Berita Terbaru

Rabu, 15 Mei 2019

Pemberkasan Calon Mahasiswa Baru Jalur SNMPTN 2019

by


 
Pemberkasan SNMPTN UTM 2019. Foto : Dic

WKUTM – Pemberkasan calon mahasiswa baru (camaba) Universitas Trunojoyo Madura (UTM) jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) berlangsung pada 15-16 Mei 2019 di gedung pertemuan.

Pemberkasan yang dilakukan mulai pukul 08.30 hingga 14.30 WIB ini diikuti oleh calon mahasiswa yang telah memenuhi syarat berupa: selesai melakukan registrasi online, verifikasi data, dan melakukan pembayaran Uang Kuliah Tunggal (UKT). Berkas yang harus dibawa berupa kartu tanda peserta SNMPTN, cetak hasil verifikasi data, fotokopi ijazah atau Surat Keterangan Lulus (SKL), fotokopi akta kelahiran, surat keterangan sehat, serta surat pernyataan bermaterai.

Pada hari pertama (15/05), pemberkasan diperuntukkan bagi calon mahasiswa Fakultas Hukum, Pertanian, Ekonomi dan Bisnis, serta Teknik. Kemudian hari berikutnya bagi calon mahasiswa Fakultas Keislaman, Pendidikan, serta Ilmu Sosial dan Ilmu Budaya, serta prodi dari fakultas lain seperti Teknologi Industri Pertanian dan Akuntansi.

Kepala Subbagian akademik,  Biro Administrasi, Akademik, Perencanaan dan Sistem Informasi (BAAKPSI), Muhammad Utsman, mengungkapkan bahwa pemberkasan hari ini berjalan lancar dan tercatat sekitar 1.400 calon mahasiswa. Pihaknya juga menambahkan, apabila calon mahasiswa tidak dapat mengikuti pemberkasan pada hari pertama, maka dapat mengajukan pemberkasan hari berikutnya.

 ”Prinsipnya kami sudah memberi jadwal yang sesuai. Namun, apabila hari ini terdapat kendala karena hal–hal yang wajar misalnya sakit, tentunya bisa kami toleransi, maksimal besok,” tuturnya.

Terkait pelayanan dari pihak panitia sendiri, para camaba mengungkapkan sudah baik. Hal tersebut diakui oleh Maya Dwi Febrianti, camaba prodi Ekonomi Pembangunan, ”Pelayanannya cukup memuaskan dan ditangani dengan baik, kami mengantri hanya 15 menit,”  ujar calon mahasiswa penerima Beasiswa Bidikmisi tersebut.

Senada dengan Maya Dwi, Andika Sena, calon mahasiswa prodi Sistem Informatika menambahkan bahwa panitia memudahkan, jika ada berkas yang telah ditentukan tidak lengkap, bisa kembali lagi pada hari berikutnya. ”Pelayanannya cepat jika berkas lengkap dan apabila tidak lengkap mungkin pelayanan sedikit lama, meskipun begitu kita bisa kembali lagi besok,” tutupnya. (Uya/Ben/Wuk)

Minggu, 05 Mei 2019

Penulis dalam Kepenulisan

by


Kepenulisan, literasi, atau apapun sebutannya itu, adalah sebuah jembatan bagi terbentuknya karakter, watak, dan juga pengetahuan. Kegiatan yang dilakukan dalam kepenulisan salah satunya adalah menulis. Salah satu arti menulis menurut KBBI adalah membuat huruf dengan pena; melahirkan pemikiran dan perasaan. Dalam hemat saya, setidaknya  ada tiga jenis pemikiran dari orang-orang terhadap kegiatan tulis-menulis yang berhubungan dengan arti kedua. Mari kita bahas di bawah.

Dari sebagian orang, menulis merupakan kegiatan wajib karena dianggap mengasyikkan. Dengan menulis mereka dapat mengeksplorasi ribuan bahkan jutaan ide, pengalaman, hingga pendapat orang lain untuk kemudian diolah menjadi sebuah karya tulisan. Baik itu dijadikan karya sastra macam puisi atau cerpen, ataupun karya nonsastra seperti artikel, opini, resensi, esai, bahkan karya ilmiah hasil penelitian.

Lalu sebagian lainnya yang kontra dengan pemikiran di atas menganggap menulis adalah kegiatan yang membosankan, menjengkelkan dan kadang berpikiran “Menulis hanya buang-buang waktu.” Anggapan tersebut muncul ketika seseorang mempunyai kebencian, trauma, ataupun tingkat kesibukan yang super-duper tinggi.

Namun beberapa orang tidak sependapat dengan kedua pemikiran tersebut. Mereka beranggapan bahwa, “Menulis boleh, tidak menulis pun, tidak apa-apa.” Mereka inilah yang saya sebut “Golongan Tengah” atau “Golongan Awangan”. Mereka adalah orang-orang yang tidak pernah konsisten dengan pekerjaannya, tak ada konsep, dan tak ada gagasan. Satu hari dia bisa menulis karya meskipun hanya satu, atau bahkan. Namun hari esoknya dengan situasi yang sama dia kehilangan arah dan tidak punya lagi semangat menulis. Nah, sebenarnya dari ketiga pemikiran di atas, manakah yang paling benar dan paling bisa dibenarkan?

Pada hakikatnya, menulis bukanlah keharusan, meski ada yang mewajibkan. Menulis bukanlah wanita cantik ataupun pria tampan, meski banyak yang jatuh cinta pada hasil tulisan. Menulis juga bukan pekerjaan yang bisa dijadikan sebagai ladang penghasilan, meskipun sebuah karya memang seharusnya perlu apresiasi (lebih dari sekedar terbit gratis), karena pasti sebuah karya tulis itu ditulis dengan usaha.

Menulis itu tentang perasaan, menulis itu tentang pulpen dan kertas, menulis itu tentang mengirim ke media dan diterbitkan. Itu semua adalah pendapat yang benar, tapi tidak sepenuhnya dapat dibenarkan. Menulis, ya, menulis. Tidak harus pakai perasaan, tidak harus menggunakan pulpen dan  kertas, dan tidak juga harus terbit di media.

Jadi semua pemikiran tentang menulis adalah benar dan dapat dibenarkan sesuai dengan pemikiran masing-masing orang. Nah kira-kira pembaca yang budiman ini masuk di golongan yang mana?

Jadi semua orang sebenarnya berhak dan boleh menulis, asalkan punya kemauan (meski cuma iseng) dan kesempatan (meski mencuri waktu). Entah itu anak TK, pelajar SD, SMP, SMA, Guru, Kyai, Mahasiswa, Santri, Jurnalis, Sastrawan, Reporter, Koruptor, Pejabat, Politikus, Narapidana, Petani, bahkan Pengemis dan segala jenis manusia lainnya. Semuanya punya hak dan kesempatan yang sama untuk menulis. Tapi satu hal yang harus selalu diingat adalah, bila ingin menjadi penulis yang hebat maka lebih dulu harus menjadi pembaca yang baik.

Lampung, April 2019



Imam Khoironi
Sekarang aktif di Organisasi Ikatan Pelajar NU Lampung.


Loro Piker

by




Judul : Retorika (Seni Bicara)
Penulis : Aristoteles
Jenis : Essai
ISBN : 978-602-6651-98
Tahun : 2018

Sebuah Cacian

Kebanyakan orang memiliki otak  sudah dikotori dengan segala sesuatu yang berorientasi pada perut bahkan sampai kemaluan. Terlebih bagaimana yang terjadi pada politisi Indonesia. Seharusnya, dengan mengisi otak setidaknya mementingkan arti kemanusiaan bukan malah terbentur kepentingan, partai politik dan persetan dengan omong kosong lainnya.

Loro piker adalah istilah yang akrab di desa saya untuk menggambarkan kondisi seorang yang dalam tahap berpikir saja sudah salah. Sudah tentu tindakannya akan lebih menyimpang dari sebagaimana mestinya. Melirik kondisi sekarang yang terjadi pada politisi kita misalnya – dalam tahap berpikir saja sudah salah. Walau bagaimanapun tidak dapat kita hindarkan ada banyak faktor hal seperti itu sudah terjadi.

Adalah Sebuah Resensi

Retorika. Seni yang memang seharusnya dipakai untuk membungkus bagaimana pemikiran seseorang  (pola pikirnya). Baik dalam seni dalam berargumentasi, pidato, debat, interogasi atau setidaknya dalam bahasa sehari-hari. Tidak lain tujuannya adalah bagaimana menyembunyikan persuasi kita untuk pendengar agar senada dengan apa yang kita pikirkan. Selain itu, untuk mengupayakan diksi yang dipakai agar lebih efektif dan mudah dipahami oleh lawan bicara.

Seni seperti ini sebagaimana yang dikenalkan oleh Aristoteles, dalam buku ”RETORIKA (seni berbicara)” setebal 416 halaman yang diterbitkan oleh basa-basi, bertujuan memberikan dasar, tumpuan dan pijak untuk urusan persuasi melalui beretorika. Walaupun, tidak sepenuhnya buku ini melulu menjabarkan secara teknis penyusunan kalimatnya. Jadi, untuk lebih mendalam terkait retorika bisa memperdalam disiplin ilmu lain, logika misalnya.

Bahwa, retorika masih dekat dengan dialektika, logika, dan politik. Tentunya keempat perkara tersebut adalah anak turun dari filsafat. Berawal dari filsafat yang menurunkan banyak fase, dari naturalis sampai dengan postmodern – lebih spesifik misalnya dalam konstruksi berpikir kita kenal dengan Materialisme Dialektika Logika (Madilog), Tan Malaka, yang berawal dari ketidaksetujuannya pada Materialisme Dialektika Histori (MDH). Lebih lanjut pada tahap logika masih menurunkan banyak cabang, salah satunya yaitu terkait silogisme. Juga; filsafat menurunkan disiplin baru yaitu politik. Sedangkan kaitannya dengan semua itu, retorika digunakan untuk membungkus dan menyajikannya dalam berargumentasi.

Saya tidak akan membahas lebih jauh yang bukan tentang retorika. Dan betapa rakusnya anda ketika menuntut saya untuk menjabarkan semuanya.

Saya kira, retorika memang sangat dibutuhkan untuk berbicara agar lebih berseni. Walaupun kadang, retorika dapat digunakan untuk mematahkan argumen dan fakta dari lawan berbicara, dengan atau tanpa kita mengetahui kebenarannya. Seperti: ketika kita terjebak dalam suatu perdebatan yang lawan bicara kita lebih mumpuni dalam tema tersebut, bisa kita mematahkan argumen atau fakta yang dipaparkan oleh lawan bicara kita, asal kita bisa menemukan celah atau premis yang dibangun oleh lawan kita yang kurang logis.

Misalnya;

”Untuk urusan biologi tentunya saya lebih darimu yang kuliah hukum,” ucap Ando.

”Siapa yang berani menjamin?” tanya Sualow.

”Antara kita bedua, saya tentunya,” balasnya.

”Atas dasar apa kamu bisa menjamin? Setidaknya diskusi perkara tersebut saja belum pernah kita coba,” balasnya.

”…,” Ando terdiam.

”Baiklah! Binatang apa yang durasi bercintanya paling cepat?” tanya Sualow.

”Mana aku tahu. Lagian apa pentingnya juga,” sanggah Ando.

”Kamu bilang lebih mumpuni. Bagaimana kita akan melanjutkan sebuah perdebatan jika hal itu saja belum kamu ketahui,”

Ando hanya diam karena tidak bisa melempar wacana lain. Selain itu dia terjebak kalimat terakhir yang disuguhkan Sualow.

”Ah, pasti kamu juga tidak tahu mana saja titik rangsang dari perempuan,” tambah Sualow yang membuat Ando semakin terdiam. Karena dia tahu bahwa sampai sekarang Ando masalah bercinta selalu terhenti pada tahap niat.

”Biasanya, hanya orang-orang yang dangkal isi otaknya selalu menganggap bahwa dirinya lebih dari orang lain,” tutup Sualow mengakhiri percakapan.

Setelah kejadian tersebut diketahui bahwa Ando langsung pulang ke rumah dan langsung membuat Indomie pakai telur dan memakannya di kamar mandi (plis, jangan anggap serius).

Masih banyak kegunaan retorika, seperti yang terkenal adalah jargon berpidato seperti Obama – yang selanjutnya Shel Leane menulis sebuah buku ‘Berbicara dan Menang Seperti Obama’. Karena gaya bicara dan pidato Obama dikenal karena mampu membakar, mengesankan dan meningkatkan gairah siapapun yang mendengarnya. Gaya pidato yang singkat dan padat tersebut yang mampu mengantarkan Barrack Obama terpilih menjadi presiden kulit hitam pertama di Amerika.

Lebih dalam, ngeles dan mencari pembenaran juga keunggulan dari retorika.

Dalam hal ini, dikenal juga dengan ilmu mantiq (logika) dan ilmu balaghoh yang tidak jauh beda dengan retorika. Walaupun antara retorika dengan mantiq – balaghoh berbeda dalam hal tujuan dan ruang lingkupnya.

Keunggulan dari buku ini sangat banyak dan bermanfaat. Untuk kekurangan, saya kira begitu kurang ajar dan tidak tahu diri ketika bisa memaparkan kekurangan dari buku ini. Dan tentu, buku ini masih relevan dibaca sampai sekarang untuk kalangan SMA ke atas.

Buku ini sangat ringan untuk dibaca karena memang bahasanya mengalir. Saya sendiri, hanya perlu menghabiskan 8 batang rokok untuk menyelesaikannya. Rata-rata waktu yang saya butuhkan satu batang rokok adalah lima belas menit atau sembilan ratus detik. Dalam kurun waktu tersebut bisa sampai lima puluh halaman, jadi rata-rata waktu yang dibutuhkan untuk perlembarnya hanya delapan belas detik.

Banyak waktu kita terbuang sia-sia, padahal bisa kita gunakan untuk membaca buku, Retorika-nya Aristoteles salah satunya.

Syahdan. Awal-awal pembahasan dalam buku ini membahas peran juri dalam persidangan untuk menentukan bersalah atau tidak pada seorang. Namun, saya malas membicarakan lebih jauh soal hukum, di Indonesia khususnya yang berisi pembenaran, pembenaran, dan pembenaran.

Namun, tidak ada salahnya kita melihat sebuah film yang menyangkut peran juri, yang tentunya retorika dalam film tersebut sangat berguna, 12 Angry Man. Bagaimana tidak, satu orang mampu membuat 11 juri lainnya merubah keputusannya. Caranya? Lihat saja filmnya, ya.

Sebuah Cerita

Alkisah dalam sebuah forum. Seorang nabi menyudahi membicarakan segala hal yang ada di dalam perut bumi dan di atas langit. Dalam forum yang diikuti banyak jamaah tersebut disediakan makanan, kurma utamanya. Ketika nabi menyudahi pembicaraan lalu melemparkan sebuah pernyataan untuk mendinginkan suasana.

”Baik semuanya. Kita telah membicarakan banyak hal. Sekarang, bisa kita lihat siapa diantara kita semua yang paling rakus makannya,” tutur nabi tersebut.

Diketahui bahwa pernyataan tersebut untuk menyudutkan seorang di sampingnya – bahwa, ketika nabi selesai makan kurma bijinya ditaruh di depan pemuda tersebut.

Seisi ruangan tersebut saling lihat satu sama lain dan berhenti pada pemuda disamping nabi, karena biji kurmanya lebih banyak.

”Tidak seperti yang anda lihat semua, saudaraku,” sanggah pemuda yang merasa dijebak.

”Sebenarnya ada yang lebih rakus sampai bijinya dimakan,” tambahnya. Yang sekaligus ditujukan kepada seseorang yang berada di sisi lain nabi, karena memang tidak ada biji kurma di depannya. Padahal dia tidak memakan kurma, konon katanya dia merokok.

Dari pernyataan tersebut membuat seisi ruangan menjadi tertawa. Menyikapi pernyataan cerdas tersebut, nabi langsung memuji keceradasannya dan memberitahukan kebenarannya.

”Lihatlah saudara-saudara. Betapa cerdasnya dia. Dia adalah pintunya ilmu,” ucap nabi.

”Jika saya pintunya ilmu, maka engkaulah kotanya,” balasnya.

”Aku adalah kotanya ilmu dan Ali adalah pintunya,” ucap nabi.

Bahwa, pemuda tersebut adalah Ali Bin Abi Thalib, yang dikenal akan kecerdasannya. Dalam cerita lain, ada sepuluh orang yang bukan golongan Ali memberikan pertanyaan yang sama untuk mengetahui cerdas atau tidaknya Ali. Selain itu adalah bentuk upaya menggugurkan perkataan dari nabi tersebut. Namun, Ali mampu menjawab sepuluh pertanyaan sama dari orang yang berbeda, dengan jawaban yang berbeda pula.  *Terinspirasi dari sebab turunya hadis Muhammad yang menyatakan dirinya adalah kotanya ilmu dan Ali pintunya.

Cacian Stadium Lanjut

Oh, tidak saudaraku. Walaupun pemilu serentak telah usai dengan masih menyisahkan saling klaim kemenangan. Tapi, kita tidak boleh bahwa sumber kerusuhan sampai ke grup Whatsapp keluarga ada Jokowi – Prabowo wa kampret dan cebong yang menyertainya.

Masih ingatkah kita dengan pernyataan Jokowi yang mengatakan ’kebangeten’ untuk BPJS karena urusannya sampai ke mejanya. He? Pakde mungkin sedang loro piker, bagaimana tidak, seolah presiden tidak mau tahu urusan tersebut. Namanya juga presiden, harus tahu segala hal yang terjadi di negara yang dipimpinnya. Dan tentu, harus bertanggung jawab atas segala hal yang menyertai dalam masa pemerintahannya.

Juga; masih ingatkah kita dengan pernyataan Jokowi akan melawan siapa saja yang mengatakan dirinya yang bukan-bukan. Seperti itukah logika seorang yang seharusnya menjadi pelindung bagi rakyatnya?

Begitu juga dengan rivalnya, Prabowo. Pernah suatu ketika dia menyatakan bahwa Indonesia akan bubar jika dirinya tidak terpilih menjadi presiden. Sungguh, Ghost Flat yang merupakan karya fiksi menjadi acuan Prabowo untuk menobatkan dirinya – bahwa, nasib keutuhan bangsa ada di pundaknya ketika menjadi presiden.

Sudah? Tentu belum. Pernah ramai isu bahwa pimpinan tidak boleh dikritik dengan keluarnya UU MD3 – katanya, untuk menjaga marwah wakil rakyat. Yang lebih parah seperti yang dikatakan Fahri Hamzah bahwa, DPR tidak boleh dikritik dan yang boleh dikritik adalah presiden karena memiliki kekuasaan. Selain itu, presiden digaji untuk mendegarkan kritik pedas dari rakyat. Fiks, loro piker.

Pertama, tentunya DPR juga memiliki kekuasaan. Sebagaimana trias politika berjalan,  teori pembagian ’kekuasaan’. Tentu baik MPR (yudikatif), Presiden (eksekutif), DPR (legislatif) sama-sama memiliki kekuasaan, digaji rakyat, dan seharusnya jika mengacu dari perkataan Fahri Hamzah maka, semua digaji untuk mendegarkan kritik pedas dari rakyat.

Lalu, ada juga Budiman Sujatmiko, bisa kita lihat rekam sejarahnya memperjuangkan demokrasi di Indonesia. Namun, sayang, pihaknya masih menyanggah dengan pembenaran bahwa pada masa Jokowi tidak ada lagi kebakaran hutan. Payah!

Jadi?

Memang, kita tidak bisa menilai seorang berkompeten atau tidak dari caranya beretorika. Namun, tidak perlu juga memaksakan menggunakannya. Tapi walau bagaimanapun, untuk menjadi seorang lebih ’kritis’ menelan informasi, alangkah baiknya kita mendalami disiplin ilmu ini. selain itu, setidaknya banyak manfaatnya daripada kerugian yang akan kita dapat mempelajari suatu ilmu, dan mau bagaimanapun  sebagai rakyat biasa seharusnya tidak mudah tertipu dengan statement yang dikeluarkan pejabat kita.

Seperti: ketika quick count memenangkan pasangan 01, banyak wartawan yang bertanya kepada Anis Baswedan jika Sandiaga kembali menjadi wakil gubernur? Untungnya, Anis sadar bahwa pertanyaan tersebut adalah jebakan, karena secara tidak langsung ada makna bahwa Sandiaga gagal menjadi wakil presiden.

Lalu, bisa kita temui logika dan pola pikir salah di sekitar kita, misalnya bahwa, rakyat harus takut kepada pimpinan, tidak demikian. Seharusnya, siapapun pemimpinnya itu harus takut kepada rakyatnya. Sekali lagi, kita rakyat yeng memiliki kedaulatan tertinggi sesuai konstitusi, yang seharusnya ditakuti oleh setidaknya pejabat kelas teri sampai tingkat presiden.

Btw, kok tidak bahas Rocky Gerung sih?



Birar Dzillul Ilah
Anggota Lembaga Pers Mahasiswa Spirit Mahasiswa

Kamis, 02 Mei 2019

UKM Musik B-sing Selenggarakan Lomba Se-Jawa Madura

by
CCF UKM B-Sing UTM. Foto : Lia


WKUTM- Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) musik B-Sing Universitas Trunojoyo Madura (UTM) selenggarakan Colour Coustic Festival (CCF) se-Jawa dan Madura yang digelar di lantai 1 gedung cakra. (02/05)

Acara yang bertema "berkarya di hari pendidikan nasional" ini dimulai dari pukul 07.00-19.00 WIB. Rangkaian lomba yang meliputi lomba mewarnai dan akustik ini diikuti oleh 32 peserta dari tingkat Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA), hingga Perguruan Tinggi.

Gerico Harapenta, selaku Ketua Pelaksana (Ketupel) memaparkan jika acara yang bertepatan hari pendidikan nasional memiliki tujuan mengenalkan kepada pelajar tingkat SD hingga mahasiswa untuk tidak cenderung menyukai lagu dengan genre yang kurang tepat di usia mereka sebab kebanyakan mereka menyanyikan lagu barat sehingga mereka harus belajar dan berlatih menyukai lagu-lagu nasional.

”Acara kali ini bermaksud mengajak anak muda untuk mengingat pendidikan dengan cara seni dan dari seni itu mereka akan menumbuhkan kesadaran pada dirinya seiring tingginya tingkat pendidikan mereka,” jelasnya.

Gerico juga menambahkan bahwa acara ini merupakan acara pertama sekaligus rangkaian acara Program Kerja  dari UKM musik B-sing yang berujung pada B-Sing Night Party (BNP) dan juga festival musik lainnya. Menurutnya acara ini berlangsung lancar meskipun ada kendala namun bisa diatasi.

”Ada beberapa kendala sepertia anak-anak kecil yang mengikuti lomba itu ramai, tidak bisa diatur, namun juga dimaklumi sebab mengingat peserta bukan dari kalangan siswa SMP dan SMA melainkan SD juga,” jelasnya

Jauhariyanto, sebagai wali murid peserta lomba sangat mengapresiasi acara lomba kali ini, karena dengan hal ini dia bisa menyalurkan bakat anaknya dan juga bisa silaturahmi dengan orang tua siswa-siswa yang bukan dari Madura, sehingga ia berharap jika acara ini dilakukan rutin setiap tahun. (Ira/Daa)

Selasa, 30 April 2019

Pemilihan Duta Kampus Mulai Masuki Tahap Karantina

by
Finalis Potra-Potre UTM 2019. Foto : Lia


WKUTM-  Acara pemilihan Duta Kampus Universitas Trunojoyo Madura (UTM) 2019, yang dikenal dengan nama Potra-Potre, telah sampai pada tahap Karantina.  Kali ini kegiatan tersebut dilaksanakan di Gedung Rektorat, Ruang Rapat 4012 lantai 4, pada Senin pagi (30/04).

Acara ini dihadiri oleh Pembina Paguyuban Duta Kampus, Dinara Maya, Ketua Biro Administrasi Akademik Kemahasiswaan dan Perencanaan Sistem Informasi (BAAKPSI) Supriyanto, dan Wakil Rektor III, Boedi Mustiko, yang akan melakukan penyelempangan kepada para finalis terpilih.

Berikut merupakan daftar finalis yang masuk dalam seleksi karantina lanjutan yang akan dilaksanakan pada Mei mendatang. Tercatat sebanyak 12 pasangan dari 66 peserta, yaitu :

POTRA :
23. Mochamad Kriswandi (Sastra Inggirs)
35. Fajar Ari Yanuanto (Ilmu Komunikasi)
13. Wahyu Fernanda (Psikologi)
1. Muhammad Hendi H.R (Ilmu Hukum)
5. Rendy Irawan (Agroteknologi)
9. Arianto Dwi Saputra (Ekonomi Syariah)
27. Akhma Zaynuri Alfatizi (Agribisnis)
3. Mohammad Habib Ramdhani (Ilmu Hukum)
7. Jaka Bangun Prayogo (Ilmu Hukum)
19. Dwiko Aulia Rahman Sinulingga (Ekonomi Pembangunan)
15. Muhamad Rafli Alfian (Ekonomi Pembangunan)
33. Abrori (Teknik Mekatronika)

POTRE
14. Arinda Putrisasti H. (Agribisnis)
10. Nisa Arum M (Ilmu Hukum)
44. Dian Ardenia S (Psikologi)
50. Septyayu Riadini (Ilmu Komunikasi)
40. Elika Juniyanti S (Manajemen)
8. Putri Kurnia Dewi (Ilmu Kelautan)
22. Rofidah Salsabila (Manajemen)
24. Iskariyana (Pendidikan Informatika)
12. Dinda dwi A (hukum Bisnis Syariah)
16. Mirsya Adelia (Pendidikan IPA)
6. Shafwil Widad (Ilmu Hukum)
52. Lutvy Indayana (Teknik Informatika)

Dinara Maya,  mengucapkan selamat kepada finalis terpilih. Dalam sambutannya, ia mengatakan bahwa persaingan Duta Kampus tahun ini diakuinya lebih ketat daripada tahun sebelumnya dikarenakan banyak yang ikut mendaftar, ”Untuk itulah, Potra-Potre tak hanya dinilai dari segi fisik, akan tetapi juga wawasan pengetahuan. Tak lupa etika yang terpenting,” ujarnya. ”Masalah nanti menang atau tidak itu hanya bonus," tambahnya.

Selain itu, dalam mengawali sambutannya, Boedi Mustiko, kembali menegaskan dengan menyinggung Surat Keputusan (SK) Potra-Potre 2019. “Ini telah melalui proses yang panjang. Duta Kampus ini SK nya jelas jadi para finalis tidak perlu khawatir,” ujarnya.  Hal ini di karenakan pada kemarin pertengahan 2018 sampai akhir, menurut Boedi, Potra-Potre masih sedikit diragukan. Namun dengan jerih payah dan usaha akhirnya SK disahkan oleh rektor, pada Januari 2019.

Selanjutnya, ia mengungkapkan kebanggaannya terhadap para finalis Duta Kampus yang telah terpilih, "Saya bangga sekali, dan mudah mudahan 12 pasang ini menambah semangat dan menambah harum nama UTM kedepan,” ujarnya.

Namun dengan masih adanya tahap lanjutan babak penyisihan, nama finalis yang tercatat tersebut masih akan mengikuti rangkaian karantina hingga tahap keempat selama bulan Mei, 2019. Setelah itu, babak penentuan pengumuman pemenang, yakni Grand Final, masih akan dilaksanakan pada Agustus mendatang. (Lia/Ben)

Minggu, 28 April 2019

Langgar Ijo

by

Angin mendesir lembut di genap malam, bernuansa halus sejukkan keheningan di surau ujung desa. Surau itu berlapis hijau tipis dengan sembilan tiang penyangga kokoh terukir menarik. Bila kau beribadah di dalamnya, kau akan merasakan kesejukan dengan jiwa yang tenteram, hingga pernah ku terlelap. Konon dulu katanya ada seorang alim yang selalu berpakaian hijau-hijau ikut menidirikan surau ini. Baju hijau, sarung hijau, kopiah hijau, serban hijau, bahkan tasbih yang selalu dibawanya pun berwarna hijau. Mungkin itu sebabnya surau ini hijau dan diberi nama Langgar Ijo.  
    
 Orang alim tadi dikenal dengan kesederhanaannya. Ia selalu datang dan pergi tanpa membawa apapun. Meskipun begitu ia memiliki kekayaan abadi di tempat abadi. Semua tahu fakta itu, walau fakta sejatinya hanyalah Tuhan yang mengetahui. Orang alim itu tak bernama, mungkin. Karena dari sekian sesepuh kampung yang masih hidup mendadak lupa identitas orang tersebut. Disengaja atau tidak, benar-benar tak ada yang tahu.

Surau kami terbilang mewah dengan bangunan kokoh tak termakan waktu yang di sekitarnya dihuni masyarakat berpenghasilan diatas rata-rata. Meskipun saat ku balita dulu, surau itu mudah rusak dibentur angin. Itu karena masyarakat berkontribusi besar akan pembangunan ini hingga berhasil menjadi surau akbar yang dapat digunakan untuk ibadah jum'at.

Mungkin kau tak percaya dengan ceritaku kali ini. Percaya pun kau tak sepenuhnya percaya karena masyarakat di zaman kini hanya percaya kepada apa-apa yang nampak. Meskipun aku saksi mata pun kurasa kau takkan percaya bila tidak langung bertemu atau melihat sendiri.

Pernah suatu kali, pada suatu malam yang sejuk, kami mengadakan syukuran untuk memperingati berdirinya surau yang bertepatan tahun baru agama kami. Dan kisah orang alim itu telah genap seperempat abad lamanya.. Konon orang bilang, orang alim masih hidup untuk berkelana memperbaiki dunia, dan akan kembali ketika kampung ini memperlukan dirinya. Di sisi lain, masyarakat juga percaya bahwa hal itu tak mungkin karena ia mengabdi pada yang Abadi sebagai bukti loyalitasnya.

Usai ibadah maghrib, kami melingkar untuk membaca kitab suci. Di malam ini, rembulan malam genap di bentuk utuhnya. Awan pun terlihat tipis menggantung, menampakkan rangkaian bebintang. Dan semua atmosfer ini rusak begitu saja ketika orang itu hadir di kampung tiap tengah malam.

Ketika ia datang, bau kasturi diselingi melati semerbak dalam surau. Tak ayal surau menjadi sedikit mencekam. Lelaki itu berpakaian lusuh dengan rambut panjang sebahu tak terurus. Telapak tangannya kotor, di bahunya memanggul karung goni yang entah apa isinya, dengan tak beralas kaki. Namun langkahnya bersih di ubin surau. Beberapa orang sedikit terganggu dengan kehadirannya dikarenakan kelusuhan tampilannya. Hanya saja pemuka agama kami melarang untuk mengusirnya.

Di penghujung malam, hari pertama, ia memijak ubin surau. Hanya mereka yang berjaga malam yang tahu dan mengawasi di kejauhan. Kata orang ia sedang beribadah. Namun, gerakannya sangat lama. Berdirnya lama, membungkuknya lama, duduknya lama, dan semua di luar kewajaran. Ketika usai, seorang dari penjaga mencoba menegurnya. Tapi sekali lagi ia hilang dan aroma kasturi kembali menyerbak.

Barangkali apa yang diucapkan pemuka agama itu benar. Sekarang kami tak perlu mengusiknya. Toh, kita tidak diganggu ataupun terganggu. Cukup pagi saja menjadi omongan sedangkan malam jadi tontonan.

Aku yang hanya mendengar dari mulut ke mulut juga penasaran. Di hari ke tujuh ku tunggu penghujung malam tiba. Aku yakin selain aku, masyarakat pun penasaran dibuatnya. Seketika, sekitar surau menjadi riuh. Masyarakat kampung sebelah banyak yang kemari hanya sekedar mencari tahu.

Penghujung malam akan tergantikan fajar. Tapi lelaki lusuh yang tiap penghujung malam singgah, dengan karung goni beraroma kasturi, belum datang. Lelaki tak beridentitas itu hilang. Tapi kabar pahit di kampung tetangga mengguncang.

***

Di suatu rumah yang ditinggal penghuni nya pergi, tinggalah seorang gadis sendiri. Ia digagahi sedemikian kali oleh seseorang digelap malam tanpa belas kasih. Hingga tangisannya terdengar merintih-rintih.

Saat sekelompok orang datang, hadir seorang saksi, berkata pelakunya adalah lelaki lusuh berkarung goni. Lelaki yang semalam ditunggu di surau, tiba-tiba hilang dan mengagahi seorang gadis? Pantas saja ia tak ada. Pantas saja ia tak singgah seperti biasanya. Warga pun satukan tangan untuk menangkapnya, termasuk aku di dalamnya.

Sebenarnya aku pun tak percaya pada kisahku sendiri. Berhak kah ku tak percaya? Kau pun tak ku batasi tuk menyangkalnya. Tapi, faktanya aku ragu dengan kisahku karena ini tak logis.

Dan esoknya kami menunggu dengan hening di semak-semak, tenang dalam bilik. Lelaki lusuh itu tiba-tiba sudah sujud di dalam bilik. Lama, membuat kami tak sanggup. Namun ketika menekatinya, entah mengapa daya dan upaya ini tiada. Kami mematung tanpa sebab. Lelaki tersebut pun bangkit dari sujudnya sekaligus menyelesaikan ibadahnya. Kami tercekat. Aroma kasturi itu membatukan kami.

Lelaki itu keluar dari surau. Untuk pertama kali kami melihat wajahnya, disitulah kami merasa ketenangan tak terkira. Wajahnya halus, cerah, bahkan membuat rindu. Lelaki itu tersenyum. Seketika aku tak lagi bernafsu tuk menyergapnya. Idak hanya aku, kami semua terkulai lemah.

Ia menarik nafas dalam dan dihembuskan perlahan. "Orang beriman harum langkahnya, sedangkan orang munafik busuk nafasnya. Ia yang busuk lah yang layak kalian adili,” ujarnya sembari tersenyum.

Aroma kasturi itu mendadak menguat bersamaan hilangnya lelaki itu tanpa satu goresan pun di tanah. Konon kau akan menemuinya bila memang kau sangat rindu. Orang bilang Ia Nabi Khidir, ada juga yang bilang Ia pendiri surau ini. Tapi, semua terserah yang mendengar.

Sekarang kau berhak tuk memilih. Percaya atau tidak.

Yusril Al Mastury
UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.


Pilih Dia atau Aku

by


Suka makan gula? Atau suka yang manis-manis? Namun sadar tidak kalau yang manis bisa mematikan? Tidak percaya?

Tahukah saat ini konsumsi gula terbesar dipegang oleh Chili, Belanda, Honggaria, dan Israel? Hasil ini diukur dari konsumsi gula yang melebihi 100 gram/hari. Padahal WHO (World Health Organization) sudah memberikan peringatan dengan batasan untuk mengonsumsi gula seminimal mungkin hanya 25 gram/hari.

Lalu di sisi yang lain bahwa saat ini Indonesia menyatakan dirinya darurat narkoba. Hingga memiliki tekad bersih dari narkoba di tahun 2015. Namun slogan ini hanya slogan basi dikarenakan sampai detik ini penyalahgunaan dan peredaran narkoba masih ada.

Banyak pengguna, pengedar, bahkan gembong narkoba sudah bersarang di bui sampai berakhir mati di tangan algojo. Mulai dari pejabat, artis, pengusaha, pengangguran, kampret, dan para kecebong sudah terkena ciduk.

Kenapa penulis membandingkan antara gula dan narkoba? Sebab keduanya ternyata memiliki kesamaan risiko yang amat berbahaya bagi kesehatan. Zat yang dikandung gula tak kalah mematikannya dengan peredaran narkotika di pasaran. Bahkan salah satu informasi mengatakan, ekstrak gula dapat digunakan dalam pembuatan bahan peledak. Hmmm.. ngeri nggak lu yang penyuka gula?

Siapa pula yang tidak ingin melahap donat gembul yang penuh dengan toping lucu dan mencicip manisnya coklat serta lelehan dari es krim yang lembut? Tentu rasa manis tersebut karena kandungan gula. Umumnya manis disukai.

Dulu gula adalah barang yang sangat mahal. Tidak salah bila pemerintah kolonial Belanda memerintahkan tanam paksa dan mendirikan banyak pabrik gula untuk meraup keuntungan. Namun, sejak abad 19, gula menjadi makanan murah. Saat itulah awal industri manis mulai menggeliat.

Gula itu manis. Semua kalangan pasti suka dengannya. Apalagi di saat puasa, kita yang muslim dianjurkan untuk berbuka dengan yang mau manis.

Tetapi fatal kalau kita mengonsumsinya dengan serakah. Konsumsi gula secara berlebih dapat mengakibatkan obesitas, diabetes, dan penyakit jantung. Si manis ini sedikit demi sedikit yang akan menggerogoti kita secara perlahan-lahan bilamana kita tetap mengonsuminya dengan serakah.

Betul tidak bahwa saat ini kita hanya berpikir narkoba adalah satu-satunya zat berbahaya? Pemikiran tersebut mungkin akan tertanam seperti itu terus. Sedangkan gula dianggap zat yang aman dan tidak perlu khawatir dalam mengonsumsinya. Namun, bagaimana bila gula turut bisa mematikan jiwa?

Ini layaknya Kurawa yang antagonis namun dengan keantagonisannya menyimpan cinta yang amat mendalam dengan Shinta. Mungkin narkoba mirip dengan Kurawa yang sebenarnya punya sisi baiknya, bukan? Karena di balik dampak narkoba menyimpan kandungan yang biasa dipakai dalam medis untuk pengobatan dengan takaran yang cukup. Kita boleh tertipu dengan mulut manis, tapi cobalah menahan godaan dari si manis.

Rasakan saja. Bila penggunaan narkotika secara berlebihan, ini dapat mengakibatkan ketergantungan. Organ-organ manusia akan cepat rusak bilamana takaran yang dipakai berlebihan ancaman overdosis dan kematian bisa saja terjadi kapanpun.

Narkoba sendiri telah memakan 3,3 juta penduduk Indonesia mati dengan tidak hormat gara-gara narkoba dan mengakibatkan dampak sosial yang luas. Sedangkan jumlah pasien diabetes mencapai 10 juta jiwa dan menduduki peringkat ke tujuh di dunia. Penderita diabetes ternyata tidak hanya menyerang usia tua, namun yang masih muda pun, kita, bisa saja mengidap diabetes.

Efek gula tak sekadar omong kosong. Efek gula yang kita konsumsi menimbulkan efek yang sama dengan nikotin, kokain, maupun morfin. Keduanya sama memacu kinerja otak karena memberikan perasaan puas dan hati gembira. Sifatnya juga membuat candu layaknya zat narkotika.

Lalu kira-kira seberapa jauh sih kita berpikir sedangkal ini tentang gula dan dampaknya? Manis tapi racun, emang kamu mau? BNN dengan lantang berbicara generasi muda yang mati karena narkoba. Namun sadar atau tidak, banyak generasi muda yang mati pula lewat gula.

Hukum Indonesia telah mengatur tentang narkoba serta ancaman yang jelas. Para gembong narkoba terpaksa harus dihukum mati ditangan algojo sebab hukum telah berkata. Para pengguna sudah dijerat dan banyak yang sudah masuk kandang rehabilitasi.

Kedua zat ini sama-sama berbahaya, namun nyatanya tak ada larangan dan batasan mengonsumsi gula, bila dilihat dari dampak yang dimiliki. Mungkin saja karena negeri ini memandang apa yang tidak boleh dan boleh dari faktor halal dan tidak halal, bukan dari yang timbul darinya.

Gula memang disepelekan. Kalau berpikir mendalam, mungkin Belanda masih menjajah kita, mewariskan pabrik-pabrik gula untuk bangsa ini. Sehingga pabrik ini terus mengepul menyebarkan zat-zat racun yang berasa manis dan menggerogoti nyawa-nyawa di negeri ini (hanya menduga saja).

Masihkah kita harus mencari gembong-gembong narkoba dan menyatakan perang terhadapnya sedangkan ternyata ada bom waktu yang ada di pojok rumah-rumah kita? Nyatanya, si manis lebih jahat ketimbang narkoba.


Bingar Bimantara
Mahasiswa Program Studi Ilmu Hukum


Selasa, 23 April 2019

UTM Tak Lagi Berikan Dana Khusus KKN

by
LPPM UTM. Foto : Kaa

WKUTM –  Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Trunojoyo Madura (UTM) memberlakukan kebijakan baru untuk pelaksanaan program Kuliah Kerja Nyata (KKN) semester genap. Kebijakan tersebut yakni dengan tidak memberikan dana khusus kepada mahasiswa yang melaksanakan KKN.
Dana khusus yang senilai Rp100.000,- tersebut biasa diterima oleh masing-masing mahasiswa. Menurut Zainul Hidayah, selaku ketua panitia KKN, pihaknya menjelaskan bahwa pihaknya dulu belum mengetahui undang-undang yang menyatakan bahwa tidak boleh dana Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) digunakan untuk mendanai program KKN.
”Dana KKN  diambil dari PNBP, ternyata menurut audit dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dana dari PNBP tidak diperbolehkan untuk membiayai KKN,” ujarnya (23/04).
Zainul mengungkapkan bahwa hal ini sejalan dengan Peraturan Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia, Nomor 39 Tahun 2017 tentang Biaya Kuliah Tunggal dan Uang Kuliah Tunggal Pada Perguruan Tinggi Negeri, Pasal 7 Ayat (1) menjelaskan bahwa PTN tidak menanggung biaya mahasiswa yang bersifat pribadi, maupun biaya pelaksanaan kuliah kerja nyata. Artinya, tidak ada dana khusus yang akan diberikan untuk mahasiswa.
Menanggapi hal tersebut, Ana Silfia menganggap bahwa ini menjadi beban keuangan mahasiswa terutama yang kurang mampu, karena banyaknya uang yang harus dikeluarkan. ”Ini jadi beban sebab program kerja dan survei pakai uang kita pribadi,” jelas mahasiswa Teknologi Industri Pertanian tersebut.
Meskipun demikian, Zainul memberikan keterangan bahwa mahasiswa tidak perlu mengkhawatirkan terkait dana khusus. Pasalnya, dana tersebut akan digunakan untuk membiayai kegiatan mahasiswa lainnya,  
”Nanti ada kegiatan yang dikelola Dosen Pembimbing Lapang (DPL) dan mahasiswa tinggal ikut tanpa perlu mengeluarkan biaya apapun karena sudah ditanggung oleh DPL,” jelasnya.

Tak hanya terkait dana, kebijakan baru mengenai penentuan lokasi dan kelompok KKN,  dulu ditentukan oleh Universitas, namun kini menjadi tanggung jawab penuh mahasiswa sendiri. Zainul menjelaskan bahwa, penerapan sistem ini ditujukan sebagai upaya membentuk kemandirian mahasiswa. Pihaknya menambahkan bahwa peran LPPM masih sama terkait pengelolaan program, mulai dari jadwal, perizinan, serta dalam mengkoordinir DPL dan output kegiatan.
”Jadi peran LPPM dalam mewakili universitas masih sangat penting sebagai pelaksana dan pengelola KKN. Kami berharap peran aktif mahasiswa untuk ikut serta mendukung. Jadi mahasiswa juga ikut merasakan  kemandirian tidak hanya menerima begitu saja, tetapi berkreasi.” tutupnya. (Ben/Wuk)

Minggu, 21 April 2019

Feminisme dan Kemalangan Perempuan

by



Bagaimana keberlanjutan feminisme?

Tiba-tiba saja saya terbesit pertanyaan tersebut. Bagaimana tidak? Ketika digaungkan gerakan feminis, emansipasi, dan kesetaraan gender yang masif namun tidak ada yang banyak berubah dari diri kaum perempuan. Dalam data siaran pers dicantumkan catatan tahunan komisi nasional (komnas) perempuan 2019 dipaparkan terdapat 406.178 kasus kekerasan terhadap perempuan pada tahun 2018 perhitungan tersebut meningkat sebanyak 14% dari tahun sebelumnya.

Kita sama-sama tahu bahwa dalam perjalanan sejarah garis nasib perempuan tidak begitu baik, baik di Indonesia maupun di negara lainnya. Keberadaannya wajib dibunuh, dijadikan budak, dibuat sebagai persembahan bagi dewa. Sementara di Indonesia seperti yang dikenal sebelumnya, perempuan dijadikan gundik atau nyai kemudian jika sang tuan kembali ke negaranya maka anaknya akan dibawa dan ditelantarkanlah dirinya atau paling tidak dijadikan kado bagi teman sejawat si tuan.
Di Indonesia bagaimana potret perempuan yang sangat tidak beruntung sudah banyak dikisahkan, dalam Tetralogi Buru Nyai 0ntosoroh masuk kategori perempuan yang tidak beruntung namun dia cerdas sehingga berusaha memperjuangkan haknya dan anak-anaknya, namun bagaimana dengan Ontosoroh-Ontosoroh lainnya? Atau betapa malangnya perempuan  yang  dijadikan pelacur seperti yang dikisahkan Eka Kurniawan dalam Cantik Itu Luka.

Lantas bagaimana jika dirinya berusaha menolak? Dalam laporan De Milionen yang ditulis Van Den Brand mengungkapkan kengerian yang dialami buruh perempuan di perkebunan Deli sebab dirinya tidak mau dijadikan gundik dan memilih menjalin asmara dengan sesama buruh. Dalam cerita Van Den Brand, ketika dia mengunjungi rumah tuan tanah, dia mendengar erangan suara perempuan kemudian dicari sumber suara tersebut. Lalu terpapar jelas, tubuh perempuan disalib dengan telanjang bulat di depan halaman tuan tanah, yang lebih mengerikan lagi kemaluannya diolesi cabai Spanyol yang dikenal dengan pedasnya yang luar biasa. Perempuan tersebut berada dalam keadaan demikian selama 6 jam.

Berangkat dari persoalan demikian, perempuan dan kaumnya berusaha memerdekakan diri melalui gerakan-gerakan feminis. Feminisme mulanya lahir di Eropa pada abad pertengahan. Masa itu gereja menjadi menjadi pusat dan sumber kekuasaan, malangnya waktu itu perempuan dianggap sebagai sumber dosa dan masa tersebut setelah menikah mereka tidak berhak untuk bercerai dari suaminya dengan alasan apapun.  Tertullian (150M) sebagai Bapak Gereja pertama menyatakan doktrin kristen tentang wanita: Wanita yang membukakan pintu bagi masuknya godaan setan dan membimbing kaum pria ke pohon terlarang untuk melanggar hukum Tuhan, dan mebuat laki-laki menjadi jahat serta menjadi bayangan Tuhan.

Kemudian pada mula masa renaisans, Francis Bacon menggambarkan kehidupan perempuan masa itu sangat keras dan sulit. Pada masa kehidupan Ratu Elisabeth kekuasan Raja James I, dirinya sangat membenci perempuan, bahkan para pendeta turut menjadi pelopor terhadap pembunuhan dan pembakaran terhadap perempuan. Hukuman yang brutal dijcatuhkan kepada seorang perempuan yang melanggar perintah suaminya. Berawal dari keadaan tersebut lalu seiring lahirnya revolusi di Eropa kaum feminis lahir, mereka berupaya menyebarkan ide hak-hak perempuan, seperti hak bercerai hak berbicara di ranah publik, berpendapat, serta kesetaraan.

Meskipun demikian, masuk dalam abad 21 ini ranah feminisme diwarnai dengan berbagai persoalan. Mulai dari kejahatan, mitos kecantikan, gerakan anti feminis, tindak diskriminasi, dan pelecehan perempuan. Semuanya berkembang biak dengan bentuk lain dan berbeda.

Dalam situs online opini publik, di ranah internasional turut digetolkan feminisme dan bahkan adanya feminisme dianggap sebagai hal yang sangat penting, beberapa alasan diantaranya: adanya 15 juta pengantin anak di seluruh dunia yang menikah secara paksa dengan pria yang lebih tua, lebih dari sepertiga perempuan di Brazil mengalami pelecehan seksual atau korban kekerasan, wanita di Argentina meninggal karena jenis kelaminnya setiap 29 jam. Selain itu, 51% perempuan Afrika menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga, 11% menderita kekerasan selama kehamilan, 21% menikah sebelum usia 15 tahun, dan 24% dipengaruhi oleh mutilasi genital, sedangkan di Arab Saudi, perempuan diperlakukan sebagai warga negara kelas dua, dan tidak dapat berjalan bebas tanpa pengawaan laki-laki serta tida diizinkan mengemudi. Tidak hanya itu, di India kasus pemerkosaan semakin meningkat dan kematian mas kawin dan serangan asam masih lazim di India. Itu hanya beberapa kasus saja yang tercatat dan saya yakin masih banyak lagi yang belum diketahui ranah publik.

Ironisnya, dunia feminis saat ini dipenuhi dengan wacana kecantikan dan memoles wajah. Munculnya mitos-mitos kecantikan bahwa perempuan cantik yakni mereka yang berkulit putih, semampai, langsing, berambut lurus dan memiliki senyum menawan. Naomi Wolf dalam buku Mitos Kecantikan memaparkan bahwa perempuan seolah terbelenggu dalam ruang kebudayaan. Setiap hari perempuan dicekoki mitos kecantikan dalam iklan televisi, majalah kecantikan, sehingga mereka terjebak dalam obsesi ingin selalu tampil cantik dengan badan ideal. Tak jarang mereka diet ketat dan operasi plastik, padahal sebenarnya hal tersebut menyiksa diri mereka. Keadaan lain juga seakan perempuan tidak bisa lepas dari kosmetik dan perawatan tubuh lainnya. Buktinya,  Ketika saya bertanya dengan sesama teman perempuan “wajahmu sekarang makin putih ya,” ia menjawab bangga  dengan bercerita panjang mengenai produk skin care. Gerakan feminis kini seolah dipecah menjadi dua kubu, yakni aktivis feminis yang mereka memperjuangkan hak-hak perempuan dan sisi lain, feminis yang berjuang untuk hak tetap terlihat cantik dan menawan. Beraneka kosmetik yang dipakai beserta perawatan lain yang tentunya mengorek banyak uang.

Di tengah maraknya gerakan tersebut, justru di Indonesia muncul gerakan anti feminis. Gerakan Indonesia Tanpa Feminis di laman akun instagram, jika ditelusuri lebih lanjut hal tersebut dilakukan oleh kelompok perempuan Islam konservatif. Mereka menyuarakan pendapat anti feminisme yang didasarkan pada Al-Quran dan hadist, mereka berpendapat bahwa indonesia tidak butuh feminisme serta feminisme lahir dari masyarakat yang tidak menghormati perempuan. Mereka beranggapan bahwa tubuhnya milik Tuhan dan bukan milik diri mereka sendiri. Mereka mengecam keras feminisme dan menolak konsep gender. Salah seorang perempuan anti feminis mengungkapkan bahwa feminisme berbahaya sebab melanggar aturan agama dan melegalkan hubungan di luar orientasi heteroseksual. 

Gerakan feminis lain seperti feminis radikal maupun liberal juga lebih banyak menuntut hak dan seringkali melupakan naluri perempuan, misalnya menolak memiliki anak, menolak upah gaji lebih rendah padahal tingkat kerja dan skala resiko kerja lebih kecil, serta menuntut untuk sepenuhnya menjadi wanita karir. Selain itu, dirinya menolak atas hierarki dengan kaum lelaki. Jika ada pelecehan atau kemalangan pada perempuan, kaum lelaki yang bersalah.

Gerakan feminis dikerahkan untuk mencapai kesetaraan, namun benarkah demikian? Alih-alih menuntut kesetaraan namun nyatanya sisi lain feminisme saat ini bukan tentang kesetaraan. Keadilan, ataupun kualifikasi, melainkan menyalahkan laki-laki. Jika ada pelecehan yang diakibatkan dirinya memamerkan tubuhnya maka yang sepenuhnya salah adalah lelaki. Atas nama feminisme seringkali perempuan menjadikan tameng dan mengelabui. Meminta setara namun jika ada hal persoalan yang sekiranya dirasa keberatan maka mereka menolak atas nama feminisme. Padahal seharusnya, feminisme bukan tentang membenci laki-laki melainkan menjadi kuat untuk diri sendiri, memberi jalan untuk mengambil peluang baik, dan bangga atas diri sendiri. Dengan demikian, seharusnya perempuan tidak perlu risau apakah dirinya gemuk, hitam, dan lainnya. Perempuan akan masih tetap hidup selama ia berpikir dan tidak bertindak yang muluk-muluk agar sesuai dengan trend dan digemari masyarakat.

Adanya feminisme  mulai dipertanyakan kebenaraanya, memang tidak dapat dipungkiri banyak keberhasilan yang diraih kaum perempuan atas dasar gerakan masif tersebut. Berawal dari gerakan tersebut banyak perempuan yang sadar atas keprihatinan yang menimpa kaumnya dan berusaha mengentaskan. Mereka sadar dan  berusaha meningkatkan kualitas diri serta menjaga fitrah. Namun di sisi lain juga seiring gencarnya feminisme juga semakin marak degradasi perempuan serta pertentangan sesama perempuan. Lantas dapatkah dikatakan bahwa feminisme masih perlu diperjuangkan?



Idatus Sholihah 
Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia

Sastra