Berita Terbaru

Rabu, 12 Desember 2018

MENGAWAL KERJA PRESIDEN MAHASISWA TERPILIH

by

WKUTM- Civitas Akademia Universitas Trunojoyo Madura (UTM) baru saja melewati pemilihan umum presiden mahasiswa dan wakil presiden mahasiswa di Tempat Pemungutan Suara (TPS) yang telah disediakan oleh Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM). Dari rekapitulasi suara yang sudah diumumkan Komisi Pemilihan Umum Mahasiswa (KPUM), pasangan nomer urut satu, Jailani Muhtadhy-Alfiyatul Khairiyah unggul 1.220 suara dari Abdus Salam-Inasa Kartika, pasangan nomer urut 2.

Saat ditemui di Sekretariat Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Seni Nanggala, mahasiswa Fakultas Keislaman itu mengungkapkan perasaannya saat dinyatakan terpilih menjadi presiden mahasiswa. ”Saya bisa mengatakan alhamdulillah dan innalilah. Alhamdulilahnya saya dipercaya dan innalilahnya saya mendapat tanggung jawab yang besar mengemban amanat berat,” ungkapnya.

Visi-Misi dan Program Kerja

Sebagai Presma, Jailani memiliki visi-misi Terciptanya Sinergitas Keluarga Mahasiswa UTM dalam Mewujudkan Tridharma Perguruan Tinggi Menuju Keluarga Mahasiswa yang Berintegritas . Namun, Jailani mengaku lupa saat WartaUTM memintanya untuk memaparkan misi yang dibawa. Selanjutnya, ia hanya menjawab jika inti dari misinya adalah sinergitas di kalangan civitas akademika.

Bukan tanpa alasan, Jailani merancang visi-misi itu lantaran resah. Menurutnya, ada kerancuan dan ketidaksinambungan antara organisasi mahasiswa intra kampus belakangan ini. Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM), dan Mahkamah Konstitusi Mahasiswa (MKM) belakangan ini seperti tidak sejalan dengan organisasi mahasiswa yang lain. ”Kita antar ormawa, sudah tidak sejalan lagi atau bisa saja pura-pura sejalan di depan para pimpinan untuk tujuan tertentu,” ungkapnya.

Adapun terkait program kerja (proker), Jailani mengatakan kalau BEM yang lalu tidak sesuai dengan jalan proker yang seharusnya. Menurut Jailani, kebanyakan proker yang diadakan BEM hanya sekedar menjadi Event Organizer (EO) belaka. Padahal, sudah ada ormawa yang bisa menalangi sesuai bidangnya, misalnya Nanggala di ranah kesenian. Namun sayang, semua malah seperti dikuasai menjadi satu titik hingga akhirnya ngeblok.

Oleh karenanya, untuk menanggulangi hal semacam itu terulang, Jailani berjanji untuk mengadakan Bulan Trunojoyo. Dimana pada pagelaran tersebut, akan diisi acara-acara yang diselenggarakan oleh ormawa itu sendiri. Saya nanti akan membuat satu acara yang namanya bulan Trunojoyo, satu acara dihadiri 21 ormawa yang membuat kita semua bahu-membahu,” terangnya.

Fasilitas, Pencairan Dana dan Jam Malam.

Menanggapi keluhan dana dan fasilitas ormawa, Jailani optimis hal tersebut bisa diatasi. Namun,ia berharap sinergitas antar ormawa tidak berjalan sendiri-sendiri sebagaimana tahun-tahun yang lalu. jika ada satu masalah tentang fasilitas dan pencairan dana, maka semua harus maju bersama, mengeluhkan hal-hal yang dirasa urgent untuk kedepannya.

”jika perlu kita akan demo bersama-sama atau berjalan bersama ke pimpinan untuk masalah dari dua hal tersebut. Tiga hari sekali, seluruh ormawa datangi pihak atasan sampai mereka menyelesaikan masalah yang tadi itu,” tambahnya.

Sedang keluhan lain terkait jam malam, Jailani sendiri mengaku tidak setuju dengan peraturan tersebut. Jailani menilai, sangatlah kurang jika pukul 22.00 WIB kampus harus dikosongkan. Adanya jam malam, menurutnya menimbulkan pertentangan antara tuntutan pihak kampus yang menekan mahasiswa berprestasi baik akademik maupun non akademik. Sementara kebijakan jam malam begitu membatasi ruang gerak dan belajar mahasiswa.

Kita dituntut oleh universitas untuk berprestasi baik wilayah internal maupun eksternal kampus, bagaimana ini bisa terwujud jika ruang gerak dan belajar kita terbatasi,” keluhnya.

Terkait peraturan jam malam ini, Jailani akan mengadakan audiensi kembali lagi. Jika pihak kampus tidak memberikan jawaban, ia akan meminta pihak kampus untuk memberikan ruangan atau tepat khusus bagi ormawa yang ingin berproses lebih baik dan prestasi tentunya, khususnya UKM yang membutuhkan banyak durasi waktu untuk latihan di masing-masing bidang. (Vira/Wuk/Raj)

Kamis, 06 Desember 2018

Pemilihan Raya UTM dan Rekapitulasi Suara yang Tidak Akurat

by
Pembacaan SK penetapan PRESMA terpilih




WKUTM – Pemilihan Raya untuk memilih Presiden dan Wakil Presiden Mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura (UTM) periode 2018-2019 digelar pada Rabu (5/12). Tahun ini, pemilihan diikuti oleh dua pasang calon (paslon), Jailani Muhtadhy-Alfiyatul Khairiyah dengan nomer urut satu dan Abdus Salam-Inasa Kartika sebagai pasangan nomer urut 2.

Untuk memperlancar proses pemungutan suara, panitia menyediakan empat Tempat Pemungutan Suara (TPS). Mahasiswa Fakultas Hukum dan Fakultas Keislaman ditempatkan di parkiran Fakultas Hukum, sedang untuk mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis, TPS disediakan di Gedung Cakra. TPS ketiga khusus mahasiswa Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) dan Fakultas Teknik, bertempat di sebelah timur Gedung FIP. Adapun TPS untuk mahasiswa Fakultas Pertanian dan Fakultas Ilmu Sosial dan Budaya (FISIB) berada di halaman Gedung FISIB.

Sebagai Ketua Komisi Pemilihan Umum Mahasiswa (KPUM), Suhardi berujar kalau rangkaian pemilihan ini dimulai dari 17 November 2018. Mengenai mekanisme, ia mengaku masih berkaca pada tahun sebelumnya sehingga tidak ada yang berbeda di tahun ini, ”Tidak ada yang beda, cuma yang unik kedua pasangan sama-sama cowok-cewek,” kata mahasiswa Agribisnis itu.

Selanjutnya, Suhardi berharap semua mahasiswa menerima siapapun yang terpilih menjadi Presiden Mahasiswa (Presma) selanjutnya. Sebab, menurutnya pasangan yang terpilih mempunyai legitimasi yang kuat lantaran sudah terpilih sesuai dengan mekanisme yang ditetapkan, ”Yang terpilih harus diakui oleh kedua belah pihak, jangan hanya tim suksesnya sendiri, tapi dari semua mahasiswa” harapnya.

Di sisi lain, pemilihan ini juga menarik perhatian mahasiswa, Niatul Hasanah, Mahasiswa Pendidikan IPA mengungkapkan, walau pesta demokrasi yang masih kurang jujur karena dibumbui politik kampus yang kuat, ia tetap berharap jika siapa saja yang terpilih bisa amanah, sehingga dapat membumikan UTM dengan mengasah kemampuan mahasiswa.
Hasil Rekapitulasi Suara KPUM Tidak Akurat
Dari serangkaian pemilihan yang dilaksanakan, KPUM membacakan hasil keputusannya. Dari hasil tersebut, diketahui pasangan nomer urut satu unggul 1.212 suara. Dimana terdapat total 3.427 surat suara, pasangan calon (paslon) nomer urut satu memperoleh 2.611 suara, sedang pasangan nomer urut dua hanya meraup1.399 suara. Sedang suara tidak sah terhitung sebanyak 71 suara.

Namun hasil yang sudah tersebar di kalangan mahasiswa itu, jika dihitung kembali hasilnya tidaklah akurat. Data yang disuguhkan pihak KPUM memiliki kesalahan dijumlah total suara. Apabila beberapa suara dijumlah mestinya menemu total 4.010 suara

Selain jumlah total keseluruhan, jumlah suara di beberapa Fakultas juga terdapat kesalahan. Diantaranya di Fakultas Tekik, Fakultas Pertanian, dan Fakultas Ilmu Pendidikan.

Sampai saat ini belum ada proses lanjutan dari KPUM. Suhardi yang dihubungi pihak Warta Kampus UTM belum mengkonfirmasi dengan pasti. Ketua KPUM itu hanya menanggapi dengan mencoba untuk menghitung manual, ”Saya hitung manual dulu,” kata Suhardi (Yul/Raj)

Jumat, 30 November 2018

Majalah Lembaga Pers Mahasiswa - Spirit Mahasiswa edisi Simalakama Aturan Pemilihan Rektor

by






Momen pemilihan rektor bisa jadi merupakan hal yang paling diminati oleh mahasiswa maupun pegawai di sebuah universitas. Karena seperti halnya pemilihan presiden, pemilihan rektor akan menentukan arah kebijakan dan secara tidak langsung juga nasib orang-orang yang dipimpin.

Namun beberapa kalangan justru dibuat kecewa dengan sistem yang diterapkan dalam pemilihan rektor belakangan. Sebabnya, rektor yang seharusnya mengepalai seluruh civitas academica di universitas justru hanya dipilih oleh segelintir orang saja, bahkan terkesan tidak transparan. Memang sudah menjadi rahasia umum, politisasi dalam setiap pemilihan pimpinan pasti terjadi. Namun setidaknya, dengan melibatkan seluruh komponen dalam civitas academica akan mengurangi dampak tersebut.

Terlebih pengawasan di semua lini masyarakat universitas akan dengan sendirinya terpenuhi lewat pelibatan itu. Menanggapi berbagai keluhan tersebut, peraturan Dikti yang paling dirasa benar untuk dijadikan alasan. Karena bagaimanapun, universitas tidak punya wewenang apapun untuk membuat sendiri sistem pemilihan rektornya. Bukan hanya pemilihan rektor, pembentukan senat universitas yang menjadi 65 persen total pemilih rektor juga tidak banyak diketahui mahasiswa maupun pegawai. Jadi akan ada banyak pihak yang merasa tidak terwakili atas pilihan tersebut.

Atas landasan tersebut kami Lembaga Pers Mahasiswa Spirit Mahasiswa mencoba membuka sedikit informasi terkait pemilihan senat dan juga pemilihan rektor pada periode ini. Pembahasan tema ini juga tidak lepas dari perdebatan panjang kami untuk menerbitkannya secara luas dan memenuhi keterbukaan informasi di Universitas Trunojoyo Madura. Secara sadar kami juga mengkhawatirkan akan terjadinya persekusi di bidang akademik maupun yang lainnya jika 'menyinggung' sebagian pihak. Namun kami tetap yakin Universitas Trunojoyo Madura ini memiliki budaya akademik yang fair dengan tidak mencampur urusan akademik dengan urusan di luar itu.

Di sisi lain, kami juga akan menyajikan rubrik yang berisi karya sastra seperti esai, cerita pendek, resensi buku dan puisi. Tidak lain, tujuan dari adanya muatan sastra dalam majalah ini sebagai penyegar di sela membaca berita. Kami juga mengucapkan banyak terima kasih terhadap seluruh pihak yang terlibat dalam penyusunan majalah Spirit Mahasiswa edisi November 2018 ini.





Selasa, 13 November 2018

Pengumuman Nominasi 10 Besar Nominasi Cerpen dari Masing-Masing Kategori

by

Terima kasih atas kesediaannya menunggu, berikut kabar baik dari kami. 10 nominasi cerpen kategori siswa dan mahasiswa. 

Kategori Siswa

1.      Bangsawan Ragapadmi

2.       Bilur Asmara Tak Berbisik

3.       Tanah Sangkolan

4.       Insan Terindah

5.       Pangeran Macan Putih dan Asal Usul nama Blega

6.       Dua Wajah dan Abisi Hitam

7.       Perjalanan Waktu dan Pembunuhan Raden Trunojoyo

8.       Kera-Kera Nepa

9.       Cong ene’

1      Cerita Kakek yang Dirindukan
       
       Kategori Mahasiswa

Topeng Penari Klonoan

Dhangka

Gagak Hitam Itu

Jangan Tiru Sakera

Sagara

Lelucon Kehamilan Putri Tunjung Sekar

Siapa yang salah?

Bayi Yang Tak Rindukan

Wanita itu hendak mengawini kerbau

Sumber Tombet Dalam Cerita Pagi


Selamat bagi yang judul cerpennya tercantum dalam nominasi. Silahkan bersabar kembali menunggu tanggal 15 November 2018 untuk kabar baik berikutnya.

Bagi judul cerpennya yang belum tercantum, mari kita sama-sama mempersiapkan diri untuk SM writing festival tahun depan.

Salam hangat, selamat, dan semangat.



Sabtu, 10 November 2018

IMB Selenggarakan Diklat Pelatihan Organisasi

by


WKUTM- Ikatan Mahasiswa Bidik Misi (IMB) Universitas Trunojoyo Madura (UTM)  sedang selenggarakan BIORTA (Bidikmisi Organization Training) yang mengangkat tema Building Leader Character for Better Future Biorta 2018 di lantai dua perpustakaan lama UTM (10/11)

Tema tersebut bertujuan untuk menjadikan anggota baru IMB memiliki ilmu tentang kepimimpinan dan berorganisasi dengan baik untuk ke depannya.

Febriyanto Hadi Kusumo selaku ketua pelaksana (ketupel), menjelaskan bahwa acara kali ini ditujukan pada mahasiswa baru 2018. Adanya BIORTA yang dulunya disebut TOT (Training Of Trainer) merupakan diklat bagi anggota baru IMB.

IMB sendiri bukan organisasi internal kampus melainkan Badan Semi Otonom (BSO) BEM, oleh sebab itu apabila mengadakan kegiatan  harus menunggu tanda tangan dari Presma.

”IMB masih belum memiliki Surat Keterangan (SK) pengangkatan sebagai organisasi internal kampus sedangkan pengangkatan menjadi BSO baru tahun lalu. Jadi, kegiatan apapun harus menunggu persetujuan BEM, dan kegiatan apapun tidak dibiayai oleh kampus,” ungkap mahasiwa Fakultas Teknik tersebut.

Acara yang diikuti 25 peserta ini digelar selama dua hari yakni pada Sabtu dan Minggu. Kegiatannya diisi dengan beberapa seminar seperti, seminar kepemimpinan, motivasi, dan keorganisasian.

"Jumlah peserta 25 orang sebenarnya bukan jumlah asli dari mahasiswa yang mendapat bidikmisi tahun ini. Karena ada acara wajib dari kampus untuk mahasiswa baru pekan ini, jadi hanya beberapa saja yang mengikuti agenda IMB," ungkapnya.

Febri juga berharap jika acara kali ini bisa menjadi tonggak awal mahasiswa belajar organisasi di kampus dan bisa menerapkan. Bukan hanya di IMB saja tetapi di luar IMB.

Isatul istifa, salah satu peserta menjelaskan bahwa acara ini menambah wawasan dan teman sehingga berharap untuk bisa mempraktikanya dalam kesehariannya. (Vir/Wuk)

Rabu, 24 Oktober 2018

KSR PMI UTM Kembali selenggarakan Donor Darah

by

Foto: Dokumentasi Panitia

WKUTM- Korps Suka Rela Palang Merah Indonesia (KSR PMI) Universitas Trunojoyo Madura (UTM) kembali selenggarakan donor darah yang bekerja sama dengan Unit Tranfusi Darah (UTD) Kabupaten Bangkalan pada hari Rabu (24/10) di gedung Cakra.

Kegiatan yang bertemakan “Nyumbang getih tanpa pamrih ini dihadiri Kepala UTD Kabupaten Bangkalan. Menurut Alfina Kamaliyah, selaku sekertaris pelaksana kegiatan  mengungkapkan bahwa acara ini merupakan acara rutinan dari program kerja KSR PMI UTM. Donor darah terakhir diselenggarakan oleh KSR PMI UTM satu bulan yang lalu. Ini dilakukan dengan jarak yang dekat karena  kita melihat persediaan kantong darah di UTD.

“Rumah sakit selalu koordinasi ke UTD jika membutuhkan darah. Jikalau kantong darah sudah mulai menipis, maka kami langsung mengadakan kegiatan ini. Adanya sebab tersebut kami dan  UTD  menyelenggarakan kegiatan ini, sebab darah juga ada masa kadaluwarsanya,” ungkap mahasiswa Pendidikan IPA tersebut.

KSR PMI UTM menyediakan kuota sebanyak 250 pendonor. Kemudiaan nantinya dibawa ke penyimpanan darah di kantor UTD Kabupaten Bangkalan. Alfiana juga menyebutkan syarat-syarat yang harus dipenuhi sebagai pendonor, diantaranya berat badan minimal 45 kg, kondisi fisik sehat, tensinya  tidak rendah dan tinggi, sudah sarapan agar tidak pingsan, tidak mengkonsumsi obat selama satu minggu terakhir, dan tidak menstruasi.

”Syarat tersebut sudah menjadi ketentuan, jika berat badan kurang dari 45 kg juga tidak boleh, sebab nanti kalau dipaksakan donor, nantinya ditakutkan adalah bisa pingsan, dari pada bahaya lebih baik tidak, yang  paling penting kan keselamatan” tambahnya.

Mahasiswa semester lima ini  juga menjelaskan jika sel-sel dalam tubuh seseorang  membutuhkan regenerasi, dari pada sel sel darah mati, lebih baik didonorkan, jarak yang paling baik untuk mendonor adalah 2 bulan. Darah yang bisa diambilpun juga berbeda,  tergantung dari darah ada di tubuh seseorang,  ada yang sampai dua kantong, ada yang satu kantong, tapi rata-rata satu kantong.

Seperti yang diungkapkan peserta donor darah, Maharani Afi dari program studi Sistem Informasi, ia mengungkapkan jika ia telah dua kali mengikuti donor darah. Menurutnya, donor darah  bermanfaat untuk tubuh juga bisa memperlancar peredaran darah.

Teruslah aktif kegiatan seperti  ini, karena ada banyak orang yang butuh darah. Walaupun gak dibayar, tapi kita dapat kebahagiaan sendiri kok, sebab ini bisa menolong orang lain” pungkasnya. (Yul/Wuk)

Selasa, 23 Oktober 2018

Kendala Program Aplikasi E-book UTM dan Keberadaan Repository

by

Foto: Yul

WKUTM – Aplikasi KUBUKU yang menjadi program baru perpustakaan UTM dalam pengadaan e-book kini tidak dapat ditemukan di Play Store. Terkait masalah itu, Bondhan Endriawan selaku Pustakawan dan Pengurus E-book UTM menjelaskan bahwa masalah itu terletak pada kesalahan sistem seperti rendahnya rating. Selain itu, adanya beberapa konten yang rentan, semacam disedotnya data informasi pengguna juga ditengarai jadi penyebabnya.

”Sebenarnya, e-book UTM bukan berarti sudah tidak ada. Hanya saja KUBUKU E-library UTM mempunyai rating rendah di playstore yang menyebabkan server sistem secara otomatis terkunci, mungkin juga aplikasi mempunyai konten yang rentan, seperti menyedot data informasi pengguna,” jelasnya.

Bondhan juga menjelaskan kalau program e-book itu masih dalam tahap uji coba respon dari mahasiswa. Namun, dari sana ia juga mengungkapkan kalau e-book akan kembali diadakan pada 2019 mengingat data peminatnya cukup tinggi. Setidaknya ada 504 pengunjung dengan 152 pembaca yang sudah tercatat di data pihak perpustakaan.

“Sebenarnya,  di tahun ini e-book bagian dari uji coba respon mahasiswa terhadap buku digital. Melihat data dan pengguna yang banyak meskipun hanya tersedia 60 e-book saja, kami akan terus berlangganan e-book sehingga bisa digunakan di tahun mendatang,” ujarnya.

Hanin Dwi selaku Koordinator Pelayanan Perpustakaan tidak merasa keberatan dengan adanya e-book. Tapi ia menyarankan jika mahasiswa kurang puas terhadap buku digital, maka mahasiswa masih bisa membaca buku secara manual.

"Jika kurang puas terhadap e-book, bisa memilih buku. Karena buku akan tetap ada penambahan jumlah setiap tahun,” paparnya.

E-book atau Repository. Mana yang harusnya di dahulukan?

Repository merupakan kumpulan paket software dari distro-distro linux, yang dapat di akses melalui internet. Diharapkan dengan repository skripsi, tesis dan disertasi bisa diakses dengan mudah melalui intenet.

Bondhan yang berkaca pada kampus lain amat menyayangkan keputusan pihak rektorat yang mengutamakan launching e-book daripada repository. Ia memaparkan, repository merupakan hal yang penting agar penelitian bisa diakses berbagai pihak luar civitas akademika, yang nantinya juga berpengruh pada rating universitas.

”Jika kita membandingkan dengan kampus-kampus lain. Kita tertinggal jauh. Saya begitu menyanyangkan, mengapa e-book saja yang mendapat persetujuan. E-book hanya bisa diakses dan dinikmati oleh civitas akademika saja. Sedangkan penelitian harusnya bisa diakses ke semua orang supaya ada perbaikan dan pengembangan. Kalau tidak begitu, maka secara keilmuan tidak berkembang. Padahal itu juga bisa dibuat untuk penaikan rating Universitas,” ungkapnya.

Adapaun terkait ketakutan plagiarisme, bagi Bondhan itu bukan alasan untuk tidak merealisasikan program repository. Ia berpandangan hal tersebut bisa diatasi dengan membuat strategi seperti memasang logo kampus atau memprogram teks agar tidak dicopy-paste. Ia menegaskan langkah tersebut harus segera dikembangkan agar UTM tidak makin tertinggal. Ia juga berharap, Ketika memang ada penambahan sistem, maka seharusnya e-book dan repository dapat berjalan beriringan.

”Ketika berbicara digital. Bisa dilihat bahwa e-book dan repository sama-sama digital dan menggunakan sistem. Namun sayang, pihak universitas tidak mengkaji lebih dalam terkait mana yang lebih penting, e-book atau repository,” pungkasnya. (Ben/Raj)

Sabtu, 20 Oktober 2018

Jony dan Sampah yang Sebenarnya

by


Sebuah persoalan yang luput dari sebagian pandangan mata; sampah. 

Tidak ada yang memungkiri bila sampah adalah salah satu perkara berskala besar di Indonesia dan negara bagian Asia khususnya. Sementara itu, 5 negara yang menduduki kursi dengan kuantitas sampah terbanyak adalah Cina, Indonesia, Vietnam, Filipina, dan Sri Lanka.


Sampah berkapasitas paling besar adalah sampah plastik. Hingga akutnya persoalan tersebut untuk menimbang daur ulang membutuhkan waktu cukup lama, Natgeo dan Natgeo Asia khususnya membahas hal demikian. Dengan polemik memilih planet atau plastik dalam majalahnya.

Melihat persoalan demikian dari lingkup institusi juga tidak jauh berbeda, misalnya di ranah Universitas Trunojoyo Madura (UTM). Hal ini bisa kita lihat dari sisi yang tidak tampak di sebagian besar kalangan  civitas akademika. Tepatnya di sebelah barat gedung asrama atau selatan food court terdapat saksi bisu metabolisme sampah di universitas. Kurangnya perhatian dari sudut pandang pihak manapun merupakan hal mutlak yang patut disebutkan.

Syahdan, untuk mengetahui persoalan sampah di UTM saya membuat janji dengan salah satu cleaning service untuk ikut membakar sampah, kebetulan saya sudah pernah berbincang-bincang sebelumnya dengan dia.


Panggil saja Jony, nama samaran dari belasan tahun lalu ketika pertama kali menginjakkan kakinya di UTM. Lelaki yang sudah tidak lagi muda ini berasal dari Kediri, sebenarnya nama aslinya Kadimin. Dia adalah salah satu sosok di balik pengurangan minimnya sampah UTM. Dia tidak hanya mengambili sampah di Ruang Kuliah Bersama (RKB), tapi juga membakarnya.

Hal demikian merupakan tuntutan yang diterima. Jika tidak demikian, ia akan mendapatkan amarah dari dekan-dekan di fakultas sebab sampah tidak bersih.

Ketika saya mengikutinya, dia memulai dengan mengumpulkan sampah dari tong sampah yang disediakan di setiap fakultas dengan gerobak kuning yang ditarik dengan motor bebeknya. Setelah terkumpul baru dibawa ke tempat pembuangan akhir, kemudian akan dibakar sore atau paginya.

Ketika berbincang Jony, dia menuturkan berbagai persoalan perihal banyaknya sampah di kampus. Salah satunya adalah ulah mahasiwa yang semaunya sendiri. Dengan dalih mereka membayar Uang Kuliah Tunggal (UKT) mereka bisa membuang sampah sembarangan. Jika mendengar alasan tersebut dia tidak dapat berkata lain, dibakarlah kejengkelannya bersama  sampah-sampah tersebut.


Persoalan pemberontakan norma atas dalih mengikuti regulasi dengan alasan ikut membayar adalah alasan klasik.

Sebenarnya, persoalan siapa yang sebenarnya sampah adalah lain cerita. Seperti kata Citra Dara Vresti Trisna salah satu wartawan madya di ibukota Jakarta,  dia memaparkan ketika mengamati pengerukan sampah di kali Ciliwung Jakarta Pusat. "Mau berapa kali dikeruk setiap minggunya tidak akan mengatasi persoalan demikian. Karena sampah yang sebenarnya tidak ada yang mengatasi," tutur Citra.


Memang demikianlah adanya. Butuh waktu berapa lama akan menghasilkan jawaban konkrit bahwa sampah sebenarnya adalah metabolisme dari manusia yang tidak dikondisikan. Misalnya, masih kurangnya kesadaran untuk membuang sampah pada tempatnya.


Mengutip kajian yang dilakukan oleh Himpunan Mahasiswa Ilmu Kelautan (Himala) UTM terkait hulu hilir sampah di Kamal, bahwa empat faktor yang menyebabkan menumpuknya sampah di daerah tersebut, khususnya sebelah pelabuhan timur adalah pola hidup yang kurang baik, kurangnya kesadaran, kurang adanya edukasi, dan kekurangan tempat pembuangan. Bahkan setelah melakukan bersih-bersih sampah, ternyata sampah kembali lagi dari masyarakat sekitar tidak ada satu jam setelahnya. Pola semacam ini bisa terjadi di mana saja, dan kapan saja selama pola pikir masih kurang sehat.

Lalu, siapa yang sebenarnya sampah? (Bir/Wuk)

Racana Trunojoyo Madura dan Rato Ebu Gelar Seminar Nasional Kepramukaan

by
Foto: Vir


WKUTM- Racana Trunojoyo dan Racana Ratu Ebu selenggarakan seminar nasional kepramukaan bertemakan "Peran Pramuka di Bidang Pendidikan" di gedung  Auditorium Universitas Trunojoyo Madura (UTM) pada (20/10).

Acara ini merupakan rangkaian dari ulang tahun Racana Trunojoyo dan Racana Ratu Ebu yang kesembilan.  Selain itu juga merupakan puncak dari Lagak (latihan gabungan) se-Madura yang dilaksanakan 18 Oktober kemarin.

Menurut Ria, selaku ketua pelaksana (ketupel), acara digelar untuk mengetahui peran dan sistem pramuka di dunia pendidikan. Selain itu, ia menambahkan bahwa, seminar ini baru pertama kali dilaksanakan di UTM. "Kemarin kita menyelenggarakan seminar bertema kewirausahaan, walaupun pada tahun 2014 sempat vakum," tambah mahasiswa Pendidikan Guru Sekolah Dasar tersebut.

Selain itu, acara yang diikuti oleh sebanyak 160-an peserta ini terdiri dari tiga komponen peserta yakni, dari Racana, SMA sederajat, dan umum,  dua belas diantaranya merupakan pangkalan SMA. Prosedur peserta dilakukan dengan  pengisian formulir melalui google formulir.

Seperti Nabila, mahasiswa PGSD yang menjadi peserta di seminar ini ia mengungkapkan adanya kegiatan ini baik apalagi bagi calon guru SD yang diharuskan memiliki wawasan kepramukaan.

Senada dengan itu, Muhammad Bassorudin, peserta SMA asal Jombang mengaku jika kegiatan ini bermanfaat, "Kebetulan saya mengajar pramuka di SD jadi ya sangat bermanfaat, untuk ke depan semoga pamfletnya tersebar rata supaya peserta lebih banyak dan lebih seru."

Ria mengungkap bahwa untuk peserta umum setelah acara ini selesai, mereka bisa pulang sedangkan untuk peserta dari Racana dan SMA diminta tetap tinggal.

"Untuk Racana dimohon  masih disini untuk evaluasi  begitupula yang peserta SMA sederajat, mereka masih harus melanjutkan lagak lagi." pungkasnya. (Yul/Wuk)

Minggu, 14 Oktober 2018

Mengubur Sepi

by

Tak Ada Gunanya
Mataku memandang dalam kaca
menyaksikan diri menghitung batu kerikil
yang jujur, tak ada gunanya.
Sesekali kuteriak pada diri sendiri.
Memang, aku seperti tak ada guna!


Siapa Yang Mau Sepi?
Bilamana aku masih terlelap di umur yang 25.
Sedang bangun-bangun
disampingku hanya ada kucing.
Dan lampu kamar meredup seperti kehabisan tenaga.
Juga jendela enggan menyambut, apalagi
kekasih, apalagi kekasih.

Di depan kaca aku hanya ingin menari.
Seperti pucuk kembang jambu di dekat bagasi.
Aku tawarkan,
siapa yang mau sepi.
Siapa yang mau sepi?
Mari kesini, kuajari ciptakan sepi yang baik


Orang Jauh
Aku tak ingin seperti ini. Ketika orang jauh bahkan yang sangat jauh menyakiti kita, menyakiti diri ini dari kejauhan. Seperti sebuah pistol menangkap dan mengancam mata-mata burung, padahal ia sedang ingin sekali bahagia dengan mematuk-matuk kepala kekasihnya.
*
Padahal aku selalu percaya, kita hidup ada di pohon paling teduh, tak ada kesakitan juga keraguan yang menggelatung seperti awan yang pucat. Atau kesakitan juga tiba-tiba menyerang seperti nyamuk yang sedang kelaparan
*
Tapi  percaya tidak percaya, akan ada banyak orang, orang jauh bahkan, yang  begitu mudah menciptakan kesakitan-kesakitan yang menggumpal. Ingin sekali aku menggulung kesakitan itu seperti aku menghilangkan tikar dalam datar. Tapi percuma saja, mereka berbekal peluru penembus bahagia.


Pohon Pura-Pura
Yang mengakar sampai kerak adalah pohon kepura-puraanmu.
Padahal hari ini
aku tidak ingin menjelma menjadi penebang pohon yang serakah.

Aku tetap ingin pohon itu terus tumbuh
juga membiarkan.
Tetapi, bukan untuk menunggu
sampai gugurnya daun pura-pura.

Tapi aku menunggunya, sampai
pusaran menumbangkan kukuhnya.


Mengubur Sepi
Sepiku telah kukubur, kasih
di sebelah mesin kenangan yang
kuletakkan di belakang rumah.
Ya, mesin telah berkarat

saban hari sebab tak ada yang mau merawat


Yulia Rahmatika (Mahasiswa Pendidikan IPA UTM)

Jumat, 12 Oktober 2018

Dewan Mahasiswa STIKOM Kunjungi UTM

by


Foto: Dokumentasi DPM-KM


Institut Bisnis Informatika Stikom Surabaya kunjungi Universitas Trunojoyo Madura (UTM) pada Jumat (12/10) untuk melakukan studi banding. Acara yang bertempat di gedung rektorat lantai 4 ini dihadiri oleh Wakil Rektor III, Presiden Mahasiswa (Presma), Wakil Presiden Mahasiswa (Wapresma), Ketua Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) dan  DPM Fakultas, Ketua Mahkamah Konstitusi Mahasiswa (MKM), Kepala Bagian (Kabag) Kemahasiswaan, serta Pengurus Dewan Mahasiswa (Dema) Stikom.

Acara ini dimulai pada pukul 09.00-11.30 kemudian dilanjutkan dengan diskusi. Setelahnya, mahasiswa Stikom diajak berkeliling kampus UTM untuk lebih mengenal kampus di sini. Kunjungan ini bertujuan untuk menggali informasi lebih dalam terkait tata kelola sistem kerja Dewan Perwakilan Mahasiswa-Keluarga Mahasiswa (DPM-KM) UTM.

”Tujuan kita ke sini untuk belajar secara langsung bagaimana undang-undang dan struktural  UTM. Karena kita masih sedikit pengetahuan terkait ilmu politik maupun demokrasi” ungkap Valiant Ryvanthapala, Ketua Dema Stikom.

Dalam kunjungan siang itu, dibahas program-program kerja DPM-KM UTM dan Mahasiswa Stikom seperti, rapat kerja ormawa, bakti sosial, maupun pengontrolan 6 bulan sekali terhadap cara kerja Ormawa maupun Himpunan Mahasiswa (Hima), serta Advokasi.

Terkait Advokasi Stikom, menurut Halimi selaku ketua DPM-KM, UTM merasa belum memiliki komisi tersebut. ”Kita mendapat banyak pelajaran, terutama terkait advokasi. Adanya advokasi memudahkan mahasiswa mengemukakan aspirasi kepada lembaga serta organisasi mahasiswa, sedangkan hal itu tidak dimiliki oleh kami (baca: pihak UTM). Mungkin saya rasa, di tahun berikutnya perlu ada peningkatan untuk tambahan komisi, yakni advokasi,” ungkapnya.

Berbeda dengan Viliant, pihaknya memaparkan perbedaan yang begitu terlihat antara Stikom dan UTM yakni terkait sistem regulasi dan koordinasi kepimpinan. Di UTM, sistem kebijakan merupakan hak dari Ormawa, sedangkan di STIKOM sendiri semua masih ada campur tangan pihak rektorat.

”Di Stikom, sistem kebijakan merupakan hak persetujuan dari pihak rektorat. Di sana juga belum ada undang-undang tertulis terkait Ormawa. Jadi semua hanya dari omongan turun temurun saja. Belum ada hukum yang menegakkan” keluhnya.

Halimi menilai bahwa Ormawa di sini, lebih memiliki kemerdekaan penuh terkait sistem kebijakan maupun koordinasi kepemimpinan.

”Ketika kita melakukan diskusi, saya melihat perbedaan kontras terkait kebijakan. Sistem kebijakan di sini murni semua hak Ormawa dan tidak terinvestasi dari atasan (rektorat). Sedangkan di Stikom, semua masih ada campur tangan Warek III terkait pembuatan regulasi. Saya rasa, kemerdekaan Ormawa UTM lebih terealisasi di sini,” paparnya.

Halimi mengaku bahwa ini baru pertama kali adanya studi banding kali dari kampus lain ke UTM. Oleh karena itu, selanjutnya ia berharap bukan hanya UTM saja yang sering berkunjung ke kampus lain, melainkan universitas lain juga lebih tertarik pada UTM.

 ”Semoga kunjungan-kunjungan pihak luar ke UTM tidak hanya di tahun ini, tetapi juga akan berkelanjutan. Semoga ada ketertarikan terkait sharing program, kebijakan  UTM. Karena ini baru pertama kali DPM universitas Trunojoyo mendapat kunjungan” pungkasnya. (Ben/Wuk)

Sastra