Postingan

Menampilkan postingan dengan label #buletinselebaran

BULETIN SELEBARAN EDISI III 2022

Gambar
Apa yang terjadi jika seseorang memiliki keyakinan yang begitu kuat pada suatu objek? dengan keyakinan tersebut seseorang dapat melakukan segala cara agar pandangannya dapat diterima oleh orang lain. Sikap berlebihan akan kepercayaan atau keyakinan yaitu disebut dengan fanatik. Fanatik tidak hanya keyakinan yang terlalu kuat akan sebuah pandangan, melainkan juga dapat pengabdian yang berlebihan akan suatu objek, yaitu salah satunya sikap fanatik terhadap daerah. Sikap fanatik terhadap daerah muncul dari suatu individu atau sekelompok orang yang merasa dan menganggap daerahnya yang paling sempurna. Mereka beranggapan daerah lain lebih rendah dibandingkan wilayah yang dihuninya saat ini. Ketika bertemu dengan orang yang berbeda wilayah dengannya, mereka beranggapan wilayahnya lebih unggul. Akan tetapi, faktanya hal tersebut merupakan pandangan subjektif orang yang fanatik. Unduh buletin selebaran selengkapnya  di sini

BULETIN SELEBARAN EDISI I/2022

Gambar
Orang beranggapan bahwa makna ikhlas ialah merelakan setiap hal yang pernah terjadi, dan tidak kecewa dengan apa pun hasil yang akan didapat. Namun bagi saya ikhlas tidak semudah seperti apa yang orang lain katakan, apalagi kenyataannya manusia masih memiliki sebuah harapan di setiap apa yang mereka lakukan. Dengan kata lain, manusia tidak mau rugi saat melakukan sesuatu. Contoh yang paling sederhana adalah manusia selalu memiliki sebuah harapan atas apa yang dilakukannya. Misal saat kecil kita dibumbui oleh suatu hal yang bersifat menakut-nakuti, kalau tidak mau belajar akan bodoh dan sebagainya. Justru dari sanalah pikiran anak akan terdogma bahwa suatu hal yang sederhana pun harus ada imbalannya. Seperti dengan belajar bersungguh-sungguh akan bisa menjadi seorang polisi. Padahal itu semua belum tentu akan menjadi kenyataan dan terkadang malah menimbulkan kekecewaan baru. Unduh buletin selebaran edisi I/2022 di sini

BULETIN SELEBARAN EDISI II/2021

Gambar
Aku bertanya kepada temanku apa arti rumah baginya. Ia menjawab, yang dinamakan rumah adalah ketika ada ibu di dalamnya. Bagaimana kamu tahu jika ibumu adalah rumahmu? Dia terdiam dan berfikir sesaat. “Aku tak tahu kenapa, tapi tanpa ibu semuanya terasa kosong”. Bersama ibunya ia merasa segalanya terasa tentram. Ada sosok yang menjadi tempat untuk mencurahkan isi hati juga memenuhi hatinya dengan cinta dan kasih sayang yang diberikan ibunya. Meja makan yang penuh dengan makanan untuk mengisi perut. Meskipun ayahnya juga pandai memasak dan membersihkan rumah, ia menjelaskan apa-apa saja yang dilakukan ibunya memiliki rasa tersendiri di hatinya. Jika temanku tadi memaknai rumah adalah ibunya lantas bagaimana dengan mereka yang tak memiliki ibu, apakah berarti mereka tak memiliki rumah. Selamat membaca! Baca selengkapnya di sini