Berita Terbaru

Rabu, 19 September 2018

Polemik Legalisasi Duta Kampus UTM

by
                                                                             Foto: Rara

Duta kampus Universitas Trunojoyo Madura (UTM) atau lebih dikenal sebagai King and Queen yang selama ini berada dalam naungan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Fakultas Pertanian (FP), Viper Collaboration saat ini mengalami perpecahan. Hal itu dikarenakan King and Queen berganti nama menjadi Potra-Potre merasa selama ini keberadaannya tidak diakui tiap Fakultas sebagai duta kampus.

"Kami mengambil keputusan untuk keluar kemudian mengganti nama menjadi Potra-Potre karena kita sudah tidak lagi berada di naungan UKMF Viper Collaboration. Kami merasa tidak diakui oleh pihak fakultas lain. Maka keputusannya, kami keluar dengan tidak membawa nama King and Queen. Sehingga kini kami berganti nama Potra-Potre yang sesuai dengan kebudayaan Madura itu sendiri" ujar Badri Indriyanto, mahasiswa yang menjadi King tahun 2015 tersebut.

Menurut Surya Adi Darma , selaku anggota Viper, adanya polemik tersebut menimbulkan kerancuan terkait legalitas Potra-Potre itu sendiri. Pihak Viper mengungkapkan bahwa yang  tetap diakui adalah King and Queen. Hal itu karena sejak tahun 2009 sudah ada surat keputusan (SK) sebagai bukti legalitas sebagai duta kampus dan Viper sebagai penyelenggara.


Untuk SK yang sah tetap King and Queen. Jadi untuk Potra-Potre kami kurang tahu seperti apa. Mungkin mereka menunggu keputusan dari pimpinan,” ungkap mahasiswa Agroteknologi ketika diwawancara pada Rabu (19/09).


Berkaitan dengan regulasi dan legalisasi, Halimi selaku ketua Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM)  bahwa Potra-Potre belum ada legalisasi dan belum bisa dipastikan tentang siapa yang akan menaungi. Untuk sementara ini, masih dalam tahap proses pengajuan dari Potra-Potre terkait penaungannya, di bawah naungan Humas atau Wakil Rektor 3.

Sampai saat ini masih belum ada berkas masukan ke DPM mengenai Potra-Potre. Pihak DPM pun belum mengetahui harapan, tujuan, maupun visi-misinya. Jika selama proses tidak melalui DPM maka akan lama dan dikatakan belum legal,” ungkap mahasiswa Hukum Bisnis Syariah tersebut.

Halimi juga menambahkan bawa untuk melegalkan Potra-Potre, pimpinan masih mencari referensi dengan melakukan studi banding ke Universitas Negeri Malang.

Di kalangan mahasiswa sendiri, duta kampus belum banyak dikenal. Seperti Zumroh, mahasiswa Fakultas Hukum yang mengaku tidak tahu secara rinci mengenai duta kampus.

Secara spesifiknya atau program kerja duta kampus, saya tidak tahu. Duta Kampus pastinya untuk mengharumkan kampus serta memperkenalkan kampus. Akan tetapi, saya tidak mengetahui program kerjanya seperti apa”  Ungkapnya.

Hal yang serupa dengan duta kampus atau King and Queen adalah mahasiswa berprestasi (mawapres). Sesuai dengan namanya, mawapres adalah mahasiswa berprestasi dalam bidang akademik maupun non-akademik.

Zumroh juga memaparkan bahwa Duta Kampus memang berperan untuk mempromosikan maupun membawa nama baik UTM ini di luar nanti, akan tetapi alangkah baiknya meperkenalkan Mawapres terlebih dahulu di ranah publik.

Duta kampus memang sangat berperan dan untuk menyandang gelar itu ada seleksinya. Tidak hanya cantik atau tampan, tetapi mempunyai kemampuan akademik yang bagus. Namun, jika  disuruh memilih antara Duta Kampus atau Mawapres, saya lebih memilih Mawapres. Karena Mawapres tidak hanya wadah bagi mahasiswa yang berprestasi, namun juga sebagai simbolis  bahwa itulah putra putri terbaik dari Universitas Trunojoyo” ungkapnya. (Ben/Yul/Wuk)

Selasa, 18 September 2018

Tanggapan Pihak Universitas Terkait HTI di UTM

by
 Komunitas mahasiswa disinyalir HTI sedang berfoto di area taman kampus UTM

WKUTM - Beredarnya foto beberapa mahasiswi dengan bendera yang disinyalir sebagai bendera bendera Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) ramai menjadi bahan pembicaraan, khususnya di kalangan Universitas Trunojoyo Madura (UTM). Beberapa mahasiswi yang ada di dalam foto tersebut teridentifikasi berasal dari Fakultas Pertanian dan Keislaman.

Terkait hal itu Pembantu Dekan III Fakultas Keislaman (Fkis), Abdur Rohman membenarkan kalau anak didiknya merupakan salah satu mahasiswi yang ada di foto itu. Menurut Rohman, pihaknya sudah meminta mahasiswi FKis yang terlibat memberi penjelasan untuk menyelesaikan permasalahan tersebut secara kekeluargaan.

”Kita sudah mengetahui siapa saja yang terlibat dan kita sudah memintanya untuk menghadap kita sembari menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Kita memberikan sistem kekeluargaan,” ungkapnya.

Senada dengan Abdur Rohman, Pembantu Dekan III Fakultas Pertanian (FP), Ahmad Farid juga membenarkan terkait beberapa mahasiswi FP yang ada di foto itu. Namun dirinya  membantah foto tersebut sebagai bagian dari HTI. Menurutnya, bendera yang dibentangkan di foto hanya mirip dengan bendera HTI.

”Di bendera HTI itu ada tulisan kecil dibawah Hizbut Tahrir Indonesia sedang ini tidak,” jelasnya.

Sedang menurut salah satu mahasiswi yang  tidak mau disebutkan namanya, menuturkan bahwa yang ada di dalam foto itu memang bagian dari HTI yang tergabung dalam satu komunitas baru. Hal ini dilakukan karena secara resmi HTI sudah dibubarkan oleh negara.

”Mereka adalah bagian dari HTI. Karena setiap kampus membubarkan HTI, maka mereka membuat komunitas sendiri, Forum Muslimah Cerdas (FORMUDA) namanya.  Dan akan berbeda (namanya, red) pada setiap kampus yang ada,” Ungkap mahasiswi yang juga mengikuti kajian Formuda tersebut.

Selain itu dia juga mengungkapkan bahwa komunitas itu tumbuh di Fakultas Pertanian karena adanya salah satu dosen yang membimbing dan biasa  mengisi materi ketika kajian bersama istrinya. Namun dia berani menjamin selama mengikuti kajian, forum tidak pernah membahas tentang khilafah dan makar.

Memang kebanyakan tumbuh di FP, karena ada dosennya disana. Yang mengisi kajiannya pun dari dosen dan istri dosen, namun mereka tidak pernah membahas  makar atau khilafah yang notabene dicap kepada mereka,” tambahnya.

Menyikapi hal tersebut ketua Dewan Perwakilan Mahasiswa, Halimi menuturkan perihal masalah ini masih ditindak lanjuti untuk pemanggilan ke mahasiswi yang bersangkutan, yang dipasrahkan kepada Pembantu Dekan III masing-masing. Selanjutanya, hal tersebut akan dikaji dan dipertimbangkan kembali untuk pemberian sangsi.

Di sisi  lain, pihak rektorat sudah melakukan rapat di Ruang Rapat 401 Gedung Graha Utama terkait masalah ini. Namun, sampai sekarang belum ada keterangan resmi dari pihak rektorat terkait hasil rapat terbatas yang dilaksanakan pada pukul 10.00 WIB (18/9) itu. (Vir/Sir) 

Minggu, 16 September 2018

Resensi Bumi Manusia

by

Judul Novel          : Bumi Manusia
Penulis                  : Pramoedya Ananta Toer
Penerbit                 : Lentera Dipantara, Jakarta Timur
Isi                          : 535 halaman
Tahun Terbit          : 2011 cetakan ke-17


Baru-baru ini, Hanung Bramantyo, sutradara terkenal itu mengangkat novel Bumi Manusia, buku pertama tetralogi Pulau Buru karya Pramoedya Ananta Toer ke layar lebar. Kabar  itu  membuat ramai banyak orang. Begitu juga setelah Hanung mendapuk Iqbaal Dhiafakhri Ramadhan, aktor yang memerankan Dilan dalam film yang diangkat dari novel Pidi Baiq, menjadi pemeran utama sebagai Minke. Barangkali, hal itu yang membuat generasi milenial bertanya-tanya, siapakah Pramoedya itu?


Pram adalah penulis Indonesia legendaris dalam sejarah sastra Indonesia. Ia telah melahirkan lebih dari 50 karya yang diterjemahkan dalam bahasa 41 bahasa lain. Salah satu karya besarnya adalah Buku tetralogi Pulau Buru, 4 roman yang saling bertautan. Pada 1980-an, Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca dan semua karya Pram sempat dilarang beredar. Konon dianggap membahayakan karna mengandung ajaran yang tak sesuai dan mengancam ideologi bangsa. .


Bumi Manusia sendiri bercerita tentang Minke, seorang pribumi, jawa tulen. Ia bersekolah di HBS (Hoogere Burger School). Sekolah yang setara dengan SMA dan  tak sembarang orang bisa mendapat pendidikan di sana. Hanya kaum totok atau orang Eropa Asli, Indo atau campuran, juga Pribumi yang memiliki kedudukan tinggi yang berhak memperolehnya.


Dalam novel ini ia digambarkan sebagai sosok yang begitu cerdas dan pandai dalam membaca dan menulis. Ia sebenarnya mempunyai gelar bangsawan, namun ia tak pernah memakainya, maka Minke—plesetan nama kata “monkey”—yang lebih banyak digunakan. Minke merupakan anak dari bupati B (ditulis seperti itu dalam novelnya)  yang hidup diantara orang-orang berkulit putih. Intensitas pergaulan minke dengan kaum eropa perlahan membuat ia mengaggumi adat istiadat dan kehidupan orang eropa. Minke pelan-pelan melupakan tradisi yang telah diwariskan nenek moyangnya, yaitu Jawa, sekalipun keluarganya merupakan penganut budaya jawa yang fanatik, terlebih ayahnya yang berbanding terbalik dengan Minke.


Kisah tersebut seolah-olah menyentil kelakuan orang-orang di masa lalu, dimana percampuran budaya yang dialami pribumi, membuat mereka jadi pengagum budaya Barat. Bahkan Pribumi yang memiliki kebudayaan sendiri, bukannya bangga dan mengenalkan budayanya, malah menyesuaikan diri terhadap budaya yang dibawa oleh bangsa luar. Padahal sebelum Belanda datang, sesungguhnya pribumi telah mengenal teknologi. Pribumi mampu mengolah logam, membuat apapun dari bahan kayu-kayu dan memiliki peradaban yang jauh lebih maju daripada bangsa eropa.


Minke, dalam buku ini yang memuja modernisme menjadi manifestasi perenungan untuk mencapai kebebasan. Minke digambarkan sebagai kebebasan yang esensial terhadap pencarian eksistensi. Tak hanya tentang Minke, buku yang mengambil latar abad 18 juga menceritakan sosok Nyai Ontosoroh. ‘Nyai’ yang kala itu dianggap rendah oleh orang-orang lantaran menjadi gundik, wanita simpanan orang-orang Eropa


Pram, lewat tokohnya pelan-pelan mengajak kita untuk tidak memandang rendah setiap orang dengan sebelah mata. ‘Adil sejak dalam pikiran,’ demikianlah yang ditulisnya. Minke yang diceritakan jatuh hati pada Annalise Malema, anak Nyai Ontosoroh, membuat dirinya sadar kalau Nyai Ontosoroh tidak seperti Nyai-nyai pada umumnya di masa itu. Pram seolah mendobrak, mengubah pandangan pada apa-apa yang marak terjadi sekarang. Adil sejak dalam pikiran, Nyai Ontosoroh dalam Bumi Manusia mengingatkan kita pada pepatah lama, jangan menilai buku hanya dari sampulnya.


Yang menjadi daya tarik dalam membaca buku ini salah satunya adalah kisah cinta antara Minke dan Annelise. Kisah cinta yang penuh akan perjuangan dan tuntutan akan hak-hak seorang anak manusia. Pahit getir perjalanan pernikahan mereka dimulai dari tidak diakuinya pernikahan mereka oleh pemerintah Belanda. Nyai Ontosoroh tidak terikat dalam pernikahan yang diakui oleh pemerintah Eropa, sebab Nyai hanyalah gundik.


Setelah Herman Mellema meninggal di tempat pelacuran, Maurist Mellema, anak tunggal Herman Mellema dari istri yang sah telah menuntut hak perusahaan juga Annelies sendiri, sebagai milik mereka. Sekalipun Nyai Ontosorolah yang merawat baik perusahaan maupun Annelies sejak dari kecil.


Di sinilah nantinya diceritakan ketidakadilan yang terjadi kepada Pribumi. Perjuangan menuntut hak, kegigihan dan arti penting dari kehormatan sebuah perlawanan. Novel ini tidak lain adalah lanskap penjajahan yang ada di Indonesia. Pram menceritakan pahit, sakit, getir di era penjajahan. Yaitu ketika Pribumi tidak bisa berbuat banyak dan tidak berdaya melakukan apa-apa. Sekalipun ketidakadilan benar-benar di depan mata.


Membaca novel ini dengan alur yang runtut, kita seperti diajak menelisik berbagai kejutan-kejutan yang mengalir deras, dari dialog yang ditulis oleh Pram. Realitas budaya Jawa yang menggambarkan kemauan keras, juga cita-cita untuk mencapai kesejahteraan telah membuat Minke, anak priyai itu sadar jika sesungguhnya begitu peliknya kehidupan jajahan. Minke berusaha bebas untuk menghilangkan perihal kolonialisme dan feodalisme yang terjadi di pribumi ini.


Pram berhasil membuat pembaca berdecak kagum. Nilai kemanusian, nasionalis, moralitas, akan dengan mudah didapatkan setelah membaca buku-bukunya. Selain itu, kelihaian Pram juga nampak dalam menyuguhkan pesan, baik tersurat maupun tersirat, di setiap paragrafnya bahkan disetiap kalimatnya. Bumi Manusia, salah satu karya hebat yang pernah saya baca. Ia mengajarkan, bagaimana seharusnya bersikap, menempatkan sesuatu pada tempatnya, kalaupun kagum, kagumlah sesuai dengan porsi yang sesungguhnya.

Diresensi oleh Yulia Rahmatika, mahasiswa Prodi Pendidikan IPA UTM

Rabu, 12 September 2018

Mahasiswa Keluhkan Kebijakan Palang Pintu Otomatis

by

Antrean kendaraan di pintu keluar gerbang Universitas Trunojoyo Madura. Foto: Birar

WKUTM-Palang pintu otomatis yang menggunakan kertas barcode scanner mulai diterapkan di Universitas Trunojoyo Madura (UTM). Sayangnya, kebijakan ini banyak dikeluhkan oleh mahasiswa karena mengakibatkan kemacetan panjang pada Rabu (12/9).

Siti Ajeng Diah Mentari salah satunya, mahasiswa Fakultas Hukum itu mengeluh, setiap keputusan memang akan memberikan sisi yang baik maupun buruk. Meskipun dirasa baik karena dapat mengurangi STNK hilang dikalangan mahasiswa, namun kebijakan palang pintu otomatis ini masih dirasa tidak efektif karena menyebabkan kemacetan yang panjang.

Masalah ini juga dikeluhkan oleh mahasiswi Sastra Inggris, Adellia Ossy. Dengan diubahnya pengecekan STNK dengan kertas barcode scanner dirasa masih banyak menyisakan masalah baru seperti barcode scanner  yang tak terbaca dan menimbulkan kemacetan panjang.

‘‘Hal ini tidak menutup kemungkinan terjadinya kehilangan kertas resi di kalangan mahasiswa. Belum lagi ketika kertas menjadi teremas yang kemudian menyebabkan tak terbacanya barcode di kertas resi’’ Ujarnya.

Terkait banyaknya keluhan itu, Amrin Rozali selaku staff Unit Layanan Pengadaan (ULP) beralasan kalau hal ini terjadi lantaran masih dalam tahap percobaan. Meskipun, ada indikasi  kebijakan terhadap sistem palang pintu otomatis akan diberlakukan untuk seterusnya.

Ia juga mengatakan, sebenarnya kebijakan tentang palang pintu otomatis telah sesuai pertimbangan. Perihal hilir mudik mahasiswa yang mengakibatkan kemacetan, terutama pada pagi hari maupun sore hari ketika jam pulang kerja maupun kuliah masih terus dalam pembahasan.

‘’Perihal mengatasi permasalah tentang (kemacetan) ini. Segalanya masih dirembuk.’’ Ujarnya.

Sedangkan menurut Isyanto, selaku Satuan Pengaman (Satpam) berujar bahwa keluhan mahasiswa sangatlah wajar. Akan tetapi, hal itu tidak bisa ditinjak lanjuti karena itu merupakan keputusan pimpinan pihak kampus.

 ‘’Masalah efektif atau tidaknya, saya rasa efektif. Karena kita hanya melaksanakan tugas saja’’ ujarnya.

Perihal masalah palang pintu otomatis, banyak mahasiswa yang tidak menyetujui diberlakukannya kebijakan tersebut. Salah satunya adalah Firda Meilianita, Mahasiswi FISIB yang berujar bahwa palang pintu otomatis membuatnya telat kuliah ketika pagi hari harus mengantri panjang terlebih dahulu.

‘’Saya rasa dengan adanya palang pintu otomatis, malah menjadi tidak efektif meskipun menjadi lebih tertib.  Saya berharap, jika ada pembaharuan alangkah lebih baik dipertimbangkan lagi dengan melihat kondisi yang ada," pungkasnya. (Ben/Raj)


Senin, 20 Agustus 2018

Buletin Selebaran Edisi 15 Agustus 2018

by

Saya adalah orang baru dalam urusan pendidikan tinggi. Berada di tempat yang tidak diinginkan pada mulanya, karena memang di sini, sebuah kampus mewah dalam arti mepet sawah. Tempat ini tidak pernah saya pikirkan d a l a m s e t i a p m a l a m menjelang tidur. 

Awal masuk saya merasa dibuang di tempat asing seperti ini, banyak semak belukar di sekitarnya. Saya tidak menyukainya. Jogja ataupun Surabaya masih menghantui pikiran saya. 

Lalu ketika masuk, serangkaian kegiatan formalitas digunakan dengan dalih untuk mendapat pengakuan, Ospek salah satunya. Secara garis besar ospek itu pengenalan kampus dengan baik bukan membuat nyali mahasiswa ciut dengan tatapan garang panitia yang tidak berguna dan hanya sekadar sok serem. 

                                                    Buletin Selebaran Edisi 26 Juli 2018

Jumat, 17 Agustus 2018

Panitia Bantah Adanya Campur Tangan Pihak Organisasi Eksternal dalam PKKMB

by

Para petinggi rektorium, panitia PKKMB UTM, dan peserta PKKMB saat upacara pembukaan PKKMB UTM 2018 (17/8).  Foto: Dzilul


Merebaknya isu terkait keterlibatan organisasi ekstra luar kampus di  Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru (PKKMB) UTM menjadi perbincangan hangat di kalangan mahasiswa. Mereka menduga adanya keterlibatan pihak organisasi eksternal PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia). Hal ini lantaran banyaknya hal yang dinilai menjadi kampanye terselubung salah satunya secara terang-terangan menggunakan logo PMII, maupun mengujarkan jargon PMII ke mahasiswa baru (maba) yakni Salam Pergerakan. Seperti yang sempat terekam dalam video tim Warta Kampus, ada salah satu kelompok yang menjawab salam pergerakan dari Layanan Operasionalnya (LO).

Meskipun demikian, Badrus Sholeh selaku wakil presiden mahasiswa mengelak bahwa tidak tahu perihal pencatutan logo sakera di banner PMII.

”Bukan saya ataupun pihak BEM yang membuat banner tersebut, melainkan pihak cabang. Jadi saya tidak tahu asal usul adanya logo tersebut karena memang tidak ada izin ke pihak BEM,” ujar mahasiswa Teknologi Industri Pertanian tersebut.

Selain perihal banner ada juga jargon-jargon. Sebagaimana yang diakui Bayu Brawijaya, mahasiswa program studi (prodi) Agroteknologi, membenarkan adanya jargon-jargon yang dipekikkan salah satu panitia saat kegiatan PKKMB. ”Memang ada bermacam-macam salamnya. Salah satunya salam pergerakan. Pernah dilontarkan waktu ospek kemudian dijawab oleh adik-adiknya salam pergerakan juga,” ungkapnya.

Hal ini sangat disayangkan oleh Khairun Nasihin, komandan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Korps Sukarela Palang Merah Indonesia (KSR PMI) yang merasa terganggu dengan adanya organisasi-organisasi luar yang merambat bukan pada ranahnya. Dirinya merasa bahwa pihak kampus mulai memprioritaskan pihak luar daripada organisasi di dalam kampus itu sendiri.

”Saya terganggu oleh organisasi ilegal kampus karena berimbas pada organisasi-organisasi di sini. Kalau memang mau, seharusnya pihak-pihak atasan lebih menggali potensi yang dimiliki oleh organisasi dalam kampus terlebih dahulu. Jangan malah menonjolkan pihak-pihak eksternal kampus,” ujarnya.

Anas menduga bahwa sebelumnya hal ini telah direncanakan sedemikian rupa. Sehingga ia menegaskan begitu kecewa terhadap pihak-pihak yang terkait.

”Saya rasa, atasan-atasan di sini itu ada otaknya di luar kampus. Di sini hanya motornya saja, tapi sang kemudi ada di luar kampus,” keluhnya.

Akan tetapi, Ahmad Yahya selaku Ketua Panitia PKKMB mengungkapkan bahwa pihak kampus memperbolehkan mahasiswa mengikuti organisasi ekstra. Namun di sisi lain, kegiatan ekstra tetap tidak diperbolehkan masuk di dalam ruang lingkup kampus. Ia juga membantah adanya campur tangan pihak organisasi ekstra terkait acara PKKMB ini.


”Ketika peraturan pusat sudah seperti itu, maka pihak kampus juga mengikutinya. Di acara PKKMB ini, kita tidak bicara tentang organisasi eksternal, tetapi atas nama BEM. Tidak masalah jika mengikuti organisasi lain yang penting tidak menyalahi aturan kampus. Sebaiknya, mahasiswa bisa menempatkan diri. Karena saya sendiri tidak memungkiri banyaknya mahasiswa yang mengikuti organisasi ekstra,’’ dalihnya.

Padahal jika merujuk keputusan Direktur Jenderal Pendidkan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia, nomor: 26/dikti/kep/2002 tentang pelarangan organisasi ekstra kampus atau partai politik dalam lingkungan kampus, keputusan tersebut menerangkan bahwa untuk menjaga suasana kampus agar kondusif dan jauh dari benturan kepentingan-kepentingan politik, maka perlu melarang organisasi ekstra kampus atau partai politik membuka sekretariat dan perwakilannya di dalam kampus. Hal ini berarti kampus bebas dari campur tangan organisasi eksternal.



Sementara itu Budi Moestiko selaku Wakil Rektor III bidang kemahasiswaan belum memberikan penjelasan mengenai kasus ini karena sulit ditemui.


Di lain sisi, Selvi maba Pendidikan Informatika, merasa dipusingkan oleh banyaknya organisasi-organisasi tanpa tahu lebih mendalam.


”Saya merasa terganggu sebagai maba. Karena kita juga belum tahu kondisinya (organisasi maupun kampus). Lebih baik kita cari yang lebih pasti dari naungan kampus itu sendiri,’’ Ujar mahasiswa asal Surabaya tersebut.


Hal ini juga diungkapkan oleh Khairur Roziqi, maba Teknik Informatika yang merasa tidak nyaman  akibat terlalu banyaknya organisasi. ”Biasanya kita akan dibagi brosur ketika pulang oleh organisasi ekstra. Saya tidak pernah mengambilnya, karena organisasi luar itu tidak penting. Lebih baik yang didalam (organisasi intra),’’ ungkapnya.


Dari pihak UKM juga berharap adanya organisasi ekstra tidak mengganggu stabilitas organisasi kemahasiswaan.


”Saya berharap acara dilingkup kemahasiswaan tidak membawa atas nama organisasi-organisasi ekstra yang bersangkutan. Ketika memang acaranya dilakukan oleh kampus, tidak boleh ada campur aduk antara kampus dengan organisasi-organisasi ekstra,” ujar Ketua Organisasi Lembaga Dakwah Islam (LDK) Sofyanut Tauri. (Cha/Wuk)

Bentangkan Bendera Kebangsaan Sepanjang 7,5 KM UTM Raih Rekor MURI

by
Para mahasiswa baru UTM sedang membentangkan bendera di area timur kampus. Foto: Birar.

Pembentangan bendera merah putih untuk memecahkan rekor Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) digelar pada hari ketiga pengenalan Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru (PKKMB), Universitas Trunojoyo Madura (UTM) (16/08).

Pembentangan bendera dimulai dari kampus kemudian dilanjutkan ke jalan raya hingga sejauh 7500 meter. Pihak Kapolsek Kamal dan Polres Bangkalan turut andil dalam acara ini. Daryanto, selaku Kepala Polisi Sektor (Kapolsek) Kamal menjelaskan bahwa pihaknya membantu proses pengamamanan dan pelaksanaan pemecahan rekor muri ini meskipun dengan jumlah personil yang tidak sebanding dengan keseluruhan peserta.

”Selain mengawal keamanan, kami juga mengikuti acara ini sampai akhir. Perial personil kami mengarahkan 56 personil” paparnya .

Pihaknya juga  mengungkapkan bahwa hal ini merupakan ide  bagus untuk memberikan semangat bagi mahasiswa baru dan bisa menjadi suatu kebanggaan.

”Gak sembarangan bisa mendapat MURI, semoga tidak hanya memecah rekor muri saja, tapi juga bisa meningkatkan kualitas dari mahasiswa ” ungkapnya.

Menurut Fatimah maulida, mahasiwa baru program studi (prodi) Manajemen, menilai bahwa ini kegiatan bagus untuk memperkenalkan UTM.

”Katanya UTM mendapat peringkat 12 se-Jawa Timur, ya semoga UTM bisa melebihi, semoga bisa sampai lima besar atau sepuluh besar” harapnya.

Senada dengan itu, Rizky Eka, mahasiswa prodi Ilmu Kelahutan mengaku merasa bangga menjadi peserta rekor muri dalam kategori bendera terpanjang.

”Saya bangga dengan pencapaian ini, semoga UTM menjadi lebih baik dan dikenal lagi  sehingga tidak dipandang sebelah mata” pungkasnya. (yul/wuk)

Selasa, 14 Agustus 2018

Menpora Hadiri Kuliah Tamu PKKMB UTM

by

Suasana di dalam gedung pertemuan UTM saat MENPORA menyelenggarakan kuliah tamu. Foto: Yul.


WKUTM- Rangkaian Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa baru (PKKMB) yang dibuka dengan upacara bendera dilanjutkan dengan kuliah umum. Pada hari pertama (14/8) Imam Nahrawi selaku Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) dan Taufik Majid, Dirjen Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa Kementerian Pemberdayaan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) menjadi pembicara pada acara yang digelar di Gedung Pertemuan tersebut.

Dengan membawa tema Generasi Mileneal dalam Menghadapi Revolusi Industri, Imam menekankan jika perbedaan bukanlah suatu masalah. Terlebih mengingat Indonesia yang terdiri dari banyak suku dan bangsa. ”Untuk menghadapi era milenial yang penuh dengan keanekaragaman, kita dituntut untuk tetap bisa menghadapi semua masalah itu,” ungkapnya.

Selain itu, Imam juga menekankan tentang kearifan lokal yang juga harus diterapkan dalam segala ranah pekerjaaan, baik pejabat ataupun yang lainya.

Mentri kelahiran Madura itu juga bercerita jika dirinya mendapat julukan ‘pedagang sate yang masuk istana’ oleh Joko Widodo. Dari kisah tersebut Imam berharap kelak istana negara tidak hanya diisi oleh orang-orang dari kota besar saja. Karena sesungguhnya orang Madura pun bisa masuk menjadi bagian dari orang-orang yang ada di istana negara. ”Masyarakat Madura di istana sangatlah jarang, yang banyak itu pada masa Presiden Abdurahman Wahid saja,” jelasnya.

Dalam kuliah umum tersebut Menpora juga berpesan agar generasi sekarang tetap menjaga Indonesia dengan sebaik mungkin. Sebab menurutnya, Indonesia diraih dengan banyak pengorbanan yang dilakukan oleh para pendahulu. ”Indonesia itu diraih dengan pengorbanan, maka dari itu generasi yang sekarang harus benar-benar menjaganya dengan baik.”

Selanjutnya, kuliah umum dilanjutkan oleh Taufik Majid dengan mengusung tema Mahasiswa dan Tanggung Jawab dalam Pembangunan Masyarakat. Dalam kesempatan itu, Taufik mengungkapkan bahwa desa adalah awal mula untuk membangun bangsa. Maka dari itu aspek terkecil dari sebuah negara harus diperhatikan jika memang ingin membina dan membangun bangsa Indonesia lebih baik.

Dari gambaran akan pentingnya desa, Taufik memiliki keinginan untuk mengubah paradigma mengenai desa yang menurut sebagian pihak tidak ikut andil dalam pembangunan bangsa. Mengenai itu, dirinya juga mengharapkan peran mahasiwa untuk ikut serta dalam mensosialisasikan pentingnya desa kepada masyarakat.

Oleh karena itu dirinya mengungkapkan bahwa ada banyak yang perlu ditingkatkan, diantaranya adalah optimalisasi dana desa, menghilangkan ketimpangan yang ada di desa serta menjadikan warga desa sebagai subjek untuk kemajuan desa itu sendiri. (Uda/Raj)

Upacara Pembukaan PKKMB UTM 2018

by

Para mahasiswa baru sedang mengikuti upacara PKKMB UTM pagi (14/08) tadi di depan gedung rektorat. Foto: Birar.

WKUTM- Upacara pembukaan Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru (PKKMB) Universitas Trunojoyo Madura (UTM) dilaksanakan hari Senin (14/08) pada pukul 07.30 WIB di lapangan depan gedung rektorat. Upacara ini dihadiri oleh jajaran rektorium, dekanat, mahasiswa baru, dan seluruh organisasi kemahasiswaan (ormawa).

Acara dibuka dengan penyanyian lagu kebangsaan Indonesia Raya kemudian sambutan dari Ahmad Yahya, selaku ketua pelaksana, kemudian Rektor UTM, serta Presiden Mahasiswa.

Dalam sambutan tersebut Ahmad Yahya berpesan kepada mahasiswa baru bahwa mereka telah mulai mengalami perbedaan iklim dan suasana pendidikan, sehingga diharapkan mahasiswa mampu beradaptasi dan menyesuaikan dari sekolah sebelumnya.

Rektor UTM Moh. Syarif juga mengucapkan selamat kepada mahasiswa baru, mereka harus berusaha lebih baik lagi dari sebelumnya dan menjadi lebih pandai.

”Kalian adalah orang-orang pilihan diantara 26.785 pendaftar, jadi untuk ke depan harus lebih maksimal dalam belajar, kami akan memaksimalkan pelayanan dan silahkan berkreasi” paparnya.

Ahmad Yahya juga menambahkan bahwa dalam PKKMB tahun ini panitia bekerja sama dengan petugas keamanan dan kebersihan, ini yang berbeda dari tahun sebelumnya.


"Persiapan PKKMB ini dilaksanakan oleh 455 panitia yang terdiri dari mahasiswa, petugas kebersihan dan keamanan" tambah lelaki yang menjadi wakil dekan 3 Fakultas Ekonomi dan Bisnis tersebut.

Pada hari pertama PKKMB yang diikuti sebanyak 3830 mahasiswa ini, Ahmad Yahya  mengatakan bahwa Imam Nahrowi selaku Menteri Pemuda dan Olahraga telah mengkonfirmasikan kedatangannya untuk mengisi kuliah tamu kepada mahasiswa baru.

Selesai sambutan, dilanjutkan dengan penyematan id card PKKMB dan pemberian almamater secara simbolik. Kemudian pelepasan balon sebagai tanda pembukaan PKKMB 2018.  Setelah itu acara juga ditampilkan selebrasi dari ormawa yang ada di UTM.

Pada upacara kali ini juga panitia menyiapkan fasilitas kesehatan dari klinik kampus, Palang Merah Indonesia (PMI) cabang Bangkalan, serta Korps Suka Rela (KSR) PMI UTM. Acara yang berlangsung hingga pukul  09.00 ini membuat beberapa mahasiswa lemas bahkan pingsan. Menurut Anas selaku komandan KSR - PMI UTM sedikitnya ada 45-an mahasiswa baru yang harus meninggalkan area upacara karena sakit.


”Lumayan banyak mahasiswa yang sakit, yang paling parah itu asma yang lain hanya lemas karena tidak kuat panas” imbuh mahasiswa asal Kediri tersebut. (Yul/Wuk)

Senin, 13 Agustus 2018

Persiapan PKKMABA UTM 2018

by

Mahasiswa baru Universitas Trunojoyo Madura sedang berkumpul di area taman kampus

Kegiatan pra-Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru (PKKMB) 2018 Universitas Trunojoyo Madura (UTM) digelar selama dua hari sejak Minggu-Senin (13-14/08). Kegiatan yang diikuti oleh 3830 peserta ini mulai dilaksanakan di taman kampus lalu menuju lapangan Fakultas Pertanian kemudian dimulai pada pukul 05.30 WIB.


Menurut Ahmad  Yahya, selaku ketua pelaksana (ketupel) kegiatan ini dilakukan agar persiapan mahasiswa lebih matang untuk melaksanakan ospek esok hari. Pihak panitia juga sudah menyiapkan rangkaian acara secara matang. Meskipun pelaksanaan ospek di  UTM sudah terlambat jika dibandingkan kampus lain.


”Surat Keputusan PKKMB 2018 sudah ditandatangani oleh rektor pada akhir Juli, namun pelaksanaannya mundur, padahal seharusnya ospek dilaksanakan pada tanggal 6 Agustus. Hal itu disebabkan pihak  kepanitiaan merasa kurang persiapan, selain itu juga masih ada daftar ulang mandiri, pendaftaran D3 di beberapa fakultas masih diperpanjang”ungkapnya.


Pihaknya juga menambahkan bahwa rangkaian pra-ospek ini dilaksanakan sejak hari Minggu. Hanya saja kemarin pembagian kelompok, sebanyak 96 kelompok. Setelah itu, hari ini dilanjutkan dengan pembuatan koreo. Menurutnya, hal ini dilakukan selama satu hari akan ada sedikit waktu sehingga sedikit tergesa-gesa jadi dibagi menjadi dua hari.

”Untuk efesiensi optimalisasi waktu jadi pra-ospek dilakukan dua hari” tambah Wakil Dekan 3 Fakultas Ekonomi dan Bisnis tersebut.

Badrus Sholeh, selaku wakil ketua panitia (waketupel) menjelaskan rangkaian kegiatan bahwa kemarin para peserta berkumpul dengan kelompok untuk menjahit dua bendera Indonesia yang harus dibawa tiap anak.

”Sebenarnya acara menjahit bendera itu sendiri tidak dilakukan peserta tetapi agar  dekat dengan kelompoknya” tambah Badrus  selaku waketupel.

Terkait penugasan untuk membawa bendera dan lainnya, Histy maba program studi  (prodi) Manajemen menyatakan jika penugasan mereka sesuai dengan momentum hari kemerdekaan.

”Ini kan bulan Agustus, jadi ya panitia cukup masuk akal memberi penugasan seperti itu sehingga bisa memperkokoh nasionalisme” ujar Mahasiswa asal Lamongan tersebut.

Di lain sisi, terkait dengan masih adanya bentak-bentakan oleh panitia terhadap maba, Ahmad Yahya mengungkapkan bahwa hal itu sudah sesuai dengan SK dan semua itu dibutuhkan untuk melatih kedisiplinan mahasiswa. Senada dengan hal tersebut, Yulianto Kusumo maba prodi Sosiologi menyatakan bahwa  hal seperti ini memang diperlukan guna terciptanya kedisiplinan dan untuk menghindari gerak mahasiswa yang lamban.

Berbeda dengan Irma, maba Pendidikan IPA  tersebut mengeluhkan bahwa panitia tidak perlu membentak-bentak. Menurutnya hal itu terlihat berlebihan untuk kesalahan sepele saja.

”Panitia seharusnya tidak usah membentak, jika salah kan bisa ditegur toh kami masih maba dan butuh arahan bukan amukan” keluhnya. (Ud/Wuk)

Minggu, 29 Juli 2018

Buletin Selebaran Edisi 126 Juli 2018

by


Mulanya, saya harus mengucapkan selamat datang kepada para calon mahasiswa baru yang begitu polos dan mudah dipengaruhi. Selamat pula atas gelar 'maha' yang akan disandang sampai wisuda nanti. Semoga setelah menyandang gelar tersebut, calon-calon mahasiswa ini bisa mempertanggungjawabkan ke'maha'annya dengan sebaik-baiknya dan sehormat-hormatnya. Jika sekiranya tidak sanggup, ada baiknya untuk tidak melanjutkan niat berkuliah dan menggunakan uang persiapan kuliah tersebut untuk modal usaha, itu lebih baik bagi bangsa dan negara.

Selanjutnya, saya harap para calon mahasiswa ini bisa enjoy di UTM (satu-satunya Universitas terbaik, termaju, tergahool ter.. ter.. lainnya se-Madura). Lupakan kabar betapa kerasnya hidup di Telang dengan ancaman begal dan rampoknya. Lupakan gengsi UTM yang masih kalah pamor begitu jauh dibandingkan kampus negeri yang lain. Lupakan itu semua, mulailah bersyukur masih bisa masuk kampus negeri –meskipun semi pinggiran dan tidak terlalu terkenal.
Selanjutnya, saya harap para calon mahasiswa ini bisa enjoy di UTM (satu-satunya Universitas terbaik, termaju, tergahool ter.. ter.. lainnya se-Madura). Lupakan kabar betapa kerasnya hidup di Telang dengan ancaman begal dan rampoknya. Lupakan gengsi UTM yang masih kalah pamor begitu jauh dibandingkan kampus negeri yang lain. Lupakan itu semua, mulailah bersyukur masih bisa masuk kampus negeri –meskipun semi pinggiran dan tidak terlalu terkenal.


Minggu, 22 Juli 2018

Milk and Honey

by





Pengarang : Rupi Kaur
Judul asli: Milk and Honey
Penerjemah : Daniel Kurnia
Genre : Puisi
Penerbit : Bahasa Indonesia : PT.Gramedia
Halaman : 208hlm
Cetakan pertama, Mei 2018

Buku Susu dan Madu merupakan buku  dengan banyak peminat yang masuk dalam kategori New York Times Best Seller. Kumpulan puisi tentang cinta, kehilangan, trauma, pelecehan, pemulihan, dan menjadi perempuan ini  terbagi menjadi empat bagian. Antara lain luka, cinta, kehancuran, dan hari baru. Pada halaman pertama, buku ini dibuka dengan sebuah puisi :

mengapa sungguh mudah bagimu
bermurah hati dengan orang asing tanyanya

madu dan susu pun menitik
dari bibirku ketika aku menjawabnya

karena selama ini orang-orang
tega padaku -hlm11

Serpihan puisi kategori luka, menggambarkan curahan dari perasaan perempuan terhadap ketakutan serta kebencian. Salah satunya terkait pelecehan maupun pemerkosaan, di mana dua hal tersebut mampu mengkoyak-koyak jiwa gadis yang merasa hampa. Disebutkan bahwa, dalam seks keduanya harus setuju. kalau salah satunya diam saja ... itu pemerkosaan -hlm. 22.

Namun, kita dihadapkan pada kenaifan dan paradoks ketika bicara mengenai persetubuhan dengan posisi suka sama suka. Oleh karena itu, penulis mengkritik perempuan yang begitu mudah bercinta dengan tiap-tiap pasangan yang dicintainya. Sehingga dalam sebuah penggalan puisi tertulis, kau telah diajari bahwa kedua tungkaimu merupakan perhentian singkat bagi para lelaki.....meski tiada satu pun yang datang dan berniat menetap -hlm13.

Ketika hal seperti itu sudah terjadi. Buku ini juga menyorot peran seorang ayah yang mestinya memberi perhatian lebih terhadap anak gadisnya. anak gadis mestinya tak perlu mengemis perhatian dari ayahnya -hlm28. tiap kali kau nasihati putrimu, kau meneriakinya karena sayang. kau ajari putrimu bahwa marah tandanya sayang, yang sekilas kedengarannya masuk akal. hingga kelak ia dewasa, percaya pada lelaki yang melukainya. karena mereka begitu mirip denganmu. -kepada para bapak berputri -hlm19.

Maksud dari puisi-puisi tersebut merupakan harapan penulis agar para ayah tahu bahwa anak perempuannya membutuhkan kasih sayang tanpa harus meminta. Dengan itu diharapkan anak perempuan dapat terhindar dari tangan-tangan yang salah.

Adapun setelah membahas tentang luka, penulis masih percaya dengan cinta. Kategori ini dibuka dengan puisi cinta dari seorang ibu. kemudian dilanjutkan dengan puisi bagaimana seharusnya sebuah bentuk dari cinta dan bagaimana cinta melebur menjadi suatu cumbuan yang dikatakan bercinta. Puisi ini masih percaya akan hal-hal yang berbau cinta murni

cinta akan datang. dan ketika cinta datang. cinta akan memapahmu. cinta akan memanggil namamu. dan kau akan luluh. meskipun kadang cinta melukaimu. cinta tak bermaksud begitu. cinta takkan menipumu. karena cinta tahu hidupmu
sudah cukup berat

Setelah disajikan tentang cinta, maka kita dihadapkan dengan akibat dari cinta itu sendiri, yakni  kehancuran. Pada bab kehancuran, kita akan melihat puisi yang berisi tamparan tentang harapan dan cinta yang berujung penyesalan. Hancur karena kepergian, kehilangan, patah hati, semuanya tertulis dengan indah dalam puisi-puisi pendek, maupun panjang. Di akhir, penyair menulis , cara mereka pergi menjelaskan segalanya -hlm.143

Namun pembaca  tak dibiarkan begitu saja setelah itu. Pasca kesakitan, kita dihadapkan dengan puisi kebangkitan di hari baru. Penulis menjelaskan tentang kodrat, rasa syukur, keikhlasan, dan bagaimana memulai hal-hal yang sebenarnya lebih dari pantas untuk seorang pembaca dapatkan. Di bab ini, pembaca akan mengalami perenungan di setiap kalimat, seperti, terima dirimu sebagaimana kau diciptakan -hlm.172 atau, enyahkan rambut dan tubuhmu, kalau memang itu maumu. biarkan pula ia tumbuh lebat kalau memang itu maumu -tubuhmu milikmu -hlm.176.

Berbicara tentang buku Susu dan Madu ini, kita akan menemukan semua tulisan yang tidak menggunakan huruf besar. Rupi Kaur beranggapan kalau hal itu merupakan gambaran dari kesetaraan antar kata dan huruf. Buku ini juga mengarah ke hal-hal feminis yang mendobrak mindset dimana wanita digambarkan tidak pernah merasa puas, rapuh dan mudah hancur. Puisi ini mencoba membuka pikiran, hati, serta membuat wanita sadar atas keberhagaannya di era sekarang (dimana wanita masih dianggap tak tahu harus melakukan apa).

Pada dasarnya, feminisme telah mencoba mebdobrak dunia. Namun untuk hal-hal rasa insecurity masih melekat pada jiwa wanita yang meyakini keburukan dan kekurangan. Akhirnya ia beranggapan bahwa seorang wanita benar-benar lemah dan tak sekuat apa yang lebih bisa dilakukannya.

Bukan hanya tentang itu, buku ini juga ingin membantu jiwa wanita yang terkoyak dan menjadi rapuh karena pelecehan maupun pemerkosaan. Oleh karenanya, banyak tertulis puisi tentang dukungan-dukungan untuk para wanita agar mereka lebih tangguh dan kuat dan saling mendukung satu sama lain. kita semua bergerak maju, kalau kita akui betapa tangguh dan berani para perempuan di sekitar kita –hlm. 191.

Buku ini begitu mudah dipahami ditambah dengan ilustrasi gambar dari penulis sendiri. Dengan tatanan bahasa sederhana yang tak berbelit, puisi ini menghindarkan kita dari kebosanan. Hanya saja, buku ini tak bisa dinikmati untuk semua kalangan karena dikhususkan untuk pembaca usia 17 tahun ke atas. Sebab dalam buku ini terkandung makna-makna dewasa tentang percintaan dan seks  yang masih dianggap tabu untuk anak-anak. di sisi lain, buku ini sangat membantu para remaja sebagai sex education dan langkah masif untuk mencegah kekerasan seksual.

Bisa dibilang,  buku ini benar-benar membantu menyadari kegilaan yang telah dibuat manusia dan banyak membantu kita, terutama wanita untuk lebih menghargai diri, dan memaknai hidup.


Diresensi oleh : Bena Icha
Anggota Mangang LPM-SM

Sastra