Berita Terbaru

Selasa, 19 Juni 2018

Majalah Lembaga Pers Mahasiswa - Spirit Mahasiswa Edisi Meninjau Keamanan Kampus UTM

by

      Saat ini permasalahan keamanan marak terjadi, seperti berbagai kasus kehilangan di lingkungan UTM yang mengarah pada sebuah persolan sejauh mana keamanan segenap civitas akademika UTM terjamin. Oleh karena itu, perlu ditinjau kembali kinerja tenaga keamanan dan fasilitas yang menjadi sarana terwujudnya sistem keamanan yang baik.

      Selain lumrahnya fenomena kasus kehilangan Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK), helm, dan lainnya, kejadian yang lebih meresahkan adalah masih marak pembegalan yang terjadi di wilayah sekitar kampus dan korbannya adalah mahasiswa. Keadaan tersebut diperkeruh lagi dengan penerapan jam malam yang dinilai membatasi gerak mahasiwa di dalam kampus, sehingga aktivitas mahasiswa yang seharusnya dilakukan di dalam kampus justru berpindah di luar kampus, baik di bidang akademik maupun organisasi. 

      Keberagaman fenomena maling tersebut menimbulkan pertanyaan sejauh mana keamanan UTM berjalan dalam menunaikan tanggung jawabnya untuk menjaga stabilitas kampus. Ketika permasalahan yang ada belum terselesaikan dengan baik, pimpinan justru membuat kebijakan yang mendorong mahasiswa melakukan aktivitas di luar jangkauan keamanan internal, yang dipandang sebagai sebuah solusi sebab UTM tidak mau ambil pusing dan tidak terkesan angkat tangan.

     Berangkat dari perihal tersebut Majalah Lembaga Pers Mahasiswa Spirit Mahasiswa edisi Juni 2018 mengangkat tema “Keamanan Kampus” guna menilik kembali bagaimana sistem keamanan kampus berjalan. Terbitnya majalah ini mengharapkan segala lini akademik UTM lebih melek terhadap kondisi keamanan dan bersama-sama saling mewujudkan sistem keamanan kampus yang baik dan bermanfaat bagi civitas.

                                                       



Kamis, 14 Juni 2018

Hakikat dari Ramadan dan Hari Raya

by



Ramadan dengan segala kulturalnya telah usai, syawal dengan kejutan setiap tahunya telah menanti. Dengan ini tidak perlu susah-susah (lebay – overacting) membuat status untaian kata di media sosial, seperti: ”Ramadan telah usai, semoga kita dipertemukan tahun depan,” atau ”Akan kurindukan engkau (ramadan) pada tahun-tahun berikutnya.” Sungguh! Anda tidak perlu melakukannya. Namun, sebelumnya ucapan selamat yang besar untuk anda semua yang masih hidup dan bisa membaca tulisan ini. Juga; selamat buat anda yang masih berkumpul keluarga dengan cara pribadi yang belum dilakukan oleh keluarga lain. Selain itu, anda sah untuk berterima kasih yang banyak kepada pemberi hidup karena masih dikumpulkannya insan-insan dalam satu ruangan, karena tidak semua orang merasakan hal yang sama.

Ramadan tahun ini telah usai. Dulu, orang tua sering bilang, ”Jika tidak ikut puasa, maka tidak layak ikut hari raya.” Jika ditelan dengan bantuan air agar cepat ditelan, maka omongan itu biasa saja. Namun, sesungguhnya kalimat sederhana itu adalah representasi dari fase yang luar biasa dan rumit yang disederhanakan.

Sebulan lalu kita (mungkin) menggencarkan peribadatan, karena memang kalkulasi pahala sampai 70 kali lipat. Belum lagi dengan bonus malam kemuliaan yang konon lebih baik dari seribu bulan. Tidak hanya orang taat yang menambah kuantitas ibadah mereka, bahkan banyak pelacurpun yang berlomba-lomba berinvestasi untuk hari pembalasan kelak. Ya, sah-sah saja sebenarnya. Jika kita pakai kalkulator untuk menghitung, maka hasilnya cukup untuk setahun. Namun, kalkulator Tuhan tidak sesederhana matematika di bangku perkuliahan. Jadi, kita tidak bisa dengan mudah menghitung investasi pahala untuk menebus kehidupan layak di hari yang abadi.

Sebenarnya adakah yang salah?

Tidak. Selama ini kultur semacam ini terus berjalan. Namun, sangat disayangkan jika masih dari kita tidak mengerti hal-hal sederhana di sekitar kita. Malah, sering kita ribut dengan yang rumit, sampai kita lupa dengan kesederhanaan. Masih banyak dari kita mengambil pesan di balik ramadan, hari raya khususnya. Padahal, banyak pesan terkandung pada dua fase tersebut.

Tentang puasa sebenarnya adalah sebuah jalan. Jalan menuju ke surga. Surga yang bertuliskan tidak menerima orang yang sombong dan pelit pada pintu masuknya. Puasa adalah salah satu cara kita mengontrol hawa nafsu pada tingkat dasar, makan-minum. Namun, tidak hanya itu yang perlu dikontrol, melainkan hawa nafsu dan amarah adalah faktor utama. Bukan bermaksud untuk menghilangkan sifat kodrat pada manusia, hanya mengontrolnya. Sampai Imam Ghazali memetakan 3 jenis berpuasa yaitu; puasa hewan, manusia, dan malaikat. Jika hewan berpuasa cukup waktu sahur kasih makan dan setelah itu cukup tempatkan pada kandang. Jika hewan itu punya pasangan, pisahkan pada kandang lain. Satukan dan beri makan ketika sudah maghrib. Pasti bisa, kok. Pasti nanti hewan itu cuma tiduran saja. Sedang untuk puasa malaikat ataupun hewan pembeda hanya pada akal yang dimiliki manusia dan hilangnya hawa nafsu pada malaikat. Katanya, sih, gitu.

Lalu, pasti akan ada pertanyaan, ”Berarti boleh kita tidak berpuasa kalau sudah tidak sombong?” Ya, boleh saja. Namun, tidak bisa kita menafikan manusia tempatnya salah dan lupa. Jadi, kesimpulannya tidak boleh.

Syahdan, tentang hari raya. Pelajaran berharga yang bisa kita ambil adalah manusia yang berpuasa akan menemui hari raya. Pelajaran ini seperti yang dikatakan oleh orang pada awal pembahasan tadi. Jika kita membuka literasi (googling) maka kita akan  menemukan banyak tafsiran bahwa hari raya adalah hari berbuka, fitri, kembali, dan lain-lain. Walaupun seperti itu, hari raya tidak hanya pada Islam. Namun, masih banyak hari raya yang diamini oleh umat selain Islam. Dalam suatu riwayat pernah Muhammad berkata kepada Abu Bakar, ”Wahai Abu Bakar, sesungguhnya bagi setiap kaum ada hari rayanya dan ini adalah hari raya kita.” Dalam sejarahnya, sebelum hari raya Idul Fitri ataupun Adha, ada hari raya Nairuz dan Mahrajan sejak zaman Persia kuno.

Sebenarnya, boleh kita mengartikan apa saja tentang hari raya. Yang jelas harus ada fase untuk menuju kepadanya. Lebih baik lagi kita memetik pelajaran berharga karena berhasil atas suatu proses. Ya, masih seperti kata orang tua tadi. Ibaratkan hari raya adalah sebuah hadiah, maka puasa pada bulan ramadhan sebagai syaratnya. Lalu, jika hari raya adalah syaratnya, maka hadiahnya perlu kita pikirkan bersama. Karena hari raya bukanlah ujung dari peribadatan kita selama ini. Sehingga, hal dasar kita bisa nimbrung di hari raya, sebenarnya tidak layak jika puasa kita selama ini masih bolong-bolong tanpa alasan yang jelas. Atau seperti ini, bolehkah orang mendapatkan hasil tanpa adanya usaha? Tidak.

Lalu, bagaimana dengan orang menemui hari raya sedang tidak berpuasa? Itu sudah urusan sang pencipta. Bisa saja Tuhan memberikan nikmat  menemui hari raya, tapi nikmat hidup semata, ya hanya nikmat hidup. Nilai yang terkandung dalam hidup dan hari raya beda cerita. Toh, banyak orang yang bisa apa saja tapi tidak merasakan yang terjadi padanya.

Terakhir, mengutip orang-orang dulu, jika setelah ramadan ini peribadahan kita secara horizontal atau vertikal semakin baik dari sebelumnya, maka boleh dikatakan orang yang berhasil. Dan inilah tantangan sebenarnya buat kita. Karena memang semua kembali pada diri masing-masing. Bahkan, pada perang yang besar Muhammad pernah bilang, ”Kita pulang dari perang kecil dan menuju perang yang lebih besar,” perang Badar. Jika perang besar sekelas Badar dikatakan perang kecil oleh suri tauladan dan orang nomor satu paling berpengaruh di dunia, maka hanya untuk menahan makan-minum, tugas kuliah, urusan perasaan, pekerjaan, dan lainnya itu urusan apa? 


Oleh: Birar Z
Anggota LPM-SM


Selasa, 12 Juni 2018

Majalah Lembaga Pers Mahasiswa - Spirit Mahasiswa edisi Dibalik Wacana Pengembangan Tebu Madura

by
      Penentuan tema majalah Lembaga Pers Mahasiswa - Spirit Mahasiswa edisi “Dibalik Wacana Pengembangan Tebu Madura” bukan tanpa alasan. Secara umum tidak lain ialah untuk membongkar jika wacana Madura pulau tebu belum direalisasikan. Pasalnya, di beberapa daerah telah dilaksanakan proses penanaman tebu. Selain itu juga, kami akan meninjau seberapa jauh proyek penanaman tebu di Madura ini telah dilaksanakan serta berbagai macam kendala yang dialami. Baik oleh pihak penyelenggara ataupun masyarakat Madura.

      Dalam majalah ini, kami mencoba menjadi penyambung lidah antara pihak pemerintah dan PT Perkebunan Nusantara X (PTPN X) sebagai penyelenggara dengan masyarakat Madura khususnya para petani. Upaya menjelaskan anggapan tentang masyarakat Madura yang kolot dan sulit menerima hal baru terlebih dibidang pertanian ini dipilih menjadi fokus utama yang disajikan dalam laporan utama. Sedangkan dalam laporan khusus akan diwarnai dengan polemik yang terjadi antara pihak pemerintah dan PTPN X dengan masyarakat madura. Mulai dari segi kelayakan lahan, anggapan penolakan oleh petani hingga kurangnya komunikasi yang baik antara kedua belah pihak.

     Diharapkan dengan terbitnya majalah Spririt Mahasiswa edisi ketiga “Dibalik Wacana Pengembangan Tebu Madura” ini, dapat menjadikan LPM Spirit Mahasiswa sebagai media alternatif yang dapat menyajikan informasi serta konten-konten yang terpercaya untuk pembaca. Baik didalam ranah Universitas ataupun Masyarakat luas.



Selasa, 05 Juni 2018

Rayakan Dies Natalis ke XVII, Universitas Trunojoyo Madura adakan Buka Bersama

by





Ratusan mahasiswa, masyarakat, serta anak yatim memadati Gedung Pertemuan Universitas Trunojoyo Madura (UTM), Senin (26/5). Mereka hadir untuk mengikuti acara peringatan Nuzulul Qur'an 1439 H dan Dies natalis UTM  yang ke-71.

Acara ini dihadiri oleh tamu undangan yang berasal dari kalangan dosen, karyawan, Presiden Mahasiswa (Presma), Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM), Mahkamah Konstitusi Mahasiswa (MKM, Gubernur tiap fakultas , ketua Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), dan mahasiswa UTM.

Rangkaian acara dimulai dengan khotmil Qur'an di masjid UTM pada pukul 09.30 yang dipimpin oleh UKM Ikhfadz, kemudian dilanjutkan rangkaian acara lain di gedung pertemuan UTM.

Acara dibuka langsung oleh Rektor UTM, Muhammad Syarif, kemudian diisi ceramah dari Syafrudin Syarif. Di penghujung  acara diakhiri dengan buka bersama, masing-masing peserta yang hadir memperoleh konsumsi makanan dan takjil.

Menurut Nurul Izzati selaku penanggung jawab acara, tahun ini pihak rektorium dan panitia menyediakan 1500 konsumsi. Namun, jumlah peserta telah melebihi jumlah kuota konsumsi. Namun hal itu tidak menjadi kendala karena semua peserta  sudah mendapat konsumsi.

Sementara itu, Nurul Izzati menambahkan bahwa acara ini juga merupakan salah satu wujud dari usaha warga kampus untuk memberikan manfaat nyata terhadap warga. "Dengan acara ini, diharapkan mahasiswa dapat lebih berbaur dengan masyarakat sehingga dapat memberi nama baik kampus itu sendiri" ujarnya.

Kebahagiaan juga diungkapkan oleh salah seorang peserta, oleh Ibadur Rahman anak berusia 14 tahun. Ia  menuturkan bahwa acara ini sangat baik karena melalui acara ini, warga kampus dan masyarakat dapat saling dekat. "Saya melihat acara diesnatalis UTM ini sangat baik karena melihat masyarakat luar yang banyak dibantu" ujarnya.

Mohammad Fiky, salah seorang panitia menambahkan bahwa acara buka bersama ini merupakan acara rutin tahunan. Ia menuturkan bahwa, acara ini diharapkan dapat membantu masyarakat luar .
"Semoga dengan acara ini dapat membantu anak-anak  yatim yang hadir baik secara materil atau emosional. Sehingga memberi mereka motivasi untuk terus melanjutkan pendidikannya hingga perguruan tinggi" Ujar mahasiswa Fakultas Hukum tersebut.

Rabu, 30 Mei 2018

Pre Order Buku Catatan Masyarakat Goa

by
[Telah Terbit] Dunia kemahasiswaan pun akan menjadi suwung. Hanya menjadi batu loncatan untuk menjadi manusia berdasi atau sekedar mengisi kekosongan waktu tanpa memperoleh sesuatu. Bakat tak terasah, minat kalah dengan kuliah. Jadi, janganlah heran bila dunia kemahasiswaan memiliki permasalahan turun temurun yang tak kunjung habis. Sibuk memperbaiki diri bukannya berprestasi.

Kami mencoba cara pandang yang berbeda mengenai suatu persoalan yang kerap dihadapi mahasiswa, seperti: identitas mahasiswa, manusia dan negara, demokrasi, budaya, spiritual, kebebasan berpikir dan juga proses belajar.

[PRE ORDER]

Judul Buku: Catatan Manusia Goa
Penulis: Irfa Ronaboyd Mahdiharja dan Citra D Vresti Trisna
Tebal: 334 hlm
Harga: 45.000
ISBN: 9786023366811
Tanggal Pemesanan: 21 Mei – 6 Juni 2018
Pemesanan: 0896-5727-6100 (Dina)

Senin, 21 Mei 2018

CIVITAS AKADEMIKA UTM IKUTI UPACARA HARI KEBANGKITAN NASIONAL

by



WKUTM – segenap civitas akademika Universitas Trunojoyo Madura (UTM) mengikuti upacara Hari Kebangkitan Nasional ke-10 pada (21/05) yang diselenggarakan di depan gedung Graha Utama. Upacara yang di mulai pukul 08.00 ini dipimpin langsung oleh rektor UTM, Muhammad Syarif.

Pengibaran bendera merah putih dengan menyayikan lagu Indonesia Raya sebagai tanda dimulainya upacara dan lagu Satu Nusa Satu Bangsa, serta Bagimu Negeri oleh Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Paduan Suara Golden sebagai tanda berakhirnya upacara.

Pada kesempatan kali ini, Rektor UTM membacakan naskah pidato dari Menteri Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia. Pidato yang berisikan tentang sejarah serta bukti dari semangat dan komitmen. Pihaknya juga menyampaikan tentang semangat nasionalisme yang menjadi obor kemerdekaan.

"Bersatu, adalah kata kunci ketika ingin menggapai cita-cita yang sangat mulia. Namun pada saat yang sama tantangan yang maha kuat menghadang di depan. Boedi Oetomo memberi contoh bagaimana dengan berkumpul dan berorganisasi tanpa melihat asal-muasal promordial akhirnya bisa mendorong tumbuhnya semangat nasionalisme yang menjadi bahan bakar utama kemerdekaan," Jelasnya.

Pihaknya juga menambahkan dengan menghimbau agar memaknai upacara kali ini sesuai porsi dan peran masing-masing, terutama generasi muda yang menanggung beban kejayaan di masa mendatang.

"Mari maknai peringatan tahun ini di lingkungan kita masing-masing, sesuai lingkup tugas kita masing-masing, untuk semaksimal mungkin memfasilitasi peningkatan kapasitas sumber daya manusia, terutama generasi muda, yang akan membawa kepada kejayaan bangsa di tahun-tahun mendatang." Tambahnya.

Acara berjalan dengan baik, hanya ada beberapa kendala ringan yakni edaran untuk mengikuti upacara dan memakai atribut yang dinilai terlalu mendadak dan anjuran memakai atribut yang ditentukan. Seperti kata salah satu Pustakawan UTM, Lilik Soeprihatin, pihaknya menilai memang edaran terlalu mendadak.

"Upacara hari ini memang banyak peserta yang tidak menggunakan Korpri untuk mengikuti berjalannya upacara. Pemberitahuannya juga saya rasa mendadak. Diantara H-3 atau H-2," ungkapnya.

Kejadian ini sedikit disesalkan oleh Protokoler upacara, Setya, karena himbauan untuk para pegawai menggunakan seragam korpri lengkap.

"Semua peserta sudah dihimbau untuk menggunakan Korpri karena dari Dikti sendiri menganjurkan hal tersebut. Namun,masih ada beberapa yang tidak menggunakan Korpri. Setidaknya kami telah memberitau perihal ketentuan tersebut. Jika dirasa masih ada yang tidak menggunakan saya rasa mereka akan malu. Atau paling tidak jiwa nasionalisme-nya perlu ditanyakan kembali,” tegasnya.

Menurut mahasiswa Pendidikan Informatika tersebut, meskipun upacara dilakukan di bulan puasa ia berharap agar tetap berjalan kedepannya, dan agar lebih tepat waktu.

"Saya ingin kedepannya para peserta disiplin waktu. Karena saya melihat bahwa acara ini banyak mengulur waktu sehingga tidak berjalan sebagaimana waktu seharusnya,” pungkas anggota Resimen Mahasiswa Sakera. (Yah/Tim)

Minggu, 20 Mei 2018

Teror Bom, Apa yang Sebenarnya Terjadi?

by

Ilustrasi: Time


Sekitar seminggu terakhir rentetan kejadian teror bom di beberapa daerah begitu marak membuat resah. Dan lagi-lagi, kelompok yang dituding menjadi dalang rentetan kejadian itu adalah Jamaah Asharut Daulah. Selalu saja golongan beragama haluan ekstrimis yang disalahkan publik dengan dalih perpecahan umat.

Hari minggu lalu, ketika suasana masih riuh, kabar yang meluas melahirkan presepsi serta asumsi hasil dari informasi yang dikunyah mentah-mentah dari media. Saat itu, kecaman dan gerakan-gerakan baru bermunculan di masyarakat, seperti #kamitidaktakut dan lain sebagainya. Dari sana pula, muncul beragam asumsi masyarakat yang masih menerka-nerka dan penuh ketakutan akan konspirasi. Asumsi pengalihan isu, politik adu domba, konflik yang sengaja diciptakan agar ada kebijakan baru yang menguntungkan beberapa oknum, pun yang mengatakan jika kejadian di Polrestabes Surabaya adalah imbas dari kejadian di Mako Brimob, Kelapa dua, Jakarta. Setidaknya itulah yang menjadi pergunjingan di kalangan masyarakat awam sebagaimana yang diamini Kapolri saat konferensi pers di Surabaya.

Lalu, sebenarnya apa yang sedang terjadi?

Hari Minggu itu, saya sedang berada di Lamongan, di PP Sunan Drajat, tepatnya. Di sana saya mendengar K.H Abdul Ghofur bertausyiah, satu pesan  yang bisa saya ambil dari tausyiahnya adalah, kita terlalu sibuk mengurus hal-hal yang kecil sehingga lupa pada hal yang besar. Kita sibuk merisaukan bom-bom kecil yang terjadi saat ini, sedang di Suriah dan Palestina bom yang diledakkan jauh lebih besar. Belum lagi satu bom yang bernama ideologi, bom yang mampu menghancurkan sampai tujuh turunan. Bom inilah yang menimbulkan berbagai gerakan pemberontakan pada siapapun yang tidak sejalan.

Masih dengan pertanyaan yang sama, sebenarnya apa yang terjadi?

Jika pihak kepolisian Indonesia berasumsi bahwa rentetan kejadian berawal dari Mako Brimob, maka banyak kejanggalan yang perlu dikaji ulang. Sebagaimana tanggapan pihak kepolisian yang menyatakan sebab dari kerusuhan tersebut berasal dari masalah makanan.

Maksud saya seperti ini, tahanan atau napi adalah orang yang biasa lapar dan dituntut untuk tahan, tidak mungkin cuma gara-gara makanan. Saya sempat melihat beberapa video yang beredar di youtube pasca kejadian terjadi. Sempat ada satu video yang saya kira direkam oleh salah satu tahanan. Dalam video itu terdengar seruan bahwa, kitab mereka telah diinjak, sehingga mereka mendeklarasikan perang. Ada pula yang sempat live di instagram namun, tidak berselang lama akun tersebut hilang.

Lalu, kejanggalannya seperti ini, kenapa tahanan bisa membawa ponsel, dan bagaimana bisa ratusan napi lepas dari kurungan mereka. Padahal, idealnya sebuah penjara memiliki keamanan yang mewadahi. Terkait kejanggalan ini saya tidak akan memberikan kesimpulan apapun. Yang jelas semua sudah terjadi. Dan Indonesia sedang sakit.

Lalu, benarkah kejadian ini atas nama agama? Tidak, esensi dari agama adalah membawa kedamaian, jika belum damai, maka ada yang salah dalam beragama.

Jika memang teroris-teroris itu berasal dari kelompok yang mengatasnamakan Islam, seharusnya perilaku mereka tidak menyimpang dari Muhammad dan kitab yang dibawanya. Sebagaimana yang telah diwahyukan bahwa Muhammadlah sebaik-baiknya suri tauladan.

Diriwayatkan bahwasannya beliau –Muhammad – tidak pernah memusuhi siapapun. Bahkan  beliau senantiasa menyuapi seorang kakek buta di pasar, meskipun kakek buta itu senantiasa memaki dirinya. Ya, kembali lagi, jika memang Al-quran dan Muhammad yang dianut maka tidak akan terjadi tindak kriminalitas. Selain itu, sudah mutlak bahwa, masuk Islam itu dengan selamat dan aman.

Bagaiamanapun tindakan teror semacam bom-bom di Surabaya itu tidak dibenarkan, meskipun mereka berteriak kafir pada sasaran yang akan dijadikan target pengeboman. Sebab jika menelaah pengertian kafir kembali, setidaknya, ada dua macam pengertian dari kafir: Kafir Harbi, kafir yang memusuhi islam dan boleh diperangi. Yang kedua, Kafir Dzimmi, kafir yang tidak memusuhi islam, dan tunduk kepada negara khilafah sebagai warga negara, meskipun tetap pada keyakinan yang mereka anut. Kemudian, akan timbul satu pertanyaan, apakah golongan yang tidak sejalan dengan golongan mereka adalah kafir harbi, dan siapakah yang kafir sebenarnya?

Sejujurnya, saya tidak butuh jawaban atas pertanyaan yang saya lontarkan, pun tidak menuntut agar sepemikiran dengan saya, apalagi anda membuat asumsi yang tidak-tidak. Namun, jika memang kasus yang tengah trending ini murni atas nama ‘agama’, lalu kemana mereka saat ulama diintimidasi, cadar dikekang, Tidakkah yang dilakukan hanya akan mencemarkan nama agamanaya? Perlu dikaji ulang.

Dan rebut-ribut tentang RUU terorisme yang katanya menjadi salah satu sebab teror. Jujur, saya sempat berpikiran buruk terkait RUU tersebut yang sempat tertunda karena belum ada deskripsi yang pasti tentang teroris itu seperti apa. Seperti yang dikatakan ketua DPR, Bambang Soesatyo baru-baru ini, bahwa kendala disahkannya Rancangan Undang-undang Pemberantasan Tindak Pidana Teroris, revisi Undang-undang No 15 Tahun 2003 karena belum ada deskripsi tentang teroris dan tujuannya.

Dari sana, pikir buruk saya seperti ini, pemerintah sengaja membuat momentum agar RUU tersebut segera disahkan. Ya, semoga saja nantinya negara ini tidak lari ke sekulerisme.

Lagi pula, saya yakin orang-orang di atas lebih mengetahui dari yang kita ketahui. Sayangnya, mereka lebih sering menyembunyikan informasi untuk kepentingan mereka sendiri. Meskipun hal seperti itu terkadang perlu dilakukan jika untuk kemaslahatan bersama.

Adapun terkait solusi yang sering kita dengar untuk menjaga perdamaian, menjaga kerukunan, menghargai perbedaan, dan bla-bla yang lain, saya rasa cukup mudah, untuk diucapkan saja. Namun, upaya untuk mendapatkan semua itu tidak pernah kita rasakan bersama. Tentunya, untuk permasalahan seperti ini saya menyalahkan pemerintah, toh, mereka yang memiliki kuasa penuh berjalannya negara. Tidak masalah saya dikatakan orang yang bisa menyalahkan saja, kenapa memang kalau saya suka menyalahkan pemerintah?

Meskipun begitu, saya juga menawarkan satu saran, yaitu menjadi pribadi-pribadi yang egois. Egois yang saya maksud di sini yaitu menguatkan apa yang kita yakini, jika menyakini sebuah paham agama, maka perkuatlah dengan menambah keyakinan dengan niat semata untuk beribadah. Saya yakin jika semua menerapkan hal ini, maka perubahan akan dimulai dari diri sendiri. Selanjutnya, kebersamaan akan mengikuti. Logikanya, hanya orang ngawur yang mengharapkan kebersamaan sedang dirinya sendiri masih jauh dari kata baik.

Terakhir, jika pelaku pengeboman adalah golongan yang didoktrin siap mati untuk golongannya, lalu kenapa pemerintah tidak mampu membuat warga negara fanatik kepada negaranya? (Tim/Juk)

Rabu, 16 Mei 2018

Penggusuran Kantin Libatkan Koperasi Mahasiswa

by



Koperasi Mahasiswa Fakultas Ilmu Pendidikan yang terletak di bawah tangga sebelah kanan RKBD. Foto: Dic.

WKUTM-Foodcourt Universitas Trunojoyo Madura (UTM) telah rampung pembangunannya. Kendati demikian, ternyata masih meninggalkan permasalahan terkait surat edaran yang sudah disebarkan.

Arum, mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia (PBI), selaku bagian hubungan masyarakat (Humas) dari Koperasi Mahasiswa (Kopma) Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) merasa kecewa terkait surat edaran yang ditujukan kepada kantin, namun ternyata  melibatkan Kopma.

Ketika ditemui pada Kamis (19/04), Arum memaparkan bahwa dalam surat yang diterima, menyatakan tentang  pemindahan kantin bukan koperasi. Sedangkan Kopma FIP adalah koperasi. ”Koperasi berdiri sebagai badan semi otonom dan merupakan  organisasi yang berkaitan dengan proses wirausaha. Jadi, bukan badan usaha dan juga bukan kantin” ungkap mahasiswa PBI semester 8 tersebut.

Kopma FIP yang beranggotakan mahasiswa FIP ini sudah dirintis selama 3 tahun dan  kemudian baru diakui menjadi Kopma baru 2 tahun belakangan ini. Mereka berharap tidak digusur, jika seandainya digusur mereka meminta diberikan tempat  yang strategis.

"Ya kalau kita ditempatkan tidak strategis, bagaimana mau mengelola. Kalau di sini kan kita dari FIP ya ditempatkan di FIP ya untuk orang-orang FIP. Selain itu, koperasi baru di kelola oleh mahasiswa sendiri FIP kok sudah mau digusur, mau di hentikan. Belum tumbuh sudah dipetik”  Ujarnya.

Kopma FIP  yang perlindungannya dari Wakil Dekan dan badan semi otonom itu sendiri. Pengembangan  dana dari sistem koperasi memiliki simpanan pokok dan simpanan pinjam, sehingga seluruh biaya koperasi bergerak dari anggota untuk anggota. Meski pengembangan dari universitas belum ada, namun dari pihak fakultas sudah memfasilitasnya, seperti listrik dan perijinan. Semua yang mengelola koperasi adalah mahasiswa.

Arum menegaskan Kopma FIP  tidak sembarang didirikan. Mereka sering mengadakan rapat anggota tahunan,  pelatihan koperasi keluar kampus setahun sekali. ”Paling tidak ada 3 kali pelatihan koperasi pemuda Indonesia di luar kampus. Jadi Kopma FIP merupakan  perwakilan universitas. Mengatas namakan Koperasi FIP UTM” tegasnya.

Mahasiswa PBI ini mengaku bahwal koperasi itu adalah salah satu peluang berwirausaha jika nanti setelah lulus nanti, mereka  sudah mendapatkan bekal dari koperasi.

"Menurut saya, kopeeasi jelas ada input dan outputnya. Kenapa kok sampai digusur, atas alasan apa, kan disayangkan?" keluhnya.

Arum berharap akan ada audensi. Tahap awal, yang nantinya paling tidak diajak untuk saling berbicara.  "Kalo ada masalah kan baiknya dibicarakan. Siapa tahu ada solusinya. Kami mintanya begini, Bapak minta  bagimana? Jika  bapak mintanya begini kami ada solusi seperti ini tapi siapa tahu bapak punya solusi lain, jadi jika digabungkan siapa tahu ada jalan tengahnya" paparnya.

Pihaknya juga bingung jika seperti ini akan mengutarakan masalah pada siapa, "jika seperti ini kami kebingungan. Mau mengadu kepada siapa, ketika ingin bertemu lewat jalur mana juga tidak tahu" pungkasnya. (Yul/Wuk)

Senin, 14 Mei 2018

Pembangunan Masterplan Foodcourt UTM

by
Bangunan foodcourt UTM dilihat dari atas Gedung Labsos UTM. Foto: Dic


WKTUTM-  perkembangan pengadaan Masterplan Universitas Trunojoyo Madura (UTM) masih dalam tahap penyelesaian. Salah satu diantaranya adalah pengadaan  foodcourt yang hampir selesai. Pembangunan foodcourt memakan waktu kurang lebih satu tahun, dimulai  pada awal 2017 dan baru  rampung di akhir tahun 2017.
Mengenai perolelahan dana untuk pembangunan foodcourt, Amrin Rozali selaku staff Unit Layanan Pengadaan (ULP), memaparkan bahwa dana tersebut diperoleh dari hasil lelang. ”Untuk dana, sebenarnya bisa dilihat di data lelang UTM   sebesar 1, 944 milyar” ungkap pria yang berdomisili di Gili Timur tersebut.
Terdapat 34 perusahaan yang mengikuti proses lelang tersebut, hingga akhirnya lelang tersebut dimenangkan oleh perusahaan di daerah Sumenep. ”Yang mengikuti proses lelang ini sebanyak 34 perusahaandan dimenangkan oleh CV .Sumber Kembang dari Sumenep.” Ujarnya. 
Sementara itu,  fooudcourt tersebut terdiri dari 19 stand yang terbagi menjadi 4 atau 5 komplek. Menurut keterangan pihak ULP, foodcourt yang sengaja dibangun  di area Asrama Mahasiswa UTM karena bangunan tersebut bersifat komersil. ” karena bangunan tersebut bersifat komersial maka posisinya bergantung dari banyaknya konsumen” terangnya.
Ditanyai lebih lanjut tentang pembukaan foodcourt, pihaknya mengungkapkan bahwa tidak tahu-menahu dan melemparkan wacana bahwa yang mengetetahui persoalan tersebut adalah Biro Administrasi Umum dan Keuangan (BAUK). ”Kalau masalah pembukaan saya tidak tahu, bidang saya disini hanya berkaitan dengan pembangunan. Tapi saya dengar, pihak BAUK  menunggu siapa saja yang menjual, pembagian stand atau menunggu pedagang dari civitas akademika dan juga orang luar, tentu dengan syarat-syarat tertentu.” ungkapnya.
Menanggapi masalah tersebut, Agung, Staff Badan Administrasi Urusan Keuangan (BAUK) Subbagian Rumah Tangga memaparkan bahwa hal dilatarbelakangi oleh belum turunnya Surat Keputusan (SK) rektor yang membahas Food court.
”Sampai saat ini masih belum ada SK rektor yang turun mengenai pembukaan food court,” pungkasnya. (Mil/Wuk)


Sabtu, 12 Mei 2018

Ikatan Mahasiswa Bidikmisi Selenggarakan Seminar Nasional

by
Suasana acara seminar Ikatan Mahasiswa Bidikmisi yang bertempat di Gedung Cakrat UTM. Foto: Yul.


WKUTM- Ikatan Mahasiswa Bidikmisi (IMB) selenggarakan Seminar Nasional bertemakan “Bersama Bidikmisi, Membidik Mimpi, Menggapai Asa Menuju Generasi Emas Indonesia” (11/05) di Gedung Cakra Universitas Trunojoyo Madura (UTM).

Menurut Bingar, selaku ketua pelaksana (Ketupel), acara ini merupakan salah satu program IMB selain beberapa agenda-agenda lain mendatang. “Ada beberapa agenda yang biasanya kami lakukan sebagai program kerja (proker) semester ini. Ada proker pengabdian masyarakat dan Pengembangan Organisasi Sumber daya Mahasiswa (POSDM), ada juga proker Bina Desa, Bidikmisi Goes To School dan masih banyak lagi”ujarnya.

Selain itu, acara ini diselenggarakan dengan maksud agar para mahasiswa bidikmisi tetap menggapai mimpi setinggi tingginya, sesuai dengan cita-cita, mars, dan jargon bidik misi.

Seminar Nasional ini menghadirkan dua pemateri, yakni Rachmad Adi Riyanto dan Yousida Hariani. "Kedua pemateri merupakan narasumber yang diundang pada Rapat Kerja Nasional (Rakernas), lagipula keduanya memiliki background mahasiswa yang tidak mampu tapi masih tetap bisa menggapai cita-cita dengan melanjutkan pendidikanya keluar negeri,” tambahnya.

Acara yang berlangsung pada pukul 08.00-12.30 WIB  dihadiri lebih dari 600 peserta. ”peserta yang melakukan registrasi ada 600 peserta ditambah anggota IMB berjumlah 650 serta tamu undangan hampir 700 peserta. Selain itu,  ditambah kuota On The Spot (OTS), ada juga beberapa mahasiswa yang namanya belum terdaftar tetapi sudah konfirmasi,” papar mahasiswa Fakultas Hukum tersebut.

Kendala dari kegiatan hanya seputar masalah perizinan dan lain-lain,  karena IMB belum mendapat Surat Keterangan (SK) dan di bawah Badan Semi Otonom (BSO) “kami masih kesulitan dalam peminjaman gedung penambahan kursi dan lain-lain” keluhnya.

Menurut peserta acara ini cukup memotivasi dan sangat menarik. “acara ini sangat baik karena mendatangkan pemateri yang sangat luar biasa dan semoga bisa mengikuti jejak langkah dari mereka,” ungkap Novita Sari mahasiswi PGPAUD semester 6 tersebut.


Selain itu, ada pesan dari Rahmad Adi Riyanto, selaku pemateri yang bisa dijadikan pemantik dan motivasi untuk meraih kesuksesan. “terkait kesenangan, awalnya saya lebih suka matematik, tetapi kepala sekolah menyarankan Fisika. Jadi kita harus mencintai apa yang kita kerjakan jangan melakukan apa yang kita cintai saja," tegas mahasiswa yang tengah menempuh studi S3 di Jepang tersebut . (Uda/Wuk)










Kamis, 10 Mei 2018

UKM MUSIK B-SING Selenggarakan Parade Musik SE-UTM

by

Suasana acara UKM Musik BSING Bertema "May Fest" di Gedung GSC UTM. Foto: Rar

WKUTM- Unit Kegiatan Mahasiwa (UKM) musik B-Sing menggelar acara May Fest yang  dihadiri grup band di seluruh fakultas Universitas Trunojoyo Madura (UTM) Pada (10/05) di Gedung Student Center (GSC) UTM.

Acara yang dibuka pada pukul 15.00 WIB kali ini bertemakan “SHOW YOUR SOUL” UTM, dengan maksud sebagai wadah untuk semua band yang ada di UTM. ”karena pada dasarnya UKM Musik B-sing merupakan UKM musik dan menginginkan musik yang ada disini bersatu.” tutur Bagus (Ketua Pelaksana (Ketupel) acara tersebut.

Menurut Bagus, Selain mengundang grup band yang ada di fakultas pihaknya juga mengundang band lokal yang ada di Bangkalan dan yang Jakarta. ”kita mengundang band yang ada di fakultas serta dua band lokal Bangkalan dan Band Social Kids dari Jakarta. Ada juga special performences dari Viper dan Blue Murder” ungkap mahasiswa Manajemen semester dua tersebut

Selain ada festival musik, panitia juga mengundang modern dance dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) sebagai variasi. Acara kali ini memang tidak berbentuk lomba ataupun lainnya, tetapi berbentuk parade musik.”parade musik  ini ditarik Harga Tiket Masuk (HTM) sebesar lima ribu rupiah, selain itu kami memberikan apresiasi berupa trophy dan goodie bag bagi band yang terbaik dan best costum,” papar Mahasiswa Asal Tuban tersebut.

Acara kali ini sebenarnya  merupakan acara kecil sebagai permulaan  menuju acara puncak yang akan ada pada akhir tahun, sebagaimana tahun-tahun sebelumnya. ”Acara kali diadakan  sebagai pembuka karena setelah itu ada  acara lanjutan di akhir tahun, yakni Madura Aman Damai Festival,” tambahnya.

Dia berharap acara ini sebagai wadah bagi seluruh band yang ada di universitas untuk bertemu dan silaturrahim. ”acara kali ini untuk menyatukan dan silaturrahim bagi band yang ada disini dan menambah saudara sesuai dengan temanya, UTM bersatu” tambahnya. (Uda/Wuk)

Rabu, 09 Mei 2018

Dies Natalis UKM-F Sabit Gelar Lomba Musikalisasi Puisi

by
Perwakilan dari SMKN 1 Labang sedang menampilkan musikalisasi puisinya. Foto: Dico.


WKUTM- Unit Kegiatan Mahasiswa Fakultas (UKMF) Teater Sabit mengadakan lomba musikalisasi puisi tingkat SMA/MA/SMK sederajat se-Madura (09/05) di Gedung Audiotorium Universitas Trunojoyo Madura (UTM). Acara ini diadakan dalam rangka Dies Natalis yang ke-4.

Acara kali ini mengangkat tema “Catur Berkat”, Cekatan Tindak Tutur Berproses Kuat. Lomba diikuti oleh para siswa SMA/SMK/MA dari Bangkalan, Sampang, Pamekasan dan Sumenep. ”jatahnya dua puluh peserta, undangan kami sebar di SMA/sederajat yang ada di Madura. Selain itu, kami mendatangi sekolah-sekolah untuk menghantarkan surat undangan dan juga poster” ungkap Aulia Ilham Fahmi, selaku ketua pelaksana.

Rangkaian acara Dies Natalis Teater Sabit EKSOTIS 4 digelar dengan runtutan tiga acara. Pertama, khataman Al-Qur’an dan potong tumpeng, kedua perlombaan musikalisasi, dan ketiga pementasan drama Kisah Cinta Hari Rabu dan Tari Srikandi.

Menurut Syarifatus Sufia, selaku Humas pelaksana, perlombaan ini baru pertama kali sebab sebelumnya UKMF Sabit hanya mengadakan seminar.


Selain itu, menurut  Ketua Pelaksana pelombaan ini digelar untuk meningkatkan minat bakat kesenian serta mempromosikan UTM sendiri.  ”Kali ini dapat dilihat bahwa minat kesenian yang cukup bagus dari banyak kalangan dan  diharapkan agar peserta dapat lebih bisa mendalami kesenian” tambah Aulia

Prosedur lomba tiap peserta harus sudah melakukan registrasi sebelum tampil dan dinilai oleh tiga juri kemudian dipilih 3 juara. ”Nantinya juara satu akan tampil malam ini ketika pementasan drama dari divisi drama dan tari srikandi” jelas Aulia.

Aulia juga menambahkan bahwa perlombaan kali ini mengambil puisi dari dua tokoh Madura dan Nasional, yaitu Chairil Anwar dan D. Zawawi Imron. ”Jadi puisi diambil dari karya kedua penyair tersebut, untuk modifikasi penampilan, itu bebas,terserah dari peserta sendiri” tambah mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia semester 6 tersebut.

Rosati Nur, peserta yang berasal dari SMAN 2 Sumenep mengaku bangga mengikuti lomba ini, walaupun dari jauh namun tetap bisa berpartisipasi. ”Acara ini sangat luar biasa, sebab dengan acara ini bisa menyaring bakat dan nantinya munculkan prestasi. Semoga saya dan teman-teman dapat membanggakan Sumenep itu sendiri, dan SMA ” harapnya.

Aulia mengungkapkan bahwa UKMF Teater Sabit akan menyuguhkan yang terbaik bagi penikmat seni. ”Semoga dengan acara ini bisa memperkenalkan Sabit dan diterima keseniannya, selain itu semoga adik-adik kelak jika di UTM mau bergabung” harapnya. (Yul/Wuk)



Sastra