Postingan

Menampilkan postingan dengan label Madura

Opini: Vokasi atau Akademik? Membaca Arah Pendidikan di Madura

Gambar
Perdebatan tentang kampus vokasi versus kampus akademik sering kali berhenti pada dikotomi yang terlalu sederhana: yang satu dianggap “siap kerja”, sedangkan yang lain “terlalu teoritis”. Namun jika melihat realitas di lapangan—terutama di daerah seperti Madura—pertanyaan ini tidak lagi sekadar soal mana yang lebih baik, melainkan mana yang benar-benar relevan dengan struktur ekonomi yang ada. Data nasional justru menunjukkan ironi yang tidak bisa diabaikan. Lulusan yang dipersiapkan untuk langsung bekerja, seperti SMK, justru menyumbang tingkat pengangguran tertinggi. Badan Pusat Statistik mencatat bahwa tingkat pengangguran lulusan SMK berada di kisaran tertinggi dibanding jenjang lain, bahkan mencapai sekitar 8 persen dalam beberapa tahun terakhir. Ini menjadi paradoks: pendidikan berbasis keterampilan tidak otomatis menjamin terserapnya tenaga kerja. Di sisi lain, kampus akademik juga tidak lepas dari persoalan serupa. Sekitar 13,33% lulusan perguruan tinggi masih menga...

Esai: Apa-Apa Madura: Menengok Stigma dan Kegagalan Negara dalam Menyejahterakan Rakyatnya

Gambar
Sumber foto: kompas.com Akhir-akhir ini, saya sering merasa lelah setiap kali membuka media sosial. Polanya hampir selalu sama. Setiap ada kabar kehilangan, keributan kecil, atau parkir liar yang dianggap mengganggu, arah tudingan cepat sekali mengerucut pada satu nama: Madura. Situasi ini kian memanas setelah muncul kabar pengusiran yang disebut-sebut melibatkan organisasi masyarakat yang anggotanya orang-orang Madura. Dari rangkaian peristiwa itu, muncul satu pertanyaan yang sebenarnya jauh lebih penting daripada sekadar saling menyalahkan: mengapa orang Madura bisa ada di sini, dan jumlahnya tidak sedikit? Bagi orang Madura, merantau bukan cerita sok keren tentang menaklukkan kota besar. Jauh dari itu, merantau lebih mirip strategi bertahan hidup. Ada falsafah lama yang melekat kuat dalam ingatan kolektif mereka: abhantal omba’, asapo’ angin —berbantal ombak, berselimut angin. Ungkapan ini bukan sekadar puisi, tapi gambaran nyata tentang hidup yang keras, penuh ketidakpa...

Cara Polres Bangkalan Mengusut Kasus Curanmor

Gambar
WKUTM – Maraknya pencurian motor (curanmor) di desa Telang, Bangkalan, meresahkan mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura (UTM). Kepolisian Resor (Polres) Bangkalan, dikabarkan telah menerima laporan sebanyak 126 kasus curanmor di Bangkalan dalam kurun waktu tahun 2023 hingga 2024. Adapun upaya mengatasi curanmor, Polres Bangkalan telah melakukan patroli, pemasangan Closed-Circuit Television (CCTV) di beberapa titik sepanjang kampus UTM, dan penyelidikan. Namun, upaya tersebut belum dapat mengatasi maraknya curanmor di area kampus UTM. Menanggapi kasus tersebut, Kepala Seksi Hubungan Masyarakat (Kasihumas), Risna Wijayati mengungkapkan, pihak Polres dan Kepolisian Sektor (Polsek) Bangkalan mengalami kendala terkait keterbatasan jumlah personel kepolisian. Oleh karena itu pihaknya menilai perlu adanya kesadaran dari mahasiswa dan masyarakat agar saling menjaga harta berharga miliknya. ”Masyarakat Bangkalan sebanyak 1.101.556 jiwa, personil polisi 500 anggota. Jadi satu polis...