TUHAN, KAKEK DAN KETIDAKADILAN
“Tidak ya nak. Tidak. Kau tidak akan menjadi apa-apa. Kau hanya akan menjadi seorang perempuan pembuat bom yang pertama. Nanti kau bisa mengebom istana negara. Atau kau bisa mengebom Si Buya, atau para koruptor, atau raja-raja kecil di Bangkalan. Menarik itu…” Begitu doanya pagi itu kepada seorang cucu perempuannya yang masih kecil. Mata anak itu sangat indah, berkilau dengan cahaya kilatan pada korneanya. Dan aku bisa membayangkan, bila doa kekek itu benar, paling tidak aku akan menjumpai kilatan mata itu berasal dari ledakan bom yang dirakitnya. Api menjiat-jilat pada seisi gedung pemerintahan. Maka sekejap semuanya tuntas, lunas. Dan terbayarlah apa yang disebut sebagai dendam. Pada awalnya aku memang tak pernah menerima apa yang mereka sebut sebagai doa yang buruk. Tapi masalahnya, apa doa yang baik juga masih ada? Doa yang diusapkan di kepala seorang anak, yang dikatakan dengan penuh kasih sayang. Atau doa-doa yang disepuhkan menjelang sang anak merengek di pelukan kit...