Fungsi dan Pembangunan Infrastruktur UTM Belum Seimbang
| Pembangunan masjid baru UTM. Foto: Bir |
WKUTM – Universitas
Trunojoyo Madura (UTM) pada periode 2019/2020 gencar melakukan pembangunan
infrastruktur, antara lain guest house, masjid, dan gedung data center (GDC). Meskipun pembangunan gedung baru semakin
bertambah, namun sejauh ini masih belum diimbangi dengan pemaksimalkan
fungsi gedung, belum adanya parkiran di Ruang Kuliah Bersama (RKB-H) Fakultas Ekonomi
dan Bisnis (FEB).
Menanggapi hal
tersebut, Staf Unit Layanan Pengadaan (ULP), Amrin Rozali, menjelaskan bahwa
akan ada perbaikan lagi, diantaranya, pemasangan paving di lahan parkir yang
masih tanah seperti pada gedung RKB-H. Padahal sesuai catatan sarana dan
prasarana pendidikan dalam laman resmi UTM bahwa, pihak kampus menyediakan dua
zona parkiran mahasiswa, sisi barat dan timur, tepatnya.
”Untuk sementara
akan ada pembenahan parkiran seperti pemasangan paving,” jelasnya ketika
ditemui di ruang kerja.
Terkait
bertambahnya rencana pembangunan yang
tidak seiring pemaksimalan fungsi gedung lama, Amrin menanggapi bahwa kurang
maksimalnya fungsi gedung-gedung lama tidak menjadi alasan penghambat untuk
membangun gedung lainnya, pembangunan GDC sebelah selatan gedung pertemuan misalnya.
”Pembangunan
baru itu untuk membangun gedung data
center yang nantinya memiliki dua lantai,”
jelasnya.
Gedung yang direncanakan
berluas 28 x 40 meter tersebut akan berfungsi sebagai tempat penyimpanan semua
data UTM secara digital. Adapun perihal dana yang sampai tembus miliaran
rupiah, pihaknya mengatakan sepenuhnya dari pemerintah ”Untuk dana kita dapat
dari pemerintah sebesar 9 miliar,” ungkapnya.
“Fungsi bangunan data center digunakan untuk
menyimpan semua data berupa digital,” ucapnya ketika diwawancara (27/6).
Tidak berhenti
sampai GDC, masjid baru UTM juga sedang dalam pembangunan. Dalam hal ini Amrin
menjelaskan bahwa bukan karena masjid lama tidak berfungsi, namun sebatas pengalihan
fungsi ke masjid yang baru.
”Untuk masjid
yang lama dipakai untuk Islamic center
Fakultas Keislaman, jadi sudah milik mereka dan beralih fungsi,” jelasnya.
Masih dengan
Amrin, ketika ditanya perihal gereja pihaknya mengatakan tidak masuk dalam
rencana pembangunan. Selain perkara teknis, pihaknya juga mempertimbangkan
siapa yang memimpin ibadah. Di lain sisi Amrin tidak mempermasalahkan jika Unit
Kegiatan Mahasiswa Unit kegiatan Kerohanian Kristen harus meminjam gedung di setiap
kegiatannya.
”Karena tidak
ada yang minta jadi pembangunan gereja tidak ada, Lagi pula untuk pendeta juga
tidak ada. Selain itu saya rasa mereka tidak masalah jika harus meminjam
beberapa ruangan untuk kegiatan,” pungkasnya. (Ham/Bii)