Berita Terbaru

Minggu, 24 September 2017

AMBA

by



Membaca Amba sama dengan menggali ingatan pada peristiwa kelam yang pernah menimpa bangsa ini. Tahun ’65, tahun berdarah. Tuduhan serta streotip yang berkembang sesudahnya memang menjadi isu yang selalu hangat untuk dibahas bersama.

Selain dari kebenaran siapa yang salah dan siapa yang benar, kehidupan pihak yang menjadi korban dari peristiwa itu meninggalkan luka sendiri pada wajah kemanusiaan. Ribuan orang yang dianggap ‘merah’ mesti habis dibantai atau jauh terasing dengan siksa yang tak berujung. Merah setelah peristiwa kelam itu menjadi warna yang dihindari, ditakuti, dan dikutuk tiada habisnya.

Novel ini dibuka dengan peristiwa penikaman Amba, sang tokoh utama, oleh Mukaburung, penduduk asli Pulau Buru pada tahun 2006. Peristiwa yang berkaitan dengan tujuan Amba datang ke pulau pengasingan itu. Peristiwa yang terjadi di makam seorang dokter yang digelari Resi dari Waepo, Bhisma.

Bhisma dan Amba, nama yang selalu berkaitan dalam kitab-kitab dan lakon pewayangan hadir dalam bentuk lain di dunia yang sebenarnya. Pun juga Salwa, tokoh yang dikisahkan dalam Mahabarata harus merelakan Amba setelah dikalahkan Bhisma itu menjadi Salwa yang lain namun nyaris serupa dalam novel ini.

Cinta, rindu, pengkhianatan dan dendam melebur dalam tiga tokoh tersebut. Tiga tokoh yang senantiasa terikat, sebagaimana yang tertulis dalam Mahabarata. Tiga tokoh yang dalam novel ini harus terjebak dalam kisah cinta yang merah di masa-masa yang penuh darah. Dimana konflik dan politik meminta darah untuk membangun peradaban barunya, kekuasaan barunya.

Dibeberapa bagian novel ini mengulas dengan cukup dalam jalannya politik dan peristiwa-peristiwa yang mengekor. Sebut saja pertarungan ideologi sosialis dengan nasionalis. PKI dengan PNI dan NU. Pemuda Rakyat dan CGMNI dengan Anshor dan kalangan santri. Serta sengketa antara pihak-pihak lainnya.

Demikian juga latar konflik yang banyak diulas melalui tokoh Samuel dalam novel ini terbilang cukup kompleks. Kita dapat menemukan gambaran dari kepingan-kepingan konflik SARA yang sempat terjadi di Maluku. Perang saudara yang bermula dari hal kecil dan menjalar menjadi perpecahan yang mengerikan. Sebuah peristiwa yang menentukan nyawa seseorang hanya berdasarkan sebutan;  obed atau aceng.

Dalam novel ini, sering kali Amba mengatakan “sedikit banyak aku mengerti tentang tanggung jawab, tetapi jangan tanyakan padaku tentang politik,”. Sebuah kalimat yang menjadi antitesa dari keriuhan konflik dari bengisnya politik. Amba digambarkan sebagai sosok wanita yang tenang, tegas, dan senang akan hal-hal baru namun tak mau pusing dengan siasat-siasat orang mengenai politik. Dalam novel ini dia juga digambarkan sebagai wanita yang dengan tegas mendobrak nilai-nilai feodal yang mengungkung hak-hak kaum wanita.

Amba digambarkan berbeda dengan wanita-wanita dimasanya, pun juga dengan kedua adik kembarnya, Ambika dan Ambalika. Seperti tokoh Tuti dan Maria dalam Layar Terkembang karya St. Takdir Alisyahbana. Dimana Ambika senantiasa nyaris bertolak belakang dengan kakaknya baik dalam sikap dan pandangan mengenai hati, cinta dan lelaki. Meski pada akhirnya Amba juga merasakan apa yang dirasa adiknya itu, suatu perasaan yang sempat ditentangnya mengenai cinta.

Novel ini sedikit banyak juga mengulas streotip-streotip umum yang berkembang mengenai beberapa suku. Sebut saja suku jawa yang lebih sering digambarkan perasa dan suka tidak enak hati. Sebuah sikap yang melekat pada karakter Salwa.

Sebuah novel yang penuh dengan debaran dan aroma akan kenangan memilukan disusun begitu baik oleh Laksmi Pamuntjak. Novel yang dipenuhi beragam persoalan dan gambaran konflik yang terjadi pada masa yang telah lewat. Bisa dibilang, novel ini adalah cermin dan alat intropeksi bagi diri dan bangsa ini. Recomended!

Diresensi oleh: Sirajudin
Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis UTM

Sabtu, 23 September 2017

Pengembangan Kreativitas P3M

by
                   
Dok: Panita       


WKUTM - Pertemuan Pramuka Penegak di Madura (P3M) II se-Jawa Timur 2017 kembali dilaksanakan yang berlokasi di lapangan sebelah timur jalan kembar Gedung Pertemuan (22/09 - 24/09). Acara P3M merupakan acara rutin dua tahunan yang diadakan oleh Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Gerakan Pramuka Racana Trunojoyo dan Ratu Ebu. Pembukaan acara P3M digelar Jumat Pagi (22/09) di Gedung Cakra yang ditandai dengan ditabuhnya gong oleh Rektor Universitas Trunojoyo Madura (UTM).

Kegiatan P3M diikuti oleh sebanyak 552 peserta: 272 peserta putra dan 280 peserta putri. Para peserta berasal dari Sekolah Menengah Atas (SMA) enam kabupaten, diantaranya Bangkalan, Sampang, Sidoarjo, Nganjuk, Lamongan, Surabaya. Rangkaian kegiatan yang dilakukan untuk peserta adalah lomba-lomba kreativitas, seperti lomba pioneering, poster berantai, pertolongan pertama, pentas seni, alternatif bahan makanan. Tujuannya  sebagai ajang kompetisi dan membentuk karakter generasi muda. Kemudian kegiatan akan ditutup dengan seminar Lokakarya dan Pengabdian.

Kegiatannya banyak dengan lomba-lomba jadi seru. Dapat teman baru juga,” ujar Uut Fauziyah, salah satu peserta asal Lamongan.

Menurut M. Aris, tujuan diadakan acara ini adalah untuk meningkatkan kreativitas dan menciptakan inovasi serta prestasi kepramukaan tingkat penegak. Selain itu juga sebagai upaya untuk mempererat tali persaudaraan antar anggota gerakan pramuka.

Sebagai Wakil Ketua Pelaksana, Aris berharap bahwa setalah dilaksanakan kegiatan P3M ini dapat bermanfaat dan membekali peserta dengan kerjasama,  kebersamaan, dan tanggung jawab. Selain itu juga agar UKM Gerakan Pramuka Racana Tronojoyo dan Rato Ebu lebih dikenal di Jawa Timur. (Wuk/Rin)

Jumat, 22 September 2017

Menyoal Ikoma, Dekan FT: Bukan kami yang membuat Ikoma

by


WKUTM - Ditariknya dana Ikatan Orang Tua Mahasiswa (Ikoma) di beberapa fakultas menimbulkan beragam polemik. Pasalnya beberapa pihak menyatakan penarikan dana ini tidak sesuai dengan Peraturan
Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Permenristekdikti) No. 22 Tahun 2015 tentang Biaya Kuliah Tunggal dan Uang Kuliah Tunggal pada Perguruan Tinggi Negeri.  Dimana dalam peraturan tersebut melarang adanya penarikan dana diluar Uang Kuliah Tunggal (UKT).

Sampai saat ini, Fakultas Teknik (FT) merupakan salah satu fakultas yang masih menerapkan kebijakan mengenai dana Ikoma tersebut. Ketika di konfirmasi, Rachmad Hidayat selaku Dekan FT menjelaskan  Ikoma merupakan organisasi yang dibangun secara independen sejak FT berdiri. Selain itu, keberadaan Ikoma hanya sebagai mitra bagi fakultas dan tidak masuk dalam struktur kepengurusan fakultas.

"Bukan kami (pihak fakultas,red) yang mendirikan Ikoma. Ikoma dibentuk diluar fakultas. Punya AD ART sendiri, punya pengurus sendiri, pengelolaannya juga sendiri. Fakultas tidak ikut campur," ujar Rahmad saat ditemui di ruang TU FT.

Masih menurut Rahmad, penarikan dan pengelolaan dana Ikoma berada diluar wewenang fakultas. Fakultas hanya menerima tembusan laporan dan rekomendasi penyerahan dana. Sedangkan keputusan pengelolaan tetap berada dibawah pengurus Ikoma.

"Dana itu – ikoma ada di rekening, dan yang saya baca atas nama Ikoma sendiri. Bukan atas nama personal apalagi fakultas. Saya hanya ditembusi dan kalau ada kesalahan saya hanya berwenang menyurati," ungkapnya.

Disisi lain, keberadaan Ikoma memiliki beragam tanggapan di kalangan mahasiswa, Iklil Vurqon Choironi salah satunya. Mahasiswa Teknik Elektro tersebut menyatakan Ikoma seyogyanya memiliki banyak manfaat. Hanya saja, ia berharap kedepannya mahasiswa bidik misi tidak lagi dibebankan dengan iuran dana Ikoma.

Tidak hanya itu, Resa Wahyu Ningtyas, Mahasiswa Baru FT justru kurang paham mengenai dana Ikoma. Dirinya mengaku hanya mendapat undangan ikoma untuk orang tuanya. ”Saya cuma mengikuti apa yang ada saja. Apalagi saya maba, belum mengerti apa-apa,” celetuk mahasiswa asal Lamongan tersebut.

Ketika dikonfirmasi mengenai hal ini, Abd. Aziz Jakfar selaku Wakil Rektor II mengatakan  regulasi penarikan dana Ikoma murni ,pihak universitas tidak ikut andil dalam kebijakan tersebut. "Pihak universitas tidak ada sangkut pautnya dengan ini. semua bergantung pada fakultas masing-masing, silakan nanti di tanyakan lagi," jelasya. (Raj/Aww)

Muswil IV Himpunan Mahasiswa Manajemen Indonesia Digelar di UTM

by
Foto: Alfa

WKUTM - Musyawarah Wilayah IV Himpunan Mahasiswa Manajemen Indonesia (HMMI) untuk pertama kalinya diselenggarakan di Universitas Trunojoyo Madura (UTM). Kegiatan rutin dua tahun sekali ini, dibuka dengan acara Seminar Nasional di gedung Auditorium. Seminar yang mengangkat tema “Optimalisasi Potensi Sumber Daya Alam Madura dalam Pengembangan Ekonomi Bekal di Era Globalisasi” diikuti lebih kurang oleh 160 mahasiswa yang dimulai pukul 08.00 WIB (22/09). Dihadiri pula oleh beberapa tokoh ternama sebagai pemateri, yakni DPR RI komisari VI, BI, BPWS, dan BAPEDA Bangkalan. Akan tetapi sangat disayangkan rektor UTM tidak dapat hadir. Sehingga jamuan dari UTM hanya datang dari dekan Fakultas Ekonomi Bisnis (FEB), Pribanus Wantara dan segenap pengurus Himpunan Mahasiswa Manajemen (HIMMAN).


Maksud dari tema yang diangkat yakni mengangkat potensi Sumber Daya Alam (SDA) Madura untuk menggamblangkan dan memaparkan kekayaan alam yang dimiliki Madura. Hal tersebut dilakukan agar Madura dengan mudah dapat dikenal kampus lain di luar Madura. Menurut Rosyidi selaku ketua pelaksana, tujuan dilaksanakan musyawarah wilayah ini adalah untuk menentukan presidium tetap dalam dua tahun kedepan dan menambah relasi antar Himpunan Manajemen di berbagai wilayah. Untuk masalah pendanaan diselenggarakannya acara ini, panitia mendapat bantuan dari berbagai sponsor bukan dari universitas. “Kami tidak meminta dana kepada univ, dana kami dapat dari sponsorship,” tegasnya Mursyidi, jumat malam (22/09).


Acara besar ini sudah berlangsung ke-4 kalinya dengan peserta dari berbagai daerah. Madura mewakili salah satu wilayah Jawa yang berada di wilayah IV dengan dua daerah lainnya yaitu Bali, dan Nusa Tenggara. Meski demikian, dua daerah di luar Pulau Jawa ini terpaksa tidak dapat menghadiri acara musyawarah wilayah dikarenakan terjadi halangan. Namun, pihak panitia tetap dengan cakapnya selalu berkomunikasi, hingga tidak sampai terjadi missscommunication antar pihak Universitas. (Jmt/Rin)

Kamis, 31 Agustus 2017

SM's Day Writing Festival - Syarat dan Ketentuan Lomba Cerpen Se-Madura

by

SM’s DAY!
WRITING FESTIVAL
Diselenggarakan oleh:
Lembaga Pers Mahasiswa Spirit Mahasiswa
Universitas Trunojoyo Madura

Syarat dan Ketentuan Penulisan Cerpen:
- Wajib mengikuti akun Instagram @wartautm.
- Peserta adalah siswa SMA sederajat aktif dan mahasiswa aktif wilayah
   Madura.
- Peserta bersifat individu/perseorangan.
- Naskah cerpen ditulis individu.
- Setiap peserta hanya diperbolehkan mengirim satu karya.
- Isi dan makna cerita tidak boleh mengandung unsur SARA dan pornografi,
  serta harus sesuai dengan tema yang ditentukan.
- Naskah cerpen harus asli, bukan saduran, atau terjemahan.
- Karya belum pernah atau tidak sedang diikutkan lomba lain.
- Belum pernah dipublikasikan melalui media apapun.
- Karya yang telah diikutsertakan lomba telah menjadi milik panitia.
- Keputusan juri tidak dapat diganggu-gugat.
- Dengan mengikuti lomba dianggap telah mematuhi peraturan yang
  ditetapkan.
- Seluruh informasi akan diumumkan lewat Instagram @wartutm dan laman
   spiritmahasiswa.trunojoyo.ac.id
- Deadline pengiriman karya 10 Oktober 2017 pukul 23.59 WIB ke alamat
   email 
writingfestival.sm@gmail.com  Dengan subjek nama lengkap
   penulis_kategori
- Akan dipilih sepuluh cerpen terbaik tiap kategori untuk dibukukan.
- Pemenang lomba juara 1 dan 2 wajib hadir saat pengumuman pemenang
  sekaligus puncak acara pada 28 Oktober 2017 di Gedung Auditorium
  Universitas Trunojoyo Madura.
- Yang tidak hadir dianggap gugur.


Teknik penulisan:
- Cerpen ditulis dalam Bahasa Indonesia dengan tema "Membongkar Stereotip
   terhadap Masyarakat Madura".
- Naskah cerpen ditulis dengan format:
     ~ Minimal 600 kata, maksimal 1600 kata.
     ~ Ukuran kertas A4.
     ~ Jenis huruf calibri, font 11, spasi 1,5 dan margin 4-3-3-3
     ~ Format .docx
- File diberi nama : nama lengkap penulis_kategori_nama kampus/nama
   sekolah.
- Sertakan foto/scan KTM (Kartu Tanda Mahasiswa) / KTS (Kartu Tanda Siswa)
   yang masih berlaku.
- Sertakan nomor telepon dan email aktif.



Rabu, 23 Agustus 2017

Konfirmasi Panitia PKKMB 2017 Terkait Kedatangan Biduan

by
Panitia bersama Biduan Sebelum Acara Malam Inagurasi Berlangsung. Foto : Dokumentasi Panitia

WKUTM -  Malam inagurasi penutupan PKKMB 2017 sempat menjadi bahan perbincangan di banyak media. Pasalnya malam pentas seni tersebut dimeriahkan oleh biduan. Setelah diklarifikasi, Wakil Rektor (Warek) 3, Budi Moestiko mengaku bahwa benar dirinya yang mengundang biduan pada malam tersebut (22/08).

"Saya ditelefon Mas Firman untuk memberikan bantuan, mengundang penyanyi dalam malam inagurasi. Dan saya bilang bahwa saya akan usahakan itu,” jelas Warek 3 Selasa siang di ruang kerjanya.

Budi Moestiko memaparkan bahwa Firman Akbar, selaku sie acara menghubunginya kurang lebih pada pukul empat sore. Perihal meminta bantuan menyumbang penyanyi guna memeriahkan malam inagurasi. Merasa mendapat amanah, Budi Moestiko berinisiatif untuk menghubungi mitranya dan mendapat respon positif. Selanjutnya beliau menghubungi Ana mahasiswi UTM semester delapan Fakultas Ekonomi, yang telah terangkat namanya sebagai finalis Kontes Dangdut untuk mengisi acara pada malam penutupan PKKMB.

Ketika kedua penyanyi tersebut datang di Gedung Graha Utama, memakai busana yang cukup sopan. Namun, ketika di panggung acara, penyanyi dangdut telah berganti kostum tanpa konfirmasi kepada Budi Moestiko. "Ini (awalnya) masih sopan. Ini saya foto waktu di Humas, sama Mas Firman juga ini. Ada mbak Ana,” paparnya sembari menunjukkan foto biduan tersebut.

Sementara itu Firman Akbar selaku sie acara, yang juga menjabat sebagai Ketua Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) mengaku bahwa memang benar dirinya yang meminta Budi Moestiko untuk memberikan bantuan pengisi acara pada malam inaugurasi. Ia juga menyatakan bahwa Fathor sudah tahu jika dirinya meminta bantuan kepada Wakil Rektor 3. “Sepertinya tahu kalau saya minta bantuan ke Pak Budi,” ungkapnya.

Namun ketika dimintai keterangan, Fathor AS selaku Ketua Panitia PKKMB 2017 berdalih tidak tahu mengenai diundangnya biduan. "Saya tidak tau menahu, karena saya tidak berada di tempat kejadian,” pungkas Fathor, Senin (21/08). (rdz/rin)

Senin, 21 Agustus 2017

Aliansi Mahasiswa Peduli Kampus Tuntut Tanggung Jawab Rektor

by
Aliansi mahasiswa peduli kampus UTM ketika melakukan orasi. Foto: Dic

WKUTM - Aliansi Mahasiswa Peduli Kampus Universitas Trunojoyo Madura (UTM) menggelar demonstrasi di halaman Gedung Graha Utama, Senin (21/8). Aksi ini dilakukan sebagai buntut dari aksi sebelumnya ketika menyampaikan aspirasi di depan Menteri Sosial, Khofifah Indar Parawansa. Pasalnya, dalam aksi tersebut massa terlibat kontak fisik dengan panitia PKKMB dan staf rektorat.

Para demonstran menuntut empat petisi. Pertama: Segala bentuk kekerasan dan penganiayaan dalam demo kemarin harus diusut tuntas. Kedua: Rektor dan pelaksana PKKMB harus meminta maaf di depan media. Ketiga: Pelaku kekerasan harus dihadirkan untuk meminta maaf dan harus bertanggung jawab secara hukum. Terakhir Rektor harus menyetujui pernyataan tertulis untuk mendukung sepenuhnya pengusutan kekerasan dan penganiayaan secara hukum.

Setelah menunggu setengah jam, Moh. Syarif selaku Rektor UTM dan staf yang terlibat insiden kemarin bersedia menemui para demonstran. Moh. Syarif bersedia bertanggung jawab dan memenuhi segala tuntutan.

 ”Bagaimana juga apa yang terjadi di kampus ini yang bertanggung jawab adalah saya sebagai rektor, dan saya tidak pernah malu untuk meminta maaf jika berkaitan dengan kampus UTM,” jelasnya.

Moh. Syarif juga menyetujui adanya tindak lanjut secara hukum mengenai kekerasan yang dialami Imron, salah satu pengunjuk rasa mengalami cedera di bagian tangannya setelah di pelintir oleh salah satu staf rektrorat.

”Untuk menyelesaikan dengan mekanisme secara hukum silahkan untuk kalian melanjutkan, kami akan mengikutinya,” tambahnya.

Selain itu, Wakil Rektor 3, ketua pelaksana PKKMB dan staf rektorat yang terindikasi melakukan kekerasan terhadap pengunjuk rasa turut meminta maaf kepada imron dan siap bertanggung jawab. Sedangkan tentang pengusutan kasus kekerasan  Warek 3 Budi Moestiko berjanji akan menindaklanjuti kasus tersebut sampai jangka waktu seminggu ke depan. (Fah/Aww)





Perkuat Rasa Bela Negara Bersama Menteri Pertahanan

by
Ryamizard Ryacudu ketika menyampaikan kuliah tamu di Gedung Pertemuan UTM. Foto : Ardi

WKUTM - Mentri Pertahanan Republik Indonesia, Ryamizard Ryacudu mengisi kuliah tamu di Universitas Trunojoyo Madura (UTM). Acara yang digelar di Gedung Pertemuan ini merupakan bagian dari kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru (PKKMB). Kuliah tamu yang dimulai pukul 09.30 WIB, dihadiri oleh Bupati, ketua DPRD, dan tokoh-tokoh penting lainnya se-Madura.

Dalam kuliah tamu tersebut, Ryamizard menuturkan beberapa alasan pentingnya bela negara untuk setiap warga indonesia. Diantaranya bela negara merupakan hak dan kewajiban bagi setiap warga negara dengan dasar negara yang jelas. Bela negara juga merupakan esensi nilai-nilai cinta tanah air, sadar berbangsa dan bernegara. Dan terakhir, pria kelahiran Palembang tersebut menjelaskan bela negara juga merupakan bentuk dari kesetiaan pada pancasila sebagai ideologi.

Selain itu, Ryamizard juga menyerukan persatuan bangsa. Ia menyayangkan banyak konflik yang memecah belah bangsa dan membawa nama agama. Menurutnya, semua elemen bangsa merupakan satu kesatuan.

”Kesatuan persatuan adalah kekuatan kita. Kita satu, TNI-Polri harus bersatu bersama rakyat. Melawan TNI-Polri berarti melawan rakyat,” ujar purnawiran jenderal tersebut.

Moh. Syarif selaku Rektor UTM berharap dengan diselenggarakannya kuliah umum dengan materi bela negara ini, mahasiswa UTM bisa menerapkan esensi dari bela negara tersebut.

Syaban, mahasiswa baru asal Bangkalan merasa senang dengan kehadiran menteri pertahanan tersebut. Namun, ia juga mengaku tidak terlalu paham dengan apa yang disampaikan. ”Saya senang dengan kedatangan pak menteri, tetapi penjelasan kurang bisa dipahami. Karena pengeras suaranya belum terdengar jelas,” keluhnya. (Sir/Aww)



Top Ad 728x90