WKUTM - Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek), Nadiem Anwar Makarim, telah meluncurkan program ”Sastra Masuk Kurikulum” pada acara peringatan Hari Buku Nasional (Harbuknas) 2024, Senin (20/5). ”Sastra Masuk Kurikulum” merupakan lanjutan dari program Episode Merdeka Belajar 15: Kurikulum Merdeka dan Platform Merdeka Mengajar yang dirancang untuk memperkenalkan karya sastra kepada siswa. Adapun implementasi program ini menjadi tantangan bagi pengajar di Bangkalan.
Muchrotul Zanna, selaku guru Bahasa Indonesia Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 1 Bangkalan berpendapat bahwa pihaknya setuju dengan adanya program ”Sastra Masuk Kurikulum”, dengan adanya program tersebut, dapat mengembangkan keterampilan berpikir kritis dan kreativitas dalam memahami sastra oleh siswa.
”Misalnya melalui pembelajaran analisis karya sastra, siswa bisa melihat berbagai perspektif dan memahami kompleksitas kehidupan. Selain itu, meningkatkan kemampuan berbahasa serta memahami nilai dan budaya dalam buku,” tulisnya via WhatsApp (27/5).
Wanita yang kerap disapa Aan tersebut juga menjelaskan, menumbuhkan minat literasi siswa merupakan salah satu dari tantangan yang harus dihadapi dalam mengimplementasikan program ini. Karena siswa akan beranggapan sastra kurang relevan dengan kebutuhan siswa dalam bidang kerja mendatang.
”Beberapa dari siswa mungkin beranggapan bahwa sastra kurang relevan, karena siswa lebih membutuhkan keterampilan dan ilmu pengetahuan,” jelasnya.
Senada dengan Aan, Dita Safiyanti yang juga merupakan guru Bahasa Indonesia di SMAN 1 Bangkalan, mengungkapkan jika di awal penerapan pasti ada tantangan dan hambatan. Karena, tidak semua siswa memiliki minat yang sama terhadap sastra dan guru maupun pihak sekolah juga tidak bisa memaksa.
Namun, menurutnya lambat laun tantangan tersebut akan bisa teratasi. Dengan adanya sosialisasi dari pemerintah kepada sekolah dan siswa, program literasi melalui karya sastra dapat berjalan dengan baik.
”Maka dari itu, perlu ada sosialisasi yang menarik dari pihak pemerintah sehingga semua guru ikut tertarik dan bisa menyebarkan pemahaman terkait membaca buku,” sarannya (27/5).
Di sisi lain, Mega Puspitasari, selaku dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) Universitas Trunojoyo Madura (UTM) mengatakan, bahwasanya sastra sudah lama masuk ke dalam kurikulum yang berbasis teks.
Salah satunya dalam pelajaran bahasa Indonesia melalui teks-teks yang berhubungan tentang sastra, seperti cerita rakyat, puisi, baik itu puisi lama, gurindam, syair, dan lainnya.
”Dengan headline-nya “Sastra Masuk Kurikulum” menjadikan sastra lebih diperkenalkan oleh siswa,” jelasnya saat ditemui di gedung Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) (27/5).
Tak hanya itu, dengan adanya program memperkenalkan sastra kepada siswa, dapat memberikan apresiasi kepada sastrawan di Indonesia. Utamanya, sastrawan daerah yang kadang kala kurang terkenal dibandingkan sastrawan yang populer karyanya.
”Karena kalau kita tau karyanya, pasti juga akan tau pengarangnya,” ujarnya.
Kemudian, mengenai daftar buku yang direkomendasikan oleh pemerintah, secara pribadi Mega mengaku belum mengetahui secara pasti terkait buku apa saja yang ada dalam daftar rekomendasi.
Namun, dirinya yakin buku yang direkomendasikan oleh Kemendikbudristek sudah dipertimbangkan dengan matang. Meksipun jika terdapat buku yang tidak sesuai dengan siswa di setiap jenjangnya, maka seharusnya akan ada evaluasi maupun kritik dari pihak eksternal seperti lembaga pendidikan.
”Misal, buku-buku yang membahas seksualitas. Kita lihat dulu isi bukunya, menormalisasikan hal tersebut atau tidak, ada pesan moral yang tersirat atau tidak. Itu yang perlu digarisbawahi,” tuturnya saat ditemui.
Sedangkan dari sisi siswa, Tradiqta Eka Sri Adyuta, asal SMAN 1 Bangkalan, mengaku dirinya sudah mendengar dan menyetujui adanya program ini. Menurutnya, program sastra dapat memperkaya wawasan siswa tentang bahasa dan budaya, serta mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan menimbulkan rasa empati di lingkungan sekitarnya.
Ihwal sosialisasi pengenalan sastra, siswa yang kerap disapa Diqta tersebut mengungkapkan bahwa SMAN 1 Bangkalan belum melakukan sosialisasi mengenai program ini, ia berharap pihak sekolah dapat segera mengadakan sosialisasi.
”Agar siswa dan guru juga segera memahami dan mempersiapkan diri untuk implementasi program ini,” tulisnya via WhatsApp (29/5).
Begitu pun dengan Keren Azzahra, siswi SMAN 1 Bangkalan tersebut mengatakan bahwa sekolahnya memang belum memberikan sosialisasi spesifik mengenai adanya program ”Sastra Masuk Kurikulum”, namun sekolahnya sudah memiliki program literasi tersendiri.
Program literasi tersebut dilaksanakan setiap hari Selasa hingga Kamis. Adapun dalam program literasi tersebut siswa diberi kebebasan untuk membaca buku apa saja yang digemarinya. Apabila sudah selesai membaca, mereka harus menulis hasil bacaan pada jurnal bacaan yang kemudian dikumpulkan untuk ditandatangani bapak atau ibu guru.
”SMAN 1 sudah memiliki program literasi sendiri, namun tidak difokuskan pada buku sastra,” tulisnya via WhatsApp (27/5).
Ia berharap program ini dapat membuahkan hasil yang signifikan terhadap kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) pada tahun 2045 nantinya. Menurutnya, keberhasilan bisa muncul ketika semua pihak sama-sama berupaya untuk mencapai tujuan yang dimiliki.
”Semoga lebih aware aja, karena keberhasilan ada saat kita mau untuk berusaha. Entah, dari sisi pemerintah maupun masyarakat yang menerima kebijakan,” tambahnya. (STV/KHA)