Postingan

Menampilkan postingan dengan label Perempuan

Opini: Hari Kartini Bukan Sekadar Kebaya

Gambar
pinterest/@Ruairi Setiap 21 April, kebaya selalu menjadi simbolik. Namun, apakah itu yang sebenarnya Kartini perjuangkan? Kartini bukan hanya sekedar ikon fesyen. Ia adalah pemikir yang resah melihat kaumnya dikungkung adat, ditahan dalam sunyi, dan dijauhkan dari ilmu. Melalui surat-suratnya, Kartini berusaha menyuarakan keresahannya. Dia menentang struktur patriarki yang terjadi kala itu. Namun kini yang diwarisi justru citra kebaya, bukan gagasan revolusionernya. Seolah perlawanan cukup dirayakan dengan kain dan sanggul, tanpa refleksi dan aksi. Lantas, dari mana asal usul kebiasaan ini muncul? Keterkaitan kebaya dengan Hari Kartini sendiri mulai menguat pada era Orde Baru. Pemerintah saat itu menekankan simbol-simbol “perempuan ideal” versi negara: anggun, patuh, dan berbusana tradisional. Kartini seolah dipoles sebagai ibu rumah tangga yang manis, bukan pejuang emansipasi yang radikal. Maka kebaya pun dipopulerkan dalam peringatan Hari Kartini di sekolah dan instansi. ...