Berita Terbaru

Selasa, 13 November 2018

Pengumuman Nominasi 10 Besar Nominasi Cerpen dari Masing-Masing Kategori

by

Terima kasih atas kesediaannya menunggu, berikut kabar baik dari kami. 10 nominasi cerpen kategori siswa dan mahasiswa. 

Kategori Siswa

1.      Bangsawan Ragapadmi

2.       Bilur Asmara Tak Berbisik

3.       Tanah Sangkolan

4.       Insan Terindah

5.       Pangeran Macan Putih dan Asal Usul nama Blega

6.       Dua Wajah dan Abisi Hitam

7.       Perjalanan Waktu dan Pembunuhan Raden Trunojoyo

8.       Kera-Kera Nepa

9.       Cong ene’

1      Cerita Kakek yang Dirindukan
       
       Kategori Mahasiswa

Topeng Penari Klonoan

Dhangka

Gagak Hitam Itu

Jangan Tiru Sakera

Sagara

Lelucon Kehamilan Putri Tunjung Sekar

Siapa yang salah?

Bayi Yang Tak Rindukan

Wanita itu hendak mengawini kerbau

Sumber Tombet Dalam Cerita Pagi


Selamat bagi yang judul cerpennya tercantum dalam nominasi. Silahkan bersabar kembali menunggu tanggal 15 November 2018 untuk kabar baik berikutnya.

Bagi judul cerpennya yang belum tercantum, mari kita sama-sama mempersiapkan diri untuk SM writing festival tahun depan.

Salam hangat, selamat, dan semangat.



Sabtu, 10 November 2018

IMB Selenggarakan Diklat Pelatihan Organisasi

by


WKUTM- Ikatan Mahasiswa Bidik Misi (IMB) Universitas Trunojoyo Madura (UTM)  sedang selenggarakan BIORTA (Bidikmisi Organization Training) yang mengangkat tema Building Leader Character for Better Future Biorta 2018 di lantai dua perpustakaan lama UTM (10/11)

Tema tersebut bertujuan untuk menjadikan anggota baru IMB memiliki ilmu tentang kepimimpinan dan berorganisasi dengan baik untuk ke depannya.

Febriyanto Hadi Kusumo selaku ketua pelaksana (ketupel), menjelaskan bahwa acara kali ini ditujukan pada mahasiswa baru 2018. Adanya BIORTA yang dulunya disebut TOT (Training Of Trainer) merupakan diklat bagi anggota baru IMB.

IMB sendiri bukan organisasi internal kampus melainkan Badan Semi Otonom (BSO) BEM, oleh sebab itu apabila mengadakan kegiatan  harus menunggu tanda tangan dari Presma.

”IMB masih belum memiliki Surat Keterangan (SK) pengangkatan sebagai organisasi internal kampus sedangkan pengangkatan menjadi BSO baru tahun lalu. Jadi, kegiatan apapun harus menunggu persetujuan BEM, dan kegiatan apapun tidak dibiayai oleh kampus,” ungkap mahasiwa Fakultas Teknik tersebut.

Acara yang diikuti 25 peserta ini digelar selama dua hari yakni pada Sabtu dan Minggu. Kegiatannya diisi dengan beberapa seminar seperti, seminar kepemimpinan, motivasi, dan keorganisasian.

"Jumlah peserta 25 orang sebenarnya bukan jumlah asli dari mahasiswa yang mendapat bidikmisi tahun ini. Karena ada acara wajib dari kampus untuk mahasiswa baru pekan ini, jadi hanya beberapa saja yang mengikuti agenda IMB," ungkapnya.

Febri juga berharap jika acara kali ini bisa menjadi tonggak awal mahasiswa belajar organisasi di kampus dan bisa menerapkan. Bukan hanya di IMB saja tetapi di luar IMB.

Isatul istifa, salah satu peserta menjelaskan bahwa acara ini menambah wawasan dan teman sehingga berharap untuk bisa mempraktikanya dalam kesehariannya. (Vir/Wuk)

Rabu, 24 Oktober 2018

KSR PMI UTM Kembali selenggarakan Donor Darah

by

Foto: Dokumentasi Panitia

WKUTM- Korps Suka Rela Palang Merah Indonesia (KSR PMI) Universitas Trunojoyo Madura (UTM) kembali selenggarakan donor darah yang bekerja sama dengan Unit Tranfusi Darah (UTD) Kabupaten Bangkalan pada hari Rabu (24/10) di gedung Cakra.

Kegiatan yang bertemakan “Nyumbang getih tanpa pamrih ini dihadiri Kepala UTD Kabupaten Bangkalan. Menurut Alfina Kamaliyah, selaku sekertaris pelaksana kegiatan  mengungkapkan bahwa acara ini merupakan acara rutinan dari program kerja KSR PMI UTM. Donor darah terakhir diselenggarakan oleh KSR PMI UTM satu bulan yang lalu. Ini dilakukan dengan jarak yang dekat karena  kita melihat persediaan kantong darah di UTD.

“Rumah sakit selalu koordinasi ke UTD jika membutuhkan darah. Jikalau kantong darah sudah mulai menipis, maka kami langsung mengadakan kegiatan ini. Adanya sebab tersebut kami dan  UTD  menyelenggarakan kegiatan ini, sebab darah juga ada masa kadaluwarsanya,” ungkap mahasiswa Pendidikan IPA tersebut.

KSR PMI UTM menyediakan kuota sebanyak 250 pendonor. Kemudiaan nantinya dibawa ke penyimpanan darah di kantor UTD Kabupaten Bangkalan. Alfiana juga menyebutkan syarat-syarat yang harus dipenuhi sebagai pendonor, diantaranya berat badan minimal 45 kg, kondisi fisik sehat, tensinya  tidak rendah dan tinggi, sudah sarapan agar tidak pingsan, tidak mengkonsumsi obat selama satu minggu terakhir, dan tidak menstruasi.

”Syarat tersebut sudah menjadi ketentuan, jika berat badan kurang dari 45 kg juga tidak boleh, sebab nanti kalau dipaksakan donor, nantinya ditakutkan adalah bisa pingsan, dari pada bahaya lebih baik tidak, yang  paling penting kan keselamatan” tambahnya.

Mahasiswa semester lima ini  juga menjelaskan jika sel-sel dalam tubuh seseorang  membutuhkan regenerasi, dari pada sel sel darah mati, lebih baik didonorkan, jarak yang paling baik untuk mendonor adalah 2 bulan. Darah yang bisa diambilpun juga berbeda,  tergantung dari darah ada di tubuh seseorang,  ada yang sampai dua kantong, ada yang satu kantong, tapi rata-rata satu kantong.

Seperti yang diungkapkan peserta donor darah, Maharani Afi dari program studi Sistem Informasi, ia mengungkapkan jika ia telah dua kali mengikuti donor darah. Menurutnya, donor darah  bermanfaat untuk tubuh juga bisa memperlancar peredaran darah.

Teruslah aktif kegiatan seperti  ini, karena ada banyak orang yang butuh darah. Walaupun gak dibayar, tapi kita dapat kebahagiaan sendiri kok, sebab ini bisa menolong orang lain” pungkasnya. (Yul/Wuk)

Selasa, 23 Oktober 2018

Kendala Program Aplikasi E-book UTM dan Keberadaan Repository

by

Foto: Yul

WKUTM – Aplikasi KUBUKU yang menjadi program baru perpustakaan UTM dalam pengadaan e-book kini tidak dapat ditemukan di Play Store. Terkait masalah itu, Bondhan Endriawan selaku Pustakawan dan Pengurus E-book UTM menjelaskan bahwa masalah itu terletak pada kesalahan sistem seperti rendahnya rating. Selain itu, adanya beberapa konten yang rentan, semacam disedotnya data informasi pengguna juga ditengarai jadi penyebabnya.

”Sebenarnya, e-book UTM bukan berarti sudah tidak ada. Hanya saja KUBUKU E-library UTM mempunyai rating rendah di playstore yang menyebabkan server sistem secara otomatis terkunci, mungkin juga aplikasi mempunyai konten yang rentan, seperti menyedot data informasi pengguna,” jelasnya.

Bondhan juga menjelaskan kalau program e-book itu masih dalam tahap uji coba respon dari mahasiswa. Namun, dari sana ia juga mengungkapkan kalau e-book akan kembali diadakan pada 2019 mengingat data peminatnya cukup tinggi. Setidaknya ada 504 pengunjung dengan 152 pembaca yang sudah tercatat di data pihak perpustakaan.

“Sebenarnya,  di tahun ini e-book bagian dari uji coba respon mahasiswa terhadap buku digital. Melihat data dan pengguna yang banyak meskipun hanya tersedia 60 e-book saja, kami akan terus berlangganan e-book sehingga bisa digunakan di tahun mendatang,” ujarnya.

Hanin Dwi selaku Koordinator Pelayanan Perpustakaan tidak merasa keberatan dengan adanya e-book. Tapi ia menyarankan jika mahasiswa kurang puas terhadap buku digital, maka mahasiswa masih bisa membaca buku secara manual.

"Jika kurang puas terhadap e-book, bisa memilih buku. Karena buku akan tetap ada penambahan jumlah setiap tahun,” paparnya.

E-book atau Repository. Mana yang harusnya di dahulukan?

Repository merupakan kumpulan paket software dari distro-distro linux, yang dapat di akses melalui internet. Diharapkan dengan repository skripsi, tesis dan disertasi bisa diakses dengan mudah melalui intenet.

Bondhan yang berkaca pada kampus lain amat menyayangkan keputusan pihak rektorat yang mengutamakan launching e-book daripada repository. Ia memaparkan, repository merupakan hal yang penting agar penelitian bisa diakses berbagai pihak luar civitas akademika, yang nantinya juga berpengruh pada rating universitas.

”Jika kita membandingkan dengan kampus-kampus lain. Kita tertinggal jauh. Saya begitu menyanyangkan, mengapa e-book saja yang mendapat persetujuan. E-book hanya bisa diakses dan dinikmati oleh civitas akademika saja. Sedangkan penelitian harusnya bisa diakses ke semua orang supaya ada perbaikan dan pengembangan. Kalau tidak begitu, maka secara keilmuan tidak berkembang. Padahal itu juga bisa dibuat untuk penaikan rating Universitas,” ungkapnya.

Adapaun terkait ketakutan plagiarisme, bagi Bondhan itu bukan alasan untuk tidak merealisasikan program repository. Ia berpandangan hal tersebut bisa diatasi dengan membuat strategi seperti memasang logo kampus atau memprogram teks agar tidak dicopy-paste. Ia menegaskan langkah tersebut harus segera dikembangkan agar UTM tidak makin tertinggal. Ia juga berharap, Ketika memang ada penambahan sistem, maka seharusnya e-book dan repository dapat berjalan beriringan.

”Ketika berbicara digital. Bisa dilihat bahwa e-book dan repository sama-sama digital dan menggunakan sistem. Namun sayang, pihak universitas tidak mengkaji lebih dalam terkait mana yang lebih penting, e-book atau repository,” pungkasnya. (Ben/Raj)

Sabtu, 20 Oktober 2018

Jony dan Sampah yang Sebenarnya

by


Sebuah persoalan yang luput dari sebagian pandangan mata; sampah. 

Tidak ada yang memungkiri bila sampah adalah salah satu perkara berskala besar di Indonesia dan negara bagian Asia khususnya. Sementara itu, 5 negara yang menduduki kursi dengan kuantitas sampah terbanyak adalah Cina, Indonesia, Vietnam, Filipina, dan Sri Lanka.


Sampah berkapasitas paling besar adalah sampah plastik. Hingga akutnya persoalan tersebut untuk menimbang daur ulang membutuhkan waktu cukup lama, Natgeo dan Natgeo Asia khususnya membahas hal demikian. Dengan polemik memilih planet atau plastik dalam majalahnya.

Melihat persoalan demikian dari lingkup institusi juga tidak jauh berbeda, misalnya di ranah Universitas Trunojoyo Madura (UTM). Hal ini bisa kita lihat dari sisi yang tidak tampak di sebagian besar kalangan  civitas akademika. Tepatnya di sebelah barat gedung asrama atau selatan food court terdapat saksi bisu metabolisme sampah di universitas. Kurangnya perhatian dari sudut pandang pihak manapun merupakan hal mutlak yang patut disebutkan.

Syahdan, untuk mengetahui persoalan sampah di UTM saya membuat janji dengan salah satu cleaning service untuk ikut membakar sampah, kebetulan saya sudah pernah berbincang-bincang sebelumnya dengan dia.


Panggil saja Jony, nama samaran dari belasan tahun lalu ketika pertama kali menginjakkan kakinya di UTM. Lelaki yang sudah tidak lagi muda ini berasal dari Kediri, sebenarnya nama aslinya Kadimin. Dia adalah salah satu sosok di balik pengurangan minimnya sampah UTM. Dia tidak hanya mengambili sampah di Ruang Kuliah Bersama (RKB), tapi juga membakarnya.

Hal demikian merupakan tuntutan yang diterima. Jika tidak demikian, ia akan mendapatkan amarah dari dekan-dekan di fakultas sebab sampah tidak bersih.

Ketika saya mengikutinya, dia memulai dengan mengumpulkan sampah dari tong sampah yang disediakan di setiap fakultas dengan gerobak kuning yang ditarik dengan motor bebeknya. Setelah terkumpul baru dibawa ke tempat pembuangan akhir, kemudian akan dibakar sore atau paginya.

Ketika berbincang Jony, dia menuturkan berbagai persoalan perihal banyaknya sampah di kampus. Salah satunya adalah ulah mahasiwa yang semaunya sendiri. Dengan dalih mereka membayar Uang Kuliah Tunggal (UKT) mereka bisa membuang sampah sembarangan. Jika mendengar alasan tersebut dia tidak dapat berkata lain, dibakarlah kejengkelannya bersama  sampah-sampah tersebut.


Persoalan pemberontakan norma atas dalih mengikuti regulasi dengan alasan ikut membayar adalah alasan klasik.

Sebenarnya, persoalan siapa yang sebenarnya sampah adalah lain cerita. Seperti kata Citra Dara Vresti Trisna salah satu wartawan madya di ibukota Jakarta,  dia memaparkan ketika mengamati pengerukan sampah di kali Ciliwung Jakarta Pusat. "Mau berapa kali dikeruk setiap minggunya tidak akan mengatasi persoalan demikian. Karena sampah yang sebenarnya tidak ada yang mengatasi," tutur Citra.


Memang demikianlah adanya. Butuh waktu berapa lama akan menghasilkan jawaban konkrit bahwa sampah sebenarnya adalah metabolisme dari manusia yang tidak dikondisikan. Misalnya, masih kurangnya kesadaran untuk membuang sampah pada tempatnya.


Mengutip kajian yang dilakukan oleh Himpunan Mahasiswa Ilmu Kelautan (Himala) UTM terkait hulu hilir sampah di Kamal, bahwa empat faktor yang menyebabkan menumpuknya sampah di daerah tersebut, khususnya sebelah pelabuhan timur adalah pola hidup yang kurang baik, kurangnya kesadaran, kurang adanya edukasi, dan kekurangan tempat pembuangan. Bahkan setelah melakukan bersih-bersih sampah, ternyata sampah kembali lagi dari masyarakat sekitar tidak ada satu jam setelahnya. Pola semacam ini bisa terjadi di mana saja, dan kapan saja selama pola pikir masih kurang sehat.

Lalu, siapa yang sebenarnya sampah? (Bir/Wuk)

Racana Trunojoyo Madura dan Rato Ebu Gelar Seminar Nasional Kepramukaan

by
Foto: Vir


WKUTM- Racana Trunojoyo dan Racana Ratu Ebu selenggarakan seminar nasional kepramukaan bertemakan "Peran Pramuka di Bidang Pendidikan" di gedung  Auditorium Universitas Trunojoyo Madura (UTM) pada (20/10).

Acara ini merupakan rangkaian dari ulang tahun Racana Trunojoyo dan Racana Ratu Ebu yang kesembilan.  Selain itu juga merupakan puncak dari Lagak (latihan gabungan) se-Madura yang dilaksanakan 18 Oktober kemarin.

Menurut Ria, selaku ketua pelaksana (ketupel), acara digelar untuk mengetahui peran dan sistem pramuka di dunia pendidikan. Selain itu, ia menambahkan bahwa, seminar ini baru pertama kali dilaksanakan di UTM. "Kemarin kita menyelenggarakan seminar bertema kewirausahaan, walaupun pada tahun 2014 sempat vakum," tambah mahasiswa Pendidikan Guru Sekolah Dasar tersebut.

Selain itu, acara yang diikuti oleh sebanyak 160-an peserta ini terdiri dari tiga komponen peserta yakni, dari Racana, SMA sederajat, dan umum,  dua belas diantaranya merupakan pangkalan SMA. Prosedur peserta dilakukan dengan  pengisian formulir melalui google formulir.

Seperti Nabila, mahasiswa PGSD yang menjadi peserta di seminar ini ia mengungkapkan adanya kegiatan ini baik apalagi bagi calon guru SD yang diharuskan memiliki wawasan kepramukaan.

Senada dengan itu, Muhammad Bassorudin, peserta SMA asal Jombang mengaku jika kegiatan ini bermanfaat, "Kebetulan saya mengajar pramuka di SD jadi ya sangat bermanfaat, untuk ke depan semoga pamfletnya tersebar rata supaya peserta lebih banyak dan lebih seru."

Ria mengungkap bahwa untuk peserta umum setelah acara ini selesai, mereka bisa pulang sedangkan untuk peserta dari Racana dan SMA diminta tetap tinggal.

"Untuk Racana dimohon  masih disini untuk evaluasi  begitupula yang peserta SMA sederajat, mereka masih harus melanjutkan lagak lagi." pungkasnya. (Yul/Wuk)

Minggu, 14 Oktober 2018

Mengubur Sepi

by

Tak Ada Gunanya
Mataku memandang dalam kaca
menyaksikan diri menghitung batu kerikil
yang jujur, tak ada gunanya.
Sesekali kuteriak pada diri sendiri.
Memang, aku seperti tak ada guna!


Siapa Yang Mau Sepi?
Bilamana aku masih terlelap di umur yang 25.
Sedang bangun-bangun
disampingku hanya ada kucing.
Dan lampu kamar meredup seperti kehabisan tenaga.
Juga jendela enggan menyambut, apalagi
kekasih, apalagi kekasih.

Di depan kaca aku hanya ingin menari.
Seperti pucuk kembang jambu di dekat bagasi.
Aku tawarkan,
siapa yang mau sepi.
Siapa yang mau sepi?
Mari kesini, kuajari ciptakan sepi yang baik


Orang Jauh
Aku tak ingin seperti ini. Ketika orang jauh bahkan yang sangat jauh menyakiti kita, menyakiti diri ini dari kejauhan. Seperti sebuah pistol menangkap dan mengancam mata-mata burung, padahal ia sedang ingin sekali bahagia dengan mematuk-matuk kepala kekasihnya.
*
Padahal aku selalu percaya, kita hidup ada di pohon paling teduh, tak ada kesakitan juga keraguan yang menggelatung seperti awan yang pucat. Atau kesakitan juga tiba-tiba menyerang seperti nyamuk yang sedang kelaparan
*
Tapi  percaya tidak percaya, akan ada banyak orang, orang jauh bahkan, yang  begitu mudah menciptakan kesakitan-kesakitan yang menggumpal. Ingin sekali aku menggulung kesakitan itu seperti aku menghilangkan tikar dalam datar. Tapi percuma saja, mereka berbekal peluru penembus bahagia.


Pohon Pura-Pura
Yang mengakar sampai kerak adalah pohon kepura-puraanmu.
Padahal hari ini
aku tidak ingin menjelma menjadi penebang pohon yang serakah.

Aku tetap ingin pohon itu terus tumbuh
juga membiarkan.
Tetapi, bukan untuk menunggu
sampai gugurnya daun pura-pura.

Tapi aku menunggunya, sampai
pusaran menumbangkan kukuhnya.


Mengubur Sepi
Sepiku telah kukubur, kasih
di sebelah mesin kenangan yang
kuletakkan di belakang rumah.
Ya, mesin telah berkarat

saban hari sebab tak ada yang mau merawat


Yulia Rahmatika (Mahasiswa Pendidikan IPA UTM)

Jumat, 12 Oktober 2018

Dewan Mahasiswa STIKOM Kunjungi UTM

by


Foto: Dokumentasi DPM-KM


Institut Bisnis Informatika Stikom Surabaya kunjungi Universitas Trunojoyo Madura (UTM) pada Jumat (12/10) untuk melakukan studi banding. Acara yang bertempat di gedung rektorat lantai 4 ini dihadiri oleh Wakil Rektor III, Presiden Mahasiswa (Presma), Wakil Presiden Mahasiswa (Wapresma), Ketua Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) dan  DPM Fakultas, Ketua Mahkamah Konstitusi Mahasiswa (MKM), Kepala Bagian (Kabag) Kemahasiswaan, serta Pengurus Dewan Mahasiswa (Dema) Stikom.

Acara ini dimulai pada pukul 09.00-11.30 kemudian dilanjutkan dengan diskusi. Setelahnya, mahasiswa Stikom diajak berkeliling kampus UTM untuk lebih mengenal kampus di sini. Kunjungan ini bertujuan untuk menggali informasi lebih dalam terkait tata kelola sistem kerja Dewan Perwakilan Mahasiswa-Keluarga Mahasiswa (DPM-KM) UTM.

”Tujuan kita ke sini untuk belajar secara langsung bagaimana undang-undang dan struktural  UTM. Karena kita masih sedikit pengetahuan terkait ilmu politik maupun demokrasi” ungkap Valiant Ryvanthapala, Ketua Dema Stikom.

Dalam kunjungan siang itu, dibahas program-program kerja DPM-KM UTM dan Mahasiswa Stikom seperti, rapat kerja ormawa, bakti sosial, maupun pengontrolan 6 bulan sekali terhadap cara kerja Ormawa maupun Himpunan Mahasiswa (Hima), serta Advokasi.

Terkait Advokasi Stikom, menurut Halimi selaku ketua DPM-KM, UTM merasa belum memiliki komisi tersebut. ”Kita mendapat banyak pelajaran, terutama terkait advokasi. Adanya advokasi memudahkan mahasiswa mengemukakan aspirasi kepada lembaga serta organisasi mahasiswa, sedangkan hal itu tidak dimiliki oleh kami (baca: pihak UTM). Mungkin saya rasa, di tahun berikutnya perlu ada peningkatan untuk tambahan komisi, yakni advokasi,” ungkapnya.

Berbeda dengan Viliant, pihaknya memaparkan perbedaan yang begitu terlihat antara Stikom dan UTM yakni terkait sistem regulasi dan koordinasi kepimpinan. Di UTM, sistem kebijakan merupakan hak dari Ormawa, sedangkan di STIKOM sendiri semua masih ada campur tangan pihak rektorat.

”Di Stikom, sistem kebijakan merupakan hak persetujuan dari pihak rektorat. Di sana juga belum ada undang-undang tertulis terkait Ormawa. Jadi semua hanya dari omongan turun temurun saja. Belum ada hukum yang menegakkan” keluhnya.

Halimi menilai bahwa Ormawa di sini, lebih memiliki kemerdekaan penuh terkait sistem kebijakan maupun koordinasi kepemimpinan.

”Ketika kita melakukan diskusi, saya melihat perbedaan kontras terkait kebijakan. Sistem kebijakan di sini murni semua hak Ormawa dan tidak terinvestasi dari atasan (rektorat). Sedangkan di Stikom, semua masih ada campur tangan Warek III terkait pembuatan regulasi. Saya rasa, kemerdekaan Ormawa UTM lebih terealisasi di sini,” paparnya.

Halimi mengaku bahwa ini baru pertama kali adanya studi banding kali dari kampus lain ke UTM. Oleh karena itu, selanjutnya ia berharap bukan hanya UTM saja yang sering berkunjung ke kampus lain, melainkan universitas lain juga lebih tertarik pada UTM.

 ”Semoga kunjungan-kunjungan pihak luar ke UTM tidak hanya di tahun ini, tetapi juga akan berkelanjutan. Semoga ada ketertarikan terkait sharing program, kebijakan  UTM. Karena ini baru pertama kali DPM universitas Trunojoyo mendapat kunjungan” pungkasnya. (Ben/Wuk)

Sabtu, 06 Oktober 2018

Sedikit Cerita dari Laut

by



Barangkali kita sering mendengar kalimat, ‘Laut adalah misteri. Pasir putih, birunya air, ombak, dan keindahan-keindahan yang laut tampakkan di kulitnya, berhasil mengelabui kita dari arti laut yang sebenarnya. Amis ikan, nelayan, dan pertarungan dengan alam yang sejati dari laut itu, hanya dirasakan oleh beberapa kalangan saja. Hal itu masihlah belum pantas untuk menyentuh misteri dari laut.



Secara ilmiah, kita mengetahui perbandingan antara laut dengan daratan adalah 71 banding 29. Bahkan sebelum pengukuran ilmiah itu disuguhkan, kitab suci umat muslim menyebut laut sebanyak 33 kali dan daratan 13 kali. Skala perbandingan ini sama (proporsi) dengan apa yang disuguhankan ilmu pengetahuan.



Dulu, pernah saya coba menanggalkan pembahasan akan misteri laut, karena saya sadar akan dangkalnya pengetahuan tentang laut. Tapi apa salahnya sedikit melirik kehidupan laut selain dari sisi wisata.

Adalah kehidupan nelayan, yang bau amisnya ikan melekat pada pori mereka, serta napas panjangnya yang haru kala kembali melihat daratan. Kehidupan seperti itu, sempat saya temui di Keluarga Bapak Badri, nelayan Pantai Cemara Sewu, Tuban.



Ditemani istri dan anaknya, ia menjaring rupiah sejak pukul satu sampai lima sore hanya dengan bermodal jaring ikan. Ketika saya datang, nampak istri dan anak Pak Badri tengah sibuk melepas ikan yang berhasil dijaring. Sementara di bibir pantai, Pak Badri dengan telaten memasng kembali jaring-jaring ikan itu.



Mereka adalah contoh kecil dari masyarakat yang mengadukan nasib pada laut dengan segala hal yang menyertainya. Karena sering saya mendapatkan cerita dari nelayan yang temannya meninggal ditengah laut. Dan mau atau tidak harus menaruh mayatnya di kapal untuk sementara dan akan disemayamkan ketika sudah sampai darat. Juga; sering saya mendengar cerita dari mereka yang pasti kaget ketika pertama kali melaut, karena yang dilihatnya hanya air, ombak, angin, dan kerasnya perjuangan untuk kembali ke darat dengan tanpa tangan kosong.  (Brdz)

Jumat, 05 Oktober 2018

SM's Day Writing Festival - Syarat dan Ketentuan Lomba Cerpen Se-Madura

by

Penyelenggaraan Lomba
4 November 2018: Deadline pengumpulan cerpen
10 November 2018: Pengumuman 10 nominasi dari 2 kategori cerpen
14 November 2018: Pengemuman pemenang lomba cerpen
17 November 2018:  Talk Show dan penyerahan hadiah

Hadiah
Kategori Mahasiswa
                Juara 1: Rp.600.000,00 + Trofi + Sertifikat
                Juara 2: Rp.300.000,00 + Trofi + Sertifikat
                10 besar: Buku antologi cerpen pemenang
Kategori Siswa
                Juara 1: Rp.500.000,00 + Trofi + Sertifikat
                Juara 2: Rp.250.000,00 + Trofi + Sertifikat
                10 besar: Buku antologi cerpen pemenang

Ketentuan Peserta
- Peserta wajib mengikuti akun Instagram @wartautm.
- Peserta adalah siswa SMA sederajat aktif atau mahasiswa aktif wilayah Madura.
- Peserta bersifat individu/perseorangan.

Ketentuan Karya
- Naskah cerpen ditulis individu.
- Isi dan makna cerita tidak boleh mengandung unsur SARA dan pornografi,
  serta harus sesuai dengan tema yang ditentukan.
- Naskah cerpen harus asli, bukan saduran, atau terjemahan.
- Karya belum pernah atau tidak sedang diikutkan lomba lain.
- Belum pernah dipublikasikan melalui media apapun.
- Karya yang telah diikutsertakan lomba telah menjadi milik panitia.

Teknik Penulisan dan Pengiriman
Teknik penulisan:
- Cerpen ditulis dalam Bahasa Indonesia dengan tema
“Menggali Ulang Cerita Rakyat Madura”
- Naskah cerpen ditulis dengan format:
     ~ Minimal 600 kata, maksimal 1600 kata.
     ~ Ukuran kertas A4.
     ~ Jenis huruf calibri, font 11, spasi 1,5 dan margin 4-3-3-3
     ~ Format .docx
- File diberi nama : nama lengkap penulis_kategori_nama kampus/nama
   sekolah.
- Sertakan biodata singkat penulis berbentuk narasi (paragraf) di akhir karya.
- Sertakan nomor telepon dan email aktif.
- Sertakan foto/scan KTM (Kartu Tanda Mahasiswa) / KTS (Kartu Tanda Siswa)
   yang masih berlaku.
- Setiap peserta hanya diperbolehkan mengirim satu karya.
- Deadline pengiriman karya 4 November dikirim ke alamat  email writingfestival.sm@gmail.com  Dengan subjek Nama Lengkap  Penulis_Kategori_Judul Karya
- Keputusan juri tidak dapat diganggu-gugat.
- Dengan mengikuti lomba dianggap telah mematuhi peraturan yang
  ditetapkan.
- Seluruh informasi akan diumumkan lewat Instagram @wartutm dan laman
   spiritmahasiswa.trunojoyo.ac.id
- Akan dipilih sepuluh cerpen terbaik tiap kategori untuk dibukukan.
- Pemenang lomba juara 1 dan 2 wajib hadir saat pengumuman pemenang
  sekaligus puncak acara pada 17 November 2018 di Gedung Graha Utama Lantai 10
  Universitas Trunojoyo Madura.

Kamis, 04 Oktober 2018

LPPM Selenggarakan Pekan Karir IX UTM

by

Para mahasiswa menghadiri acara Pekan Karir yang diselenggarakan LPPM UTM. Foto: Rar.

WKUTM - Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Trunojoyo Madura (UTM)  selenggarakan Pekan Karier ke IX UTM 2018” di graha utama lantai 2 UTM (04/10).

Nur Diana, selaku panitia menjelaskan, jajaran panitia berasal dari berbagai prodi diantaranya, Hukum, Ekonomi, Psikologi, dan Pertanian, kemudian  mengerucut dan terpusat pada LPPM UTM. Selain itu juga menambahkan bahwa acara ini merupakan acara tahunan yang diselenggarakan dua kali dalam setahun, yaitu akhir semester yang ditujukan pada mahasiswa dan alumni yang akan memasuki dunia kerja.

”Sebenarnya acara kali ini dibagi menjadi dua step, yang pertama ada pelatihan kerja dan yang dilaksanakan di graha utama lantai 10 dan yang terakhir expo hari ini dilaksanakan di graha lantai 2 UTM” paparnya.

Shofiya, calon alumni dari prodi Ilmu Komunikasi juga sebagai peserta menjelaskan bahwa acara kali ini sudah bagus karena akan memberi pengarahan dan pelatihan bagi mahasiswa yang akan memasuki dunia kerja, meskipun banyak kekurangan jika dibandingkan tahun lalu.

Nur Diana menambahkan, bahwa acara yang digelar sejak  kemarin  juga terdapat pelatihan-pelatihan kerja  dan dibuka untuk 200 orang peserta, lalu kali ini dibuka bagi siapa saja yang berkenan hadir dan melihat expo job fairnya.

”Kita menyiapkan 5 perusahaan yang membuka stand dan bisa konsultasi langsung, tentang apa yang didemokan oleh human resources department atau manajemen sumber daya manusia dari masing-masing perusahaan tersebut," tambah  dosen Agroteknologi tersebut.

Meskipun demikian salah seorang peserta Nur kholifah, mengeluhkan bahwa acara job fair kali ini sangatlah sedikit perusahaan yang ada, karena biasanya pada job fair ada hampir 40 perusahaan yang hadir.

”Adanya kekurangan tersebut akan memberikan efek dengan adanya prodi tertentu saja yang bisa ikut. Kali ini kebanyakan dari perbankan padahal mahasiswa bukan berasal dari prodi ekonomi dan bisnis saja,” paparnya. (Ud/Wuk)

Sastra