Notification

×

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Esai: Mengapa Seni dan Sastra Diburu Saat Pengarangnya Mati atau Hidup Menderita?

Minggu, 12 April 2026 | 00.33.00 WIB Last Updated 2026-04-12T07:33:28Z

Tahun 1888, Vincent van Gogh memotong telinga kirinya dengan pisau cukur. Ia sedang mengalami depresi parah hingga kondisi psikologisnya terganggu. Semasa hidup, ia telah menghasilkan lebih dari 2.100 karya seni. Namun, pengakuan atas karyanya justru baru datang setelah beberapa dekade setelah kematiannya. 

Kisah penderitaan lain juga dialami oleh Franz Kafka. Pada tahun 1912, Kafka hampir mengakhiri hidup karena ayahnya menentang pilihannya menjadi penulis dan memaksanya untuk bekerja di pabrik, layaknya pemuda lain seusianya. Akibat pertentangan itu, Kafka mengalami pergelutan batin hingga menimbulkan kecemasan, depresi berat, dan penyakit tuberkulosis di usia muda.

Tetapi mari kita lihat sekarang, mereka telah menjadi legenda. Karya-karyanya disukai oleh jutaan orang, bahkan diperebutkan.

Akan tetapi, benarkah kita mengagumi mereka murni karena karyanya? Ataukah justru karena narasi tragis yang melekat pada diri sang seniman? Bagaimana jika sebenarnya kita sedang terpesona, takluk, lalu merayakan penderitaan yang mereka bawa? Ada semacam kepuasan saat menikmati karyanya, seolah sang seniman telah memenangkan pertarungan hidupnya melalui kejujuran dan jati diri, lantaran karyanya tidak “plastik” atau sekadar produk komersial.

Lalu, mengapa penderitaan pada seniman sering kali berhasil memunculkan gejolak emosional yang kuat pada karya-karyanya?

Jawabannya mungkin terletak pada rasa haus masyarakat modern akan “autentisitas”. Kita cenderung menyukai karya yang lahir dari ketulusan dan panggilan jiwa, ketimbang hasil dari mesin industri. Maka audiens tak hanya memandang unsur internal, tetapi juga menelusuri kehidupan atau alasan di baliknya. Seolah kita sedang menelanjangi perjalanan hidup sang seniman.

Penderitaan kemudian dianggap sebagai bukti bahwa sang pengarang tidak tunduk pada komersialisasi. Ia dipandang sebagai sosok yang tidak berkhianat pada diri sendiri dengan mengikuti arus industri. Itulah kemudian yang menjadikan mereka nampak sebagai manusia sejati.

Sementara itu, kematian menciptakan kelangkaan. Karya tidak lagi bisa diproduksi oleh tangan yang sama, menjadikannya terbatas dan bernilai tinggi. Akhirnya kaum kapitalis memanfaatkan peluang ini dan mengemasnya menjadi komoditas. Narasi tragedi seniman pun dijadikan bumbu emosional yang memperkuat daya jual. Hingga “kultus jenius yang tersiksa” pun menjadi merek yang ramai diperjualbelikan dan diperebutkan di pasaran.

Fenomena ini, secara tidak langsung, mengkritik realita hidup manusia modern. Kita dituntut untuk mampu bersaing di dunia industri. Mereka yang memilih menjadi beda—tak mengikuti arus utama dan perkembangan zaman—sering kali dianggap katrok.

Kondisi serupa juga terjadi di berbagai ruang kehidupan masyarakat, seperti di ruang kelas. Mahasiswa yang memiliki cara berpikir berbeda kerap dipaksa menyesuaikan diri dengan sistem pembelajaran yang kaku. Akibatnya, mereka merasa terasingkan. Dunia batin yang mereka miliki tidak sejalan dengan realitas eksternal yang menuntut keseragaman. Padahal, bisa jadi mereka yang hari ini dianggap “aneh” adalah Van Gogh baru yang tak pernah kita kenali.

Semua ini menjadi bukti kegagalan masyarakat modern.

Kita gagal menyadari autentisitas yang ada pada manusia karena terlampau dibutakan oleh logika kapitalisme. Kita terlalu sibuk mencari keuntungan, hingga tanpa sadar menghamba pada kepalsuan—pada standar kesuksesan yang diukur dari harta dan materi semata.

Akibatnya, kemiskinan dilabeli sebagai kegagalan. Perlawanan terhadap kekuasaan dianggap radikal. Ketidakpedulian terhadap laba dicap sebagai kebodohan. Inilah realita yang kita hadapi hari ini. 

Maka tidak mengherankan jika karya-karya seniman yang menderita akan terus dicari di masa depan. Sebab, masyarakat kita sudah terbiasa hidup dalam kemunafikan, hingga mendamba pada hal yang dianggap menggambarkan kemurnian.

Nur Anisa
Mahasiswi Program Studi Ilmu Komunikasi



×
Berita Terbaru Update