Postingan

Menampilkan postingan dengan label PUISI

Puisi: Negeri Tanpa Bunyi

Gambar
Dalam negeri tanpa bunyi, pohon-pohon tak lagi berbisik angin tak lagi berhembus layaknya melodi hewan-hewan tak lagi terbang maupun lari Dalam negeri tanpa bunyi, para penghuni berjejer rapi bukan sebab patuh dan segan hati apalagi keinginan diri Dalam negeri tanpa bunyi, anak-anak dilatih patuh atas alibi dedikasi buku-buku dibikin untuk keperluan pribadi sedangkan pengetahuan dipilah dan dipilih Apa yang kau pikirkan hari ini, wahai para penghuni? pesta malam atau mimpi panjang kenikmatan atau kesunyian kepuasan atau justru kehampaan mana yang kau rasakan? N.A

Muda Membara

Gambar
Muda Membara. Pict: Mbrk Jika terus dibungkam bagaimana bisa meredam Jiwa muda berapi-api Jiwa muda ingin berlari   Rebut merebut Kuasa menguasai Mencari celah salah Demi kekuasaan, demi sebuah nama, demi sebuah citra   Gugurkan saja Hilangkan saja, biar semua berjalan apa adanya Apa guna banyak bicara, dalam akhir bersembunyi dalam kabinet kuasa   Muda yang membara Kuasa membawa bangga Redam saja redam Gejolak ambisi tiada henti   Memamerkan segala yang dipunya Kuasa tak perlu banyak bicara Apa guna banyak berlaga kalau tak mendengar para sesama   Muda, muda, muda   Mutmainah Qolbi Mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Islam Malang Biasa menulis di https://mutmainahqolbi.blogspot.com 

Republik yang "Bagaimana"

Gambar
  Republik yang "Bagaimana". Pict : Rich Manusia yang terpendam jalan Temannya ilalang dan belalang Api terkurung kaca menemani kulit tiap malam   Pada pagi, disampaikan kepada alam Ibu-ibu meniup bulir-bulir padi Bapak-bapak memegang perut buncit duduk di kursi Anak-anak meniup kapas melayang di udara   Pada siang, disampaikan kepada hamba-hamba Jari-jari manis berjanji meneteskan uang Kata perkata telah terangkai pada tiap-tiap batang pohon Kata hikayat, ini sebuah tanda Tak ada kaki yang mau menepi Semakin tertawa tak merasa Hahahahaha Kata penciptanya,   Pada sore, suara iqomah terdengar oleh hati yang tak mati Membuka hati dan rindu akan senja Mungkin deskripsi orang desa Suara merdu dari mereka untuk gedung di sana Harus terperangkam di dalam tanah Termakan oleh cacing-cacing Membusuk dengan sendirinya   Pada malam, tertulis pesan Topi toga masih hanya bersama kopi yang panas Hingga, Kusimpulkan, ...

Melihatmu dengan Rambut Tergerai

melihatmu dengan rambut tergerai melihatmu dengan rambut tergerai adalah angin musim semi di kota mati : harum dan basah seolah meminta hujan dalam kepala yang tak habis kubayangkan menyentuh pelupuk mata kita berdua meihatmu dengan rambut tergerai adalah kepedihan yang kurang ajar seperti janji yang ditagih sopir angkot di kota yang penuh bibir dan ludah melihatmu dengan rambut tergerai selalu membuat aku jauh berkhayal tentang dua anak yang tidak cukup dan segudang teka-teki di malam pertama tentang kau dan negeri yang bau kencur juga utopia serta lelahnya hidup di kota melihatmu dengan rambut tergerai rasanya, aku mau tidur saja: bergelayut di hitam rambut itu, sedamai apakah rasanya? perdebatan kecil kala hujan dik, ada pualam menggantung pada bisik gerus mengintip celah awan. tahulah kamu, itu matahari yang tabah, terpejam kulai dan purba. matahari yang menjadi saksi yang menjilat tanah kapur, tempat ayah kecil dan tumbuh mengurap sawah-sawah lalu...

Puisi-Puisi Idatus Sholihah

Gambar
Sebelum Habis Penghujan Setelah gemericik dan basah Lagu-lagu selesai dinyanyikan Adakah penjagaan? Bising jalan, genang sepanjang lima mil : Bagi Adya Adalah nelangsa yang menggema Di lorong-lorong pengap dan gelap Kenapa masih ada sisa kemurungan? Saat nama-nama lain diam dalam pejam peluk hangat Teriring kisah sebelum lelap Siapa yang akan lekas datang? Menjemput luka Lalu mengekangnya 2020 Di Jalan Soekarno-Hatta Setelah perlintasan bus kota Di jadwal terakhir Kukenangkan kau Pada dinding-dinding selatan terminal : Lukisnya kau cipta Sebuah mula abjad 'A' Nyala warna memantul Pada gelap batin Sepasang pohon mangga Dinaunginya sepuluh jengkal kursi Yang menjaga kita tetap terjaga Bising malam Yang kita heningkan Dengan percakapan-percakapan Juga pertanyaan yang didiamkan Siapa yang akan menunggu lebih dulu? 2020 Jakarta * Ketika garis-garis waktu melintas dalam benak k...

Kita: Fragmen yang Belum Terurai

Gambar
bulan di matamu temaram kabut berkelindan dalam tubuhmu senyum di muka pasi yang memaksakan kerlingan itu dan meredup di ujung malam pejam matamu 2019 kematian rindu rindu lahir bersama pusar sesak di tiap waktu kupikir tentangmu dan detak yang bermula hidup napas terengah meng i kutimu di usia belum genap satu ternyata bukan aku yang akan mati, kata izrail melainkan rindu yang meratap jauh terkubur lara batin kamboja menyebar peziarah berjalan beriring 2019 antara kepulangan apa yang mempertemukan kita? adalah kesatuan gelak tawa yang menjadi ciut oleh jarak dan nyanyian sepasang angsa mencipta nada lalu tetiba jadi sunyi diredam waktu yang menirus mengapa jadi kau lipat waktu? bukankah waktu masih setengah hari lagi? tutur katamu kosong dan tanganku kau seret menuju lorong pada rumah yang lampunya padam hanya matamu merah menyala tetiba hujan jatuh begitu saja 20...

Hati dan Keteguhan

Gambar
Semua bentangan rasa yang terkumpul didalam raga Segala macam hasrat yang inginkan tatap dan berjumpa Melebur menyatu dalam suasana Keheningan yang tak mampu diterka Kepada sunyi yang kiranya mulai membenci Atas tiap-tiap curahan hati seorang penyendiri Juga perindu yang masih berseteru, sedang menangisi Keadaan-keadaan pengusik hati Kepada waktu yang memilih tuk beranjak pergi Menyisakan jarak tanpa diawali sebuah kata permisi Lalu merenggangkan pertemuan yang mungkin berarti Pertemuan antara keteguhan dan kerinduan dua hati Aku menjelma menjadi sajak-sajak Tempat romantika kata berjejer dan berpijak Aku menjadi rangkaian huruf-huruf Yang menari pasrah membuat kumpulan jejak Namun, Atas hati yang coba saling mengukuhkan diri Masih kuatkah kita menahan rasa ini? Mohammad Jumhari, Mahasiswa Program Studi Ilmu Hukum UTM

Telatah

Gambar
Telatah Sementara kurang beberapa waktu Tengah malam sudah di depan pintu, Rapat sisir tanduk membuat jalan di rambutmu, Diam-diam ada yang menjadi cerminmu. Dia tak dipaku dinding Atau siaga di wastafel kamar mandi, Gigih menantimu memasang tali Bra atau melepas kaos kaki. Rekam warna-warna pagi bibirmu Dan nyeri di sekujur rasa malumu, Sementara kurang beberapa waktu Diam-diam ada yang menjadi aku. Kebuli Ialah kebuli yang menambatkan kampung halaman di lidah.  Masa k anak datang mengunyah,  angin menggenggam panjang benang layang bapak  dan aku memaku di talang sawah. Perdu dan ilalang,  aroma bambu belakang rumah minta dihirup ulang.  Ibu menjahit pesanan baju,  mesin berbunyi di alun tua kaki kiri kanan. Burung-burung membuat sarang di dahan rendah.  Aku suka memanjat pohon yang ditanam ibu.  Bapak pulang mengaduk semen,  kakak menangisi hidupnya sebagai gadis desa. Kebul...

Malam Burung Yang Terbangun

Gambar
Batas Tapi cinta begitu terbatas S eperti antara atas dan bawah, barat dan timur, kamu dan aku Kamu batas yang aku buat tentang jarak, bahwa ujung rindu ini tak memiliki pangkal, dan itu batasku memikirkanmu Semua hanya penghubung indera-inderaku. Kau yang bersuara sampai tak kudengar, kau yang kupandang sampai tak terlihat, kau yang kusentuh sampai tak bisa kuraba Kau yang indah dalam puisi, hanya terbatas pada setiap larik ini Maafkan aku. Batas membatasiku dari batasku mengenangmu. Bahkan itu juga terbatas Probolinggo, 2018 Percakapan Singkat Telepon menelungkupkan sendiri gagangnya. Membahasakan kecewa mendalam puannya. Entah di ujung sana. Rindu menggema, menggetarkan kaca-kaca jendela. Tengah malam lewat! Sedang di luar kenapa masih hujan. Padahal di dalam kamarnya sudah kuyup duluan Probolinggo, 2018 Termometer Cintaku dapat diukur dengan termometer, sayang. Sesederhana itu Ketika suhu kotaku dingin. Cintaku sedang hangat-hangatnya ...

Kelam

Gambar
Tukang Becak Di pagi buta, tepatnya di gardu ia membuka bungkusan itu. Dengan tatapan dingin, bungkusan itu seperti menawarkan obat letih, lusuh dan gundah. "Aku mau makan" katanya sembari melemparkan jaket dan topi yang lusuh dan basah. Sedang putrinya bergembira memencet telepon. Ketawa sendiri, senyum bahkan mengacuhkan keletihan ayahnya.  "Nak, tolong jaga becak ini sebentar. Ayah mau ngarit di ladang. Sebab beberapa hari, ada informasi seseorang kehilangan telepon dan becak." Lelaki itu sadar, waktu terus berjalan. Ia segera lari ke ladang  Memotong-motong rumput panjang.  Sebab hewan ternak, memanggil-manggil di kandang. Sedangkan putrinya masih juga senyum sendirian, memainkan telepon di pegang. "Kok belum datang juga ya." Kemudian,  lelaki itu lepas tinggal ladangnya,  ia pikul karung isinya rumput.  Lalu, ia mengajak putrinya pulang.  "Nak, bapak sudah selesai, mari pulang." Putri itu tidak ...

Mengubur Sepi

Gambar
Tak Ada Gunanya Mataku memandang dalam kaca menyaksikan diri menghitung batu kerikil yang jujur, tak ada gunanya. Sesekali kuteriak pada diri sendiri. Memang, aku seperti tak ada guna ! Siapa Yang Mau Sepi? Bilamana aku masih terlelap di umur yang 25. Sedang bangun-bangun disampingku hanya ada kucing. Dan lampu kamar meredup seperti kehabisan tenaga. Juga jendela enggan menyambut, apalagi kekasih, apalagi kekasih. Di depan kaca aku hanya ingin menari. Seperti pucuk kembang jambu di dekat bagasi. Aku tawarkan, siapa yang mau sepi. S i apa yang mau sepi? Mari kesini, kuajari ciptakan sepi yang baik Orang Jauh Aku tak ingin seperti ini. Ketika orang jauh bahkan yang sangat jauh menyakiti kita, menyakiti diri ini dari kejauhan. Seperti sebuah pistol menangkap dan mengancam mata-mata burung, padahal ia sedang ingin sekali bahagia dengan mematuk-matuk kepala kekasihnya. * Padahal aku selalu percaya, kita hidup ada di pohon paling te...