Tanah Tanpa Kata
“Kamu tidak boleh memikirkan kata.”
Kalimat itu adalah hukum pertama di bawah Ordo Simbolik, dan Kiera telah mengulangnya setiap pagi sejak ia bisa mengingat. Dalam dunia yang dibangun atas simbol, gambar, dan suara mesin netral, kata-kata dianggap sumber semua kekacauan masa lalu: perang dimulai dari pidato, pemberontakan tumbuh dari puisi, dan cinta yang tak bisa dikontrol lahir dari kata-kata sederhana seperti "aku" dan "kau."
Di ruang tidurnya di panti asuhan Distrik 7, Kiera menatap dinding putih kosong. Di atas tempat tidurnya, hanya ada satu lambang: ☯ artinya "Patuh." Ia menggambar simbol itu lima kali di udara setiap pagi dengan gerakan tangan yang telah diajarkan sejak kecil. Ia tidak boleh berbicara. Tidak boleh menulis. Tidak boleh mengingat bentuk kata. Tapi malam itu, angin masuk lewat ventilasi tua di kamar mandi panti. Tidak seperti suara kipas mekanik yang biasa, angin ini berbisik. Ada sesuatu dalam alirannya yang terasa... hidup. Kiera mengikuti arah hembusannya ke balik dinding.
Di sana, satu batu bata longgar menganga seperti mulut yang lelah menahan rahasia. Ia menariknya keluar perlahan, mengabaikan detak jantungnya yang memburu. Di balik dinding, ruang sempit berdebu menyembunyikan benda paling terlarang di dunia ini: sebuah buku.
Sampulnya lusuh, kertasnya menguning, tapi huruf-huruf yang tercetak di sana menyala di matanya seperti sihir kuno. “Puisi untuk Orang yang Pernah Dicintai.”
Kiera tidak tahu arti semua kata itu. Tapi saat jarinya menyentuh halaman pertama, tubuhnya menggigil. Ada sebuah kata sendirian di tengah kertas: Aku. Ia mengucapkannya. Pelan. Nyaris seperti bisikan. Tapi dalam keheningan dunia, bisikan itu terasa seperti ledakan. Sesuatu dalam dirinya yang terkunci seumur hidup ...terbuka. Keesokan harinya, Kiera tidak pergi ke pusat simbol. Ia pura-pura sakit dan kembali ke ruang rahasianya. Ia membaca tiap kata meski ia tidak tahu semua maknanya. Ia menebak, meraba, menciptakan makna dari ritme, dari bentuk huruf.
Sore harinya, ia bertemu Dara, seorang anak panti bisu dan tuna rungu yang dikenal pendiam bahkan di dunia tanpa kata. Tapi saat Kiera menunjuk ke gambar ✋ lalu menuliskan dengan arang di lantai: nama kamu siapa?, Dara membeku.
Dengan gemetar, Dara mengeluarkan gulungan kain dari sakunya. Di dalamnya: serpihan halaman-halaman buku lain. Puisi. Lagu. Doa. Mereka tidak sendiri. Dara membawa Kiera ke lorong bawah tanah tua yang pernah menjadi sistem kereta bawah kota lama. Di sana, mereka menemukan komunitas kecil tersembunyi: Penutur. Mereka tidak bisa menulis banyak kamera dan sensor Ordo selalu mengawasi tapi mereka mengingat.
Kata-kata dihafalkan dan dibisikan seperti doa.
Pemimpin mereka, seorang pria buta bernama Eloin, menyambut Kiera dengan kata yang belum pernah ia dengar: "Selamat datang." Ia tidak tahu artinya, tapi rasanya... hangat.
Selama berminggu-minggu, Kiera belajar membaca. Mereka menuliskan kata di pasir, menghapusnya sebelum mata-mata mesin datang. Mereka berbagi puisi lewat sentuhan tangan dan gerakan bibir. Kata-kata menjadi api kecil dalam dunia beku.
Namun Ordo mencium keanehan. Sensor menangkap gelombang emosi tidak biasa dari Distrik 7. Drone dikirim. Satu malam, Dara ditangkap. Kiera berhasil kabur dan bersembunyi di perpustakaan rahasia. Dalam keputusasaan, Kiera menulis puisi terakhirnya di selembar kain tua. Ia menyelundup ke stasiun radio Ordo dan menyalakan mikrofon gelombang bebas. Dengan suara gemetar, ia membaca:
“Aku bukan simbol.
Aku bukan angka.
Aku adalah kata yang hidup di dadamu.
Aku ada karena kamu bisa menyebutku.”
Sensor meledak. Frekuensi terganggu. Dunia mendengar bahkan yang tak mengerti, merasakannya. Ordo runtuh perlahan, bukan dengan perang, tapi dengan makna.
Epilog
Tiga tahun setelahnya, anak-anak belajar menulis kembali. Buku dicetak. Nama diberikan dengan suara, bukan nomor. Kiera duduk di taman, membaca untuk anak-anak kecil dengan suara lembut.
Dara duduk di sampingnya, tersenyum, menulis di telapak tangannya:
Kata-kata tak pernah benar-benar mati.
Khafidoh Ismu Mas’ula
Penulis Buku “Sajak Rintih Sang Perindu”
Asal Mojokerto