerja di pabrik, layaknya pemuda lain seusianya. Akibat pertentangan itu, Kafka mengalami pergelutan batin hingga menimbulkan kecemasan, depresi berat, dan penyakit tuberkulosis di usia muda. Tetapi mari kita lihat sekarang, mereka telah menjadi legenda. Karya-karyanya disukai oleh jutaan orang, bahkan diperebutkan. Akan tetapi, benarkah kita mengagumi mereka murni karena karyanya? Ataukah justru karena narasi tragis yang melekat pada diri sang seniman? Bagaimana jika sebenarnya kita sedang ter...

Esai: Apakah Kenaikan UMR Ilusi saja, jika Harga Pasar Ikut Bertambah?

Gambar
Sumber Foto: Pinterest/Webnus Supri semringah ketika menerima upah kerjanya lantaran mendapat kenaikan. Supri pun bergegas belanja ke toko kesayangan untuk memenuhi kebutuhan pokok bulanannya. Sesampainya di sana, harga barang yang perlu dibeli semakin mahal. Meskipun Upah Minimum Regional (UMR) meningkat, Supri sadar satu hal bahwa harga barang untuk kebutuhan sehari-hari juga ikut meningkat.  Ada satu konsep ekonomi yang dapat menjelaskan ini, yakni saat perusahaan memutuskan menaikkan upah, maka biaya produksi ikut naik, maka harga barang pun meningkat. Hal ini bisa memicu lahirnya inflasi, pekerja kembali menuntut kenaikan upah hingga polanya kembali terulang sampai menjadi spiral. Lingkaran inilah yang disebut sebagai konsep spiral upah-harga ( wage–price spira l). Kenaikan UMR bisa menjadi ilusi untuk menutupi inflasi yang sedang terjadi.  Inflasi pada realitanya memang terjadi di berbagai negara. Namun, dalam hal ini, sebagai pengontrol, pemerintah tampak og...