Esai: Apakah Kenaikan UMR Ilusi saja, jika Harga Pasar Ikut Bertambah?

Esai: Apakah Kenaikan UMR Ilusi saja, jika Harga Pasar Ikut Bertambah?

LPM Spirit - Mahasiswa
Rabu, 14 Januari 2026
Sumber Foto: Pinterest/Webnus

Supri semringah ketika menerima upah kerjanya lantaran mendapat kenaikan. Supri pun bergegas belanja ke toko kesayangan untuk memenuhi kebutuhan pokok bulanannya. Sesampainya di sana, harga barang yang perlu dibeli semakin mahal. Meskipun Upah Minimum Regional (UMR) meningkat, Supri sadar satu hal bahwa harga barang untuk kebutuhan sehari-hari juga ikut meningkat. 

Ada satu konsep ekonomi yang dapat menjelaskan ini, yakni saat perusahaan memutuskan menaikkan upah, maka biaya produksi ikut naik, maka harga barang pun meningkat. Hal ini bisa memicu lahirnya inflasi, pekerja kembali menuntut kenaikan upah hingga polanya kembali terulang sampai menjadi spiral. Lingkaran inilah yang disebut sebagai konsep spiral upah-harga (wage–price spiral). Kenaikan UMR bisa menjadi ilusi untuk menutupi inflasi yang sedang terjadi. 

Inflasi pada realitanya memang terjadi di berbagai negara. Namun, dalam hal ini, sebagai pengontrol, pemerintah tampak ogah-ogahan menumpas masalah itu dari akarnya. Salah satu cara yang dapat ditempuh ialah dengan menyuntikkan dana melalui perusahaan atau memberikan bantuan anggaran pada Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Tetapi, solusi seperti ini selalu tak menjadi fokus utama karena membutuhkan waktu lama agar membuahkan hasil. 

Pemerintah lebih doyan penyelesaian yang butuh waktu singkat dan dapat menyasar banyak orang sekaligus secara langsung serta segera terlihat hasil. Pendekatan populis seperti ini, dapat meredam tekanan secara lebih cepat.

Berangkat dari situ, menaikkan UMR menjadi alternatif untuk memperlihatkan “itikad baik” pemerintah guna membantu masyarakat agar tetap bertahan di tengah kenaikan harga barang pokok. Walau pada akhirnya lingkaran setan akan berputar kembali. Dimulai dari pekerja serabutan yang terbebani dengan harga barang pokok yang kian meningkat, hingga pada akhirnya kenaikan semakin menggila bahkan bagi pekerja formal sekali pun. Jika ini telah bergulir, kenaikan UMR kembali dilakukan.

Hal itu familiar dengan ungkapan di bawah ini.
 “No society can surely be flourishing and happy, of which the far greater part of the members are poor and miserable.” – Adam Smith.

Tidak ada masyarakat yang bisa benar-benar berkembang dan bahagia, jika sebagian besar anggotanya miskin dan sengsara. Nampaknya ucapan milik bapak ekonomi modern tersebut mampu membuat negara yang masih terjebak dalam spiral upah-harga tersentil. Pemerintah sepatutnya sadar, apa yang dapat terjadi jika jurang antara si miskin dan si kaya semakin melebar. Tanpa perlu disebut kita sudah dapat membayangkan akan seperti apa bom waktu ini ketika telah tiba waktunya meledak nanti.

Nur Anisa
Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi