Berita Terbaru

Senin, 13 November 2017

Mahasiswa FP Tidak Setujui Penetapan Wadek III

by
Demonstran menunggu kedatangan Dekan FP  di depan Gedung Graha Utama. Foto: Dico
WKUTM – Puluhan mahasiswa Fakultas Pertanian (FP) menggelar aksi demonstrasi di halaman  Gedung Graha Utama Universitas Trunojoyo Madura (UTM), Senin (13/11). Aksi yang dimulai sejak pukul tujuh pagi dilaksanakan sebagai wujud protes mahasiswa atas penunjukan Wakil Dekan (wadek) III oleh Dekan FP. Dalam hal ini mahasiswa menyayangkan pemilihan Wakil Dekan yang terkesan mengesampingkan aspirasi dari mahasiswa.

Hal tersebut bukan tanpa alasan. Menurut Andika, Dekan memilih Calon Wadek dan menetapkannya tanpa sepengetahuan mahasiswa FP. ”Senin calon Wakil Dekan sudah dipilih dan Rabu sudah ditunjuk oleh Dekan. Padahal, mahasiswa belum sempat menemui Dekan untuk menyampaikan aspirasinya mengenai Wadek yang diharapkan,” ungkap Gubernur Mahasiswa FP itu.

Oleh karena itu, mahasiswa mengajukan tiga tuntutan kepada pihak dekanat. Dimana tuntutan pertama adalah menolak Wadek III FP yang baru. Lanjutnya mahaisiswa mendesak Dekan FP untuk menunjuk Wadek III dengan melibatkan mahasiswa dan terkahir mahasiswa menuntut perolingan antara Wadek I dan Wadek III apabila tuntutan sebelumnya tidak bisa dipenuhi.

Dalam aksi ini, mahasiswa sempat merangsek masuk kedalam Graha Utama lantaran tak kunjung ditemui oleh Dekan FP dan kembali keluar saat ditemui Rektor. Selang beberapa waktu, Slamet Subari, Dekan FP tiba menemui mahasiswa.

Dihadapan mahasiswa, Dekan mengungkapkan bahwa keputusan pemilihan Wadek bukan hanya keputusan pribadi Dekan saja, melainkan bersama dengan jajaran senat. ”Ini mekanisme dan konstitusional yang sah. Saya tidak main tunjuk begitu saja,” ungkapnya.

Kemudian masalah tuntutan mahasiswa, Dekan mangaku tidak bisa melakukan pemilihan ulang, apalagi meroling wadek kembali. Sebab, menurutnya, hal tersebut hanya bisa dilakukan dengan perintah rektor.

Selanjutnya rektor meminta kepada mahasiswa untuk merapatkan hal tersebut bersama jajaran rektorat dan dekanat FP, serta meminta mahasiswa untuk menunggu hasil keputusannya. Namun, setelah satu jam lebih masih belum ada kabar, mahasiswa kembali merangsek masuk kedalam Graha Utama.

Kerumunan mahasiswa tersebut menuju ruang dekanat FP dan ditemui kembali oleh Dekan FP. Dalam pertemuan tersebut, Dekan menyatakan bahwa tuntutan mahasiswa tidak bisa terpenuhi, ”Setelah saya melaksanakan rapat bersama Pak Rektor serta Warek I dan Warek II, pemilihan Wadek yang dituntut tidak bisa dilaksankan kembali,” terangnya.

Mahasiswa yang kecewa akan keputusan itu langsung menuju Aula Lantai 10 tempat berlangsungnya pelantikan. Namun, sesampainya disana, mahasiswa dihadang oleh petugas keamanan untuk masuk kedalam ruangan saat pentikan berlangsung. Langkah terakhirnya, mahasiswa hanya menunggu dekan dan wakil dekan terpilih untuk berdiskusi dan melaksanakan perjanjian antara mahasiswa, dekan dan wakil dekan. (Raj/Syaa)

Dekan FP Tidak Akan Mengganti Wadek III Terpilih

by
Rektor tengah memberikan tanggapan di depan para demonstran. Foto : Haidar 
WKUTM - Mahasiswa Fakultas Pertanian (FP) Universitas Trunojoyo Madura (UTM) melakukan aksi demo pada Senin (13/11), dengan membawa tiga tuntutan berkenaan tentang pemilihan Wakil Dekan III (Wadek III)yang dianggap tidak sesuai dengan aspirasi mahasiswa.

Tiga butir tuntutan tersebut salah satu menolak atas dipilihnya Wadek III Fakultas Pertanian yang baru, Akhmad Farid, dikarenakan Wadek III yang terpilih dianggap pendemo tidak memiliki kredibilitas. Selain itu sebagai dosen kerap tidak masuk kelas dan sulit ditemui untuk bimbingan skripsi.

Sebagai dosen saja gemar melaksanakan tugas dalam pembelajaran secara tidak bertanggungjawab,” keluh salah satu mahasiswa ilmu kelautan dalam audiensi (13/11).

Butir kedua mendesak Dekan Fakuktas Pertanian untuk menunjuk ulang Wakil Dekan III, dengan melibatkan mahasiswa pertanian. Para mahasiswa beranggapan bahwa pemilihan Dekan tidak berdasarkan aspirasi mahasiswa, terlebih dekan yang ditunjuk tidak sesuai dengan keinginan mahasiswa.

Selanjutnya apabila poin kedua tidak dapat terpenuhi, mahasiswa mendesak Dekan Fakultas Pertanian untuk melakukan perolingan. Wakil Dekan I di-rolling ke Wakil Dekan III. Alasannya karena Wadek I lebih dekat dengan mahasiswa dan pandai menjalin komunikasi kepada mahasiswa.

Tiga tuntutan tersebut berujung kepada audiensi yang digelar dalam gedung rektorat lantai 6. Dihadiri oleh seluruh demonstran, Dekan FP, dan Rektor. Audiensi berjalan dengan pemaparan pendemo mengenai tuntutannya. Akan tetapi Moch. Syarief selaku Rektor mengatakan hahwa pemilihan Wakil Dekan sudah menjadi urusan dan wewenang Dekan. Tugas Rektor hanya melakukan pelantikan.

Sepaham dengan penuturan Rektor, Slamet Subari Dekan FP, menjelaskan bahwa keputusan dalam pemilihan dekan merupakan wewenang serta keputusan dari pihak senat yang tidak akan melibatkan mahasiswa sama sekali, sesuai dengan Peraturan Rektor.

"Keputusan dekan adalah keputusan senat. Dekan tidak serta merta mengambil keputusan. Untuk periode ini pemilihan Wadek III tidak melibatkan mahasiswa, ini tertuang dalam peraturan rektor. Ini mekanisme dan konstitusional yang sah", ujar Slamet Subari.

Slamet menambahkan bahwa tuntutan ke-dua untuk menunjuk ulang Wadek III tidak akan dilaksanakan. "Dekan tidak main tunjuk, dekan tidak akan memulai pemilihan dari awal. Apalagi me-rolling. Fakultas pun tidak bisa memilih ulang. Kecuali atas persetujuan Rektor. Calon wakil dekan juga belum tentu bersedia," tegasnya.


Merasa tuntutan tidak terpenuhi, pendemo selanjutnya akan mengambil langkah untuk menemui Dekan dan Wakil Dekan terpilih guna menandatangani surat perjanjian. Perjanjian berisi agar Wadek terpilih bekerja maksimal dan bertanggungjawab terhadap jabatan, dengan menjalin komunikasi yang baik kepada mahasiswa. Jika perjanjian yang ditandatangani tidak terlaksana,­ maka kursi Wadek III dianggap kosong sehingga urusan kemahasiswaan dilarikan langsung pada Dekan. (Alf/Syaa)

Kamis, 09 November 2017

Ormawa Gelar Audiensi Terkait Dana DIPA

by

ilustrasi


WKUTM – Segenap Organisasi Kemahasiswaan Universitas Trunojoyo Madura (Ormawa UTM) menggelar audiensi bersama pihak rektorat, siang tadi (9/11). Audiensi yang digelar di ruang rapat lantai 4 Gedung Graha Utama UTM tersebut dihadiri oleh Wakil Rektor II (Warek II) dan Wakil Rektor III (Warek III) serta beberapa kepala biro UTM. Forum tersebut diadakan karena sulitnya pencairan dana Daftar Isian Pelaksana Anggaran (DIPA) yang dirasakan kebanyakan pihak ormawa belakangan ini.

Sebagaimana yang disampaikan Arifin, Presiden Mahasiswa UTM tersebut mempertanyakan sulitnya pencairan dana dari setiap kegiatan Ormawa yang telah diselenggarakan. Tidak hanya itu, Arifin juga meminta kepastian akan jumlah dana kemahasiswaan yang sudah dijanjikan Warek III naik dari 194 juta menjadi 250 juta.

Dalam forum yang berlangsung selama satu jam tersebut, Arifin juga mempertanyakan hubungan antara pihak (BAAKPSI) dan (BAUK). Sebab, mayoritas Ormawa merasa ada ketidak-harmonisan komunikasi antara kedua pihak yang bersangkutan. ”Kami merasa hubungan BAAKPSI dan BAUK ini kurang harmonis. Sebab ketika kami mengeluh ke BAAK katanya masih ada di BAUK. Saya harap dengan adanya forum ini semua masalah bisa dijelaskan,” ungkapnya.

Tidak jauh berbeda dengan Arifin, Eko selaku Gubernur Fakulatas Ekonomi dan Bisnis (FEB) juga menanyakan sumber kemacetan dana DIPA. Pasalnya, pencairan dana DIPA dirasa berbeda  pada tiap fakultas. ”Sebenarnya sumber kemacetan dana DIPA itu dimana, sebab tiap fakultas ini berbeda-beda pencairannya. Fisib tidak pernah kekurangan dana, berbeda dengan FEB dan (fakultas, red) pertanian,” keluhnya.

Menanggapi semua hal tersebut, Boedi Mustiko selaku Warek III memastikan bahwa dana kemahasiswaan adalah 250 juta. Namun, untuk dana tambahan sejumlah 56 juta masih belum bisa dicairkan, sebab tidak terdapat rincian penggunaan anggaran dana. Sehingga, dana tersebut akan cair setelah pengajuan program kerja oleh Ormawa.

Kemudian terkait pencairan dana disetiap fakultas, Abdul Aziz selaku Warek II menyangkal terkait adanya perbedaan proses pencairan dana antar fakultas. Menurutnya semua dana setiap fakultas sudah tersedia. Hanya saja, menurut Warek II  sampai saat ini peyerapan dana setiap fakultas memang tidak sama. ”Pada dasarnya setiap fakultas memiliki sistem pencairan dana yang sama,namun bagaimana penyerapannya bergantung kepada kebijakan setiap fakultas,”pungkasnya. (Raj/Dam)

Senin, 06 November 2017

Mahasiswa FIP Meresahkan Kejalasan Dana DIPA

by
Barisan aksi mahasiswa FIP yang sedang berjalan menuju Ruang Kuliah D. Foto : Time


WKUTM – Puluhan mahasiswa fakultas ilmu pendidikan (FIP) yang tergabung dalam aliansi mahasiswa peduli FIP melakukan aksi di halaman ruang kuliah bersama (RKB) D, Senin (6/11). Aksi yang kali pertama  digelar ini merupakan bentuk reaksi dan protes mahasiswa terhadap beragam masalah yang ada di dalam FIP, utamanya terkait dana DIPA.

Sebagaimana yang diutarakan Asrori dalam orasinya, mahasiswa prodi pendidikan Informatika itu mengeluhkan sulitnya pencairan dana DIPA. Hal tersebut sangat menghambat kelancaran kegiatan badan kelengkapan FIP. Bahkan, beberapa anggota badan kelengkapan harus berhutang untuk menutupi dana kegiatan yang belum bisa dicairkan.

”Utang kita sudah jatuh tempo. Badan kelengkapan sudah melakukan kegiatan yang seharusnya, namun tidak ada orang fakultas  yang membantu kita. Apakah kita harus berutang melulu?,” ungkap mahasiswa yang juga menjabat sebagai gubernur mahasiswa FIP tersebut.

Tidak hanya masalah dana DIPA yang tidak kunjung cair. Dalam aksi itu, mahasiswa juga menyampaikan beberapa tuntutan terkait masalah ketidakjelasan dana IKOMA, sarana dan prasana perkuliahan yang kurang memadai serta profesionalitas dosen yang dinilai masih rendah.

Seperti yang diungkapkan Wawan, mahasiswa Prodi Pendidikan dan Bahasa Indonesia itu merasa sangat terganggu dengan kelakuan beberapa dosen yang sering menganti jadwal perkuliahan sesuka hati. Selain itu sarana dan prasarana di FIP dirasa belum memadai. ”Dosen sering sekali telat, kami juga harus mengangkut kursi sebelum kuliah, bahkan sering lesehan. Belum lagi AC dan proyektor kelas yang tidak berfungsi dengan baik,” keluhnya.

Menanggapi berbagai tuntutan tersebut, Sulaiman selaku Dekan FIP mengatakan bahwa dana DIPA serta sarana dan prasarana FIP berada dibawah kewenangan Universitas. Namun, dirinya berjanji akan mengurus permasalahan yang ditimbulkan dari dana DIPA yang belum cair.

Terkait kinerja dosen, Sulaiman meminta mahasiswa untuk mencatat dosen yang dinilai tidak profesional dan segera menindaknya.  Sedangkan mengenai IKOMA, dirinya mengaku sejak awal kurang setuju terhadap adanya IKOMA. Sulaiman juga berjanji akan menghapus IKOMA dan mengembalikan dana tersebut ke rekening mahasiswa sendiri. ”Nanti didata siapa yang sudah membayar IKOMA. Secepatnya akan diurus dan uangnya akan dikembalikan ke rekening mahasiswa itu,” pungkasnya. (Raj/Aww)

Rabu, 18 Oktober 2017

Simbol Kekecewaan Mahasiswa FISIB Hilang

by
Miftah saat mengutarakan tuntutannaya ketika aksi berlangsung. Foto : Time

WKUTM – Kesatuan Intern Aksi Mahasiswa Trunojoyo Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Budaya (Kiamat-FISIB) Universitas Trunojoyo Madura (UTM) menggelar mimbar bebas dan pengibaran bendera setengah tiang. Aksi tersebut terjadi pada sore tadi (18/10) di depan Gedung Ruang Belajar Bersama – E (RKB-E) sebagai aksi lanjutan dari aksi yang dilancarkan sehari sebelumnya.

Aksi ini dilakukan sebagai bentuk kekecewaan mahasiswa FISIB atas peraturan rektor yang tidak melibatkan mahasiswa dalam pemilihan dekan secara langsung. Dalam aksi tersebut, para ativis FISIB ini mengibarkan bendera setengah tiang dan almamater UTM pada malam harinya (17/10). Namun sehari setelahnya, almamater yang digantung sebagai simbol kekecewaan tersebut hilang.

Kekecewaan mahasiswa semakin menjadi-jadi setelah debat kandidat calon dekan yang awalnya dijanjikan untuk digelar secara terbuka namun hanya dilaksanakan dengan cara tertutup. Miftahul Ahyar selaku kordinator lapangan mengungkapkan bahwa tujuan utama aksi ini adalah bentuk apresiasi mahasiswa atas debat calon dekan yang tidak jadi dilaksanakan secara terbuka. Malah sebelumnya Miftah dan kawan-kawan mengaku sempat dibingungkan dengan tindakan para panitia yang sengaja melempar-lemparkan jawaban saat dirinya meminta kepastian.

Nah, tujuan utamanya ini biar mereka, para kandidat menunjukkan visi misinya. Biar para civitas FISIB ini tahu bakal calon bapak mereka itu siapa, eh malah tidak jadi melakukan debat terbuka. Waktu kami klarifikasi, pertanyaan kami malah dilempar-lemparkan dari rektorat ke panitia ke kandidat,” ungkapnya ketika dijumpai seusai aksi berlangsung.

Sementara itu, Imam Sofyan selaku dosen  FISIB  yang juga sebagai panitia pemilihan dekan mengherankan aksi mahasiswa ini. Menurutnya, aksi tersebut percuma adanya. Karena meski bagaimanapun hasil akhir pemilihan dekan tidak ada kaitanya dengan debat terbuka yang tidak jadi dilaksanakan. Seperti halnya peraturan rektor, hasil akhir pemilihan dekan ada dibawah tangan senat.
“Saya itu heran dengan mahasiswa-mahasiswa. Keputusan siapa nanti yang menjadi dekan itu kan bukan dari seluruh civitas FISIB ini, melainkan ditentukan oleh senat,” ujarnya ketika ditemui di ruang dosen Ilmu Komunikasi.


Mengenai hilangnya almamater, Imam justru tidak tahu-menahu atas kerjadian yang telah menyulut ramainya aksi Kiamat-FISIB ini. “Kalau tentang hilangnya almamater itu saya malah belum mendengar apa-apa terkait hal tersebut,” tambahnya. (rdz/dam)

Senin, 09 Oktober 2017

Mahasiswa Tolak Peraturan Rektor Tentang Pemilihan Dekan

by
Penyerahan pernyataan pendapat kepada Rektor UTM oleh Gubernur FP. Foto: Dzilul

WKUTM – Mahasiswa Fakultas Pertanian  (FP) Universitas Trunojoyo Madura (UTM) menggelar aksi demonstrasi, Senin (9/10). Aksi yang digelar di halaman Gedung Graha Utama tersebut berkaitan dengan polemik pengangkatan Dekan Fakultas Pertanian UTM. Para demonstran mempermasalahkan Peraturan Rektor Nomor 5 Tahun 2017 dimana mahasiswa tidak dilibatkan secara langsung dalam pemilihan dekan.

Dalam aksi tersebut mereka menuntut agar peraturan pengangkatan dan pemberhentian dekan dan pembantu dekan dikembalikan pada Peraturan Rektor Nomor 3 Tahun 2013 yang melibatkan mahasiswa. Serta mendesak rektor untuk mencabut Peraturan Rektor Nomor 5 Tahun 2017 tentang tidak ikut sertanya mahasiswa dalam pemilihan dekan dan pembantu dekan.

Salah seorang peserta aksi, Avis mengungkapkan peran mahasiswa di lingkungan kampus juga penting oleh sebab itu, pihaknya meminta untuk berperan dalam pemilihan dekan FP mahasiswa harus dilibatkan. ”Mahasiswa adalah salah satu bagian dari tugas dekan, selain itu sebagai mahasiswa juga harus berperan memilih siapa sosok dekan yang akan memimpin di periode mendatang” ungkapnya.

Muh. Syarif selaku Rektor UTM menanggapi tuntutan tersebut dengan memberi penjelasan bahwasannya ia tidak akan mencabut peraturan tersebut. ”Tolong jangan memaksakan saya untuk mencabut (peraturan rektor,red). Saya memiliki kewenangan dan pertimbangan dalam hal ini. Dipaksa seperti apapun saya tidak akan mencabut karena sudah ketentuan,” tegasnya.

Dalam proses pemilihan dekan kali ini mahasiswa tidak diikutsertakan secara langsung, namun aspirasi dari mereka bisa menjadi salah satu dari bahan pertimbangan dalam proses pemilihan dekan. Rektor memberi jaminan bahwasannya dalam proses pemilihan dekan aspirasi mahasiswa akan ditampung. Selain itu Syarif berpendapat pemilihan dekan yang tidak mengikutsertakan mahasiswa juga untuk menghindari adanya kepentingan tertentu.

”Kami tidak ingin pemilihan ini disusupi kepentingan tertentu dan dipolitisasi karena hal itu akan mengganggu stabilitas kampus,” terang Rektor yang berasal dari Sampang tersebut.

Pemilihan dekan yang berdasarkan Surat Keputusan (SK) Rektor tahun 2017 tersebut dinilai sangat mendadak. Menurut Avis keluarnya SK rektor dirasa janggal karena tidak ada informasi lebih lanjut. Pasalnya, SK keluar pada 19 September namun 27 Oktober sudah harus pelantikan dekan.

”Seharusnya ada sosialisasi terlebih dahulu terkait hal tersebut agar tidak terjadi salah paham, seandainya sudah tahu sebelumnya kami tidak akan melakukan aksi,” terang mahasiswa semester tujuh tersebut.

Sudah jelas adanya bahwa pemilihan dan penetapan dekan dilakukan oleh pimpinan dan jajaran senat dengan catatan menampung aspirasi dari mahasiswa. Oleh karena itu, Avis dan mewakili suara mahasiswa FP  berharap aspirasinya tersampaikan.


”Walaupun segala keputusan berada di pihak pimpinan dan senat kami menerima dengan lapang dada dan saya berharap segala aspirasi tersebut tersampaikan” harapnya. (Ida/Dam)

Merasa Ditelantarkan, Mahasiswa Pertanyakan Lagi Masalah PMM

by
Mahasiswa sedang melakukan audiensi dengan pihak dekanat FH. Foto; Birar

WKUTM – Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Trunojoyo Madura (UTM) mengadakan demo menuntut kejelasan anggaran dan pertanggung jawaban pimpinan terkait Program Mitra Masyarakat (PMM). Selain itu, demonstran menganggap bahwa kegiatan PMM  tidak resmi secara hukum. Aksi yang dilancarkan pagi tadi (09/10) di Fakultas Hukum menuntut Nunuk Nuswardani selaku Dekan Fakultas Hukum untuk menjawab aspirasi mereka.

Secara umum mahasiswa menuntut agar PMM dihapuskan dan kembali ke program Kuliah Kerja Nyata (KKN) karena PMM sudah tidak sesuai ekspektasi. Digantinya KKN dengan PMM sebenarnya bertujuan untuk lebih mengkhususkan mahasiswa Fakultas Hukum dibidangnya. Namun, setelah tahun pertama PMM menuai berbagai permasalahan. Seperti yang dituturkan Dayat gubernur Fakultas Hukum bahwa, PMM tidak memiliki legalitas yang jelas.

Selain itu, kurangnya komunikasi antara kordinator lapangan dan pimpinan fakultas membuat  PMM seolah kurang persiapan. Dayat kembali menuturkan bahwa kordinator lapangan kurang berkordinasi  dengan pimpinan, peserta dan pihak desa yang akan dijadikan sasaran pengabdian. Dia menuturkan seolah peserta ditelantarkan. Bahkan ada peserta yang kehilangan ponsel hanya disuruh bersabar.

“Seolah PMM ini bukan program fakultas. Kami saja bingung disana mau berbuat apa. Kordinator lapangan yang seharusnya memantau pengabdian ini juga tidak ada ditempat. Paling-paling cuma tanya kabar lewat pesan singkat tanpa hadir langsung dilapangan,” tambah mahasiswa asal Pamekasan itu.

Keluhan terkait dana juga menjadi salah satu poin yang diutarakan ketika demo berlangsung. Jufri salah satu demonstran asal Sumenep sempat menanyakan perihal dana dari PMM. “Jika legitimasi sudah jelas pastinya kan ada dana. Sedangkan, ketua kordinator lapangan, mengaku tidak ada dana untuk kegiatan ini,” ujar Jufry.

Pimpinan Fakultas Hukum baik Dekan dan jajarannya menjawab semua tuntutan dari mahasiswa ketika semua dikumpulan dan diajak bicara baik-baik. Audiensi dilakukan saat Dekan Fakultas Hukum menemui mahasiswa setelah dua jam melakukan aksi.

Tholib selaku Pembantu Dekan I Fakultas Hukum menjelaskan tujuan PMM agar sesuai dengan bidang yang ditempuh mahasiswa Fakultas Hukum. Legitimasi dari kegiatan ini juga sudah jelas adanya, begitu juga dengan proker dan tujuannya. Menurutnya, kegiatan yang telah berlangsung empat tahun ini telah memiliki landasan berupa Surat Keterangan Rektor.

“PMM ini tujuannya selain untuk mengkhususkan bakat dari mahasiswa hukum juga untuk mempercepat kelulusan dari mahasiswanya. Selain itu kita juga sudah dapet SK dari Rektor,” ujarnya.

Ketika ditanya kurangnya kordinasi Kordinator Lapangan, peserta dan berbagai permasalahan anggaran PMM pimpinan belum bisa memberi jawaban terkait hal ini. “Kami belum bisa menanggapi hal ini, karena memang belum ada konfirmasi dari kordinator lapangan,” ujar Nunuk selaku Dekan Fakultas Hukum. (Tim/Dam)

Sabtu, 07 Oktober 2017

HIMAPIPA Selenggarakan Olimpiade Sains

by

WKUTM - Himpunan Mahasiswa Pendidikan IPA (HIMAPIPA) menggelar acara CHROMOSOM 3 (Challenge Road Moment at Science Olympiad) acara yang sudah tiga kali di gelar ini merupakan program kerja tahunan dari HIMAPIPA. Acara kali ini berupa Olimpiade Sains Tingkat SMP/MTs/Sederajat se-Madura pada Sabtu (07/10) di Aula RKBD Universitas Trunojoyo Madura (UTM).

Acara ini digelar untuk menanamkan daya saing di era global dengan memanfaatkan kearifan lokal. Selaku ketua pelaksana, Devi Novita Sari menuturkan, "Globalisasi berkembang pesat dan generasi muda dituntut oleh persaingan dan perkembangan zaman dengan memanfaatkan kearifan-kearifan lokal di bidang sains," tuturnya.

Para peserta berjumlah 443 siswa dari empat kabupaten di Madura, dan mengundang dosen-dosen Pendidikan IPA sebagai juri. Acara ini melalui beberapa tahapan, yakni seleksi rayon, semifinal, dan final. Seleksi rayon mengambil 20 pesera dari masing-masing kabupaten kemudian diambil 10 peserta dalam tahap semi final, setelahnya dipilih 3 peserta yang akan meraih juara 1, 2, dan 3.

Juara 1 diraih oleh  Nur Aini Fadilah (SMPN 01 Klampis)

Juara 2 diraih oleh Abdulloh Ibnu Nur A (SMPN 02 Bangkalan)

Juara 3 diraih oleh  Rifqi Hilman (MTsN 01 Sumenep)

Peraih juara pertama, Nur Aini Fadhilah mengungkapkan bahwa kesempatan ini sungguh luar biasa dan ia sangat bersyukur, apalagi berhasil meraih juara 1.

”Saya tidak menyangka mendapat juara 1, saya sangar bersyukur semoga prestasi ini bisa mengharumkan nama sekolah saya,” ungkapnya.


Panitia juga berharap untuk ke depan bisa lebih jauh menjangkau pelajar yang berada di kedalaman pulau-pulau yang ada di Madura. "Siswa yang dari kepulauan jarang yang datang, semoga untuk ke depan mereka bisa ikut serta," pungkas mahasisw semester 5 tersebut. (Wuk/Rfn)

UKMF SOKET Menggelar Workshop untuk Persiapan Menghadapi Liga Sepak Bola Robot Dunia

by
peserta workshop Karbora. Dok: Panita

WKUTM – Unit Kegiatan Mahasiswa Fakultas SOKET (Study Otomasi Kendali dan Kontrol Trunojoyo) mengadakan Workshop Kabora (Kerapan Robot Madura) sebagai acara tahunan Sabtu kemarin. (07/10) di Gedung Rektorat lantai 10. Acara bertema Robot Soccer League 2017 ini berlangsung sejak pukul 08.30 WIB yang dihadiri oleh 37 tim dari berbagai kota di Jawa Timur.

Workshop ini memberikan bimbingan mekanik, elektronika, dan pemprograman suatu robot yang kelak akan diperlombakan. Dalam acara ini, materi disampaikan langsung oleh anggota UKMF SOKET dibawah binaan Aji Wibisono. Adapun pemateri umum disampaikan langsung oleh Ricky Rizkiyandi, untuk pemateri program aplikasi android disampaikan oleh Fahrus Sakariya, untuk pemateri mekanik robot disampaikan oleh Robi Maulana Putra, dan untuk pemateri elektronika dan program robot disampaikan oleh Adi Tiawarman.

Di tahun sebelumnya, Workshop Kabora membagi pendaftaran workshop dengan pendaftaran lomba, sedangkan di tahun ini baik pendaftaran workshop dengan pendaftaran lomba dijadikan satu paket. Pendaftaran telah lengkap disertai dengan material/onderdil robot untuk pengaplikasian secara langsung. Sedangkan perlombaan Robor Soccer Beroda Small Size Kendali Android dilaksanakan tanggal 5 November.

Umam mengungkapkan pemilihan tema ini dilatarbelakangi oleh penyesuaian dengan tema kontes robot internasional, yaitu menuju liga sepak bola robot dunia tahun 2050. Selain itu, pemilihan tema ini juga untuk menyiapkan siswa SMA sederajat dalam menghadapi kontes tersebut. Seiring berkembangnya zaman, pengandalian robot semakin canggih, tidak lagi menggunakan remot untuk mengontrolnya namun cukup dengan smartphone android. “Dengan tema ini kami ingin mempersiapkan bibit-bibit siswa, khususnya di Madura menuju liga dunia 2050 nanti,” terangnya.


Mahasiswa yang telah menempuh lima semester itu juga berharap agar peserta tidak hanya mahir di bidang akademik saja. “Tidak hanya berpotensi dibidang akademik, tetapi memiki keahlian lain yang dapat berguna di masa depan,” ujarnya. (Din/Dul)

Jumat, 06 Oktober 2017

UKM keluhkan Dana Kemahasiswaan yang Sulit Diakses

by
Ilustrasi: google.co.id
WKUTM –  Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Universitas Trunojoyo Madura (UTM) keluhkan dana kemahasiswaan yang sulit di akses. Pihak Biro Administrasi, Akademik, Kemahasiswaan, Perencanaan dan Sistem Informasi (BAAKPSI) masih tidak dapat memberikan komentar apa-apa terkait hal tersebut. Pasalnya anggaran dana yang disediakan untuk kemahasiswaan memang belum dicairkan.

Rahayu misalnya, bendahara umum UKM Olahraga Taruna Jaya ini merasakan kerugian atas sulitnya pencairan dana kemahasiswaan oleh pihak BAAKPSI. ”UKM saya sebentar lagi akan melakukan diklat namun sampai saat ini dananya belum cair 70%, saya hanya dijanjikan saja,” ujar mahasiswa asal Sidoarjo tersebut.

Tidak hanya itu, Paduan Suara Golden juga merasakan dampak dari kesulitan pencairan dana kemahasiswaan ini. Rafelita salah satu anggota PS Golden mengaku bahwa dana yang diberikan terkesan lama ”Saat mengikuti Choir National Festival tingkat nasional di Universitas Diponegoro, Semarang bulan lalu.  Uang kampus lama cairnya, jadi terkesan pelit untuk memberi uangnya,” ungkapnya (05/10).

Menanggapi hal tersebut, Supriono selaku kepala BAAKPSI menuturkan saat ini masih belum ada anggaran dana untuk kemahasiswaan. ”Seharusnya dana memang tersalurkan dengan baik, tetapi saat ini kami masih belum memiliki dana karena anggaran dari pusat belum cair, jadi memang terkendalanya disitu,” tuturnya ketika ditemui diruang BAAKPSI.

Senada dengan BAAKPSI, pihak Biro Administrasi Urusan Keuangan (BAUK) juga belum bisa memberi solusi apa-apa. ”Saya tidak tahu, dan tidak bisa memberi solusi apa-apa. Bagian BAUK hanya bertugas sebagai perantara, mediator bagi  BAAKPSI dan Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan (BPPK) agar dana dapat berjalan. Masalah cair atau tidaknya itu nanti langsung ke pihak BAAKPSI” jelas Idar Ariadi, selaku Kepala Bagian BAUK. (Rdz/Aww)

Minggu, 01 Oktober 2017

Menyiasati Rasa Malas Membaca Dengan Hal kecil

by

WKUTM - Prosesi wisuda ke XXI yang digelar Universitas Trunojoyo Madura (UTM) di Gedung Pertemuan menjadi momen yang tidak akan dilupakan oleh Kharisma Wati. Pasalnya, dalam kegiatan tersebut dirinya dinobatkan sebagai wisudawan terbaik dengan Indeks Pretasi Komulatif (IPK) 3,94.

Menurut Kharisma, prestasi yang dicapainya tidak lepas dari kebiasaannya membuat catatan-catatan kecil saat dosen memberi materi. Selanjutnya catatan tersebut ditulis kembali dengan rapi sepulangnya ke rumah kos. Hal kecil itu terbukti bermanfaat, sebab, gadis berusia 22 tahun tersebut mengaku bisa mempelajari dan memperdalam materi kuliah dengan kegiatan itu.

Selain dari hal tersebut, Kharsima juga mengaku menulis catatan-catatan materi kuliah di bukunya dengan semenarik mungkin. Salah satu caranya  dengan menulis materi-materi yang telah dirangkumnya dengan bolpoin yang berwabeda-beda warnanya. Hal-hal semacam itu Kharisma lakukan untuk menyiasati rasa bosan ketika harus kembali membaca materi kuliah yang dicatatnya.

”Memang sih kegiatan-kegiatan kecil itu seperti memakan waktu. Tetapi, justru dengan cara yang demikian saya bisa menyiasati rasa malas saya untuk membaca ulang materi kuliah,” terang wisudawan asal Desa Ketileng, Malo, Bojonegoro tersebut.

Lulus dengan predikat sebagai wisudawan terbaik, membuat Kharisma berhasrat untuk terus melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi. Bahkan, dirinya memiliki keinginan untuk meraih beasiswa untuk studi ke luar negeri. Terlebih orang tua dan keluarga menyerahkan keputusan sepenuhnya pada Kharisma sendiri.

Selanjutnya dia berharap agar UTM kedepannya semakin maju dan lebih mampu mencetak generasi yang unggul dan membanggakan. Selain itu riset-riset yang dilakukan mahasiswa UTM semakin banyak dan berkualiatas agar bisa bersaing dengan kampus besar lainnya.


Maka dari itu dia berpesan kepada segenap mahasiswa UTM agar tetap semangat menjalani kuliahnya. Selalu fokus dan bertanggung jawab serta tidak pesimis dengan keadaan dan latar belakang hidupnya. ”Kepada semua mahasiswa saya harap terus bersemangat kuliah dan tidak pesimis meskipun berangkat dari desa. Tetap fokus kepada tujuan yang hendak diraih serta tidak melupakan tanggung jawabnya sebagai mahasiswa” pungkasnya. (Juk)

Sastra