Berita Terbaru

Selasa, 19 Maret 2019

Kesiapan UTM menjadi Panlok UTBK 2019

by



WKUTM- Universitas Trunojoyo Madura (UTM) menjadi salah satu Panitia Lokal (Panlok) untuk Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri, Ujian Tulis Berbasis Komputer (SBMPTN UTBK) 2019 dengan kode 384. Kepala Sub Bagian Kerjasama dan Humas, Taufiqurrahman Hasbullah, mengungkapkan bahwa kampus sudah siap menjadi panlok penerapan UTBK yang akan digelar pada pertengahan April mendatang.

Menurut Taufiq, UTM mempunyai kapasitas menampung  6.600 pendaftar calon peserta UTBK. Sedangkan menurut informasi terakhir (19/03) sudah tercatat 1.847 pendaftar. Selain bertempat di UTM, ia pun menjelaskan bahwa titik pelaksanaan UTBK juga akan dilakukan di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) dan Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 2 Bangkalan.

Guna mendukung pelaksanaan UTBK SBMPTN 2019, UTM telah menyediakan komputer 170 unit, uji coba terkait kesiapan ruangan, serta jaminan keamanan sebagai upaya antisipasi dalam menghadapi permasalahan teknis.

Kami juga sudah bekerjasama dengan Perusahaan Listrik Negara (PLN) untuk mengantisipasi jika ada pemadamam listrik ujar Taufiq.

Lebih lanjut, Taufiq menjelaskan bahwa tidak ada perbedaan antara tempat satu dan lainnya. Kualitas soal  diolah oleh Lembaga Tes Masuk Perguruan Tinggi (LTMPT) selaku penyelenggara tes perguruan tinggi terstandar di Indonesia. Sehingga antara tempat satu dengan yang lainnya sama. Hal ini terjadi karena basis data dari para calon pendaftar berasal dari pusat. Kita hanya menghubungkan dari sana dan tidak mungkin dapat ditunda. Jadi, pelaksanaan akan dilakukan secara bersamaan,” jelasnya.

Berbicara terkait materi soal yang akan diujikan, diungkapkan bahwa pihaknya belum mengetahui secara pasti apakah ada persamaan soal antara tes UTBK gelombang pertama maupun gelombang kedua karena masih menjadi rahasia LTMP. Namun Taufiq menerangkan bahwa meskipun ada perbedaan tes sekarang dengan yang lalu, bobot soal tidak akan jauh berbeda.

Mungkin berbeda karena ada dua macem tes, yakni tes akademik dan tes skolastik. Tes skolastik akan melihat kemampuan siswa apakah mampu atau tidak menyelesaikan jenjang perguruan tinggi, jelasnya.


Lebih lanjut, Taufiq menekankan kepada para calon mahasiswa untuk segera mendaftar. Terlebih lagi, informasi terakhir dari LTMPT dipaparkan bahwa pengumuman SNMPTN dimajukan. Seharusnya, pengumuman SNMPTN tanggal 23 Maret namun dimajukan menjadi tanggal 22 Maret”Adanya perubahan tersebut tentunya memberikan kesempatan untuk yang tidak lolos SNMPTN untuk bisa segera mendaftar UPTK SBMPTN,” pungkas Taufiq. (Ben/Wuk)

Minggu, 17 Maret 2019

Batas Wajar

by

Melakukan sesuatu dengan dilandasi paksaan jelas tidak menyenangkan, bahkan untuk melakukan sesuatu yang bersifat candu seperti kegiatan yang melibatkan benda diantara kedua kaki. Namun diantara alasan yang hampir semua tidak menyenangkan tersebut, nyatanya sebuah paksaan tetap memiliki keuntungan. Suatu kali paksaan bisa menjadi semacam cara untuk mengetahui dan menggali potensi diri yang seringkali batas itu memang hanya batas kenyamanan diri sendiri.

Sejak kecil, saya telah banyak menerima paksaan mulai dari orang tua, teman sekolah, aturan rumah, aturan negara, dan masih banyak lagi. Memikirkan hal tersebut saya malah merasa mungkin saya tidak punya obsesi pribadi karena terus berusaha menyesuaikan diri dengan espektasi paksaan-paksaan sekitar. Mungkin hal tersebut juga dirasakan orang lain. Kesadaran itu tumbuh begitu saja, bahwa kedaulatan atas diri sendiri adalah omong kosong dan impian hanya akan menjadikan orang semakin cepat gila.

Disadari atau tidak kebebasan itu tidak pernah ada, termasuk kebebasan melakukan sesuatu seperti yang kita harapkan. Karena sebetulnya ketika seorang berjuang untuk membebaskan diri, bukan berarti dia seketika mendapatkan kedaulatan atas dirinya. Sebaliknya, dia hanya akan menemukan diri berada dalam batasan yang lain. Akan tetapi maksud saya bukan kebebasan itu yang terpenting. Saya khawatir jika ada ungkapan secara implisit bahwa berjuang untuk kebebasan diri adalah sia-sia dan lebih baik tidak dilakukan. Itu memang masuk akal menganggap demikian jika tujuan dari berusaha adalah hasil. Padahal di sisi lain usaha tidak harus mati-matian dengan hasil yang sama.

Dalam konteks ini kebebasan bisa berarti banyak hal, seperti kegilaan yang biasa kawan saya  lakukan dengan menyesatkan diri di jalan-jalan yang belum dia ketahui. Terutama di kota-kota besar seperti Surabaya. Jika ditanya alasan, dengan lagak bijaksana dia akan menjawab, cari pengalaman. Dia tidak akan peduli bagaimana perasaan saya waktu itu ketika mendengar jawabannya. Saya merasa dipermainkan dengan percobaannya mengenal gang tikus di Surabaya. Mungkin bagi remaja yang  sedang kasmaran akan suka jika bisa menikmati waktu lebih lama berdua, dengan dalih tersesat. Masalahnya, saya laki-laki begitupun dirinya, saya tak habis pikir setan apa yang telah masuk ke dalam pikirannya.

Namun harus saya akui, pengetahuannya tentang jalanan kota Surabaya lebih baik dari semua teman dekat saya. Itu juga salah satu alasan saya meminta dia mengantarkan saya. Ketika saya tahu dia sengaja menyesatkan diri, kita sedang di jalanan dan kita mengalami semacam “konflik kepentingan”. Meskipun secara harfiah kami memiliki tujuan yang sama – untuk sampai ke tempat tertentu. Tapi saya dan dia memiliki tujuan yang lain, tujuan saya untuk cepat sampai, dan tujuan teman saya adalah untuk menambah pengetahuannya tentang jalan-jalan di Surabaya. Di sisi lain, saya hanya meminta tolong kepadanya dan dia tidak meminta ganti secara materi, istilahnya saya hanya menumpang dan dia bosnya. Segala bentuk protes dan syarat seharusnya tidak pantas bagi saya. Sehingga saya diam saja.

Rasanya sangat bertentangan ketika selama ini seminar-seminar motivasi selalu mendorong orang untuk mempunyai cita-cita dan mengusahakannya sekeras mungkin. Dalam contoh kasus saya, kepentingan pribadi tidak bisa dipaksakan atau diusahakan untuk ‘sesuai’ dengan apa yang saya mau. Begitu juga dalam contoh realitas yang lain, karena ada batasan tertentu yang tidak seharusnya dilewati begitu saja. Batasan ini yang memaksa siapapun untuk tidak berlaku seenaknya sendiri dalam kehidupan sosial.

Mengetahui banyaknya batasan-batasan tersebut itulah yang membuat saya berpikir dua kali memiliki keinginan yang bersifat pribadi seperti cita-cita, atau menjadi orang sukses, (baca: kaya) dan keinginan klise yang egois lainnya. Mungkin bisa juga saya disebut pengecut karena tidak berani melihat keinginan-keinginan saya itu tidak terwujud sehingga memilih tidak memilikinya. Dikatakan seperti itu juga tidak masalah bagi saya, karena memang demikian adanya. Saya takut menjadi gila karena menginginkan sesuatu.


Bukan berarti dengan begitu saya tidak menyukai atau tidak menyarankan berbagai bentuk usaha. Maksud saya, usaha tetap dibutuhkan, hanya kadar kepantasan itu perlu untuk mengurangi usaha yang berlebih, mungkin bisa disebut ambisius. Jika begitu adanya, sangat mungkin orang akan melakukan segala cara untuk mendapatkan keinginannya. Disini sadar akan batasan-batasan tersebut diperlukan, dengan melakukan semuanya sepantasnya dan tidak berlebihan.


Adam Abdullah 
Mahasiswa Program Studi Sastra Inggris

Peristalam

by

Ceritanya aku sedang duduk di beranda, ini aktivitas wajib setiap hari saat selepas shalat Ashar. Warna senja yang memerah memantul pada dinding rumah samping kos yang cerahnya hampir menguasai warna langit sore hari. Satu dua orang berlalu di depanku, hanya sebatas jalan kaki. Deru kendaraan mendesing sepanjang jalan raya yang jaraknya tidak terlalu jauh dari tempatku. Di beranda aku hanya sebatas duduk melepas jenuh jika seharian hanya di kamar. Tidak ada kopi di sampingku, aku tidak suka kopi, kopi itu pahit, pahit itu duka, duka itu masa laluku yang jauh. Tidak, aku tidak mau mengenangnya lagi.

            Suatu kali langit mendung, musim sepertinya akan memasuki penghujan (pikirku dalam hati). Di udara sudah mulai kulihat capung terbang bagai pesawat, dan ngin bergerak ke arah yang berbeda. Bagaimana dengan orang-orang di kampung saat mulai memasuki penghujan? Tiba-tiba aku teringat kampung halaman. Kubayangkan wajah petani berseri dan asri menyambut musim hujan yang bakal tiba. Mereka akan bersyukur tanpa henti karena sebentar lagi tanah dan taninya akan terberkati.

            Pada suatu sore yang berbeda, gerimis turun dan jatuh satu persatu. Aku tersenyum sendiri, tidak lama kutarik kembali senyumku sebelum orang-orang melihat dan mengira aku tidak waras. Di benakku, orang-orang kampungku sedang girang tertawa dan tak lupa bersyukur. Aroma tanah tentu akan selalu dirindukan, asri tanpa polusi  dan asap yang mencemarkan. Aku masih duduk di depan kos, gerimis masih turun, kini semakin lebat. Kubayangkan lagi petani di kampungku semakin riang dengan tawa yang lepas dan hebat.
                                                                        ***
            Seperti biasa, sore ini aku duduk menghadap jalan sepanjang gang yang sempit dengan perumahan yang padat. Sudah tak kulihat pantulan cahaya senja langit mendung di gedung sebelah kosku. Jalanan sepi dan setiap orang malas keluar rumahnya. Mungkin mereka berpikir, apa yang mesti dicari pada sore hari yang kehilangan warna langit kuning kemerahan itu? Sangat jelas antara Kota dan Desa, dua tempat yang membedakan nasib seseorang ini benar-benar memiliki letak kesenangan dan kenyamanan begitu berbeda.

            Di kota, orang-orang jarang menyaksikan senja sore hari secara langsung dan utuh karena adanya gedung-gedung yang memiliki jarak yang panjang antara dasar dan ujungnya. Ini sebabnya, orang-orang tak pernah berharap melihat senja karena sudah pasti cahaya yang merah merona itu membentur gedung-gedung pencakar langit. Apalagi di kehidupan kota padat, belum tentu orang kota memikirkan senja dengan langit yang berhiaskan burung-burung kembali ke sarangnya. Malah belum tentu di kota ada burung dan sarang. Hanya sedikit orang tersadar akan senja dengan cahayanya yang hanya dapat dinikmati dari pantulannya yang menerpa dinding-dinding gedung.

            Berbeda dengan Kota, di desa orang-orang lebih merasakan warna dunia yang jauh dari jalanan sesak oleh polusi-polusi yang mengepul dari knalpot kendaraan. Setiap sore orang-orang bisa melihat dan menyaksikan senja secara utuh yang cahayanya menembus celah-celah daun dan pepohonan yang lebat serta padat. Anak kecil sampai yang dewasa merasakan cahaya keemasan yang memancar dari barat. Di desa orang-orang lebih peduli dengan setiap hal yang di kota tidak diperhatikan, seperti burung terbang yang sedang pulang ke sarangnya sore hari.
                                                                        ***
            Sore ini aku duduk di wajah pintu ruang depan yang menghadap ke teras. Kulihat halaman, hujan sepenuhnya mengaliri tanah-tanah, selokan, dengan sesekali percikannya jatuh di langkan dan hampir sepenuhnya basah oleh terpaan angin  pada hujan. Aku tersenyum dan merenung; betapa bahagianya orang kampung halamanku hari ini. Kurasakan hujan mengaliri halaman luas yang sebelumnya berdebu, serta sawah rerumputan yang menari gembira, meski kenyataannya gerak itu ditimbulkan oleh hujan itu sendiri. Apalah peduli rumput dari mana  gerak itu berasal, yang pasti tanaman pada tiap-tiap petak tanah petani dialiri dan dijatuhi air menyeluruh.

            Aku masih tetap berada di muka pintu yang terbuka itu seraya dalam hati berkata; hujan terbuat dari tawa riang petani di alam khayal diriku sendiri.

Yogyakarta, 2018
Hendri Krisdiyanto lahir di Sumenep, Madura. Alumni Annuqayah daerah Lubangsa. Karyanya pernah dimuat di: Minggu Pagi, Kabar Madura, Koran  Dinamikanews, Nusantaranews,  Radar Cirebon, Radar Banyuwangi, Tanjungpinangpos, Buletin Jejak, Tuban Jogja, Flores Sastra, Apajake.id, Buletin kompak, Jejak publisher, Majalah Simalaba, Antologi bersamanya :Suatu Hari Mereka Membunuh Musim(Persi, 2016), Kelulus (Persi, 2017), The First Drop Of Rain, (Banjarbaru, 2017), Bulu Waktu(Sastra Reboan) dan Suluk Santri, 100 Penyair Islam Nusantara (Hari Santri Nasional, Yogyakarta, 2018) Sekarang aktif di Garawiksa Institute, Yogyakarta.

Rabu, 13 Maret 2019

Kebijakan Baru Penerimaan Calon Mahasiswa Angkatan 2019

by
Foto: Rektorat Universitas Trunojoyo Madura


WKUTM-Kebijakan baru Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) yakni menetapkan sistem penilaian baru terkait Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN 2019) dengan mewajibkan pendaftar menggunakan Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK).

Menurut Supriyanto, selaku Kepala Biro Administrasi, Akademik, Perencanaan dan Sistem Informasi (BAAKPSI), kebijakan tersebut sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas dan penyaringan mahasiswa baru yang lebih kompetitif (13/03).



Berdasarkan data dari Lembaga Tes Masuk Perguruan Tinggi Negeri (LTMPT), UTBK akan dilaksanakan pada 13 April – 26 Mei 2019. Gelombang Pertama, tanggal 01-24 Maret 2019 dan Gelombang Kedua tanggal 25 Maret-01 April 2019. Untuk itu, menurut Supriyanto, alangkah baiknya segera mendaftar. Hal itu untuk langkah antisipasi, karena dikhawatirkan terjadi pemoloran akibat dari kesalahan mekanisme, sedangkan jangka waktu pendaftaran gelombang dua hanya sedikit.

’’Pendaftaran gelombang kedua hanya diberikan waktu yang sedikit, jadi ya harus segera mendaftar. Sebab tidak ada perpanjangan untuk UTBK,” jelasnya.

Data LTMPT menunjukkan pada tahun ini terdapat perbedaan yang signifikan mengenai persentase penerimaan calon mahasiswa baru. Terdapat pengurangan pada persentase SNMPTN yang awalnya minimum 30% menjadi 20%, serta terjadi penambahan persentase pada SBMPTN yang awalnya 30% kini menjadi 40%, sedangkan seleksi Mandiri PTN tahun ini dengan tahun lalu masih sama yakni maksimum 30%. 

Dijelaskan oleh Supriyanto, bahwa Universitas Trunojoyo Madura (UTM) di tahun ini terdapat penambahan jumlah kuota keseluruhan hampir 1000 siswa, yang dulunya hanya berkisar 4500 kini menjadi 5275 calon mahasiswa. Data terkini menunjukkan ada sekitar 6000 pendaftar SNMPTN di UTM. Dalam keseluruhan pilihan jurusan, ia menerangkan bahwa prodi favorit di UTM didominasi oleh jurusan Agribisnis, Teknik Informatika, Manajemen, dan Akuntasi.

 ’’Diantara prodi tersebut yang paling banyak dan nomor satu masih sama dengan tahun lalu yakni prodi Manajemen,” ungkapnya.

Suprianto juga menambahkan bahwa kampus UTM pada tes ini, akan menjadi wilayah Panitia Lokal (Panlok) untuk UTBK dengan kode 384.

Begitu pula untuk mendaftar jalur Mandiri, tahun ini juga harus menggunakan standar nilai UTBK. Namun jika hanya mengandalkan UTBK, kata Supriyanto, tidak ada kejelasan bagi anak yang tidak mengikuti UTBK. Untuk itu, ia mengakui, dari pihak UTM akan ada dua jenis tes seleksi masuk mandiri,  yakni UTBK dan ujian tertulis  mandiri.

Selanjutnya, melihat pengaturan sistem baru dengan pelaksanaan UTBK ini, Supriyanto menganggap pemerintah tidak sepenuhnya mempertimbangkan Sekolah Menengah Atas (SMA) yang berada di kawasan pelosok. Ia menjelaskan bahwa  dampak dari UTBK tersebut malah akan menjadikan ketidakpahaman siswa yang tidak begitu familiar terhadap komputer. ’’Bagaimana kalau siswa itu tidak mendaftar UTBK karena tidak faham?” tutupnya. (Ben/El/Wuk)

Minggu, 10 Maret 2019

Malam Burung Yang Terbangun

by


Batas

Tapi cinta begitu terbatas
Seperti antara atas dan bawah, barat dan timur, kamu dan aku
Kamu batas yang aku buat tentang jarak, bahwa ujung rindu ini tak memiliki pangkal, dan itu batasku memikirkanmu
Semua hanya penghubung indera-inderaku. Kau yang bersuara sampai tak kudengar, kau yang kupandang sampai tak terlihat, kau yang kusentuh sampai tak bisa kuraba
Kau yang indah dalam puisi, hanya terbatas pada setiap larik ini
Maafkan aku. Batas membatasiku dari batasku mengenangmu. Bahkan itu juga terbatas
Probolinggo, 2018

Percakapan Singkat

Telepon menelungkupkan sendiri gagangnya. Membahasakan kecewa mendalam puannya.
Entah di ujung sana. Rindu menggema, menggetarkan kaca-kaca jendela. Tengah malam lewat!
Sedang di luar kenapa masih hujan. Padahal di dalam kamarnya sudah kuyup duluan
Probolinggo, 2018

Termometer

Cintaku dapat diukur dengan termometer, sayang. Sesederhana itu
Ketika suhu kotaku dingin. Cintaku sedang hangat-hangatnya

Probolinggo, 2018

Mandi

Setiap kali mandi, kuniatkan untuk meluruhkan bebekas gigitanmu
Tapi air menjadi lebih dingin, menjadi lebih ingin
Probolinggo, 2018

Malam Burung Yang Terbangun

Malam saatnya burung-burung bergegas mendahani kicau panjang dari rerimbun sepi yang amat ranggas digagahi mimpi. Siap membangunkan saudara burung yang terbangun sendiri malam tadi
Pamekasan, 2019


M Husnul Huda, akrab disapa O'nong lahir di Pamekasan. Menjadi inisiator berdirinya Komunitas Sastra Titik Koma

Rabu, 06 Maret 2019

Adakan Donor Darah, KSR PMI UTM Sediakan 250 Kantong Darah

by
Donor darah yang dilakukan di lantai 1 gedung cakra UTM

WKUTM- Unit Kegiatan Mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura (UTM), yakni Korps Suka Rela Palang Merah Indonesia (KSR PMI), kembali menyelenggarakan donor darah dengan tema "Setetes Darah Investasi Untuk Kehidupan” Acara yang diadakan di Gedung Cakra lantai satu pada Rabu, 6 Maret 2019, ini bekerja sama dengan Unit Tranfusi Darah (UTD) Kabupaten Bangkalan dan Komunitas Rhesus Negatif Bangkalan.

Acara ini dihadiri oleh Kepala UTD Kabupaten Bangkalan dan sosialisasi dari komunitas Rhesus Negatif Bangkalan, dengan upacara pembukaan sebagai awalan acara. Ketua Pelaksana kegiatan, Ahmad Nur Wahyudin,  mengungkapkan bahwa ini merupakan acara rutinan dari program kerja KSR PMI UTM yang diadakan dua bulan sekali. "Namun, ini pertama kalinya di periode ini," jelasnya.

Dengan menyediakan kuota sebanyak 250 kantong darah, KSR PMI nantinya akan membawa hasil tersebut ke kantor UTD Kabupaten Bangkalan, tempat penyimpanan darah karena dirasa aman. "Karena di UTD darah yang didapat akan disimpan rapi supaya tidak membusuk. Biasanya diletakkan di almari tertutup yang bebas dari kantong berlubang supaya  kuman tidak masuk,” tuturnya.

Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa dahulu, Kota Bangkalan biasanya melakukan impor darah. Namun kini lain, karena sekarang kota tersebut beralih menjadi kota sebagai pengekspor darah. Ia membuktikan dengan fakta ketika bulan puasa tiba, Kota Surabaya biasanya akan meminta darah ke UTD Bangkalan maupun Sumenep.

"Kita membantu UTD jika ada yang membutuhkan darah,” kata Ahmad.

Mahasiswa asal Jepara ini juga menyebutkan syarat-syarat yang harus terpenuhi sebagai penderma darah, antara lain berumur 18 tahun lebih, berat badan minimal 45 kg, kondisi fisik sehat, tensinya  tidak tinggi, dan tidak mempunyai penyakit supaya tidak menular.

”Syarat tersebut sudah menjadi ketentuan dari PMI. Kalau tidak sesuai dengan kualifikasi, penderma darah ditakutkan mempunyai efek samping bagi si penderma,” tambahnya.

Ahmad juga mengungkapkan, selesai melakukan transfusi darah, penderma darah akan mendapatkan suplemen penambah darah dan susu. Alangkah baiknya, setelah itu seseorang yang telah selesai mendonorkan darahnya diharapkan istirahat terlebih dahulu, sebab tidak ada yang mengetahui terkait masa pulih akan berlangsung lama atau tidak.

"Memang manusia tidak diwajibkan donor. Tetapi kalau bisa, mendonorlah. Salah satu keuntungannya dapat mengurangi penyakit," ungkapnya.

Sedangkan, batas maksimal berapa kali mendonor dalam beberapa bulan itu berbeda-beda. Kembali lagi pada masing-masing orang tersebut.

"Seseorang kalau hasil darahnya plus, maka ia boleh 2 bulan sekali mendonor. Berbanding terbalik jika negatif jelas tidak boleh. Itu semua bisa diketahui dari tes saat mendonorkan darahnya. Nanti pihak PMI akan menulis itu." Jelas Ahmad.

Berbicara terkait golongan darah, Ahmad juga tak lupa menjelaskan jika penderma darah terbanyak, sering kali didominasi oleh golongan darah O, sedangkan golongan yang sulit didapat yakni golongan darah AB.

Ulfa Kurnia, Mahasiswi Pendidikan Informatika, berharap bahwa acara donor darah yang mendatang akan diadakan kembali sebagai bentuk kegiatan membantu sesama. "Ini kegiatan yang mulia. Secara tidak langsung kita juga bisa mengetahui bagaimana keadaan darah kita dengan mengeceknya,” katanya.

Senada dengan itu, Linda Imroatus Zoleha, Mahasiswi Ekonomi Syariah, menambahkan bahwa terkait tema kegiatan donor darah, menjadikannya menyadari sesuatu tentang tolong menolong sesama.

"Tema Investasi Kehidupan, kan artinya darah saya mengalir bagi mereka yang membutuhkan," tutupnya. (Uli/Chaa)



Selasa, 05 Maret 2019

Puskom Sebut Akses Point Liar Mengganggu Koneksi Wi-Fi Kampus

by

Jaringan Wireless Fidelity (Wi-Fi) di kampus Universitas Trunojoyo Madura  (UTM) yang disebut juga UTM-Hotspot saat ini sedang mengalami gangguan penggunaan pada beberapa titik, seperti di Ruang Kuliah Bersama (RKB), Sekretariat Bersama (SekBer), dan Gedung Cakra lantai 4 dan 5, dan Taman Kampus.

Firman, Kepala Staf Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pusat Komunikasi (PUSKOM), menjelaskan kasus seperti ini memang sering terjadi, salah satunya akibat dari banyaknya access point liar atau access point yang tidak izin ke PUSKOM yang berjumlah lebih dari 700-an. “Padahal kita hanya mempunyai 100 access point,” ujarnya.

Ia juga menjelaskan bahwa access point liar tersebut menyebabkan kelemahan Wi-Fi, sehingga mengakibatkan kualitas sinyal hotspot kampus menjadi buruk. “Jadi kalo sinyal UTM-Hotspot lambat, satu jangan harus tethering. Jika ada permasalahan lapor saja ke PUSKOM supaya dicek,’’ katanya.

Terkait permasalahan tersebut, pihak dari PUSKOM sendiri tidak bisa berbuat banyak untuk proses pemblokiran access point liar. Hal itu dikarenakan mahalnya harga access point. “Harga per-satu access point di UTM-Hotspot ini sekitar 2 juta-an, sedangkan access point yang bisa memblokir secara otomatis itu seharga 16 juta-an,” jelas Firman.

Di sisi lain terkait lokasi, Firman mengatakan sebenarnya tidak ada pengkhususan baik di rektorat maupun gedung-gedung lain karena semua lokasi mendapatkan bagian yang sama terhadap pembagian bandwitch. “Sampai saat ini kita tidak menentukan prioritas itu, semua dapat bagian yang sama,” ungkapnya.

Bingar Bimantara, mahasiswa Fakultas Hukum merasa bahwa jaringan UTM-Hotspot tersebut  memang sangat tidak bisa diandalkan karena sering terputus dan lemah di beberapa tempat. “Semua pembelajaran sudah berbasis internet. Bagaimana jika Wi-Fi kampus sering bermasalah dan tidak ada jaringan?” keluhnya
.
Bukan hanya Bingar. Rendy Sulistyo, mahasiswa Fakultas Hukum, juga merasa jaringan WI-Fi di UTM memang tidak maksimal. Rendy mengeluhkan jika sedang menggunakan Wi-Fi, dia harus pergi ke Gedung Cakra atau Gedung Rektorat. “Padahal saya berharap bisa akses di semua tempat,” jelasnya. Tak hanya itu, Rendy juga berharap masalah ini akan segera teratasi dengan adanya peningkatan tambahan jaringan Wi-Fi oleh pihak kampus.

Menangapi keluhan mahasiswa, Pihak PUSKOM tidak tinggal diam. Mereka kemudian menjanjikan akan ada penambahan access point. “Nanti kita akan buat satu aksess point di setiap kelas. Tapi harus dianalisis dulu,” Tutupnya. (L, Ben)

Senin, 04 Maret 2019

Aksi Mahasiswa Tuntut Transparansi Kerja Sama Pembuatan KTM

by
Orasi aksi mahasiswa di depan gedung rektorat. Foto : Brdz
WKUTM- Aliansi Mahasiswa Spirit Trunojoyo Madura, menggelar aksi massa di depan Gedung Rektorat, Senin (04/03). Dalam aksinya, mereka menuntut pihak rektorium berlaku jujur, melakukan transparansi, serta memberikan hak mahasiswa untuk mendapatkan Kartu Tanda Mahasiswa (KTM) secara gratis.

Di sini kami menginginkan KTM gratis, bukan untuk transaksi," ujar Fadhol Irul, Mahasiswa Pendidikan Informatika.

Dalam aksinya, salah satu peserta, Disda Hendri Yosuki, Mahasiswa Fakultas Hukum, membacakan Press Release yang berisi tentang kejanggalan-kejanggalan pembuatan KTM multifungsi, seperti pernyataan berbeda antara pihak UTM dan BNI terkait nominal setoran awal senilai 100.000, serta keinginan-keinginan mahasiswa terkait KTM, seperti pembuatan ulang atau perbaikan.

Aksi tersebut terjadi karena ketidakpuasan hasil audiensi sebelumnya yang dihadiri oleh Wakil Rektor II, Wakil Rektor III, Biro Administrasi Akademik Perencaan dan Sistem Informasi (BAAKPSI), dan pihak Bank NasionaI Indonesia (BNI) pada Jumat (01/03/2019).

Dalam audiensi ditanggapi keluhan permasalahan pembuatan KTM, yang mana dalam satu kartu terdapat Kartu Perpustakaan, Anjungan Tunai Mandiri (ATM), E-toll, busway, dan E-parkir. Kemudian adanya kartu tersebut menuai kontroversi dari beberapa pihak yang merasa keberatan.

Saat menyampaikan sambutan di depan rektorat, massa menginginkan adanya klarifikasi dari pihak rektorium, khususnya Wakil Rektor 1, Wakil Rektor 2, dan Wakil Rektor 3  serta diadakannya audiensi di hadapan massa pada siang itu. Namun menurut keterangan Supriyanto, Kepala BAAKPSI pihak Rektorium sedang bertugas di luar kota.

Pimpinan tidak berada di kampus, karena sebelumnya tidak ada informasi mengenai adanya demo.” Ungkap Supriyanto.

Mengetahui hal tersebut, kelompok yang berunjuk rasa semakin berang. Dalam orasinya, mereka kemudian menginginkan adanya bukti surat kerja rektorium serta Memorandum of Understanding (MoU) sebagai bukti transparansi kepada mahasiswa. Sultan Fuadi, Mahasiswa Hukum selaku Koordinasi Lapangan (Korlap), menekankan kembali kepada pihak rektorat terkait keinginannya menjalankan audiensi terbuka.

Setelah menunggu beberapa saat, pihak rektorium bersedia memberikan tanggapan di depan massa sembari duduk melingkar. Massa ditemui oleh Kabag Bagian Negara, Zubaidi,  Kasubag Kemahasiswaan, Rizal Zulkarnain, Kabag Akademik dan Kemahasiswaan, Sri Mulyani Budianingsih, serta beberapa staf rektorium.  Mereka menjelaskan terkait ketidakhadiran para pimpinan dengan mebawa bukti surat penugasannya. Tak hanya itu, mereka juga menunjukkan lampiran kertas MoU kesepakatan Bank dengan UTM yang seharusnya tidak boleh diketahui siapa-siapa kecuali atas  persetujuan rektor.

Di akhir aksi massa, Supriyanto menuturkan pihaknya akan merencanakan usaha pengajuan audiensi susulan pada Rabu mendatang yang akan dihadiri oleh para pimpinan. "Maksimal rabu diusahakan," ujarnya sembari menenangkan massa.

Adanya aksi tersebut mendapat tanggapan dari kalangan mahasiswa, salah satunya Linda. Mahasiswa Fakultas Teknik tersebut menyayangkan adanya demo yang dilakukan oleh para mahasiswa. ia justru menilai adanya KTM yang dijadikan satu dengan ATM membuatnya semakin praktis dan modern. ”Sebenarnya hal seperti ini tidak harus dibuat demo, soalnya teman-temanku yang kuliah di JABODETABEK KTM-nya sudah jadi satu dengan ATM juga” ujar mahasiswa asal Bekasi  tersebut. (Ben/Dic/Juk)

Minggu, 03 Maret 2019

Pagliacci

by


Pukul tiga sore, rombongan sirkus datang ke salah satu kota di Negara Italia. Sudah pasti semua warga kota menyambutnya dengan sorakan gembira. Manusia besi, atraksi berjalan diatas tali, sulap, sepeda roda satu, dan binatang-binatang buas yang terlatih. Namun barang tentu yang paling ditunggu oleh semua orang yakni aksi lucu si badut bernama Pagliacci, yang selalu membawa humor dengan candaan yang dibutuhkan oleh semua orang yang lelah dengan tuntutan kehidupan pada masa era abad pertengahan.

Pagliacci selalu sukses membuat semua orang tertawa disetiap aksi panggungnya. Dengan rupa muka penuh sapuan bedak, selai lebar untuk membentuk mulut yang terbuka, mata lebar yang terbalik membentuk lengkungan alis, dan masing-masing pipi dibuat memerah sehingga memperlihatkan kesehatan yang berlebihan. Dia rela akting jatuh bangun, berpantomim dengan mimik muka yang dijelek-jelekan, bahkan bila perlu dia sedia berimprovisasi dengan tingkah dan ucapan meski membuat dirinya malu sekalipun. Apapun akan dilakukannya demi tawa mereka, seakan memberi pesan bahwa selain hidup yang kalian jalani, ada hidup orang lain yang perlu kalian tertawakan.

Tenda berbentuk kerucut sudah didirikan, lampu sorot sudah menyala menerawang ke penjuru sela dengan segala properti pendukung pertunjukan yang ditata dengan keadaan seperti biasanya. Sayangnya ini masih jam tiga. Sedangkan pertujukan baru akan dimulai satu jam sebelum matahari tenggalam dan seluruh penjuru kota yang sudah riuh membicarakan tentang sirkus dan si badut Pagliacci.

Disebuah bar seorang pria setengah baya duduk dengan botol alkohol di tangannya, terhitung itu sudah botol kelima. Pandangannya mungkin sudah kabur dengan kesadaran yang mungkin sudah pada pangkalnya. Dia akan meminta botol keenam, namun si bartender tidak memberikannya. “Aku tidak akan memberikan botol untumu lagi!” serunya kepada si pria tersebut. “Jika kau memang banyak pikiran dan memerlukan bantuan, pergilah ke dokter di ujung gang sana. Dia  pasti akan membantu permasalahanmu.” Tambah si bartender. Pria itu sedang depresi.  Semasa hidupnya ia melalui dengan angan yang tak pernah tersampaikan serta impian yang juga tak kunjung terkabulkan. Bangkitlah si pria setengah baya itu dari duduknya dengan kesadaran yang dipaksakan. Dia melangkah tegap ke rumah dokter yang diharapkannya dapat membantu keadaan depresinya.

Sesampainya di dalam rumah dan bertemu sang dokter, pria itu pun mengadu bahwa ia sedang sangat depresi. Hidup dirasanya sangat kejam mengucilkanya, begitu tidak adil juga dirasa semesta membagi nasib kepadanya. Pria itu berkata lagi bahwa, “dunia seakan tidak pernah berpihak kepadaku. Apa yang aku ingin dan aku impikan tidak pernah sampai pada diriku. Aku merasa semua orang bisa tertawa dengan semua  yang mereka capai, sedangkan aku harus menangisi apa saja yang gagal aku capai,” keluh pria itu sambil menangis. Dokter itu diam sesaat sambil memikirkan obat apa yang cocok bagi si pria malang tersebut. Lalu si dokter ingat bahwa akan ada pertunjukan Sirkus yang diadakan di kota nanti sore. Sang dokter menatap si pria setengah baya dan berkata bahwa obat untuk penyakitnya sederhana saja. "Nanti malam, ada  sirkus dengan seorang badut yang akan beraksi di tengah kota,” ujarnya.

“Namanya Pagliacci. Saksikanlah pertunjukannya, dan kau akan lebih bahagia karena haal itu akan membantumu sedikit lebih baik" ujar dokter.

Mendengar usulan tersebut, sang pria bukannya lega. Yang bersangkutan malah tertunduk, menelungkupkan tangannya ke wajah, dan malah menangis sejadi-jadinya. Dokterpun tak habis pikir apa yang salah dengan sarannya barusan. Dengan air mata yang menetes deras dengan suara sesenggukan, pria paruh baya itu menjawab, "akan tetapi Dok, Saya lah Pagliacci"

Itulah sepenggal adegan opera berjudul pagliacci yang populer di Italia pada tahun 1892. Ruggero Leoncavallo membuat cerita opera ini berdasar pada keadaan orang-orang masa itu yang masih bisa dilihat hingga masa sekarang. Banyak orang-orang yang memerankan peran sebagai Pagliacci. Mereka itu nyata diantara kalian, tersenyum dan tertawa bersama-sama kalian, namun menangis nanar dibalik panggung sandiwaranya.

Robin Williams aktor kawakan ini sepanjang karirnya diperfilman Holywood sudah banyak memerankan peran yang sama seperti watak Pagliacci. Keahlian Williams berimprovisasi dalam melucu seakan keluar secara natural dari dirinya.

Ia seperti tanpa upaya berganti mimik, menciptakan situasi-situasi konyol, dan merepetkan dialog-dialog kocak dalam rerupa aksen. Bakat peran tersebut tak hanya mengundang tawa. Tak jarang juga air mata penonton ia buat menetes lewat aksi peran dalam film-filmnya, seperti saat memerankan anak kecil memainkan permainan papan yang menjadi nyata dalam “Jumanji” (1995), mengisi suara sebagai jin biru dalam film animasi disney ”Aladdin” (1992), sukar melupakan kesedihan yang ia terjemahkan dengan begitu baik saat membaca bait-bait puisi Pablo Neruda untuk kekasih yang telah meninggal, kala memerankan dokter pendobrak dalam "Patch Adams" (1998), atau cara ia menatap para murid yang menolak pemecatannya saat berperan sebagai guru revolusioner dalam "Dead Poets Society" (1989).

Namun lain didepan, lain juga dibelakang. Williams ternyata seorang pribadi tak tenang dengan hidupnya. Ia sudah lama mengkonsumsi obat-obatan terlarang, alkohol, dan koakain. Bahkan kebiasaannya tersebut ia lakukan sejak akhir 1970-an hingga awal 1980-an. Kebiasaan buruknya sempat berhenti saat kelahiran anak pertamanya pada tahun 1983, dan muncul kembali di tahun 2003.

Dalam wawancaranya dengan surat kabar Inggris, The Guardian, pada 2010, Williams menceritakan banyak kesedihan. Menurutnya ia kerap kali merasa kesepian dan ketakutan. Untuk itu, ia mengobatinya dengan banyak meminum alkohol.

Wiliams sempat mengenang beban berat bekerja sebagai aktor Hollywood. Ia ingat pernah terlibat dalam pembuatan delapan film dalam dua tahun. Menurutnya, ada sejenis kekhawatiran dalam diri para penampil bahwa jika mereka berhenti tampil, mereka akan dilupakan. Williams menderita depresi sepanjang hidupnya seraya  berjuang mengatasi kecanduan obat-obatan terlarang dan alkohol. Sayangnya, tercatat tanggal 11 Agustus 2014, ia ditemukan tewas gantung diri di rumahnya Paradise Cay, California.

Ia menghibur masyarakat sebagai seorang komedian, namun harus mengakhiri hidupnya karena depresi. Sangat pilu jika mengetahui bahwa orang yang menyediakan tawa untuk orang lain, ternyata tidak bisa menemukan tawa untuk dirinya sendiri.

"Bagi dirimu yang mengalami depresi, temuilah orang-orang yang kau cintai. Bunuh diri merupakan solusi permanen untuk masalah yang sementara" - Robin Williams 


Ardico Fahmi (Mahasiswa Program Studi Sistem Informasi)

Resensi Aroma Karsa

by

Judul Novel    : Aroma Karsa
Penulis            : Dee Lestari
Penerbit          : Bentang Pustaka
Isi                    : 696 halaman
Tahun terbit  : 2018 Cetakan ke- 1

Aroma Karsa,
Bukanlah sekadar cerita fiktif. Inilah novel yang mampu menembus batas pemahaman antara fiksi dan fakta.

Dee Lestari tidak main-main dalam pembuatan novel ini karena ini melibatkan riset yang tak sebentar. Ibarat membuat ramuan, ia mencari kemudian mengumpulkan bahan-bahan terbaik untuk menghasilkan hasil yang luar biasa.

Lontar Kuno Legenda Mahesa Guning

Alkisah disebuah gunung suci desa Alas Kalingga, disanalah tempat para dewi-dewi bunga menyebarkan serbuk-serbuk mereka, salah satunya bernama Puspa Karsa. Ia mempunyai daya pikat yang luar biasa dengan wangi kembangnya yang mampu membuat siapapun tergila-gila membuat oranglain bertekuk lutut pada kehendaknya. Inilah yang menimbulkan keirian dari dewi-dewi lain, sehingga mereka berupaya untuk menyamarkan baunya kemudian mengurungnya di dalam perut hutan.

Mahesa Guning, seseorang dengan kesaktiannya yang mampu mengendus bau wangi Puspa Karsa yang berhasil membuat dewi tersebut jatuh cinta. Demi dicintai, Puspa Karsa mengubah dirinya menjadi sesosok perempuan berparas cantik. Ia pun keluar dari Alas Kalingga yang kemudian dipersunting oleh Mahesa Guning. Keduanya hidup bahagia. Berkat bantuan Puspa Karsa, Mahesa Guning menjadi orang nomor satu di Kerajaan Majapahit.  Sayangnya, Mahesa Guning terlalu serakah ketika memanfaatkan kekuatan Puspa Karsa. Dewi tersebut pun menjadi menyesali keberadaannya hidup ditengah-tengah manusia.

Puspa Karsa kemudian meminta kepada penguasa Alas Kalingga untuk kembali ke hutan. Hal tersebut bisa dilaksanakan dengan syarat Puspa Karsa harus mengorbankan wujud manusianya. Sebelum mengakhiri hidupnya, Puspa Karsa berikrar, bila nanti ia kembali dalam wujud bunga, maka ia akan mengeluarkan aroma kepada manusia yang berhati bersih dengan kepadanya segala kuasa di dunia akan dilimpahkan.

***

Inilah sebuah lontar kuno yang membuat Raras Prayagung terobsesi pada bunga memikat yang mampu meredam bau dan mengendalikan kendali tubuh semua makluk yakni Puspa Karsa. Ia mengira bunga tersebut hanyalah dongeng yang Raras kecil dengar setiap malam diujung kantuk dari Janirah Prayagung, Neneknya. Ternyata memang Puspa Karsa bukanlah bunga biasa.  Puspa karsa adalah penjelmaan para dewi-dewi.

Dee Lestari berhasil membuat penokohan dalam Aroma Karsa begitu kuat dengan penceritaan yang mendetail seraya memberikan klise masa lalu.  Meskipun alurnya bolak-balik, Dee berhasil  membuat pembaca menebak-nebak apa yang sebenarnya terjadi.  Penggambaran aroma inilah yang menampakan kesiapannya membuat novel ini terkesan tidak ecek-ecek. Ia menuliskan sejumlah formula parfum begitu mendetail dengan beragam jenis anggrek dari cerita yang dibuatnya.

Penulispun tidak sekadar membuat novel  yang enak dibaca saja. Namun ia memberikan pembelajaran kepada pembaca tentang sejarah, cinta, keluarga, moral, dan konflik sosial yang ada dalam sekitar kita.  Sebelum ia membuat novel ini, ia tak segan untuk berkotor-kotor naik ke gunung sampah di TPA Bantar Gerbang, naik ke puncak Gunung Lawu, mengekplorasi Candi Sungkuh, sampai belajar meracik parfum. Saya berfikir bahwa penulis bisa menceritakan kisah fiktif ini menjadi sangat riil dan bisa diceritakan dengan penuturan yang asik  menembus batas antara fiksi dan fakta.  

***

Ialah Jati Wesi, si hidung tikus. Julukan yang didapat atas pengakuan ketajaman penciumannya yang melebihi manusia biasa. Tumbuh besar di TPS Bantar Gebang Bekasi, tumbuh menjadi seorang yang misterius dan baik hati. Ia seorang pemulung, tukang kebun, peracik parfum, dan yatim piatu. Takdir mempertemukan Jati dengan Suma dan Raras Prayagung, seorang pengusaha kaya bergelimang harta pemilik pabrik kosmetik dan parfum Kemara.
Suma dan Jati merupakan dua orang yang sama-sama memiliki kemampuan dalam penciuman yang ditakdirkan Tuhan untuk bertemu. Aroma adalah kunci bagi keduanya untuk saling mengerti.

Penciuman tajam Jati adalah alasan Jati ada di rumah perempuan terkaya di Indonesia, Raras Prayagung. Hal ini terjadi tidak lain karena bunga Puspa Karsa. Ekpedisi Gunung Lawu adalah pembuktian sejarah ketika Raras Prayagung membentuk tim ekspedisi untuk mencari keberadaan wujud bunga semerbak tersebut. Ini adalah ekpedisi kedua setelah kegagalan ekspedisi pertama 26 tahun lalu yang berakhir dengan kecacatan Raras dan tewasnya sebagian tim ekspedisinya.  Bagi Jati, ekspedisi ini mengungkap asal serta diri yang sebenarnya.

"Serangan dedemit, mereka cepat dan tidak terlihat,” ucap Hanif, tentara anggota tim ekspedisi Raras, yang pertama berhasil selamat.

Puspa Karsa memang bukan bunga biasa, maka itu mencarinya bukanlah hal yang mudah dan harus memasuki alam yang berbeda. Alam yang bukan disinggahi manusia. Alam para dewa.

Kita ketahui sendiri bahwa Gunung Lawu adalah salah satu gunung yang ada di Jawa yang konon menyimpan hal magis didalamnya. Semua orang tidak diberi anugerah untuk melihat bahkan mencium wanginya. Untuk itu, pembaca harus mau menembus batas pikir dan logika manusia yang tidak masuk akal.

Inilah, karya Dee Lestari, Aroma Karsa, yang mampu menembus batas fiksi dan fakta.


Diresensi oleh : Bingar Bimantara
Fakultas Hukum



Sabtu, 02 Maret 2019

Pasar Hanyalah Simbol

by




Setidaknya ada dua hadist yang diriwayatkan oleh Muslim secara gamblang mengatakan bahwa tempat yang paling dibenci oleh Tuhan adalah pasar. Dan yang paling terkenal, hadist riwayat Al-Albani, dikatakan bahwa tempat paling baik adalah masjid, sedangkan pasar adalah seburuk-buruk tempat (Shahih Al-Jami’ 3271). Lalu, bukankah dalam institusi atau lembaga apapun tidak jauh beda bahkan lebih buruk dari pasar?

*
Ketika sedang suntuk dan butuh pelarian tidak jarang saya memilih pasar. Misalnya, ketika tidak mampu menelan omong kosong guyonan dari politisi di negara kita, saya ke pasar untuk minum kopi. Biasanya, saya berangkat sendiri mulai jam 3 pagi dan kembali pulang ketika sudah ingin pulang, tidak tentu kapan itu. 

Pasar baru Tuban, Jawa Timur adalah tempat yang selalu jadi rujukan untuk pelarian. Selain banyak saya jumpai kopi enak di sana, orang-orang di pasar memiliki tema pembicaraan lebih empiris dan menyenangkan untuk didengar. Tidak pernah sekalipun saya dengar pembicaraan yang menuntut revolusioner dan perubahan imajiner belaka. Paling sering saya dengar adalah istri tetangga atau masalah receh yang lumrah terjadi di desa. Tema itu justru lebih rasional daripada membicarakan konflik yang memang sengaja diciptakan oleh segelintir elit politik kita.

Pernah suatu ketika sedang menikmati kopi di pasar bersama pendatang dari Medan, saya teringat dengan petuah dari guru saya bahwa pasar adalah tempat paling kotor dan dibenci oleh Tuhan. Ah, apa iya?
*
Setidaknya ada dua hadist diriwayatkan oleh Muslim yang secara gamblang mengatakan bahwa tempat yang paling dibenci oleh Tuhan adalah pasar. Dan yang paling terkenal, hadist riwayat Al-Albani, yang mengatakan tempat paling baik adalah masjid, sedangkan pasar adalah seburuk-buruk tempat (Shahih Al-Jami’ 3271). Lalu, bukankah dalam institusi atau lembaga apapun tidak jauh beda bahkan lebih buruk dari pasar?

Sebelum saya memikirkan lebih jauh, karena memang ada penolakan dari dalam diri terhadap hadist tersebut. Saya teringat dengan sesi akhir pertemuan antara Musa dengan Khidir, ketika mereka berdua harus resmi berpisah saat Musa tidak bisa menyanggupi kesepakatan yang telah dibuat.

Alkisah, Musa bertanya untuk ketiga kalinya yang terpaksa Khidir menyudahi perjalanan mereka berdua. Karena terus ada ketidaksetujuan Musa atas yang dilakukan oleh Khidir, akhirnya, Khidir hanya mengatakan perbedaan mereka berdua. Khidir mengatakan bahwa apa yang dilakukannya dengan kesadaran, sedangkan Musa tidak. Hal itu membuat Musa terhenyak. Terlebih ketika Khidir memberikan kesamaan contoh yang dilakukan dengan apa yang dilakukan Musa. Seperti: ketika Musa memukul orang sampai meninggal dunia.

Nah, kekhawatiran saya, mungkin, kita masih memegang hadist tentang pasar adalah tempat paling kotor, sedangkan sebenarnya kita sehari-hari hidup dalam pasar. Misalnya, entah itu dunia pendidikan atau bahkan dalam suatu majelis keagamaan. 

Jika sampai sini, mendengar kata majelis keagamaan bisa jadi seperti pasar dan anda langsung menelan mentahnya, maka jangan salahkan orang ketika anda mendapatkan gelar sumbu pendek dan kolot dalam beragama. 

Pasar hanya simbol pertemuan antara pedangang dan pembeli. Juga; pemusatan tempat orang saling membutuhkan antara produsen dengan konsumen. Tidak ada unsur pemaksaan di dalamnya, kedua belah pihak harus saling menyetujui satu hal sebelum terjadi kesepakatan. Misalnya, konsumen pergi ke pasar untuk membeli jagung, di lain sisi ada produsen yang mempunyai jagung, sebelum terjadi kesepakatan mereka berdua telah sepakat untuk urusan jagung. 

Lalu, bagaimana misalnya dalam dunia pendidikan? Saya rasa tidak. Banyak hal yang tidak bisa kita ketahui walaupun sudah resmi menjadi bagian dari dunia pendidikan. Misalnya, baik antara pedagang dengan pembeli saling tahu bagaimana kondisi jagung tersebut. Sedangkan belum tentu kita mengetahui kebijakan dan kualitas produk yang ditawarkan oleh institusi pendidikan tempat menimba ilmu. 

Katakanlah institusi pendidikan tersebut di ranah universitas, yang seharusnya ladang bagi mahasiswa mencari ilmu, namun tak jarang kebijakan dalam kampus seperti ladang bisnis. Seharusnya, universitas adalah jalan yang ditawarkan negara untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, malah semakin jauh orientasinya adalah perut, perut, perut, baru kemudian   kualitas mahasiswanya. Memang bukan salah Jokowi universitasnya, tapi siapa oknum yang ada di dalamnya. 

Lain cerita lagi dengan majelis keagamaan yang saya singgung di atas. Jika majelis itu orientasinya adalah jalan bagi siapa saja di dalam majelis tersebut untuk kembali kepada Tuhannya, maka yang disampaikan adalah pengingat dan pengingat. Bukan membicarakan perpolitikan, apalagi mengagungkan satu orang dengan mencela yang lain. Sehat?
*
Ah, saya rasa tidak juga. Saya banyak menjumpai orang baik di pasar. Saya banyak menemukan cerita-cerita yang membantu kita untuk menghargai arti sebuah kehidupan, perjuangan dan rasa syukur. 

Di pasar, orang tidak gengsi walau dia hanya harus mengangkat es batu atau berjualan seadanya dan semampunya. Banyak dari mereka yang tidak terlalu mempertimbangkan persaingan, walaupun banyak pedagang yang jualannya sama. Karena mereka sadar, jualan boleh sama, rizki adalah bagianNya. 

Seperti Siti Fatimah, perempuan berumur 64 tahun jualan sayur untuk pedagang bakso dan soto. Lebih dari setengah umurnya telah ia habiskan untuk berjualan di pasar. Dari jualannya di pasar, ia mampu menghidupi keempat anaknya.

Sampai sekarang dia masih berjualan di pasar. Siti Fatimah tidak pernah mengeluhkan berapapun hasilnya berjualan. Untung – rugi, sedikit – banyak yang dia dapat sudah ada yang mengaturnya. Terpenting ketika jualan tidak berbohong dan curang saja. 

Cobalah sesekali ke pasar, banyak kok ibu-ibu muda yang berjualan di sana. Mereka lebih mulia daripada mereka yang melacurkan diri. Cobalah sesekali minum kopi di pasar, daripada kamu semakin goblok dan jahat membicarakan siapa capres dan calegmu kelak. Hehehe~ (Brdz)

Kamis, 28 Februari 2019

Kerusakan Gedung Cakra Akibat Kurang Perawatan

by
Foto : Gedung Cakra UTM

Gedung Cakra Universitas Trunojoyo Madura (UTM) merupakan salah satu gedung multifungsi yang menjadi sorotan karena letaknya yang strategis, sejajar dengan jalan kembar. Namun sangat disayangkan keberadaan gedung dengan lima lantai yang diresmikan pada 06 Desember 2013 silam banyak mengalami kerusakan. Kerusakan tersebut antara lain lift, kamar mandi, serta beberapa atap yang rusak. (28/02)

Ketika staf Unit Layanan Pengadaan (ULP) ditemui pihak LPM-Spirit Mahasiswa, Amrin Rozali membenarkan jika memang terjadi kerusakan. Pihak ULP juga sudah mendatangi gedung cakra untuk melihat kondisi terkini. ”Kemarin saya ke sana ngecek, ungkapnya. Ia menambahkan terkait masalah perbaikan, tentunya menunggu anggaran dari negara. "Tapi yang jelas pihak sini itu mengajukan” tuturnya.

Amrin menjelaskan bahwasannya gedung cakra pernah diperbaiki, namun hanya sepertiga bagian, sekitar dua tahun lalu. Harusnya total,” ungkapnya. Kemudian ia sedikit menyinggung peraturan menteri pekerjaan umum, bahwa biaya untuk maintenance (pemeliharaan) gedung, dianggarkan 2,5 persen dari anggaran yang diberikan. Misalnya nilai harga gedung di UTM ini sekitar 500 miliar maka untuk biaya perawatan itu sekitar 12,5 miliar. Akan tetapi, pada kenyataannya pihak UTM hanya mendapat kurang dari 2,5 persen.

"Tetapi tahun kemarin hanya menerima sekitar 2 miliar saja. Kita hanya mengajukan yang memberi uang kan pemerintah,” tuturnya.

Di sisi lain, Amrin menyoroti bahwa perawatan dan perbaikan gedung tidak akan sebanding dengan sikap dan perilaku mahasiswa. Pihaknya mengungkapkan bagaimana tindakan mahasiswa terkadang tidak menjaga gedung cakra tersebut.

"Toilet milik saya lebih buruk daripada punya kampus dan gedung cakra. Meskipun terpakai setiap hari juga tidak pecah. Serta, saya pernah melihat cctv ada mahasiswa yang menendang pintu. Selain itu, ketika perbaikan di lab sosial, banyak ditemui wc yang mampet," ungkapnya.

Dengan kondisi cakra yang seperti itu,  Amrin Rozali menuturkan bahwa terkait kerusakan ini, memang telah dibahas ketika rapat. Kebutuhan universitas banyak, salah satunya yakni lahan parkir. ”Tinggal nanti pimpinan dengan pemerintah pusat melihat mana yang dianggap prioritas. Nanti kalau gedung cakra tidak masuk prioritas ya berarti gagal,” ujarnya.

Ika Fitria Rahma, yang merupakan salah satu mahasiswa progam studi pendidikan IPA menyayangkan hal tersebut. “Jika perlu, alangkah baiknya ada tinjauan kembali dari pihak atasan untuk memaksimalkan gedung tersebut.” Harapnya. (L/Ben)

Sastra