Sebelum Habis Penghujan
Setelah
gemericik dan basah
Lagu-lagu
selesai dinyanyikan
Adakah
penjagaan?
Bising jalan,
genang sepanjang lima mil
: Bagi Adya
Adalah nelangsa
yang menggema
Di lorong-lorong
pengap dan gelap
Kenapa masih ada
sisa kemurungan?
Saat nama-nama
lain
diam dalam pejam
peluk hangat
Teriring kisah
sebelum lelap
Siapa yang akan
lekas datang?
Menjemput luka
Lalu
mengekangnya
2020
Di Jalan Soekarno-Hatta
Setelah
perlintasan bus kota
Di jadwal
terakhir
Kukenangkan kau
Pada
dinding-dinding selatan terminal
: Lukisnya kau
cipta
Sebuah mula
abjad
'A'
Nyala warna
memantul
Pada gelap batin
Sepasang pohon
mangga
Dinaunginya
sepuluh jengkal kursi
Yang menjaga
kita tetap terjaga
Bising malam
Yang kita
heningkan
Dengan
percakapan-percakapan
Juga pertanyaan
yang didiamkan
Siapa yang akan
menunggu lebih dulu?
2020
Jakarta
*Ketika garis-garis waktu melintas dalam benak
kita
1/
Siapa yang akan
kita percaya?
Peramal tua
Atau tingkah
yang memberi alasan untuk menilai manusia
2/
Pelabuhan lama
jadi bising
Bangkai-bangkai
kapal tua dibelah
Untuk
permainan-permainan,
Kita akan
sembunyi dimana?
3/
Kau cium
Mataku yang
murung
Luka yang
menggantung
Tak bisa kau
buat rampung
4/
Masihkan kau
menyimpan air?
Dalam perjalanan
panjang
Yang harusnya
kau jaga
Dan membasuh
luka
2020
Di Belakang Malam Turun
Barangkali
pelataran belakang rumah
Sedikit sempit
Menampung
kerumitan
Dan penantian
yang terus menjulur
Dedaunan
meranggas
Akan kau bakar
Sambil menunggu
malam habis
Katakan,
Apa yang akan
lintasi menuju pagi?
: Kelindan sunyi
sepi seorang diri
2020
Sebelum Dua Awal Berakhir
Di Minggu ketiga
Apa yang kau
bayangkan?
Kuimpikan tak
kau kenakan lagi
Jaket lusuh,
Bekas senyum
siapa yang kau simpan?
Yang membekas
dalam kerjap matamu
Nama yang membayangi
lelap
Pun jagamu
Bayang-bayang
kecil
Berlarian lalu
menyelam
Dalam bola
matamu
Kau sebut
namanya,
Rus,
Doa-doa yang
dipungut
Dan disusun lagi
Merekayasa
kesedihan
Agar kau kembali
tinggal
2020
Idatus Sholihah
Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia UTM

