Berita Terbaru

Selasa, 25 Juni 2019

Simpang Siur Mahkamah Konstitusi Mahasiswa

by


WKUTM – Kinerja Mahkamah Konstitusi Mahasiswa (MKM) selaku organisasi mahasiswa yang bertugas dan memiliki wewenang dalam bidang yudikatif hingga saat ini masih dipertanyakan. Sebab, selain banyaknya mahasiswa yang belum mengetahui keberadaan MKM, tugas dan kinerja dari organisasi tersebut juga tidak banyak diketahui mahasiswa pada umumnya.

Sebagaimana yang diakui Zumrotul Azizah, mahasiswa Fakultas Hukum ini tidak mengetahui sama sekali perihal MKM beserta tugas dan fungsinya, ”Tidak tahu, memang MKM itu singkatan dari apa?” kata mahasiswa semester 6 itu.

Sama halnya dengan Zumrotul, Na’riful Ilmiah, mahasiswa Program Studi Agribisnis bahkan baru menyadari bahwa ada Mahkamah Konstitusi di Universitas Trunojoyo Madura ketika diwawancarai Warta UTM.

Di sisi lain, Rochman yang mengetahui keberadaan dan tugas MKM, justru merasa kecewa dengan kinerja MKM. Melihat dari sengketa mahasiswa pertanian tahun 2014, Rochman merasa kurang puas. Menurutnya, MKM kurang maksimal dalam menerjemahkan AD/ART di UTM, ”Jika dirasa kurang, ajukan dengan pasal dan bukti lain yang lebih akurat. Jika sudah selesai di MKM tidak perlu ada mediasi dengan dosen. Namanya MKM, ya, harus final and binding, ini yang menyebabkan demo. Sehingga ada MKM atau tidak, itu tidak berpengaruh,” tuturnya.

Menanggapi hal tersebut, Holel, selaku Ketua Umum MKM, mengatakan bahwa MKM selama ini hanya menyelesaikan satu sengketa, itupun saat pemilu gubernur pertanian tahun 2014. ”Saya masuk 2016. Setahu saya MKM cuma menyelesaikan 1 sengketa, kemarin di pemilu pertanian,” aku mahasiswa Fakultas Hukum tersebut.

Holel juga menjelaskan, untuk periode ini MKM mengadakan program kerja (proker) baru. Adapun proker yang dimaksud yaitu peraturan berencana. Untuk perkembangan MKM ke depannya, rencana yang harus tercapai adalah proker yang sudah disusun oleh teman-teman MKM, tambahnya.

Nurudin, Ketua Umum MKM 2018, mengatakan bahwa MKM sebenarnya tidak memiliki pekerjaan ”Jika berbicara tentang kegiatan dan fungsinya, secara logika hukum MKM memang tidak memiliki pekerjaan,” ujarnya.

Nurudin selanjutnya menganjurkan kepada mahasiswa untuk memberi perubahan kepada MKM dengan mengajukan sengketa, sengketa yang dimaksud bukan hanya tentang pemilu saja. Selain itu, mahasiswa yang saat ini menjabat sebagai Ketua Umum Dewan Perwakilan Mahasiswa ini memberi saran untuk pengurus MKM saat ini, menurutnya untuk membuat mahasiswa lain mengetahui keberadaan MKM, seharusnya MKM mempublikasikan hasil sengketa dan melibatkan mahasiswa lain dalam persidangan.

”Jika ada suatu projek atau gugatan silahkan dipublikasikan agar bisa menunjukkan bahwa MKM sudah ada di UTM. MKM juga harus melibatkan mahasiswa dalam mengerjakan suatu kebijakan,” ujarnya.

Terkait hal ini, Agung Ali Fahmi selaku Wakil Rektor 3 berpandangan bahwa tugas MKM memang menyelesaikan sengketa yang diajukan, ”Tugas MKM menyelesaikan perselisihan, jika tidak ada orang yang ke MKM maka MKM tidak bertugas. MKM sebagai emergency exit (jalan keluar),” ujarnya saat ditemui kamis (20/6).

Selain dilihat dari tugas MKM sendiri, Agung juga berkata bahwa rujukan untuk menilai setiap UKM dilihat dari AD/ART yang dilaksanakan dan sesuai dengan visi misi universitas ”Kalau kerja MKM berlawanan dengan undang-undang negara atau universitas jadi tidak bisa diikuti putusannya,” pungkasnya. (dya/raj)

Minggu, 23 Juni 2019

Eksotis 5 Sabit Pentaskan 2 Naskah Teater

by
Pementasan Teater Sabit. Foto : Lia 


WKUTM – Unit Kegiatan Mahasiswa Fakultas Ilmu Pendidikan Teater Sabit menggelar 2 pementasan teater (22/06) di Auditorium Universitas Trunojoyo Madura (UTM). Pagelaran tersebut dilakukan sebagai perayaan ulang tahun ke-5 Teater Sabit.

Pementasan yang berlangsung mulai pukul 19.00 WIB tersebut mengusung naskah Pagi Bening ditulis oleh Serafin dan Joaquin kemudian disutradarai oleh Saprol. Naskah kedua yakni Marsinah Menggugat ditulis Ratna Sarumpaet lalu disutradarai Danuel.  Penonton dikenakan biaya tiket masuk senilai Rp. 7000., untuk 2 pertunjukkan. Pertunjukan pertama digelar  di gedung auditorium Lantai 2 UTM  kemudian pertunjukan ke dua di halaman parkir gedung Auditorium.

Menurut Adelia Riki Afanda Putri, selaku ketua pelaksana, tema perayaan Eksotis Sabit tahun ini mengangkat tema Muara Panca.  Selain itu rangkaian acara sebelumnya dilaksanakan seminar yang diisi oleh Agus Noor dengan membahas tema kepenulisan yang dilaksanakan sehari sebelum pementasan.  

”Sebelumnya sempat dilaksanakan seminar nasional dengan mengundang sastrawan nasional Agus Noor untuk mengasah kemampuan dalam menulis, serta metode-metode kepenulisan naskah.  Adapun tema rangkaian perayaan ulang tahun ini diartikan sebagai adanya harap seluruh keberkahan dan kebahagiaan dilimpahkan pada Teater Sabit di tahun kelima ini.”

Dalam pembukaan acara Agus Noor memberikan sambutan bahwa teater bukan semata-mata perihal kesenian melainkan adanya proses lain dalam membangun jati diri. ”Selain sebagai kesenian, pementasan teater juga  membangun pematangan mental seorang pemeran, serta mampu menjadikan Madura sebagai salah satu sumber lahirnya seniman dan aktor handal dalam pementasan teater untuk Indonesia” ungkap Agus Noor.

Sri Wahyuni, Salah satu peserta pementasan menilai acara ini menambah pengalaman dan memperdalam kemampuannya di bidang teater. ”Pementasan teater ini  memberi wawasan tambahan bagi yang ingin mendalami teater, penguasaan panggung, jadi tidak semata-mata menjadi hiburan” ungkap mahasiswa Pendidikan IPA tersebut.

Adelia berharap dengan terselenggaranya acara ini dapat membawa manfaat bagi siapapun, terutama untuk Teater Sabit, sehingga terus berkarya dalam kesenian.  Selain itu juga menjadi pembelajaran bagi panitia sehingga dapat belajar lebih semoga di acara selanjutnya lebih baik lagi. (Ma/Wk)

Jumat, 21 Juni 2019

PBSI UTM Gelar Pementasan Teater Sempat

by

                      
Pementasan Teater Sempat di Gedung Student Center 

WKUTM- Teater Sempat kembali diselenggarakan oleh program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Trunojoyo Madura (PBSI UTM). Kegiatan ini berlangsung selama tiga hari, yakni 18-20 Juni di Gedung Student Center (GSC).

Menurut Ahmad Noer Fahri, selaku ketua pelaksana, memaparkan bahwa teater sempat merupakan salah satu tugas akhir semester dari mata kuliah seni teater bagi mahasiswa PBSI semester 4 yang setiap tahun digelar. Dalam pementasan teater kali ini diambil tema “sat warna lakon aksara.” Sat diambil dari bahasa Sansekerta yang artinya enam, sebagai perlambang ada enam pementasan. Sedangkan aksara sebagai simbol  angkatan bahasa dan sastra untuk angkatan 17. Ia juga mengungkapkan untuk menentukan masalah tema awalnya kebingungan karena untuk penampilan teater kali ini berbeda-beda. Setiap kelas setidaknya dua kelompok teater. Namun setelah ada keputusan bersama, teater sempat mengangkat tema tersebut.

“Jadi ada 6 penampilan yang dilakukan oleh teman-teman lakon aksara, yakni pementasan teater berjudul demit, larasati, mantan mandor, dukun-dukunan, matahari setengah mati, dan jangan bernyanyi di kamar mandi ” paparnya.

Selain itu, pihaknya menambahkan bahwa teater sempat ini memang sudah ada sejak angkatan pertama, dan pementasan dilakukan tiap akhir semester 4. Setiap kelas dibagi beberapa kelompok, di setiap kelompok juga dibagi sesuai naskah, sisanya bagian ligthing, artistik, dan perlengkapan.
Fahri menambahkan bahwa proses persiapan berawal dari mata kuliah seni teater PBSI, mulai dari pendalaman teori selama tiga bulan. Kemudian untuk latihan dan penggarapan selama tiga bulan. Untuk pelaksanaannya penonton dikenakan tiket seharga Rp. 5000., yang dapat digunakan selama tiga hari pementasan dan untuk umum.

Ahmad Jami’ul Amil, selaku dosen pembimbing mengungkapkan, teater ini memang merupakan wahana mahasiswa untuk menuangkan bakat dan kreativitas serta ekspresi mereka melalui pementasan teater.

”Teater merupakan kegiatan yang bisa meneguhkan karakter mereka sebagai mahasiswa yang memiliki kebebasan menuangkan ide-ide kreatif dalam bentuk seni lewat panggung pertunjukan. Mereka bisa mengungkapkan karakter di setiap tokoh dan merasakan proses melakukan pertunjukan tentang kekompakan, kekeluargaan, dan kebersamaan mereka.”

Mega Nur Azila, salah satu peserta pementasan mengaku merasa senang karena mampu berapresiasi terhadap seni. Ia berharap untuk tahun ke depan tetap diadakan karena teater sebab kegiatan seperti ini merupakan tempat wadah untuk berekspresi.

Senada dengan itu, Indah Ruhil mahasiswa PBSI semester 4 menilai bahwa kegiatan ini merupakan salah satu bentuk mengenalkan teater. Sehingga mampu membuat generasi muda lebih mencintai kesenian-kesenian Indonesia.

Ahmad Jami’ul Amil juga berharap setelah pementasan ini, mahasiswa dapat meningkatkan kreativitasnya lagi. ”Setelah dilaksanakan teater ini saya harap, mahasiswa meningkatkan lagi kreativitasnya. Saya harap melalui tater mahasiswa mampu merefleksikan diri, baik ketika mereka hidup di lingkungan mahasiswa ataupun masyarakat” pungkasnya. (yul/wuk)


Selasa, 28 Mei 2019

Rawannya Keamanan Sekretariat Bersama

by
Plang/papan nama Sekretariat Bersama UTM
Foto: Raj


WKUTM – Senin malam (27/5), Sekretariat Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Unit Kegiatan Kerohanian Kristen (UK3) dimasuki orang tak dikenal. Peristiwa itu terjadi saat seluruh anggota UK3 mengadakan persekutuan doa di Gedung Auditorium Lantai 2.

Kejadian tersebut, sebagaimana yang diceritakan Ketua Umum UK3, Devilia Sitorus, diketahui saat salah seorang anggota yang hendak menaruh barang, malah mendapati orang asing di dalam sekretariat. Padahal menurutnya, pintu sekretariat dalam keadaan terkunci dan lampu dipadamkan seluruhnya. ”Pas anggota saya masuk, orang itu langsung keluar. Anggota saya ini cewek, jadi dia kaget dan cuma ngeliatin orang itu sampai keluar area sekret,” jelasnya.

Kejadian di Sekretariat UK3 itu, menujukkan keamanan Sekretaiat Bersama (Sekber) dinilai masih kurang maksimal oleh beberapa pihak. Salah satunya M. Nur Khozin, Komandan Pramuka UTM tersebut menjelaskan selama bulan Ramadan, selain peristiwa yang terjadi di Sekretariat UK3, setidaknya ada dua kasus pencurian yang juga terjadi di area Sekber, salah satunya di Sekretariat Pramuka.

Sepengakuan Khozin, pada 21 Mei, dua buah laptop hilang di sekretariatnya. Pasca kejadian itu, ia mengaku langsung melapor kepada satpam yang bertugas di setiap pos, ”anggota saya kehilangan dua laptop, tas dan charger. Kejadiannya minggu lalu setelah tarawih, sekitar jam sembilan. Selepas kejadian tersebut kami langsung lapor ke satpam,” katanya.

Selain Pramuka, UKM Ihfadz juga mengalami hal yang serupa. Imam Mahruz, anggota UKM Ihfadz menuturkan kalau salah satu anggota UKM-nya kehilangan sebuah gawai di sekretariat saat salat tarawih. Dari kejadian itu, ia menilai keamanan Sekber perlu ditingkatkan.

Namun sampai saat ini, belum ada perkembangan perihal kasus-kasus tersebut. Bahkan Komandan Regu Satuan Pengamanan (Satpam) UTM, Sukron, mengaku tidak mendengar kasus tersebut, sebab menurutnya tidak ada laporan yang ia terima. ”Enggak dengar saya, soalnya enggak ada laporan,” akunya.

Selanjutnya, Sukron beralasan kalau di standard operational procedure, satpam hanya menjaga barang milik negara, sehingga jika ada barang berharga pribadi hendaknya dititipkan kepada satpam untuk mengurangi tindak pencurian. ”Kalau di SOP, satpam menjaga barang milik negara. Kalau barang berharga milik pribadi bisa dititipkan ke satpam. Jika setelah dititipkan dan barang itu hilang ataupun rusak maka itu tanggung jawab penuh ke satpam.”

Tampak muka Sekretariat UK3
Foto: Raj


Tuntutan Peningkatan Keamanan Sekber
Keamanan Sekber dinilai masih kurang maksimal dan perlu ditingkatkan, sebagaimana yang disuarakan M. Nur Khozin. Menurut Khozin, sekurang-kurangnya Sekber perlu dipasang Closed Circuit Television (CCTV). Mahasiswa Ilmu Hukum itu berpandangan, pentingnya CCTV juga lantaran satpam hanya ke Sekber ketika pensterilan di jam malam saja. Selebihnya sangat jarang. ”CCTV harus ada. Sebab satpam hanya ke Sekber saat jam malam saja, CCTV sangat berperan untuk meningkatkan kemanan,” Jelasnya.

Senada dengan Khozin, Devilia Sitorus berpendapat, pemasangan CCTV perlu diadakan untuk memonitoring siapa saja yang keluar masuk sekret. Selain itu, menurut Devilia, CCTV juga dapat berguna untuk mencari petunjuk apabila ada kasus-kasus seperti pencurian, terlebih barang-barang Sekber bukan hanya barang pribadi namun juga inventaris UKM.

”Perlu diadakan CCTV di area Sekber. Sebab barang-barang di setiap UKM merupakan inventaris yang harus dijaga,” kata mahasiswa asal Riau itu.

Agung Ali Fahmi, Wakil Rektor III, saat dimintai tanggapan terkait keamanan Sekber berujar, Sekber adalah wilayah publik. Jika terjadi pencurian, maka tanggung jawab yang utama dari diri sendiri.

CCTV sendiri, bagi Agung cuma instrumen perlengkapan. Pokok dari permasalahan, menurutnya, adalah kesadaran diri sendiri. ”Instrumen keamanan bagian kecilnya adalah satpam, instrumen perlengkapan ada CCTV. Tetapi, pokok persoalan dari keamanan adalah kesadaran diri sendiri, kedisiplinan, dan kepedulian sesama anggota UKM. Jika ingin dipasang CCTV, bisa diajukan sesuai kebutuhan.” katanya. (Sur/S)

Minggu, 26 Mei 2019

IMB Selenggarakan Bina Yayasan di Tahun Kedua

by
Bina Yayasan Oleh IMB UTM. Foto : Lia


WKUTM- Ikatan Mahasiswa Bidikmisi Universitas Trunojoyo Madura (IMB UTM) selenggarakan Bina Yayasan di  Yayasan Nurul Rahmah, Kemayoran Bangkalan (26/05).  Acara tersebut digelar sebagai  bentuk pengabdian mahasiswa bidikmisi kepada masyarakat. 

Acara tersebut berlangsung  mulai tanggal 24-26 Mei 2019. Dibuka  pada hari  Jumat sore dan akan diakhiri pada Minggu malam dengan menyanyikan lagu sayonara sebagai acara penutup. Tujuh rangkaian acara yang telah disiapkan oleh panitia antara lain: IMB Mengajar, Kelas Inspirasi, Sosialisasi Narkoba, Bakti Yayasan, Smart Contest, renovasi Perpustakaan, dan sosialisasi kesehatan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Bangkalan.

Menurut Abdul Ghofur, selaku Ketua Pelaksana, acara berlangsung dengan baik meskipun ada beberapa kendala, seperti relawan yang tidak bisa selalu mengikuti acara karena tugas kampus. Selain itu terjadi kesalahpahaman dengan pengasuh yayasan karena beberapa acara bentrok dengan acara komunitas lain yang mengadakan buka bersama di yayasan tersebut.

”Kami sempat mengalami kesalahpahaman dengan pengasuhnya karena ada beberapa kali terjadi bentrok acara dengan komunitas lain yang juga mengadakan buka bersama di yayasan ini, namun selepas acara buka bersama dengan komunitas lain acara selanjutnya dilanjutkan oleh kami kembali,” ungkap mahasiswa Program Studi Sosiologi tersebut.

Pihaknya juga menambahkan bahwa ini merupakan acara rutin tahunan yang kedua. Selain itu, pihak yayasan memberikan pintu terbuka untuk pengadaan acara ini di kemudian waktu dan pihak yayasan membuka akses dengan mudah. ”Pengasuh yayasan memberikan  izin untuk kegiatan dengan cara yang mudah” tambah Abdul Ghofur.

Kegiatan yang diikuti oleh 35 peserta dari kalangan Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Pertama tersebut mendapat respon baik. Seperti yang diungkapkan Aulia Agustina, dirinya mengungkapkan bahwa acara tesebut cukup menyenangkan dan bermanfaat.

”Acaranya beragam dan tidak membosankan, ada buka bersama, juga kami mendapat ilmu tentang sedekah itu apa, infak itu apa” ujar siswi kelas delapan tersebut.

Abdul Ghofur juga memaparkan jika sampai pengujung acara, bukan berarti telah berhenti dan akan dimonitor selama enam bulan ke depan. ”Harapannya setelah kegiatan tersebut selesai untuk ke depan akan terus berlanjut dan akan kami monitor selama enam bulan bagi program yang sudah dilakukan.” (Ir/Sur/Wuk)

Hati dan Keteguhan

by


Semua bentangan rasa yang terkumpul didalam raga
Segala macam hasrat yang inginkan tatap dan berjumpa
Melebur menyatu dalam suasana
Keheningan yang tak mampu diterka

Kepada sunyi yang kiranya mulai membenci
Atas tiap-tiap curahan hati seorang penyendiri
Juga perindu yang masih berseteru, sedang menangisi
Keadaan-keadaan pengusik hati

Kepada waktu yang memilih tuk beranjak pergi
Menyisakan jarak tanpa diawali sebuah kata permisi
Lalu merenggangkan pertemuan yang mungkin berarti
Pertemuan antara keteguhan dan kerinduan dua hati

Aku menjelma menjadi sajak-sajak
Tempat romantika kata berjejer dan berpijak
Aku menjadi rangkaian huruf-huruf
Yang menari pasrah membuat kumpulan jejak

Namun,
Atas hati yang coba saling mengukuhkan diri
Masih kuatkah kita menahan rasa ini?

Mohammad Jumhari, Mahasiswa Program Studi Ilmu Hukum UTM

Rabu, 15 Mei 2019

Pemberkasan Calon Mahasiswa Baru Jalur SNMPTN 2019

by


 
Pemberkasan SNMPTN UTM 2019. Foto : Dic

WKUTM – Pemberkasan calon mahasiswa baru (camaba) Universitas Trunojoyo Madura (UTM) jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) berlangsung pada 15-16 Mei 2019 di gedung pertemuan.

Pemberkasan yang dilakukan mulai pukul 08.30 hingga 14.30 WIB ini diikuti oleh calon mahasiswa yang telah memenuhi syarat berupa: selesai melakukan registrasi online, verifikasi data, dan melakukan pembayaran Uang Kuliah Tunggal (UKT). Berkas yang harus dibawa berupa kartu tanda peserta SNMPTN, cetak hasil verifikasi data, fotokopi ijazah atau Surat Keterangan Lulus (SKL), fotokopi akta kelahiran, surat keterangan sehat, serta surat pernyataan bermaterai.

Pada hari pertama (15/05), pemberkasan diperuntukkan bagi calon mahasiswa Fakultas Hukum, Pertanian, Ekonomi dan Bisnis, serta Teknik. Kemudian hari berikutnya bagi calon mahasiswa Fakultas Keislaman, Pendidikan, serta Ilmu Sosial dan Ilmu Budaya, serta prodi dari fakultas lain seperti Teknologi Industri Pertanian dan Akuntansi.

Kepala Subbagian akademik,  Biro Administrasi, Akademik, Perencanaan dan Sistem Informasi (BAAKPSI), Muhammad Utsman, mengungkapkan bahwa pemberkasan hari ini berjalan lancar dan tercatat sekitar 1.400 calon mahasiswa. Pihaknya juga menambahkan, apabila calon mahasiswa tidak dapat mengikuti pemberkasan pada hari pertama, maka dapat mengajukan pemberkasan hari berikutnya.

 ”Prinsipnya kami sudah memberi jadwal yang sesuai. Namun, apabila hari ini terdapat kendala karena hal–hal yang wajar misalnya sakit, tentunya bisa kami toleransi, maksimal besok,” tuturnya.

Terkait pelayanan dari pihak panitia sendiri, para camaba mengungkapkan sudah baik. Hal tersebut diakui oleh Maya Dwi Febrianti, camaba prodi Ekonomi Pembangunan, ”Pelayanannya cukup memuaskan dan ditangani dengan baik, kami mengantri hanya 15 menit,”  ujar calon mahasiswa penerima Beasiswa Bidikmisi tersebut.

Senada dengan Maya Dwi, Andika Sena, calon mahasiswa prodi Sistem Informatika menambahkan bahwa panitia memudahkan, jika ada berkas yang telah ditentukan tidak lengkap, bisa kembali lagi pada hari berikutnya. ”Pelayanannya cepat jika berkas lengkap dan apabila tidak lengkap mungkin pelayanan sedikit lama, meskipun begitu kita bisa kembali lagi besok,” tutupnya. (Uya/Ben/Wuk)

Minggu, 05 Mei 2019

Penulis dalam Kepenulisan

by


Kepenulisan, literasi, atau apapun sebutannya itu, adalah sebuah jembatan bagi terbentuknya karakter, watak, dan juga pengetahuan. Kegiatan yang dilakukan dalam kepenulisan salah satunya adalah menulis. Salah satu arti menulis menurut KBBI adalah membuat huruf dengan pena; melahirkan pemikiran dan perasaan. Dalam hemat saya, setidaknya  ada tiga jenis pemikiran dari orang-orang terhadap kegiatan tulis-menulis yang berhubungan dengan arti kedua. Mari kita bahas di bawah.

Dari sebagian orang, menulis merupakan kegiatan wajib karena dianggap mengasyikkan. Dengan menulis mereka dapat mengeksplorasi ribuan bahkan jutaan ide, pengalaman, hingga pendapat orang lain untuk kemudian diolah menjadi sebuah karya tulisan. Baik itu dijadikan karya sastra macam puisi atau cerpen, ataupun karya nonsastra seperti artikel, opini, resensi, esai, bahkan karya ilmiah hasil penelitian.

Lalu sebagian lainnya yang kontra dengan pemikiran di atas menganggap menulis adalah kegiatan yang membosankan, menjengkelkan dan kadang berpikiran “Menulis hanya buang-buang waktu.” Anggapan tersebut muncul ketika seseorang mempunyai kebencian, trauma, ataupun tingkat kesibukan yang super-duper tinggi.

Namun beberapa orang tidak sependapat dengan kedua pemikiran tersebut. Mereka beranggapan bahwa, “Menulis boleh, tidak menulis pun, tidak apa-apa.” Mereka inilah yang saya sebut “Golongan Tengah” atau “Golongan Awangan”. Mereka adalah orang-orang yang tidak pernah konsisten dengan pekerjaannya, tak ada konsep, dan tak ada gagasan. Satu hari dia bisa menulis karya meskipun hanya satu, atau bahkan. Namun hari esoknya dengan situasi yang sama dia kehilangan arah dan tidak punya lagi semangat menulis. Nah, sebenarnya dari ketiga pemikiran di atas, manakah yang paling benar dan paling bisa dibenarkan?

Pada hakikatnya, menulis bukanlah keharusan, meski ada yang mewajibkan. Menulis bukanlah wanita cantik ataupun pria tampan, meski banyak yang jatuh cinta pada hasil tulisan. Menulis juga bukan pekerjaan yang bisa dijadikan sebagai ladang penghasilan, meskipun sebuah karya memang seharusnya perlu apresiasi (lebih dari sekedar terbit gratis), karena pasti sebuah karya tulis itu ditulis dengan usaha.

Menulis itu tentang perasaan, menulis itu tentang pulpen dan kertas, menulis itu tentang mengirim ke media dan diterbitkan. Itu semua adalah pendapat yang benar, tapi tidak sepenuhnya dapat dibenarkan. Menulis, ya, menulis. Tidak harus pakai perasaan, tidak harus menggunakan pulpen dan  kertas, dan tidak juga harus terbit di media.

Jadi semua pemikiran tentang menulis adalah benar dan dapat dibenarkan sesuai dengan pemikiran masing-masing orang. Nah kira-kira pembaca yang budiman ini masuk di golongan yang mana?

Jadi semua orang sebenarnya berhak dan boleh menulis, asalkan punya kemauan (meski cuma iseng) dan kesempatan (meski mencuri waktu). Entah itu anak TK, pelajar SD, SMP, SMA, Guru, Kyai, Mahasiswa, Santri, Jurnalis, Sastrawan, Reporter, Koruptor, Pejabat, Politikus, Narapidana, Petani, bahkan Pengemis dan segala jenis manusia lainnya. Semuanya punya hak dan kesempatan yang sama untuk menulis. Tapi satu hal yang harus selalu diingat adalah, bila ingin menjadi penulis yang hebat maka lebih dulu harus menjadi pembaca yang baik.

Lampung, April 2019



Imam Khoironi
Sekarang aktif di Organisasi Ikatan Pelajar NU Lampung.


Loro Piker

by




Judul : Retorika (Seni Bicara)
Penulis : Aristoteles
Jenis : Essai
ISBN : 978-602-6651-98
Tahun : 2018

Sebuah Cacian

Kebanyakan orang memiliki otak  sudah dikotori dengan segala sesuatu yang berorientasi pada perut bahkan sampai kemaluan. Terlebih bagaimana yang terjadi pada politisi Indonesia. Seharusnya, dengan mengisi otak setidaknya mementingkan arti kemanusiaan bukan malah terbentur kepentingan, partai politik dan persetan dengan omong kosong lainnya.

Loro piker adalah istilah yang akrab di desa saya untuk menggambarkan kondisi seorang yang dalam tahap berpikir saja sudah salah. Sudah tentu tindakannya akan lebih menyimpang dari sebagaimana mestinya. Melirik kondisi sekarang yang terjadi pada politisi kita misalnya – dalam tahap berpikir saja sudah salah. Walau bagaimanapun tidak dapat kita hindarkan ada banyak faktor hal seperti itu sudah terjadi.

Adalah Sebuah Resensi

Retorika. Seni yang memang seharusnya dipakai untuk membungkus bagaimana pemikiran seseorang  (pola pikirnya). Baik dalam seni dalam berargumentasi, pidato, debat, interogasi atau setidaknya dalam bahasa sehari-hari. Tidak lain tujuannya adalah bagaimana menyembunyikan persuasi kita untuk pendengar agar senada dengan apa yang kita pikirkan. Selain itu, untuk mengupayakan diksi yang dipakai agar lebih efektif dan mudah dipahami oleh lawan bicara.

Seni seperti ini sebagaimana yang dikenalkan oleh Aristoteles, dalam buku ”RETORIKA (seni berbicara)” setebal 416 halaman yang diterbitkan oleh basa-basi, bertujuan memberikan dasar, tumpuan dan pijak untuk urusan persuasi melalui beretorika. Walaupun, tidak sepenuhnya buku ini melulu menjabarkan secara teknis penyusunan kalimatnya. Jadi, untuk lebih mendalam terkait retorika bisa memperdalam disiplin ilmu lain, logika misalnya.

Bahwa, retorika masih dekat dengan dialektika, logika, dan politik. Tentunya keempat perkara tersebut adalah anak turun dari filsafat. Berawal dari filsafat yang menurunkan banyak fase, dari naturalis sampai dengan postmodern – lebih spesifik misalnya dalam konstruksi berpikir kita kenal dengan Materialisme Dialektika Logika (Madilog), Tan Malaka, yang berawal dari ketidaksetujuannya pada Materialisme Dialektika Histori (MDH). Lebih lanjut pada tahap logika masih menurunkan banyak cabang, salah satunya yaitu terkait silogisme. Juga; filsafat menurunkan disiplin baru yaitu politik. Sedangkan kaitannya dengan semua itu, retorika digunakan untuk membungkus dan menyajikannya dalam berargumentasi.

Saya tidak akan membahas lebih jauh yang bukan tentang retorika. Dan betapa rakusnya anda ketika menuntut saya untuk menjabarkan semuanya.

Saya kira, retorika memang sangat dibutuhkan untuk berbicara agar lebih berseni. Walaupun kadang, retorika dapat digunakan untuk mematahkan argumen dan fakta dari lawan berbicara, dengan atau tanpa kita mengetahui kebenarannya. Seperti: ketika kita terjebak dalam suatu perdebatan yang lawan bicara kita lebih mumpuni dalam tema tersebut, bisa kita mematahkan argumen atau fakta yang dipaparkan oleh lawan bicara kita, asal kita bisa menemukan celah atau premis yang dibangun oleh lawan kita yang kurang logis.

Misalnya;

”Untuk urusan biologi tentunya saya lebih darimu yang kuliah hukum,” ucap Ando.

”Siapa yang berani menjamin?” tanya Sualow.

”Antara kita bedua, saya tentunya,” balasnya.

”Atas dasar apa kamu bisa menjamin? Setidaknya diskusi perkara tersebut saja belum pernah kita coba,” balasnya.

”…,” Ando terdiam.

”Baiklah! Binatang apa yang durasi bercintanya paling cepat?” tanya Sualow.

”Mana aku tahu. Lagian apa pentingnya juga,” sanggah Ando.

”Kamu bilang lebih mumpuni. Bagaimana kita akan melanjutkan sebuah perdebatan jika hal itu saja belum kamu ketahui,”

Ando hanya diam karena tidak bisa melempar wacana lain. Selain itu dia terjebak kalimat terakhir yang disuguhkan Sualow.

”Ah, pasti kamu juga tidak tahu mana saja titik rangsang dari perempuan,” tambah Sualow yang membuat Ando semakin terdiam. Karena dia tahu bahwa sampai sekarang Ando masalah bercinta selalu terhenti pada tahap niat.

”Biasanya, hanya orang-orang yang dangkal isi otaknya selalu menganggap bahwa dirinya lebih dari orang lain,” tutup Sualow mengakhiri percakapan.

Setelah kejadian tersebut diketahui bahwa Ando langsung pulang ke rumah dan langsung membuat Indomie pakai telur dan memakannya di kamar mandi (plis, jangan anggap serius).

Masih banyak kegunaan retorika, seperti yang terkenal adalah jargon berpidato seperti Obama – yang selanjutnya Shel Leane menulis sebuah buku ‘Berbicara dan Menang Seperti Obama’. Karena gaya bicara dan pidato Obama dikenal karena mampu membakar, mengesankan dan meningkatkan gairah siapapun yang mendengarnya. Gaya pidato yang singkat dan padat tersebut yang mampu mengantarkan Barrack Obama terpilih menjadi presiden kulit hitam pertama di Amerika.

Lebih dalam, ngeles dan mencari pembenaran juga keunggulan dari retorika.

Dalam hal ini, dikenal juga dengan ilmu mantiq (logika) dan ilmu balaghoh yang tidak jauh beda dengan retorika. Walaupun antara retorika dengan mantiq – balaghoh berbeda dalam hal tujuan dan ruang lingkupnya.

Keunggulan dari buku ini sangat banyak dan bermanfaat. Untuk kekurangan, saya kira begitu kurang ajar dan tidak tahu diri ketika bisa memaparkan kekurangan dari buku ini. Dan tentu, buku ini masih relevan dibaca sampai sekarang untuk kalangan SMA ke atas.

Buku ini sangat ringan untuk dibaca karena memang bahasanya mengalir. Saya sendiri, hanya perlu menghabiskan 8 batang rokok untuk menyelesaikannya. Rata-rata waktu yang saya butuhkan satu batang rokok adalah lima belas menit atau sembilan ratus detik. Dalam kurun waktu tersebut bisa sampai lima puluh halaman, jadi rata-rata waktu yang dibutuhkan untuk perlembarnya hanya delapan belas detik.

Banyak waktu kita terbuang sia-sia, padahal bisa kita gunakan untuk membaca buku, Retorika-nya Aristoteles salah satunya.

Syahdan. Awal-awal pembahasan dalam buku ini membahas peran juri dalam persidangan untuk menentukan bersalah atau tidak pada seorang. Namun, saya malas membicarakan lebih jauh soal hukum, di Indonesia khususnya yang berisi pembenaran, pembenaran, dan pembenaran.

Namun, tidak ada salahnya kita melihat sebuah film yang menyangkut peran juri, yang tentunya retorika dalam film tersebut sangat berguna, 12 Angry Man. Bagaimana tidak, satu orang mampu membuat 11 juri lainnya merubah keputusannya. Caranya? Lihat saja filmnya, ya.

Sebuah Cerita

Alkisah dalam sebuah forum. Seorang nabi menyudahi membicarakan segala hal yang ada di dalam perut bumi dan di atas langit. Dalam forum yang diikuti banyak jamaah tersebut disediakan makanan, kurma utamanya. Ketika nabi menyudahi pembicaraan lalu melemparkan sebuah pernyataan untuk mendinginkan suasana.

”Baik semuanya. Kita telah membicarakan banyak hal. Sekarang, bisa kita lihat siapa diantara kita semua yang paling rakus makannya,” tutur nabi tersebut.

Diketahui bahwa pernyataan tersebut untuk menyudutkan seorang di sampingnya – bahwa, ketika nabi selesai makan kurma bijinya ditaruh di depan pemuda tersebut.

Seisi ruangan tersebut saling lihat satu sama lain dan berhenti pada pemuda disamping nabi, karena biji kurmanya lebih banyak.

”Tidak seperti yang anda lihat semua, saudaraku,” sanggah pemuda yang merasa dijebak.

”Sebenarnya ada yang lebih rakus sampai bijinya dimakan,” tambahnya. Yang sekaligus ditujukan kepada seseorang yang berada di sisi lain nabi, karena memang tidak ada biji kurma di depannya. Padahal dia tidak memakan kurma, konon katanya dia merokok.

Dari pernyataan tersebut membuat seisi ruangan menjadi tertawa. Menyikapi pernyataan cerdas tersebut, nabi langsung memuji keceradasannya dan memberitahukan kebenarannya.

”Lihatlah saudara-saudara. Betapa cerdasnya dia. Dia adalah pintunya ilmu,” ucap nabi.

”Jika saya pintunya ilmu, maka engkaulah kotanya,” balasnya.

”Aku adalah kotanya ilmu dan Ali adalah pintunya,” ucap nabi.

Bahwa, pemuda tersebut adalah Ali Bin Abi Thalib, yang dikenal akan kecerdasannya. Dalam cerita lain, ada sepuluh orang yang bukan golongan Ali memberikan pertanyaan yang sama untuk mengetahui cerdas atau tidaknya Ali. Selain itu adalah bentuk upaya menggugurkan perkataan dari nabi tersebut. Namun, Ali mampu menjawab sepuluh pertanyaan sama dari orang yang berbeda, dengan jawaban yang berbeda pula.  *Terinspirasi dari sebab turunya hadis Muhammad yang menyatakan dirinya adalah kotanya ilmu dan Ali pintunya.

Cacian Stadium Lanjut

Oh, tidak saudaraku. Walaupun pemilu serentak telah usai dengan masih menyisahkan saling klaim kemenangan. Tapi, kita tidak boleh bahwa sumber kerusuhan sampai ke grup Whatsapp keluarga ada Jokowi – Prabowo wa kampret dan cebong yang menyertainya.

Masih ingatkah kita dengan pernyataan Jokowi yang mengatakan ’kebangeten’ untuk BPJS karena urusannya sampai ke mejanya. He? Pakde mungkin sedang loro piker, bagaimana tidak, seolah presiden tidak mau tahu urusan tersebut. Namanya juga presiden, harus tahu segala hal yang terjadi di negara yang dipimpinnya. Dan tentu, harus bertanggung jawab atas segala hal yang menyertai dalam masa pemerintahannya.

Juga; masih ingatkah kita dengan pernyataan Jokowi akan melawan siapa saja yang mengatakan dirinya yang bukan-bukan. Seperti itukah logika seorang yang seharusnya menjadi pelindung bagi rakyatnya?

Begitu juga dengan rivalnya, Prabowo. Pernah suatu ketika dia menyatakan bahwa Indonesia akan bubar jika dirinya tidak terpilih menjadi presiden. Sungguh, Ghost Flat yang merupakan karya fiksi menjadi acuan Prabowo untuk menobatkan dirinya – bahwa, nasib keutuhan bangsa ada di pundaknya ketika menjadi presiden.

Sudah? Tentu belum. Pernah ramai isu bahwa pimpinan tidak boleh dikritik dengan keluarnya UU MD3 – katanya, untuk menjaga marwah wakil rakyat. Yang lebih parah seperti yang dikatakan Fahri Hamzah bahwa, DPR tidak boleh dikritik dan yang boleh dikritik adalah presiden karena memiliki kekuasaan. Selain itu, presiden digaji untuk mendegarkan kritik pedas dari rakyat. Fiks, loro piker.

Pertama, tentunya DPR juga memiliki kekuasaan. Sebagaimana trias politika berjalan,  teori pembagian ’kekuasaan’. Tentu baik MPR (yudikatif), Presiden (eksekutif), DPR (legislatif) sama-sama memiliki kekuasaan, digaji rakyat, dan seharusnya jika mengacu dari perkataan Fahri Hamzah maka, semua digaji untuk mendegarkan kritik pedas dari rakyat.

Lalu, ada juga Budiman Sujatmiko, bisa kita lihat rekam sejarahnya memperjuangkan demokrasi di Indonesia. Namun, sayang, pihaknya masih menyanggah dengan pembenaran bahwa pada masa Jokowi tidak ada lagi kebakaran hutan. Payah!

Jadi?

Memang, kita tidak bisa menilai seorang berkompeten atau tidak dari caranya beretorika. Namun, tidak perlu juga memaksakan menggunakannya. Tapi walau bagaimanapun, untuk menjadi seorang lebih ’kritis’ menelan informasi, alangkah baiknya kita mendalami disiplin ilmu ini. selain itu, setidaknya banyak manfaatnya daripada kerugian yang akan kita dapat mempelajari suatu ilmu, dan mau bagaimanapun  sebagai rakyat biasa seharusnya tidak mudah tertipu dengan statement yang dikeluarkan pejabat kita.

Seperti: ketika quick count memenangkan pasangan 01, banyak wartawan yang bertanya kepada Anis Baswedan jika Sandiaga kembali menjadi wakil gubernur? Untungnya, Anis sadar bahwa pertanyaan tersebut adalah jebakan, karena secara tidak langsung ada makna bahwa Sandiaga gagal menjadi wakil presiden.

Lalu, bisa kita temui logika dan pola pikir salah di sekitar kita, misalnya bahwa, rakyat harus takut kepada pimpinan, tidak demikian. Seharusnya, siapapun pemimpinnya itu harus takut kepada rakyatnya. Sekali lagi, kita rakyat yeng memiliki kedaulatan tertinggi sesuai konstitusi, yang seharusnya ditakuti oleh setidaknya pejabat kelas teri sampai tingkat presiden.

Btw, kok tidak bahas Rocky Gerung sih?



Birar Dzillul Ilah
Anggota Lembaga Pers Mahasiswa Spirit Mahasiswa

Kamis, 02 Mei 2019

UKM Musik B-sing Selenggarakan Lomba Se-Jawa Madura

by
CCF UKM B-Sing UTM. Foto : Lia


WKUTM- Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) musik B-Sing Universitas Trunojoyo Madura (UTM) selenggarakan Colour Coustic Festival (CCF) se-Jawa dan Madura yang digelar di lantai 1 gedung cakra. (02/05)

Acara yang bertema "berkarya di hari pendidikan nasional" ini dimulai dari pukul 07.00-19.00 WIB. Rangkaian lomba yang meliputi lomba mewarnai dan akustik ini diikuti oleh 32 peserta dari tingkat Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA), hingga Perguruan Tinggi.

Gerico Harapenta, selaku Ketua Pelaksana (Ketupel) memaparkan jika acara yang bertepatan hari pendidikan nasional memiliki tujuan mengenalkan kepada pelajar tingkat SD hingga mahasiswa untuk tidak cenderung menyukai lagu dengan genre yang kurang tepat di usia mereka sebab kebanyakan mereka menyanyikan lagu barat sehingga mereka harus belajar dan berlatih menyukai lagu-lagu nasional.

”Acara kali ini bermaksud mengajak anak muda untuk mengingat pendidikan dengan cara seni dan dari seni itu mereka akan menumbuhkan kesadaran pada dirinya seiring tingginya tingkat pendidikan mereka,” jelasnya.

Gerico juga menambahkan bahwa acara ini merupakan acara pertama sekaligus rangkaian acara Program Kerja  dari UKM musik B-sing yang berujung pada B-Sing Night Party (BNP) dan juga festival musik lainnya. Menurutnya acara ini berlangsung lancar meskipun ada kendala namun bisa diatasi.

”Ada beberapa kendala sepertia anak-anak kecil yang mengikuti lomba itu ramai, tidak bisa diatur, namun juga dimaklumi sebab mengingat peserta bukan dari kalangan siswa SMP dan SMA melainkan SD juga,” jelasnya

Jauhariyanto, sebagai wali murid peserta lomba sangat mengapresiasi acara lomba kali ini, karena dengan hal ini dia bisa menyalurkan bakat anaknya dan juga bisa silaturahmi dengan orang tua siswa-siswa yang bukan dari Madura, sehingga ia berharap jika acara ini dilakukan rutin setiap tahun. (Ira/Daa)

Selasa, 30 April 2019

Pemilihan Duta Kampus Mulai Masuki Tahap Karantina

by
Finalis Potra-Potre UTM 2019. Foto : Lia


WKUTM-  Acara pemilihan Duta Kampus Universitas Trunojoyo Madura (UTM) 2019, yang dikenal dengan nama Potra-Potre, telah sampai pada tahap Karantina.  Kali ini kegiatan tersebut dilaksanakan di Gedung Rektorat, Ruang Rapat 4012 lantai 4, pada Senin pagi (30/04).

Acara ini dihadiri oleh Pembina Paguyuban Duta Kampus, Dinara Maya, Ketua Biro Administrasi Akademik Kemahasiswaan dan Perencanaan Sistem Informasi (BAAKPSI) Supriyanto, dan Wakil Rektor III, Boedi Mustiko, yang akan melakukan penyelempangan kepada para finalis terpilih.

Berikut merupakan daftar finalis yang masuk dalam seleksi karantina lanjutan yang akan dilaksanakan pada Mei mendatang. Tercatat sebanyak 12 pasangan dari 66 peserta, yaitu :

POTRA :
23. Mochamad Kriswandi (Sastra Inggirs)
35. Fajar Ari Yanuanto (Ilmu Komunikasi)
13. Wahyu Fernanda (Psikologi)
1. Muhammad Hendi H.R (Ilmu Hukum)
5. Rendy Irawan (Agroteknologi)
9. Arianto Dwi Saputra (Ekonomi Syariah)
27. Akhma Zaynuri Alfatizi (Agribisnis)
3. Mohammad Habib Ramdhani (Ilmu Hukum)
7. Jaka Bangun Prayogo (Ilmu Hukum)
19. Dwiko Aulia Rahman Sinulingga (Ekonomi Pembangunan)
15. Muhamad Rafli Alfian (Ekonomi Pembangunan)
33. Abrori (Teknik Mekatronika)

POTRE
14. Arinda Putrisasti H. (Agribisnis)
10. Nisa Arum M (Ilmu Hukum)
44. Dian Ardenia S (Psikologi)
50. Septyayu Riadini (Ilmu Komunikasi)
40. Elika Juniyanti S (Manajemen)
8. Putri Kurnia Dewi (Ilmu Kelautan)
22. Rofidah Salsabila (Manajemen)
24. Iskariyana (Pendidikan Informatika)
12. Dinda dwi A (hukum Bisnis Syariah)
16. Mirsya Adelia (Pendidikan IPA)
6. Shafwil Widad (Ilmu Hukum)
52. Lutvy Indayana (Teknik Informatika)

Dinara Maya,  mengucapkan selamat kepada finalis terpilih. Dalam sambutannya, ia mengatakan bahwa persaingan Duta Kampus tahun ini diakuinya lebih ketat daripada tahun sebelumnya dikarenakan banyak yang ikut mendaftar, ”Untuk itulah, Potra-Potre tak hanya dinilai dari segi fisik, akan tetapi juga wawasan pengetahuan. Tak lupa etika yang terpenting,” ujarnya. ”Masalah nanti menang atau tidak itu hanya bonus," tambahnya.

Selain itu, dalam mengawali sambutannya, Boedi Mustiko, kembali menegaskan dengan menyinggung Surat Keputusan (SK) Potra-Potre 2019. “Ini telah melalui proses yang panjang. Duta Kampus ini SK nya jelas jadi para finalis tidak perlu khawatir,” ujarnya.  Hal ini di karenakan pada kemarin pertengahan 2018 sampai akhir, menurut Boedi, Potra-Potre masih sedikit diragukan. Namun dengan jerih payah dan usaha akhirnya SK disahkan oleh rektor, pada Januari 2019.

Selanjutnya, ia mengungkapkan kebanggaannya terhadap para finalis Duta Kampus yang telah terpilih, "Saya bangga sekali, dan mudah mudahan 12 pasang ini menambah semangat dan menambah harum nama UTM kedepan,” ujarnya.

Namun dengan masih adanya tahap lanjutan babak penyisihan, nama finalis yang tercatat tersebut masih akan mengikuti rangkaian karantina hingga tahap keempat selama bulan Mei, 2019. Setelah itu, babak penentuan pengumuman pemenang, yakni Grand Final, masih akan dilaksanakan pada Agustus mendatang. (Lia/Ben)

Sastra