Rabu, 14 Januari 2015

,

Kalau Jelek Jangan Jadi Guru

Kalau Jelek Jangan Jadi Guru Dalam sejarahku sekolah, dari sejak SD hingga kuliah, aku telah merasakan berbagai sistem pembelajaran. Di bangku sekolah dasar, posisiku tak lebih dari seorang pendengar setia. Tapi, menjelang SMP dan SMK, aku bukan lagi seorang pendengar. Bahkan, di semester satu saat kelas tiga SMK, nilai-nilai yang kudapat tidak pernah kurang dari sembilan. Tapi semua hanya jadi sejarah bagiku. Jangankan untuk mendapat nilai sembilan, bahkan untuk mendapat nilai delapan pun menjadi hal yang berat. Ada apa dengan diriku? Apa ini terjadi karena kebetulan? Atau faktor pengajar? Lambat laun aku mengerti mengapa aku begitu sulit mendapat nilai sembilan. Aku baru sadar bila di semester satu penyampaian materi dilakukan oleh seorang guru yang pandai memahami suasana dan menjaga kedekatanya dengan para siswa. Lain halnya di semester dua. Kelas menjadi lebih hampa. Hanya materi dan materi yang di suguhkan dengan dalih mengejar target waktu yang ditentukan. Keadaan inilah yang membuat aku sulit untuk berpikir jernih. Bukankah pengetahuan yang baik seharusnya tidak membingungkan, tapi membuat kita tercerahkan dan memperoleh keyakinan yang kuat serta mendasar. Tapi, mungkinkah pengetahuan dicapai tanpa disampaikan dengan cara yang salah? Umumnya guru adalah figur pembentuk pengetahuan dan pencetak kader-kader yang bermartabat. Tiada pengindahan yang cukup untuk melukiskan jasanya, dimana aku di gembleng agar nantinya dapat menjadi manusia yang berbudi luhur dan tahu benar-salah. Seperti pembentuk kata “guru” itu sendiri, yaitu ”digugu lan ditiru”. Maka guru merupakan seorang yang ucapannya menjadi pedoman dan tingkah lakunya jadi panutan. Seorang guru yang baik adalah orang-orang yang mampu lolos dari proses penempaan dan seleksi yang ketat. Karena tidak mungkin seseorang yang cacat moral dan tidak memadai pengetahuannya menjadi seorang guru. Ada sebuah paradigma lama yang menyatakan bahwa, ”guru harus seseorang yang pandai dalam bidangnya”. Tapi, masih relevankah paradigma lama tersebut pada remaja telah dibuat bebal dengan keberadaan teknologi? Butuh konsepsi baru yang diperlukan untuk menghadapi remaja saat ini. Selain itu, sudah waktunya paradigma lama tentang guru yang hanya pintar di bidangnya itu diganti dengan paradigma baru: guru yang cerdas yang piawai dalam memberikan keasikan dan mampu membawa suasana. Karena hal ini terbukti membawa dampak dalam peningkatan kecerdasan siswa. Selain itu yang diperlukan seorang guru adalah Bagaimana bisa membawa seorang siswa untuk berfikir dan berusaha memahami apa yang siswa pelajari. Sehingga kalau diibaratkan jangan menilai buku dari isinya saja, tapi juga dari sampulnya. Meski kecerdasan guru setinggi langit, tapi menjadi percuma bila guru tersebut gagal menarik perhatian dan minat siswa. Karena karakteristik siswa sekarang, yang notabene semakin bebal, butuh lebih dari sekedar kecerdasan. Artinya, jangan menilai baik-buruk seorang guru hanya dari kecerdasan di bidang yang dia ajar, melainkan juga harus menilai kualitas seorang guru dari cara dia membawa suasana positif di kelas. Selain itu, guru-guru saat ini selalu gagal dalam menyajikan kebaruan untuk menarik minat siswanya. Mungkin kehadiran sosok mahasiswa-mahasiswi yang kebetulan praktek di sebuah sekolahan membuat suasana baru di kelas menjadi bukti bila seorang guru gagal membawa suasana yang positif. Dan ironisnya, siswa jadi lebih senang diajar oleh guru praktek ketimbang guru utama. Dalam sebuah pelajaran kehadiran sosok pengajar yang berpenampilan bagus (cakep, muda, enak dipandang, dan bertempramen rendah) akan lebih bisa mengkondisikan suasana dan menghasilkan respon positif dari pendengar atau siswa. Berbanding terbalik dengan kehadiran sosok pengajar yang berpenampilan buruk ( jelek, tua, tidak enek di pandang, dan bertempramen tinggi) akan lebih susah menciptakan suasana yang mengasikan. Karena dengan respon dan anggapan yang kurang baik atau bisa dikatakan kurang mendukung. Keadaan akan lebih parah apabila guru yang ”jelek” tersebut merupakan guru di matapelajaran matematik, saint, dan cabang ilmu yang lain dengan logika sebagai poros pembahasan. Kesan pertama untuk memulai sebuah proses pembelajaran sangat menentukan keberhasilan proses belajar-mengajar. Selama ini guru sering melupakan kondisi psikologis siswa, terutama dalam mempelajari suasana hati. Guru hanya memikirkan target selesainya sebuah materi saja dan melupakan bila otak siswa terbatas dalam menyerap informasi yang disampaikan seorang guru. Padahal kemampuan otak manusia sangat terbatas dalam menerima rangsangan. Belum lagi dengan kejenuhan pada saraf akibat tekanan pada mental siswa membuat informasi tidak akan sampai ke otak dan hanya menimbulkan gejala neurotik atau gangguan saraf. Bukankah sungguh riskan apabila proses belajar-mengajar sekarang masih di dasarkan pada pemikiran kolot generasi tua. Peradaban telah berubah, rasa ingin tahu semakin berkurang, dan hal-hal baik menjadi terlihat aneh.

Cover Buletin Selebaran Edisi 15 Januari 2015.

"Kalau Jelek Jangan Jadi Guru" Dalam sejarahku sekolah, dari sejak SD hingga kuliah, aku telah merasakan berbagai sistem pembelajaran. Di bangku sekolah dasar, posisiku tak lebih dari seorang pendengar setia. Tapi, menjelang SMP dan SMK, aku bukan lagi seorang pendengar. Bahkan, di semester satu saat kelas tiga SMK, nilai-nilai yang kudapat tidak pernah kurang dari sembilan. Tapi semua hanya jadi sejarah bagiku. Jangankan untuk mendapat nilai sembilan, bahkan untuk mendapat nilai delapan pun menjadi hal yang berat. Ada apa dengan diriku? Apa ini terjadi karena kebetulan? Atau faktor pengajar? Lambat laun aku mengerti mengapa aku begitu sulit mendapat nilai sembilan. 

Aku baru sadar bila di semester satu penyampaian materi dilakukan oleh seorang guru yang pandai memahami suasana dan menjaga kedekatanya dengan para siswa. Lain halnya di semester dua. Kelas menjadi lebih hampa. Hanya materi dan materi yang di suguhkan dengan dalih mengejar target waktu yang ditentukan. Keadaan inilah yang membuat aku sulit untuk berpikir jernih. Bukankah pengetahuan yang baik seharusnya tidak membingungkan, tapi membuat kita tercerahkan dan memperoleh keyakinan yang kuat serta mendasar. Tapi, mungkinkah pengetahuan dicapai tanpa disampaikan dengan cara yang salah? Umumnya guru adalah figur pembentuk pengetahuan dan pencetak kader-kader yang bermartabat. Tiada pengindahan yang cukup untuk melukiskan jasanya, dimana aku di gembleng agar nantinya dapat menjadi manusia yang berbudi luhur dan tahu benar-salah. Seperti pembentuk kata “guru” itu sendiri, yaitu ”digugu lan ditiru”. Maka guru merupakan seorang yang ucapannya menjadi pedoman dan tingkah lakunya jadi panutan.
 

Seorang guru yang baik adalah orang-orang yang mampu lolos dari proses penempaan dan seleksi yang ketat. Karena tidak mungkin seseorang yang cacat moral dan tidak memadai pengetahuannya menjadi seorang guru. Ada sebuah paradigma lama yang menyatakan bahwa, ”guru harus seseorang yang pandai dalam bidangnya”. Tapi, masih relevankah paradigma lama tersebut pada remaja telah dibuat bebal dengan keberadaan teknologi? Butuh konsepsi baru yang diperlukan untuk menghadapi remaja saat ini. Selain itu, sudah waktunya paradigma lama tentang guru yang hanya pintar di bidangnya itu diganti dengan paradigma baru: guru yang cerdas yang piawai dalam memberikan keasikan dan mampu membawa suasana. Karena hal ini terbukti membawa dampak dalam peningkatan kecerdasan siswa. Selain itu yang diperlukan seorang guru adalah Bagaimana bisa membawa seorang siswa untuk berfikir dan berusaha memahami apa yang siswa pelajari. 

Sehingga kalau diibaratkan jangan menilai buku dari isinya saja, tapi juga dari sampulnya. Meski kecerdasan guru setinggi langit, tapi menjadi percuma bila guru tersebut gagal menarik perhatian dan minat siswa. Karena karakteristik siswa sekarang, yang notabene semakin bebal, butuh lebih dari sekedar kecerdasan. Artinya, jangan menilai baik-buruk seorang guru hanya dari kecerdasan di bidang yang dia ajar, melainkan juga harus menilai kualitas seorang guru dari cara dia membawa suasana positif di kelas. Selain itu, guru-guru saat ini selalu gagal dalam menyajikan kebaruan untuk menarik minat siswanya. Mungkin kehadiran sosok mahasiswa-mahasiswi yang kebetulan praktek di sebuah sekolahan membuat suasana baru di kelas menjadi bukti bila seorang guru gagal membawa suasana yang positif. Dan ironisnya, siswa jadi lebih senang diajar oleh guru praktek ketimbang guru utama. Dalam sebuah pelajaran kehadiran sosok pengajar yang berpenampilan bagus (cakep, muda, enak dipandang, dan bertempramen rendah) akan lebih bisa mengkondisikan suasana dan menghasilkan respon positif dari pendengar atau siswa. Berbanding terbalik dengan kehadiran sosok pengajar yang berpenampilan buruk ( jelek, tua, tidak enek di pandang, dan bertempramen tinggi) akan lebih susah menciptakan suasana yang mengasikan. Karena dengan respon dan anggapan yang kurang baik atau bisa dikatakan kurang mendukung. Keadaan akan lebih parah apabila guru yang ”jelek” tersebut merupakan guru di matapelajaran matematik, saint, dan cabang ilmu yang lain dengan logika sebagai poros pembahasan. 

Kesan pertama untuk memulai sebuah proses pembelajaran sangat menentukan keberhasilan proses belajar-mengajar. Selama ini guru sering melupakan kondisi psikologis siswa, terutama dalam mempelajari suasana hati. Guru hanya memikirkan target selesainya sebuah materi saja dan melupakan bila otak siswa terbatas dalam menyerap informasi yang disampaikan seorang guru. Padahal kemampuan otak manusia sangat terbatas dalam menerima rangsangan. Belum lagi dengan kejenuhan pada saraf akibat tekanan pada mental siswa membuat informasi tidak akan sampai ke otak dan hanya menimbulkan gejala neurotik atau gangguan saraf. Bukankah sungguh riskan apabila proses belajar-mengajar sekarang masih di dasarkan pada pemikiran kolot generasi tua. Peradaban telah berubah, rasa ingin tahu semakin berkurang, dan hal-hal baik menjadi terlihat aneh. 

Syaiful Anwar, 
Anggota Baru LPM Spirit Mahasiswa 2014.

Sastra