Seorang perempuan paruh baya, Wulan, tengah duduk di beranda rumah. Rumah kecil dari kayu dan lantai semen yang mulai retak-retak. Di pangkuannya, ada ponsel jadul pemberian Alan, anak semata wayangnya. Tak banyak yang bisa dilakukan dengan ponsel itu kecuali membuka galeri, menerima panggilan, atau sekadar transaksi E-wallet. Ya, dirinya kini harus mulai beradaptasi dengan zaman, belanja di warung kemudian membayar melalui scan barcode.
Sudah sejak tadi sore ia menatap satu foto anak semata wayangnya itu, tengah berdiri di antara kerumunan orang membawa spanduk bertuliskan: Hidup Rakyat Kecil, Hancurkan Sistem Zalim!
Lingkungan tempat Wulan tinggal mengharuskan semuanya serba digital. Sehingga semua warga diminta mendaftar sistem identitas digital berbasis retina. Pak RT bilang ini bagian dari program pemerintah pusat, katanya untuk efisiensi dan agar bantuan lebih tepat sasaran. Lagi-lagi 'tepat sasaran' menjadi kata yang sering muncul dari bibir-bibir pejabat itu. Tapi siapa yang tahu apa arti tepat bagi mereka yang tak pernah lapar?
Awalnya sistem itu hanya untuk menerima bantuan pangan. Lalu, perlahan semua aktivitas harus melalui pemindaian retina. Mulai dari akses layanan kesehatan, daftar sekolah, masuk ke aplikasi belanja digital, hingga pembayaran dompet digital. Wulan tak pernah benar-benar paham cara kerja sistem itu, tetapi demi mengikuti arus, ia ikut seperti warga lain.
Minggu lalu, sebuah mobil bertuliskan Program Retina Rakyat: Menuju Masa Depan Cemerlang berhenti di ujung gang. Seorang petugas mengenakan seragam biru muda mengumumkan bahwa warga bisa mendapat bantuan langsung tunai hanya dengan satu syarat, memindai retina. Wulan sempat ragu, namun godaan akan dua karung beras, minyak goreng, dan saldo dompet digital membuatnya luluh. Lagi pula, Alan belakangan jarang pulang dan jika pulang pun, wajahnya hanya membawa lelah. Bantuan itu setidaknya bisa menyambung hidup beberapa hari ke depan.
Namun, tiga hari setelahnya, ia mulai mengalami keanehan. Saat hendak belanja di toko, ia tak bisa membuka aplikasi dompet digital. Layar ponselnya menampilkan peringatan:
“Transaksi Ditolak, Anda dalam Pantauan Sistem.”
Awalnya ia mengira itu hanya gangguan teknis. Tapi setelah dua hari berturut-turut mencoba, hasilnya tetap sama. Wulan memutuskan mendatangi kantor kelurahan. Petugas muda di sana menjelaskan, setengah berbisik, bahwa ia masuk dalam daftar pengawasan karena memiliki hubungan dengan individu berisiko tinggi. Tidak disebutkan siapa, tapi Wulan tahu jawabannya tanpa perlu mendengar lebih lanjut. Hanya satu orang dalam hidupnya yang bisa membuat matanya dicurigai.
Dua hari kemudian, Alan pulang. Ia membawa setumpuk kertas dan tubuh yang lelah. Wajahnya kuyu, pakaian kusut, dan mata merah seolah lama tidak tidur. Ia tidak langsung bicara. Wulan juga tidak ingin memulai. Di dalam kepalanya, seribu rasa berkecamuk, marah, cemas, rindu, juga kecewa.
Ia ingin memarahi anaknya itu, sebab ia tidak bisa beraktivitas normal lagi. Sejak retinanya dipindai dan nama anaknya dicatat sebagai pembangkang, hidupnya berubah. Tidak bisa belanja, tidak bisa menerima bantuan, bahkan tak bisa mengakses listrik subsidi. Namun kata-kata itu mengendap di dalam dada.
Alan merasa sang ibu tidak seperti biasanya yang menyambutnya dengan hangat. Kali ini sang ibu dingin, ia menerka sudah pasti ada yang tidak beres dalam hati ibunya dengan aksi yang ia lakukan. Ditatap wajah ibunya dalam-dalam, mata tua yang lelah. Dengan suara rendah, Alan berbicara. Bukan membela diri, tapi seolah sedang membaca isi hati ibunya.
“Bu, kami masih melawan. Mereka menaikkan harga pokok, pajak, dan penetapan aturan secara sepihak, melalui sistem yang tidak bisa dibantah. Warga yang miskin dan tak paham teknologi dipaksa mengikuti, hanya agar bisa makan. Dipaksa memindai retina, hanya agar bisa mengakses beras dan listrik.” Ujar Alan.
Sistem itu dirancang bukan untuk melayani, tapi menaklukkan. Ketika anak muda mereka bersuara, memberontak, mempertanyakan, yang dihukum justru para orang tua. Mengapa? Agar para anak itu merasa bersalah dan ragu. Agar mereka patah dan berhenti melawan.
Wulan memalingkan wajah. Tapi air matanya jatuh. Ia menangis dalam diam, merasa tubuhnya seperti halaman kosong yang penuh coretan, tapi tak tahu siapa yang menulisnya. Ia tak membalas satu pun kata Alan. Tapi tangisnya menjawab semuanya. Ia tahu, dan kini ia benar-benar mengerti.
Besoknya, Alan kembali pergi. Ia tidak meninggalkan kabar, hanya secarik kertas bertuliskan:
“Ibu, kalau ada yang mencariku, bilang saja aku pergi demi keadilan.”
Hari-hari berlalu perlahan. Rumah itu makin sepi. Wulan hanya memasak untuk dirinya sendiri, menyiram tanaman, memandangi pagar, dan sesekali berbicara dengan foto Alan di layar ponsel.
Suatu malam, televisi kecil di ruang depan menampilkan wajah anaknya. Alan, yang ditangkap karena memimpin demonstrasi menolak Undang-Undang (UU) Pengawasan Warga. Wulan tercekat. Ia tak sempat menangis. Langsung diambilnya kerudung dan jaket tua milik almarhum suaminya dan bergegas pergi ke kantor polisi.
Di sana, sistem menolaknya. Sensor retina menolak akses masuk. Petugas mengatakan ia tak bisa bertemu karena berada dalam daftar pengawasan. Tapi Wulan tetap berdiri. Lalu dengan suara yang tak bisa ditahan, ia berteriak.
“Kalau kasih sayang pada anak sendiri dianggap tindakan kejahatan, tangkap saya juga!” teriaknya.
Orang-orang menoleh. Beberapa di antara mereka merekam Wulan.
Seorang perwira muda keluar, menatap Wulan dengan bingung. “Bu, tenang dulu. Ini prosedur negara.”
“Negara macam apa yang takut pada mata seorang ibu?”
Teriakannya itu menarik perhatian banyak mata, para wartawan berhambur padanya. Mungkin videonya direkam seseorang dan tersebar di media sosial. Ia tak tahu, dan mungkin tak peduli.
Alan dibebaskan tiga hari kemudian. Tapi ia tak bisa kembali kuliah, tak bisa aktif di organisasi, dan Wulan tetap dalam daftar warga rawan. Akses mereka ditolak di mana-mana.
Malam itu, di beranda rumah, Wulan duduk berdampingan dengan anaknya. Alan menyalakan lampu minyak, satu-satunya cahaya yang tersisa di rumah mereka yang ditolak listrik digital.
“Ibu masih marah?” tanya Alan pelan.
Wulan menggeleng.
“Dulu ibu marah karena kamu berisiko kehilangan masa depan. Tapi ternyata, sistem ini lebih takut pada mata seorang anak yang masih bisa melihat benar dan salah.”
Idatus Sholihah
Mahasiswa Magister Linguistik
Universitas Gadjah Mada
