Berita Terbaru

Minggu, 04 Juni 2017

Raja Tampa Mahkota

by

Sebut saja namaku Domba.

Aku bukanlah seorang ber-IQ tinggi layaknya Albert Einstain  dengan rambut kribon yang acak-acakan tak terurus. Aku juga bukan Jokowi yang suka pakai baju kotak-kotak, apalagi jika kamu samakan aku dengan Andika eks-kangen band yang menikah 4 kali. Tetepi aku adalah bagian dari mereka.

Orang lain sering memandangku bagaikan Singa garang yang sudah mengencingi daerah kekuasaanya. Barang siapa yang sengaja maupun tidak masuk wilayahku jangan harap bisa keluar dengan muka penuh tawa. Senyummu adalah milikku, wajahmu itu mainanku, dan lubangmu menjadi camilan makan malamku.

Botol-botol setiap pagi bergelimpangan ditiap kamar tidurku. Berbalut mahkota dengan gadis-gadis penghibur yang menemaniku sepanjang malam. Artis, mbak-mbak yang bergelar miss-miss, bahkan para politikus elit selalu menjadi teman pengantar tidur. Mereka mau saja menjadi meja, kursi, dan keset tempat sepatu emasku.

Siapa kamu?

Sudah aku katakan, sebut saja namaku Domba.

Sebagai seekor Domba tugasku hanyalah makan. Bukan rumput lagi yang menjadi makananku setiap hari. Bagiku rumput sudah menjadi sepah yang tak berasa. Aku biasa makan spageti, hamburger, pizza, dan manusia yang katanya menjadi makanan terenak di dunia. Tempat makanankupun bukanlah embong ditepi jalan kaum kumuh, karena bagiku tempat itu menjadi tinja sisa-sisa isi perut.

Kau yang mengaku sebagai singa garangpun menjadi tunduk dihadapanku. Akulah Domba yang menjadi raja di antara raja. Jika orang Somalia bilang manusia yang  berani hanya memiliki tiga hal  ketakutan terhadap Singa. Maka untuk orang yang dekat denganku, kenal aku, pernah lihat aku, dengar namaku, bahkan hanya samar-samar saja. Mereka akan gemetar mengingil kedinginan berbalut dengan rasa takut padaku.

Siapa kamu sebenarnya?

Akukan sudah bilang namaku Domba.

Dombakan.......?

Aku memang Domba, seorang raja yang datang pada abad sembilan belas. Bahkan sebelum itupun aku sudah menjadi raja. Raja yang membungihanguskan semua yang aku sentuh. Pohon-pohon yang asri di tengah hutan menjadi gundul karena perintahku. Gajah-gajah diburu untuk diambil gadingnya demi memenuhi hiasan dinding kamarku.

Kau tau siapa yang memperkosa anakmu di kala dingin malam itu. itulah aku. Ketika rasa menjadi mahkota yang tak terlihat. Ketika nafsu mulai memburu dengan ganasnya dan gelombang mencoba menarik pasir yang mulai lelah oleh goncangan-goncanganya. Aku datangi anakmu untukku perkosa.

Tapi tolong jangan tuduh aku benar-benar memerkosanya. Walaupun aku akui. Akulah yang memulai dengan meyobek bajunya dengan kasar, melucuti secara paksa roknya yang menjuntai menutupi tumit. Akulah yang memaksa dia membuka penutup dada, dan calana dalamnya hingga telanjang bulat. Tapi pada akhirnya anakmu menikmati juga. Ia bahkan ketagihan meronta-ronta meminta aku memerkosanya kembali.

 Kurang ajar!

Kanapa kamu bilang aku kurang ajar. Bukankah aku sudah katakan padamu. Anakmu sendiri yang malah mau. Jangankan anakmu, hampir semua wanita di dunia ini aku perkosa. Laki-lakipun tak luput dari incaranku dan jangan kamu tanyakan apa jenis kelaminku karena aku berkelamin ganda.

Mengapa aku tidak kamu perkosa?

Sudah, aku sudah perkosa kamu sejak dari dulu. Ketika itu usiamu masih tergolong muda. Aku perkosa kamu saat ibadah hanya menjadi kegiatan yang membosankan bagimu. Pada  saat itulah aku masuk menyelusip pada kamarmu yang dingin itu. kamar yang setiap malam ibumu bercerita tentang surga dengan sungai air susu mengalir di bawahnya. Tempat yang nyaman untuk membangun keluarga bahagia. Ketika itulah aku masuk naik keranjangmu. Mengoyak secara perlahan kancing baju, celana, pakaian dalam hingga cahaya tuhan berhenti menyinari masa kecilmu dulu.

Kapan itu?

Dulu sekali. Waktu itu kamu sudah semakin jarang mengikuti Misa. Kamupun minta ibu berhenti untuk mendongeng tentang kisah heroik tokoh agama. Waktu itulah aku masuk dalam mimpimu. Sebuah mimpi yang aku buat semu. Mimpi yang mengambarkan surga dunia tampa perlu kamu mati terlebih dahulu. Lewat itulah aku masuk dalam kehidupanmu yang suci.

Kamu ini iblis?

Sudah aku katakan, aku Domba.

Seekor domba yang bisa memakan serigala-serigala ganas di tepi hutan. Menjadi Domba yang menundukkan para singa tampa setetes darahpun. Aku cukup ,memperlihatkan sosokku maka mereka akan tunduk dan menghamba.

 Kenapa orang memanggilmu Domba jika kamu adalah raja?

Karena orang-orang yang paham siapa aku. Aku tak ubahnya seperti seekor Domba yang mencoba merebut rumput mereka. Sebuah rumput yang menyejukkan jiwa. Rumput yang dapat menghidupi seluruh makhluk hidup di dunia ini. hewan, tumbuhan, manusia akan hidup dengan tentram dan damai. Tugasku menjadi seorang perusak segalanya. Tatanan yang dulu telah tersusun rapi secara perlahan aku runtuhkan dengan hawa nafsu.

Biadab.

Kau tau anakmu kini telah menjadi budak sejatiku. Setiap malam ia menemaniku di kamar mandi, menjadi handukku, sepatu, celana dalam, dan apapun yang aku minta pasti ia turuti.

Di mana dia sekarang?

Di kamarmu, gadis yang kau cumbu tadi malam itulah anakkmu. Kau sungguh bodoh! demi aku kau korbankan anakmu. Tengoklah dia, Kemarin ia menjadi seorang gadis manja yang kau gauli ketika ada waktu. Kini terbujur kaku tampa membawa apapun. Semua apa yang ia miliki telah aku ambil kembali, begitupun kau, dan mereka yang aku jebak dengan jaring laba-labaku. Jangan pernah berharap kau bisa keluar dengan mudahnya karena jaringku membelenggu setiap manusia yang datang dan meminta.


Oleh:

SU
Mahasiswa Universitas Trunojoyo

Kamis, 01 Juni 2017

Jokowi Adalah Senjata bagi Persatuan Indonesia

by
Bangsa Indonesia adalah bangsa yang kaya akan nilai-nilai luhur, baik dalam kontek sosial, budaya, ekonomi, politik maupun pendidikan. Dalam rangka memperingati hari lahir Pancasila yang diperingati setiap tanggal 1 Juni. Pada hari yang istimewa ini, dirasa perlu menjadikan hari ini sebagai momen refleksi rasa patriotisme dan mawas diri terhadap ujian-ujian yang melanda bangsa Indonesia. Dalam menerawang masa depan bangsa, perlu kiranya kita menyelam lebih dalam untuk mengetahui masa lalu bangsa Indonesia, atau bangsa yang dulunya bernama Nusantara. 

Pancasila yang menjadi ideologi bangsa Indonesia, bukan dilahirkan oleh Presiden Soekarno. Hanya saja, Soekarno lebih dulu lahir dan menyampaikannya di sidang parlemen kala itu. Pada kesempatan kali ini, segala persoalan yang mengguncang bangsa Indonesia, akan saya hubungkan dengan kisah ‘perang saudara’ Baratayudha. Soekarno adalah jelmaan Adipati Karna, dimana beliau merupakan kakanda tertua dari Putra Prabu Pandu Dewanata, atau biasa disebut Pandawa. Sedangkan Pandawa menjelma sebagai Pancasila. Keduanya lahir dari seorang ibu yang sama, yakni Dewi Kunti. Itulah sebabnya (mungkin) hingga bangsa ini lebih nyaman dipanggil dengan sebutan Ibu Pertiwi ketimbang Bapak Pertiwi.

Puntadewa atau Yudistira menjelma sebagai Ketuhanan yang Maha Esa; Werkudara atau Bimasena menjelma sebagai Kemanusiaan yang adil dan beradab; Arjuna sebagai Persatuan Indonesia; Putra kembar, Nakula dan Sadewa menjelma sebagai sila keempat dan kelima yakni Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan dan untuk mencapai keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Kala itu, Soekarno dijatuhkan oleh sekelompok masyarakat Indonesia dari tonggak kepemimpinan, lantaran Soekarno lebih condong kepada Komunis. Padahal sudah jelas, bahwa keberadaan komunis kala itu, tidak begitu diterima oleh sebagian besar masyarakat Indonesia lantaran mencoreng nilai-nilai yang ada pada Pancasila. Sama halnya, dengan keadaan dimana Adipati Karna yang memihak pada Kurawa sehingga berlawanan dengan Pandawa, padahal kala itu, rakyat sudah muak dengan kesewenang-wenangan Kurawa. Apalagi sikap Kurawa yang begitu hina kepada Pandawa. Khususnya kecurangannya dalam permainan dadu, hingga Pandawa kalah dan mengasingkan diri ke hutan dengan waktu yang cukup lama.

Begitu banyak ujian melanda Indonesia. Termasuk munculnya persoalan penistaan agama yang boleh dikatakan telah mengikis ataupun menghilangkan nilai sila ketiga pada Pancasila, yakni persatuan Indonesia. Kenapa peristiwa tersebut bisa terjadi? Bagaimana untuk mengembalikan sila ketiga? Jawabnya, ketika Pandawa mengasingkan diri di hutan dan bersumpah untuk tidak saling bertemu dalam pengasingannya. Musibah muncul ketika Arjuna menyelamatkan Puntadewa dari niat buruk Nogogombang dan membunuhnya. Karena Arjuna bertemu Puntadewa dan itu artinya bahwa Arjuna mengingkari sumpah Pandawa. Maka, Arjuna dihukum oleh Puntadewa untuk mendapatkan senjata Pasopati di gunung. Dimana kekuatan senjata itu sebanding dengan senjata Adipati Karna. Akhirnyapun, Arjuna mendapatkannya serta kembali bergabung dengan Pandawa. 

Setelah Arjuna yang menjadi simbol sila ketiga itu mendapatkan Pasopati. Apakah persatuan Indonesia sudah kembali mengutuhkan diri ke Pancasila? Jawabnya, iya benar. Tapi pertanyaanya, dalam keadaan Indonesia sekarang, Siapakah yang bertindak sebagai Pasopati? Dalam benak saya, ketika mendengar Istilah ‘Pasopati’ yang muncul malah suporter sepakbola Solo yakni Pasopati. Berarti terdapat suatu hubungan antara Pasopati dengan Solo. Jika begitu, maka  Pasopati adalah orang Solo. Siapa lagi kalau bukan Presiden Indonesia saat ini, Joko Widodo yang namanya masyhur di Solo lantaran pernah menjadi Walikota yang bisa dikatakan berhasil.

Pandawa telah kembali utuh dan bertambah kuat dengan hadirnya senjata Pasopati yang diperoleh Arjuna dari gunung. Dalam hal ini, kenapa Pasopati diperolehnya di gunung? Gunung merupakan tempat penyembunyian javan hawk eagle, elang jawa atau biasa disebut dengan burung garuda untuk melepaskan (memperbarui) paruh, kuku dan bulu-bulunya. Sehingga, garuda seperti lahir kembali dan bisa terbang lebih tinggi dari sebelumnya. Indonesia yang sedang terpuruk merupakan adopsi dari persembunyian Garuda untuk menemukan Indonesia yang baru, agar mampu terbang lebih tinggi. Sempurnalah Garuda Pancasila sebagaimana Pandawa dengan Pasopatinya.

Perang Baratayudha merupakan perang antar saudara, perang antara sifat mulia dari kubu Pandawa dengan sifat iri dengki dari kubu Kurawa. Dan peperangan itu dimenangkan oleh kubu Pandawa. Dimana titah Puntadewa kepada Arjuna untuk segera menghunuskan senjata Pasopati kepada Karna berhasil menumbangkan pasukan Kurawa yang durjana. Meski kematian Karna sudah jelas akan memberikan kemenangan kepada Pandawa, namun peperangan masih berlanjut sampai terbunuhnya Duryudana. Jika dihubungkan dengan keadaan Indonesia dewasa ini. Timbulnya kegaduhan di bangsa ini disebabkan oleh sifat iri, dengki, kejam dan semacamnya dari salah satu kubu yang melawan kubu sifat mulia dengan perjuangannya menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Jokowi yang menjadi simbol Pasopati, harus menghunus dan menumbangkan Karna untuk mengalahkan kubu iri dengki demi mencapai kedaulatan Pancasila.

Siapakah Karna yang dimaksud? Bukankah Soekarno sudah lama meninggal? Jawabnya sederhana, anak turun Soekarno yang datang dengan ideologi “tandingan”. Lalu langkah yang harus diambil menurut kisah pewayangan  adalah ‘Persatuan Indonesia’ yang bersenjatakan Jokowi, harus taat pada perintah ‘Ketuhanan yang Maha Esa’ dengan cara ‘membunuh’ atau lepas dari segala intervensi Sehingga dengan begitu, akan memberikan langkah terang untuk tercapainya kedaulatan Pancasila.

Lantas siapakah Duryudana? Karena dengan terbunuhnya Duryudana sebagai Raja Kurawa, maka perang saudara ‘Baratayudha’ berakhir. Yang jelas Duryudana merupakan raja dari ‘sesuatu’ yang membenci Pancasila dan dibunuh oleh Werkudara ‘kemanusiaan yang adil dan beradab’. Silahkan direnungkan, saya tidak ingin menghakimi terlebih dahulu. Semoga rakyat Indonesia, mulai dari rakyat jelata sampai kaum pemerintah disadarkan Tuhan supaya segera dan menemukan jawabannya. 

Ditulis oleh Sokran
Mahasiswa Universitar Trunojoyo Madura

UTM Gelar Upacara Peringatan Hari Lahir Pancasila

by
Pengibaran bendera pada upacara peringatan Hari Lahir Pancasila. Foto : Fahmi.

WKUTM- Dalam memperingati Hari Lahir Pancasila, Kamis (1/06) pukul 07.30 wib. Universitas Trunojoyo Madura (UTM) menggelar upacara bendera di halaman depan gedung Graha Utama. Upacara dipimpin oleh Muhammad Wafak dari unit kegiatan mahasiswa (UKM) resimen mahasiswa (MENWA) dan wakil rektor 1 (Warek 1) Deni Setya Bagus Yuherawan sebagai pembina upacara. Upacara yang bertema “Revitalisasi nilai-nilai pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara” ini dihadiri oleh beberapa dosen, staf karyawan UTM serta perwakilan dari mahasiswa.

Deni Setya Bagus Yuherawan berpidato kepada seluruh peserta melalui teks pidato yang ditulis oleh presiden Joko widodo yang berisi tentang pentingnya meneguhkan komitmen kita agar lebih mendalami, menghayati dan mengamalkan nilai-nilai luhur pancasila sebagai dasar bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Selain itu dalam pidatonya Warek 1 juga mengutarakan, sebagai warga negara indonesia kita harus saling menjaga persatuan dan menjaga persaudaraan antar sesama. Ia juga berharap agar semua warga negara indonesia khususnya yang berada di lingkungan kampus UTM selalu menjaga perdamaian antar sesama dan ikut berjuang mewujudkan cita-cita pancasila.

Menanggapi hal tersebut, Shulton salah satu mahasiswa Prodi Teknik Informatika mengaku jika kegiatan upacara semacam ini perlu dilaksanakan, pasalnya hal ini dapat menjadi pengingat tentang landasan dasar negara. ”Ya kegiatan ini harus dilakukan, karena bisa jadi alarm supaya tidak lupa bagaimana landasan bangsa Indonesia,”ujarnya. (Hai/Aww)

Rabu, 31 Mei 2017

BEM FISIB Adakan Program Pengajaran untuk Anak-anak Pelabuhan

by
Foto : Diko

WKUTM – Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Budaya Universitas Trunojoyo Madura (BEM FISIB UTM) tingkatkan kualitas mutu masyarakat madura dengan adakan kegiatan pengabdian dan pengajaran anak-anak di sekitar pelabuhan kamal. Kegiatan ini dilakukan setiap hari rabu dan jumat pukul tiga sore.

Menurut Miftahul Achyar selaku Gubernur BEM FISIB, secara umum kegiatan ini merupakan sarana mahasiswa untuk melatih kepekaan dalam persoalan sosial. Disamping itu, hal ini juga untuk membiasakan berada di tengah-tengah masyarakat tanpa menunggu tugas atau program terencana dari kampus.

“Tidak perlu kita menunggu tugas ataupun KKN untuk mengabdi pada Masyarakat. Artinya kita harus terbiasa bergerak atas dasar kesadaran kita sebagai manusia lebih-lebih sebagai mahasiswa”. Tutur mahasiswa prodi Psikologi semester delapan itu.

Program yang sudah terencana dari dua bulan yang lalu ini berawal dari pengalaman Mirna, selaku ketua pelaksana ketika melihat kondisi anak-anak disekitar pelabuhan Kamal yang hanya bermain saja. Kemudian hal itu diajukan dalam progam kerja BEM FISIB. Setelah disetujui kemudian diadakan open recruitment relawan pada progam ini.

Progam yang diberi nama Muroq ini diambil dari bahasa Madura yang artinya “pengabdian dan pengajaran”. Muroq lebih fokus pada kesenian seperti, menari, membuat puisi dan kerajinan ini bekerja sama dengan WBA (well being for apel) yaitu komunitas yang juga bergerak pada pengabdian masyarakat namun lebih kepada menulis dan membaca.

Ketika ditanya perihal dana, Mirna mengaku dana berasal dari uang kas BEM FISIB. ”kita anggarannya dari dana kas organisasi. kalau terdapat kekurangan, kita iuran dengan semua pihak yang terlibat,” ujar Mahasiswa asal jombang tersebut.

Kegiatan ini disambut baik oleh anak-anak pelabuhan, Yati misalnya. Ia merasa sangat senang dengan adanya kegiatan ini. ”Saya senang bisa belajar bersama, kumpul sama teman dan kakak-kakak yang baik” ucap Yati saat mengikuti Muraq sore tadi (24/05). (rar/aww)

Senin, 29 Mei 2017

Rencana Perataan Gedung Lama Fakultas Hukum

by
Sebagian lahan yang telah disiapkan untuk Gedung FEB di belakang Gedung baru FH. Foto : Rinda

WKUTM – Pembangunan Gedung Ruang Kuliah Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Trunojoyo Madura (UTM) akan dilanjutkan dengan rencana meratakan Gedung Fakultas Hukum (FH) lama. Langkah ini merupakan salah satu bentuk untuk perluasan lahan. Sayangnya, sampai saat ini waktu pelaksanaan perataan tersebut belum dapat ditentukan.

Hal ini dibenarkan oleh Supriyanto. Kepala Biro Administrasi Akademik Kemahasiswaan dan Perencanaan Sistem Informasi (BAAKPSI) ini mengatakan salah satu gedung tertua di UTM tersebut akan diratakan. Sepengetahuannya, lahan tersebut rencananya akan dijadikan bagian dari FEB yang akan dibangun selanjutnya. Adapun untuk waktu pelaksanaannya, Supriyanto belum dapat memberikan jawaban yang pasti.

Menanggapi hal ini, Nunuk Nuswardani selaku Dekan FH mengaku  hanya akan menjalankan apa yang sudah direncanakan oleh pihak atasan saja. Pasalnya, terkait perencanaan dan pembangunan berada  diluar kuasa fakultas. "Kalau itu kami tidak tahu menahu. sebab perencanaan itu sudah diatur di master plan. Jadi fakultas hanya mengurus akademik saja," ujarnya saat ditemui di ruang dekanat FH, Senin (29/5).

Lebih lanjut dirinya menyarankan agar menemui  Wakil Rektor II atau ke pihak Unit Layanan Pengadaan (ULP). Hanya saja disebabkan beberapa faktor, pihak yang disebut belum bisa untuk ditemui.

Adanya kabar ini banyak ditanggapi positif oleh kalangan mahasiswa khususnya mahasiswa FH dan FEB. Anisa Bella Muliawati, mahasiswi FH menilai perataan gedung lama FH merupakan langkah yang baik. Mengingat sudah adanya gedung baru bagi FH.

"Itu merupakan hal yang baik. Soalnya, gedung lama (Fakultas Hukum) banyak nggak dipakai juga . Tempat sidangnya ada yang baru sudah,  yang lama udah nggak  dipakai," ujar mahasiswi asal Sumenep itu.

Tidak jauh berbeda, Syahroni, mahasiswa prodi Manajemen berharap hal tersebut segera terlaksana. Sebab sampai sekarang hanya FEB saja yang belum memiliki gedung khusus untuk proses perkuliahan. "Kalau memang benar ya, nggak masalah. Semoga cepat terlaksana dan  tidak tertunda terus," harapnya. (raj/aww)

Sabtu, 27 Mei 2017

Buletin Sastra Kecubung Edisi 11

by

Sastra mengandung eksplorasi mengenai kebenaran kemanusiaan. Sastra juga menawarkan berbagai bentuk kisah yang merangsang pembaca untuk berbuat sesuatu. Apalagi pembacanya adalah anak-anak yang fantasinya baru berkembang dan menerima segala macam cerita, terlepas dari cerita itu masuk akal atau tidak. Sebagai karya sastra tentulah berusaha menyampaikan nilai-nilai kemanusiaan, mempertahankan, serta menyebarluaskannya termasuk kepada anak-anak.

Sastra anak adalah karya sastra yang secara khusus dapat dipahami oleh anak-anak dan berisi tentang dunia yang akrab dengan anak-anak, yaitu anak yang berusia antara 3-12 tahun. Seperti pada jenis karya sastra umumnya, sastra anak juga berfungsi sebagai media pendidikan dan hiburan, membentuk kepribadian anak, serta menuntun kecerdasan emosi anak. Jadi sastra anak adalah buku bacaan yang sengaja ditulis untuk dibaca anak-anak. Isi buku tersebut harus sesuai dengan minat dan dunia anak-anak, sesuai dengan tingkat perkembangan emosional dan intelektual anak, sehingga dapat memuaskan mereka.

Perkembangan anak akan berjalan wajar dan sesuai dengan periodenya bila disuguhi bahan bacaan yang sesuai pula. Sastra yang akan dikonsumsikan bagi anak harus mengandung tema yang mendidik, alurnya lurus dan tidak berbelit-belit, menggunakan setting yang ada di sekitar mereka atau ada di dunia mereka, tokoh dan penokohan mengandung peneladanan yang baik, gaya bahasanya mudah dipahami tapi mampu mengembangkan bahasa anak, sudut pandang orang yang tepat, dan imajinasi masih dalam jangkauan anak.

Akan tetapi, seiring dengan berjalannya waktu, bacaan anak pun memudar digantikan dengan berbagai macam teknologi dan permainan. Jenis-jenis bacaan anak misalnya, pada sepuluh tahun yang lalu sangat banyak macam-macam bacaan mengenai dunia anak, namun pada saat ini buku bacaan tersebut  menjadi langka  dan banyak orang awam tidak banyak tahu tentang sastra anak. 

Maka dengan diterbitkannya buletin kecubung bulan ini dengan tema ‘Sastra Anak’, diharapkan memberi pemahaman kepada pembaca bahwa sastra tak hanya dinikmati oleh orang dewasa saja. Tetapi anak-anak juga memiliki sastra yang dapat memberikan nilai pendidikan. 

Bumi Manusia

by

Judul Novel          : Bumi Manusia
Penulis                  : Pramoedya Ananta Toer
Penerbit                 : Lentera Dipantara, Jakarta Timur
Isi                          : 535 halaman
Tahun Terbit          : 2011 cetakan ke-17

“Hidup bisa memberi segala hal pada setiap orang yang tahu dan pandai menerima.” (Pramoedya Ananta Toer)

Bumi manusia, buku pertama dari “Tetralogi Pulau Buru”. Menceritakan perjalanan seorang anak manusia berdarah pribumi dengan seluk beluk Eropa, Minke. Kisah  yang bermula dari dunia pendidikan di sekolah HBS, sekolah bagi kaum totok (orang Eropa asli) atau Indo (campuran), atau si pribumi yang berkedudukan yang cukup tinggi. Minke tak pernah mengakui jaminan itu, Ia memperkenalkan dirinya sebagai Minke, tanpa nama keluarga, seorang pribumi. Dulu nama marga dianggap suatu hal yang sangat penting bagi kaum Eropa.

Dalam ukuran kaum pribumi, Minke dapat dikatakan sebagai seorang yang sangat maju bahkan kemampuan membaca dan menulisnya dalam Bahasa Belanda melebihi orang Totok. Hingga suatu ketika bersama seorang teman ia menuju rumah mewah. Di sanalah tinggal seorang wanita pribumi, namun tutur kata, tingkah laku, dan kepandaian seperti wanita Eropa.  Dialah Nyai Ontosoroh, seorang ‘Nyai’ yang dianggap rendah, gundik, wanita simpanan orang Eropa yang tidak dinikahi secara resmi.

Minke datang ke sana lalu berkenalan dengan anak gadis Nyai Ontosoroh, seorang gadis yang sangat cantik laiknya ratu. Kedatangan Minke mendapat dukungan dari Nyai Ontosoroh sebab Minke dirasa sebagai anak muda yang dapat dipercaya, akhirnya, Minke diminta untuk tinggal bersama mereka, hingga Minke jatuh cinta dan masuk  menuju dunia pyloghinik sang ratu, Annelies Mellema. Di sisi lain, Annelies, ‘gadis bayi’ lemah dalam perihal cinta, bergantung dengan seseorang yang ia cintai.
mamun memiliki ketangguhan dalam bekerja.

Perjuangan luar biasa dilakukan Minke untuk mendapatkan Annelies, banyak rintangan tapi berhasil ditaklukkan, bersama guru pribadi, Nyai Ontosoroh yang mengajarkan banyak hal tentang kehidupan. Suatu ketika surat dari Pengadilan Putih membawa sang isteri menuju negeri jauh, entah sampai kapan atau bahkan selamanya.

Di dunia pendidikannya, Minke dididik dengan cara berpikir orang modern yang paham akan kesetaraan sosial. Ia menentang perbudakan yang dilakukan oleh orang-orang sekitarnya. Ia menyuarakan ketidakpuasan atas permasalahan tersebut dengan menulis di surat kabar berbahasa belanda dengan menggunakan nama samaran, Max Tollenar. Akibat dari tulisan itu juga disebutkan Pram yang mana, sebuah tulisan dapat melahirkan kerusuhan.

Novel ini ditulis saat Pram masih berada di Pulau Buru sekitar tahun 1975. Cerita ini berlatar Wonokromo, Surabaya, dan beberapa kota lain di Jawa Timur. Menggambarkan keadaan  Indonesia di akhir 1800 hingga awal 1900 yang oleh sejarah kita tercatat sebagai masa awal Kebangkitan Nasional.

Tiap peristiwa disampaikan melalui deskripsi, tetapi ada beberapa yang dijelaskan secara langsung dari sang tokoh. Banyak tokoh-tokoh yang terlibat, pembaca harus memahami masing-masing karakter tokoh, nama-nama yang hampir mirip sehingga rawan kesalahpahaman.

Setelah edisi pertama, ada rasa ingin segera melanjutkan buku kedua. Bahasa yang sederhana namun tidak membosankan serta alur yang digunakan mampu membuat pembaca untuk mengikuti jalan cerita. Banyak hal yang dipelajari dari buku ini, kepribadian bangsa berkulit putih, sebuah perjuangan, banyak kisah sejarah, layak dibaca semua kalangan, perjuangan yang tidak kenal lelah, melawanlah meski melalui lisan.


“Dan tak ada yang lebih sulit dipahami daripada sang manusia. Itu sebabnya tak habis-habisnya cerita dibuat dibumi ini”.

Diresensi oleh : Idatus Sholihah
Anggota magang LPM-SM

Sabtu, 20 Mei 2017

BEM dan EEC Adakan International Workshop

by

WKUTM - Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Trunojoyo Madura (UTM) adakan acara kolaborasi dengan English Club Colaboration Universitas Trunojoyo Madura (ECC UTM) pada pagi tadi (20/5). Acara yang bertempat di Gedung Pertemuan ini menghadirkan 5 pemateri Internasional, yakni Sanju Kumar Singh dari Nepal, Baharrudinn Rizal dari Indonesia, Albert Liong dari Singapura, Step Paul Bulton dari Inggris dan Edward Angstrong dari Amerika. Acara yang dihadiri lebih dari 700 peserta ini bertema A Great International Mindset with Languange, Education, and Economic.

Acara ini juga dihadiri oleh Boedi Mustiko, selaku Wakil Rektor III (Warek III), yang memberi sambutan pada pembukaan acara. Beliau merasa bangga mahasiswa UTM mampu menghadirkan pemateri berstandar internasional dari lima negara yang berbeda. “Alhamdulillah, mahasiswa UTM mampu menggelar acara berskala internasional,” ujar Warek III saat berpidato di depan peserta workshop. Selanjutnya acara resmi dibuka dengan pemukulan gong oleh Boedi Mustiko yang diiringi tepuk tangan peserta.

Workshop ini menawarkan kepada audiens, pendidikan dengan basis komunikasi menggunakan bahasa Inggris. Hal ini melihat banyaknya beasiswa ke luar negeri dengan syarat utama lancar berbahasa Inggris. Taufiqurrahman, selaku Ketua Pelaksana (Ketupel) Workshop, menjelaskan bahwa kehadiran 5 pemateri berskala internasional berawal dari penawaran pihak Atlas Corporation kepada dirinya. “Awalnya saya menerima post dari pihak Atlas Corporation. Atlas Corporation adalah perusahaan manufaktur yang berpusat di Singapura. Pihak Atlas menawarkan workshop dan sekaligus menjadi sponsorship dari acara dengan mendatangkan kelima speaker dari luar negeri,” papar Ketupel dari jurusan Akuntansi tersebut.

Acara ini memiliki tujuan untuk membangun mindset mahasiswa UTM sehingga berskala internasional dengan sadar akan pentinganya mempelajari bahasa Inggris, namun bukan berarti menghilangkan nasionalisme dan mengkerdilkan bahasa serta budaya sendiri. Selain itu dengan lancar berbahasa Inggris mahasiswa akan mudah untuk mendapatkan beasiswa luar negeri, dan juga tidak sukar untuk memahami budaya, perekonimian, dan pendidikan di negara-negara lain.

Harapan dari pihak Ketupel adalah setelah workshop ini digelar para peserta mampu berbahasa Inggris dengan baik. “Karena pemateri berasal dari berbagai negara dan mengisi materi dengan bahasa inggris, maka peserta harus lancar bahasa inggris. Dan setelah acara ini digelar, gak berhenti sampai disini,” jelas Taufiqurrahman.

Disisi lain ketika di wawancarai, Ana, salah satu peserta workshop merasa senang mengikuti acara ini. Pasalnya acara ini dirasa bermanfaat baginya. “Saya sebagai pemalas dapat termotivasi dengan mengikuti acara ini. Saya jadi tau bagaimana memenejemen waktu sebaik mungkin,” terang mahasiswa semester 4 program studi ilmu hukum tersebut. (din/rin)

Top Ad 728x90