![]() |
| Produk PUI Garam UTM. Foto : Naa |
WKUTM - Universitas Trunojoyo Madura (UTM) telah meresmikan tambak garam seluas empat hektar yang berlokasi di Pamekasan pada 11 Juni 2018 lalu. Tambak tersebut akan dijadikan laboratorium lapang Pusat Unggulan IPTEK (PUI). Meski telah diresmikan, data dari Sistem Layanan Pengadaan Secara Elektronik Universitas Negeri Surabaya (LPSE Unesa ) 2019, diketahui bahwa UTM kembali membuka tender untuk pembangunan tambak garam sebesar Rp 2.689.966.422,58 di lokasi yang sama.
Menanggapi hal tersebut, Edi Suprapto selaku Kepala Subagian Badan Milik Negara (KaSubag BMN) menyatakan jika pengadaan tender pada 9 September2019 bertujuan untuk memaksimalkan tanggul tambak, termasuk peninggian tanggul sebab tingkat abrasi yang cukup tinggi.
”Tanggul ditinggikan sekitar 3 meter, yang dari sebelumnya hanya setengah meter,” ujar Edi yang sempat menjabat sebagai Pejabat Pembuat Komiten (PPK) proyek pembangunan tambak garam.
Amrin Rozali, selaku staf Unit layanan Pengadaan (ULP) menambahkan, jika tahap pembangunan saat ini masih sekadar petak-petak tambak, selain itu bangunan gedung dan jembatan masih belum dibangun.
”Sementara ini baru bangunan air dan penampunganya,” ungkapnya.
Edi menambahkan bahwa pembuatan tambak garam tersebut dilakukan sebagai wujud partisipasi UTM dalam peningkatan kualitas dan kapasitas garam nasional, minimal di Madura. Pihaknya juga mengaku bahwa UTM dalam bidang ini telah membangun kerja sama dengan perusahaan asal Jepang.
”Kalau nanti ini sukses dengan menghasilkan garam berkualitas, tinggal bagaimana nanti perhitungannya dan timbal baliknya dengan kampus.” imbuhnya.
Amrin Rozali menilai bahwa tambak garam tersebut telah siap untuk memproduksi garam. ”Sekarang tambak garamnya sudah jadi, sudah bisa memproduksi, ” jelas pria asal Bangkalan tersebut.
Berbeda dengan Edi, pihaknya menyatakan bahwa tambak garam yang diresmikan dua tahun lalu masih belum bisa menghasilkan produk secara massal karena terkendala pasang air laut. Kendala lain yakni karena masih musim penghujan, menurutnya, produksi siap dimulai saat musim kemarau mendatang.
Selain dicanangkan menjadi ranah penghasil garam, Edi juga menambahkan bahwa tambak tersebut bisa menjadi sarana observasi mahasiswa UTM.
”Fokusnya itu bukan hanya untuk mahasiswa Ilmu Kelautan, tapi untuk semua jurusan yang berminat melakukan observasi tentang garam, ” ungkapnya saat ditemui di ruangan.
Meskipun demikian, Rendy selaku dosen Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) menyatakan bahwasannya banyak mahasiswa yang belum mengetahui adanya tambak tersebut, menurutnya itu karena kurang adanya sosialisasi.
”Mahasiswa sini belum banyak yang tahu, belum ada sosialisasi,” jelas pria asal Pamekasan tersebut.
Ia juga menjelaskan jika selama ini observasi setelah ujian tengah semester dilakukan di tambak garam di daerah Kwanyar, Sumenep.
Salah satu mahasiswa semester enam Program Studi Ilmu Kelautan yang tidak mau disebut namanya, menuturkan bahwa dirinya belum pernah mengunjungi ke tambak garam UTM. Jika hanya untuk praktikum, ia lebih memilih ke laboratorium yang ada di UTM karena fasilitas sudah dirasa cukup memadai. Faktor jarak yang cukup jauh juga menjadi alasan mahasiswa tersebut lebih memilih melakukan observasi di lokasi yang lebih dekat seperti tambak garam yang ada di Bangkalan dan Laboratorium UTM.
”Kalau kepentingan praktikum, tidak usah jauh-jauh ke Pamekasan, soalnya di kampus sudah ada labnya dan salthouse (rumah garam). Selain itu, untuk mengatasi bikin garam, tambak di sekitar Bangkalan juga masih ada, ” tuturnya. (lin/J/SW)

