Pesan Terakhir Freddy


"Sebelum ajal menjemputku, aku ingin bilang kepadamu, Nak. Kalau kamu jadi kuliah ke Jogja, jangan lanjutkan hobimu dan urungkanlah cita-citamu itu. Tak baik untuk masa depanmu. Nak, Kamu dan adik-adikmu tidak boleh mengikuti jejak bapak."

Begitulah pesan Freddy kepada Mer, anaknya, sebelum Malaikat Maut menjemput dan membawanya ke surga. Pesan itu sangat dalam, bahkan Freddy mengucapkannya sambil mengucurkan air mata. Hal itu diceritakan sendiri oleh Mer sewaktu berkunjung ke rumahku, sekitar dua tahun yang lalu atau dua bulan setelah kepergian bapaknya atau satu minggu sebelum anak itu berangkat ke Jogja.

Saat itu, aku tidak mengerti kenapa tiba-tiba Mer berkunjung ke rumahku. Padahal putra sulung sahabatku yang sekarang sudah kuliah semester lima pada salah satu kampus favorit di Jogja itu jarang main ke rumahku. Biasanya ia berkunjung ke rumahku hanya ketika Lebaran bersama mendiang ayahnya. Waktu itu, aku kira ia cuma mau pamit. Tapi ternyata ia mengunjungiku bukan cuma dalam rangka pamitan, tetapi juga untuk mencari jawaban perihal maksud dari pesan terakhir ayahnya.

“Sebagai sahabat baik bapak sejak kecil, yang juga selama belasan tahun berjuang bersama-sama di Jogja, tentu Paman tahu dan paham betul tentang beliau,” Mer memulai pembicaraan.

“Maksud Nak Mer?” aku balik bertanya.

“Begini, Paman. Sebenarnya maksud kedatangan saya ke sini, selain untuk pamitan dan meminta restu Paman, saya juga ingin tanya-tanya tentang almarhum bapak. Saya sangat dekat dengan bapak. Tetapi saya merasa beliau sangat asing. Saya ingin tahu tentang diri bapak yang sebenarnya.

“Paman semakin tidak paham dengan perkataan Nak Mer.”

Seraya mengambil napas dalam-dalam, anak muda yang memiliki sorot mata tajam seperti ayahnya itu melanjutkan, “Sebelum meninggal, bapak berpesan kalau saya tidak boleh melanjutkan hobi dan sebaiknya mengurungkan cita-cita saya. Saya dilarang mengikuti jejak beliau. Padahal saya tidak tahu tentang diri bapak selain sebagai pengusaha. Dan jujur, saya tidak berminat menjadi pengusaha atau pebisnis seperti bapak.”

“Lantas?”

“Sebenarnya apa maksud dari pesan terakhir bapak itu, Paman?”

“Sebenarnya... sebenarnya,” kataku, tersendat-sendat. Tiba-tiba aku merasa Freddy hadir di ruangan itu, menyimak pembicaraanku dengan anaknya. Menyuruhku untuk tidak mengungkapkan siapa dirinya yang sebenarnya.

***

Freddy Ardiansyah Darma Poetra–lebih akrab dipanggil Freddy–adalah lelaki cerdas multitalenta. Yang paling melekat dari lelaki yang khas dengan kumis tebalnya itu adalah sosoknya yang tangguh, gigih, pekerja keras, dan akan melakukan segala macam cara agar keinginannya tercapai. Dan tentu saja ia merupakan kawan yang baik, yang selalu menyelamatkan teman-teman seperjuangannya dari kelaparan ketika sedang krisis.

Ya, Freddy adalah lelaki cerdas yang pernah aku kenal. Sewaktu masih belajar di bangku SMA, ia satu-satunya siswa di sekolah yang selalu mendapat rangking satu selama tiga tahun berturut-turut. Ia juga tidak pernah absen menyabet juara satu setiap ada lomba menulis cerpen dan puisi, baik tingkat kecamatan maupun kabupaten. Karena kecerdasan dan bakat besarnya itulah, terutama pada bidang kepenulisan, ia mendapatkan tawaran beasiswa dari Pemda untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Namun, Freddy menolak beasiswa itu. Alasannya sederhana. Ia ingin seperti Pak Juma, wali kelas kami, yang sewaktu belajar di Jogja hidup dengan menulis. Bayar SPP, makan, ngopi, beli buku, bayar kost, semuanya dari hasil honor tulisan-tulisan beliau di koran. Dan Freddy membuktikan ucapannya itu. Selama kuliah di Jogja, ia menggantungkan hidupnya pada honor tulisan-tulisannya di koran. Baginya, menulis bukan sekadar hobi. Tetapi menulis merupakan salah satu cara melawan ketakutan yang selalu menghantui diri.

Hampir setiap minggu, tulisan-tulisan Freddy baik cerpen maupun puisi, selalu tayang di koran. Tulisannya tidak melankolis dan beraura roman picisan seperti teman-temannya sesama penulis. Namun tulisan-tulisan Freddy lebih ke arah sosial-budaya dengan pemikiran sangat kritis. Akibat dari keproduktifan tulisan-tulisannya yang bagus ini, membuat redaktur salah satu koran lokal ternama di Jogja terpikat dan tak segan meminta dirinya untuk menjadi penulis tetap. Bahkan menjelang ia wisuda, salah satu penerbit besar di Kota Pendidikan meminta naskah tulisan-tulisannya untuk diterbitkan seraya ditawari untuk mengeditori buku-buku sastra, terutama cerpen dan novel.

Namun, lagi-lagi Freddy menolak dan mengabaikan tawaran yang sangat menggiurkan itu. Kali ini ia menolak dengan alasan mau fokus menggeluti dunianya yang baru. Lelaki berkulit kuning itu secara mengejutkan terjun ke dunia politik dengan menjadi salah satu jajaran didalamnya.

Entah apa yang membuat Freddy tertarik. Padahal ia pernah menjelaskan kalau politik merupakan dunia kebohongan yang di dalamnya saling sikut maupun jegal demi meraih kekuasaan. “Aku tidak mau seperti Snowball-nya George Orwell, yang disingkirkan oleh Napoleon hanya karena kekuasaan,” ujarnya pada suatu waktu. Namun hidup itu seperti bola, bundar, tidak bisa diprediksi siapa yang bakal keluar sebagai pemenang. Freddy, yang sangat anti dengan hal-hal yang berbau politik, tiba-tiba menjadikan dunia itu sebagai jalan hidupnya dengan meninggalkan dunia tulis-menulis yang telah membesarkan namanya.

Seiring berjalannya waktu, setelah menyelesaikan S2-nya, Freddy memutuskan untuk pulang kampung dan mencalonkan diri sebagai anggota dewan, disamping melanjutkan usaha yang baru dirintisnya yakni berjualan kopi. Keduanya pun berjalan beriringan seperti yang ia harapkan. Bisnis kopinya berkembang begitu pesat dan ia berhasil menjadi anggota dewan meski dengan melewati jalan yang sangat terjal dan curam. Karena disitulah ia, 'bertarung' melawan kawannya sendiri untuk memperebutkan kursi yang menjadi impian para politisi.

Pengalaman-pengalaman pahit selama berada dalam lingkaran politik itulah yang tidak ingin ditularkan Freddy kepada anak-anaknya. "Cukup aku yang merasakan pahit dan kerasnya dunia politik. Bertarung dan adu siasat dengan kawan sendiri agar sampai lebih awal di pucuk kekuasaan. Anak dan keturunan-keturunanku tidak boleh mengikuti jejakku. Aku tidak ingin di kemudian hari anak-anakku menyesal seperti diriku," kata Freddy pada suatu hari. "Sebab itulah aku memutuskan untuk tidak mencalonkan diri lagi menjadi anggota dewan. Aku tidak ingin anak-anakku mengenalku sebagai politisi. Biarlah mereka, anak-anakku yang sudah mulai beranjak dewasa itu, mengenalku sebagai pensiunan penulis yang sekarang menjadi pengusaha kopi."


***

"Kira-kira apa saja rencanamu nanti di Jogja selain kuliah?" aku mencoba mengalihkan pembicaraan.

"Kalau itu belum kepikiran, Paman. Yang jelas, saya ingin hidup mandiri seperti bapak. Menulis di media," jawab Mer.

Jawaban Mer itu membuatku lega. Ternyata apa yang ditakutkan Freddy hanyalah ketakukan belaka. Tidak ada tanda-tanda bahwa anak yang kata Freddy memiliki pemikiran melampaui usianya itu bakal mengikuti jejak dirinya. Ia hanya ingin menjadi penulis, bukan politisi.

"Benar kata pepatah, bahwa buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Kamu memiliki hobi yang sama dengan bapakmu, suka menulis. Baguslah. Hobimu itu harus dikembangkan. Tulisanmu harus lebih bagus dari tulisan-tulisan bapakmu," kataku seraya menyeruput kopi pahit yang mulai dingin.

"Tapi, Paman. Saya tidak suka menulis cerpen dan puisi seperti bapak. Saya lebih suka menulis artikel. Soalnya, di zaman sekarang, mengkritik para elit melalui tulisan bergenre sastra tidak efektif seperti zaman Bapak dan Paman," tegas Mer.

Sontak, perkataan Mer itu hampir membuatku tersedak. Ternyata apa yang ditakutkan Freddy bukan cuma ketakutan biasa.

"Paman belum menjawab pertanyaan saya. Paman belum menjelaskan tentang maksud dari pesan terakhir mendiang Bapak," Mer kembali bertanya.

"Hobi dan keinginanmu untuk mengkritisi para elit lewat tulisan itulah yang bapakmu khawatirkan. Ia tidak mau dirimu terjebak oleh tulisanmu sendiri, yang pada awalnya mengkritik, lantas masuk ke dalam lingkaran yang kau kritik itu," kataku dalam hati.

Ingin rasanya aku menjelaskan maksud dari pesan terakhir Freddy itu, namun sahabatku itu belum beranjak dari rumahku. Ia masih menyimak pembicaraanku dengan anaknya.

                                                                                 ***

*Fajri Andika, lahir di ujung timur Pulau Madura. Pernah belajar di Sosiologi FISHUM UIN Suka Yogyakarta. Tinggal di kedai-kedai kopi sepanjang Jalan Sorowajan Yogyakarta.







  

Postingan populer dari blog ini

Bumi Manusia

Resensi Buku: Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas

Ajang Kreasi UKM Pramuka