Notification

×

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Pendaftaran TOEFL UTM Membludak, Antrean Panjang Tuai Keluhan Mahasiswa

Kamis, 23 April 2026 | 20.20.00 WIB Last Updated 2026-04-24T03:24:22Z

Suasana antrean mahasiswa di depan loket pendaftaran UPT Bahasa UTM (23/4). (N4)


WKUTM — Pendaftaran Test of English as a Foreign Language (TOEFL) di Universitas Trunodjoyo Madura (UTM) mengalami lonjakan dalam dua pekan terakhir. Hal tersebut menyebabkan antrean panjang di loket pendaftaran, dengan waktu tunggu mencapai 30 hingga 90 menit. Kondisi tersebut menuai berbagai keluhan dari mahasiswa yang menilai sistem pendaftaran masih belum efektif.

 

Bagus Aji Danan Jaya Ilmi, mahasiswa Program Studi (Prodi) Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), mengungkapkan penyebab antrean panjang tersebut, salah satunya dipicu oleh keterbatasan jumlah petugas di loket pendaftaran. Selain itu, praktik pendaftaran titipan antar mahasiswa juga turut memperlambat proses.


”Selain karena penjaga loket yang hanya satu, padahal loketnya ada dua. Penyebab antrean juga karena teman-teman mahasiswa banyak sekali yang daftar membawa titipan temannya,” ungkapnya (19/4).


Mahasiswa angkatan 2023 tersebut juga menambahkan bahwa penerapan sistem pembayaran Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) belum memberikan dampak signifikan terhadap efisiensi antrean pendaftaran.


”Pakai QRIS atau tidak, itu sama saja. Tidak berpengaruh,” ujarnya saat ditemui langsung. 


Keluhan serupa juga disampaikan Risalatul Ummah, mahasiswi Prodi Manajemen yang mengaku sistem pembayaran QRIS kerap mengalami kendala jaringan yang justru memperlambat proses pendaftaran. Tak hanya itu, ia juga mengaku kesulitan akibat jadwal tes yang penuh,  membuatnya harus sering datang ke kampus untuk mendaftar tes. 


”Karena yang daftar banyak, kuota kali ini penuh sampai satu bulan. Kalau seperti itu kan kita harus bolak-balik buat daftar tesnya,” ujarnya saat ditemui di loket pendaftaran (21/4).


Selain itu, Dina Dwi Maylana, mahasiswi Program Studi Psikologi angkatan 2022, turut menyoroti fasilitas tes TOEFL yang dinilai belum memadai, terutama setelah adanya kenaikan biaya pendaftaran dari Rp10.000 menjadi Rp25.000. Ia berharap fasilitas penunjang tes turut ditingkatkan.


”Seharusnya ruangan atau komputernya yang ditambah,” keluhnya melalui pesan suara via WhatsApp (20/4).


Dina juga mengusulkan agar sistem pendaftaran TOEFL dapat dilakukan secara daring guna mengurangi antrean di loket pendaftaran. 


”Kalau bisa cara pendaftarannya pakai online saja supaya tidak antre,” tambahnya.


Menanggapi berbagai keluhan tersebut, Misnadin selaku kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Bahasa, menyampaikan pihaknya telah melakukan sejumlah upaya untuk mengatasi lonjakan pendaftar. Salah satunya dengan menambah sesi pelaksanaan tes. 


”Sekarang bertambah jadi tiga sesi, sebelumnya hanya dua. Jadi 08.30–10.30, 11.00–13.00, dan 13.30–15.30, dan saat ini semuanya full. Kalau normal cuma buka dua sesi,” jelasnya saat ditemui di ruangannya (23/4).


Selain itu, Misnadin menyebutkan bahwa penambahan petugas di loket juga telah dilakukan untuk mempercepat proses pendaftaran.


”Hari ini baru ada tambahan dari pusat, jadi ada dua yang jaga loket,” imbuhnya.


Lebih lanjut, Misnadin mengungkapkan bahwa pihaknya tengah menyiapkan sistem pendaftaran TOEFL secara daring. Ia berharap sistem tersebut dapat segera diimplementasikan dalam waktu dekat. 


”Besok insyaallah sudah mau uji coba pendaftaran online. Kalau lancar, Mei sudah bisa berjalan. Nanti tetap ada dua pilihan, online dan offline,” tuturnya. 


Misnadin berharap supaya UPT Bahasa mendapatkan perhatian dari pihak rektorat, mengingat unit tersebut memiliki kontribusi pendapatan bagi kampus.


”Seharusnya UPT Bahasa ini lebih diperhatikan, karena unit ini memiliki penghasilan jika dibandingkan dengan perpustakaan yang hanya melakukan pelayanan,” pungkasnya. (N4/NRA)


×
Berita Terbaru Update