Selasa, 06 Mei 2014

PERJALANAN

Oleh : Diyan

Tepat pukul 14.00 WIB aku berangkat ke sekret untuk bersiap melaksanakan tugas ke luar kota. Ku ketok pintu kayu itu dengan suara yang cukup pelan, ada seorang yang menjawab kemudian kubuka pintu itu, aku mengira kalau aku sudah terlambat ternayata aku mungkin datang terlalu awal. Sambil menunggu teman-teman yang lain, aku pergi keluar dengan temanku sebut saja dia Aji yah namanya memang Aji. Kami keluar untuk membeli seuatu dengan menggunakan motor senior kami. Saat mau kembali ke sekret Aji melihat jarum menunjukkan ke arah huruf E pada pojok bawah spedometer motor. Dia tertawa sambil berkata “piye yan nek ra nutut? (gimana yan kalau ndak sampai?)”, “yo gak eruh ji. Pokok.e kudu sampe (yah ndak tau ji, pokoknya harus sampai)” jawabku. Tapi untungnya kami sampai disekret.

    Hari sudah semakin sore, matahari juga mulai berwarna merah. Kapan ini berangkatnya? Apa nanti tidak terlalu malam? Tanyaku dalam hati. Tidak lama kemudian kami berangkat menuju pelabuhan. Kami berangkat terpisah dengan salah satu senior kami, terdengar suara bel dari kapal yang tandanya kapal akan segera meninggalkan pelabuhan bertepatan dengan datangnya satu senior kami. Kami berusaha untuk ke kapal yang hendak meninggalkan pelabuhan itu, namun sayang kami sudah terlambat dan kapal sudah pergi. Mau tidak mau kami harus menunggu kapal berikutnya.

Angin laut yang sepoi-sepoi mengiringi perjalanan kami. Kami dari Madura berangkat hanya empat orang, aku, Aji, dan kedua seniorku sebut saja mereka mas GS dan mas Mbon. Pemandangan sore itu tidak cukup bagus, karena matahari yang kemerahan itu tertutup oleh awan yang membuatnya tak nampak hanya sinar-sinarnya yang terlihat.
Setelah sampai di pelabuhan tanjung perak Surabaya, kami berjalan menuju tempat berhentinya bus. Ada 3 sampai 4 bis yang ada di terminal, kami berempat maniki bis warna putih yang tidak ber AC itu. “Nanti mampir dulu yah di rumahnya mas Bjt” kata mas GS pada kami. Kami manggut-manggut. Bis berjalan cukup lama. Didalam bis aku tidak banyak bicara, kenapa? Entah aku juga tidak tau, mungkin karena bingung mau bercakap-cakap tentang apa. “Ciye.. ciye yang lagi bertengkar” kata mas mbon padaku dan Aji. “ndak mas” jawabku barengan dengan Aji. Yah keadaan ini membuatu bosan juga, dan akhirnya kami mulai bercakap. “Nanti kita berangkat bareng sama temen-temen dari Makasar dan Banjarmasin” kata si mas. Aku hanya manggut-manggut, “nanti gandol yah” tambah mas GS. Eh? Gandol? Aku sempat kaget dengan itu, tapi tak apalah toh aku juga pernah gandol. Kemudian bis berhenti di pinggir jalan, tepatnya di Jln. A Yani, mas GS mengajak kami turun disini. Setelah turun dari bus kami berjalan ke rumah mas Bjt. “rumahnya dimana mas? Masih jauhkah?” tanyaku pada mas GS, “disana bentar lagi sampai kok” jawabnya. Kami trus berjalan, sebentar laginya mana? Dari tadi kok ndak sampai-sampai? Kataku dalam hati. Kemudian kami menyebrangi jalan dan menuju warung pinggir jalan, disana ada mas Bjt dan banyak lagi orang. Kami bersalam-salaman sambil memperkenalkan diri, sebut nama dan sebut asalnya dari mana. Aku kira yang ikut rombongan kami hanya 4 sampai 6 orang ternyata lebih dari itu. kami beristirahat sebentar di warungnya mas Bjt. Kami makan, minum, ngobrol dengan teman-teman yang lain juga, namun aku banyak diam. Yah beginilah memang kalau baru kenal orang yah banyak diemnya.

Jam sudah menunjukkan pukul 21.00 WIB, tak mau mengulur-ulur lagi waktu kami semua berangkat menuju Mataram, dimana Mataram adalah tempat berlangsungya Seminar nasional, Kongres XII dan PPMI awards 2014. Kami yang tadinya dari Madura hanya berempat, sekarang kami ber 17, dan semua itu adalah pria hanya aku wanita yang ada dirombongan itu. hal itu tidak membuat kecil hatiku, namun malah membuatku berfikir, tak apalah sekrang kan jamannya emansipasi wanita. Kami berjalan mencari kendaraan yang sekirnya bisa mengangkut kami ke Banyuwangi atau mungkin bisa langsung ke Mataram. Dari Surabaya kami berjalan terus sampai kami tiba di Sidoarjo, masih belum ada kendaraan yang mau membantu kami. Karena sudah berjalan cukup jauh dan tidak ada kendaraan yang bantu kami, akhirnya kami memutuskan untuk naik angkutan umum. Tidak sesuai dengan rencana kita. Ini karena kami belum menemukan tempat pemberhintian atau trafic light yang strategis untuk mencari gandolan atau tumpangan. Setelah naik angkutan umum kami turun di bundaran pasuruan, tempat ini cukup strategis untuk mencari gandolan, karena banya truk-truk yang berhenti disini untuk makan, ngopi atau hanya sekedar beristirahat. Banyak sekali kendaran yang lewat jalan ini, terutama truk-truk. Namun meski banyaknya lalu-lalang kendaraan truk atau sejenisnya malah membuat kita susah untuk mencari gandolan, kenapa? Karena yang ke arah banyuwangi dan sejurusan itu rata-rata kendaraan sudah dimuat oleh muatan. Tak ada tempat untuk kami jika gandol di kendaraan yang ada muatannya.

Beruntung ada sopir truk yang mau ngankut kami, meski hanya sampai Probolinggo. Saat naik ke truk, maunya aku naik dibelakang namun tak diperbolehkan sopir akhirnya aku duduk depan, aku tak hanya duduk sendiri namun dengan mas GS. Tak tau seberapa lama perjalanan ini, yang aku tau mataku sudah mulai berat, serasa ada magnet yang menarik mataku untuk tertutup.

Kurang lebih tiga jam perjalanan kami dari pasuruan ke Ponorogo. Dan pak supir tadi meneurunkan kami tidak jauh dari trafic light. Setelah kami turun, kami berjalan menuju trafict light. Menunggu truk yang tidak membawa muatan berhenti. Cukup lama kami di sini,namun tak kunjung ada truk yang mau mengangkut kami. Kemudian kami memutuskuan untuk berjalan. Jam menunjukkan pukul 02.00 dini hari, jarang sekali terlihat lalu-lalang kendaraan. Sampai kapan kami berjalan terus?!?! Sesekali kami berhenti untuk beristirahat sebentar. Berjalan... kami berjalan... dan berjalan.. tak menemukan satupun kendaraan yang sekiranya bisa kita tumpangi. Saat kami bersitirahat disebuah perempatan ada pak polisi yang menghampiri kita. Beliau bertanya hendak kemana? Ke Mataram menghadiri seminar jawab kami, mau cari kendaraan juga. Beliau menyarankan untuk naik kereta, kami disuruh jalan trus, nanti ketemu sama stasiun, naik kereta ndak sampai Rp. 20000,- katanya. Kemudian kami berjalan lagi menuju stasiun. Lesu, letih, lelash, ngantuk semua jadi satu. Jarak dari kantor polisi tadi dengan stasiun cukup jauh. Akhirnya kamipun sampai distasiun, dibutuhkan waktu kurang lebih 3 jam untuk berjalan dari tempat kami diturunkan dari truk tadi. Kereta jurusan unntuk ke Banyuwangi datang pukul 05.00 WIB, sedangkan sekarang masih pukul 04.00 WIB. Dan mau tidak mau kami harus menunggu kereta.

Langit yang tadinya gelap mulai terang, kemudian kami naik ke kereta yang sudah datang itu. setelah menemukan kursi tempat duduk yang sesuai dengan tiket aku pun terlelap dalam duduk. Perjalanan dari Ponorogo sampai ke Banyuwangi memakan waktu lima jam. Dengan kondisi badan yang sudah capai dan dengan posisi tidur seperti itu aku terbangun ditengah-tengah perjalanan karena merasa tidak nyaman, dua sampai tiga jam cukuplah untuk bersitirahat tidur. Aku melihat sekelilingku, semua pada tertidur pulas, yah mereka juga mungkin kelelahan. Kulihat pemandangan diluar dari jendela kereta api, terlihat bukit-bukit, ada juga sawah-sawah dan banyak dedauan hijau yang menyejukkan mataku. Cuacanya mendung, tak tampak matahari yang biasanya menyinari apapunyang dibawahnya.

Aku mulai bosan didalam kereta, tak ada teman bicara hanya ada aku sendiri yang terbangun saat itu. dudukpun mulai tak nyaman. Saat kereta berhenti di salah satu stasiun Jember, aku teringat oleh sahabatku yang berada di Jember. Ingin sekali turun disini dan menemui sahabatku. Mungkin saja aku bisa namun tujuanku bukan berkunjung ke rumah sahabatku disini. Kemudian kereta mulai bergerak menjauh melewati stasiun ini, aku hanya bisa meratapi papan tulis yang bertuliskan stasiun Jember.

Beberapa lama kemudian sampailah kami di stasiun Banyuwangi. Kami turun dari kereta dan disambut oleh awan yang meneteskan tetesan air. Setelah keluar dari stasiun kami mampir dulu kewarung dekat stasiun untuk ngopi dan makan-makan jajanan yang berjajar dimeja. Setelah cukup kenyang kami melanjutkan perjalanan ke pelabuhan ketapang. Pelabuhannya tidak jauh dari stasiun, jadi tidak membutuhkan waktu lama untuk kesana. setelah membeli tiket kami naik ke atas kapal. Kapal ini merupakan kapal untuk angkutan kendaraan. Untuk menuju mataram kami juga mencari gandolan disini, sudah ada dua supir truk yang bersedia untuk mengangkut kami, namun tidak semua dari kami yang bisa bareng dan kami dibagi menjadi beberapa kelompok. Rencana dari pak supirnya nanti “setelah turun dari kapal nanti kalian jalan saja, nanti kita ketemu di ujung jalan”  katanya. Penyebrangan dari ketapang Banyuwangi ke Gilimanuk Bali tidaklah lama, akhirnya kami sampai. Setelah keluar dari kapal kami berjalan keluar pelabuhan. Banyak sekali yang menawari kami bus. Namun kami menolak. Kami tetap berjalan mengikuti kernet sopir truk. Namun yang menawari kami bus sebut saja mereka calo tetap bersikeras agar kami menaiki busnya. Samapai mereka mengancam “awas saja kalau kalian naik truk, aku lihat trus kalian” katanya. Kami beralasan “nanti kami dijemput tapi diluar sana, kami jalan dulu pak”. Jalannya cukup jauh. Calo itu ternyata tidak bermain-main dengan perkataan tadi, calo itu mengawasi kami trus. Kami tetap berjalan jauh.. jauh.. dan jauh sampai tak terlihat oleh calo itu. beruntung pak sopir truk itu masih menunggu kami. Mas-mas menghampiri pak supir tadi yang ngopi diwarung, aku menunggu di tepi jalan dekat truk parkir. Beberapa saat kemudian pak supir meninggalkan warung itu dan naik ke truknya. Tak ada komando dari seniorku, aku bingung. Dan truk itu pergi maninggalkan kami. Setelah truk pergi, kuhampiri seiorku. “Kenapa mas?” tanyaku. “sopirnya minta bayaran, jadi gak usah nebeng. Sama aja bohong” jawabnya. Para mas-mas sedang rapat untuk bagaimana nanti kita sampai ke Mataram. Hari sudah mulai sore *lagi* kami masih tetap tak bergerak pergi dari warung itu. perutku  juga sudah mulai lapar karena hari ini hanya terisi oleh subungkus roti. Setelah rapat selesi kami makan bersama, beli beberapa bungkus, kemudian dari beberapa bungkus tadi disatukan dan kami makan bersama-sama. Meski mendapat porsi yang tidak banya  tapi tetap senang dan merasa kenyang *mungkin*.

Selesai makan beberapa mas-mas bergegas mencari bus. Tidak lama bus kemudian datang, terlihat mas-mas sedang bernegoisasi dengan kernet busnya. Mungkin sudah ada kesepakatan yang dibuat mas-mas memanggil kami untuk menaiki bus itu. Setelah semua naik bus, bus berangkat menuju pelabuhan padang bai. Rasa lelah itu mulai menghampiriku, tanpa sadar aku tertidur. Beberapa jam kemudian aku terbangun, hari sudah mulai gelap. “masih lama kah ji?” tanyaku pada Aji “iyo, ini aja belum sampai Denpasar” jawabnya. “padahal sudah dua jam lebih belum sampai” gumamku. Banyak sekali pura-pura disini, yah jelas lah lah wong ini di Bali. Terlihat pantai dari kejauhan “wah bagus, sayang sunsetnya ndak terlihat” ucapku pada diri sendiri. Tidak hanya pantai yang aku lihat dari kejauhan namun juga bukit-bukit dan hutan. Jalan yang dilewati bus cukup ramai meski hari semakin lama semakin malam. Aku mulai bosan, capek sekali duduk, ingin sekali aku beridiri dan berlari-lari karena. Dudukpun tak nyaman. Dan aku memutuskan untuk tidur lagi.

Saat terbangun lagi kami sudah di Denpasar. Untuk sampai ke pelabuhan Padang Bai dari Denpasar dibutuhkan waktu satu sampai dua jam. Waktu sudah berlalu lama, akhirnya sampailah kami di Padang Bai. Sebelum masuk ke pelabuhan kami mampir dulu di warung tak jauh dari pelabuhan. Mas-mas pada beli-beli makanan untuk dimakan di kapal nanti, kenapa beli disini? Karena nanti dikapal makanannya di jual mahal. Tidak hanya beli-beli tapi kami juga beristirahat. Terlihat diraut muka mas-mas kalau mereka capai, tidak hanya mas-mas saja sih tapi aku juga. Saat beristirahat diwarung sambil ngopi, aku hanya diam berdiri. “sini loh duduk gak capek ta?” kata salah satu mas kepadaku, “ndak mas, capek duduk” jawabku sambil senyum. “makan diy, gak ambil roti?” tawar mas yang lain lagi. Kujawab dengan gelengan dan senyuman. Sebenarnya tak ada selera buat makan mungkin karena capek.
Setelah selesai ngopi kami melanjutkan perjalanan. Setelah beli tiket kapal kami segera menuju ke kapal, karena sebentar lagi kapal akan berangkat. Tak menyangka sudah jam 23.00 WITA, “wah berarti tai perjalan dari gili manuk ke padang bai lima jaman” ucapku pada diri sendiri. “mas ini nanti nyampeknya berapa lama?”, “lima jam mungkin” jawab mas-mas. Terlalu banyak waktu lima jam untuk berpindah-pindah tempat, yah cukup dan sangat melelahkan. Ombak laut malam ini tidak terlalu besar. Kurebahkan tubuhku dilantai yang berada di dek paling atas, “woah leganya akhirnya bisa tiduran juga”. Tiduran hanya berbantalkan tas tanpa alas. Tak lama kemudian aku terlelap. Selama perjalan dari padang bai ke Mataram aku hanya tidur. 30 menit sebelum sampai di Mataram aku dibangunkan oleh suara dari speaker yang memberi pemberitahuan bahwa sebentar lagi kapal akan sampai di Mataram. Saat terbangun kulihat sekeliling mas-mas juga masih tidur. Aku duduk diam, lama-lama angin yang berhembus semakin dingin. Gigiku gemetar saking dinginnya. Rasa dingin ini sampai terasa ketulang-tulangku. Akhirnya kapal sampai di pulau Lombok. Kami berjalan mau keluar dari pelabuhan. Kemudian kami bertemu orang yang memaksa lami untuk manaiki kendaraanya. Padahal kami sudah bilang kalau kami dijemput, woah pokoknya banyak sekali lah alasan-alasan orang itu agar kami naik mobilnya. Tak lama kemudian mobil jemputan kami datang. Namuan orang itu masih saja bersikeras agar kami naik mobilnya. Dari pada ribut kami bernego dan beberapa dari kami naik ke mobil orang itu. belum sampai tempat tujuan mobil yang mengangkut beberapa teman kami berhenti dan menurunkan mereka. “itu loh mas premannya pelabuhan” kata mas supir yang menjemput kami “sebenere tadi mau tak ajak berantem itu orang, tapi yah sudah lah dari pada ribut” kata mas seniorku. Dan mas-mas yang diturunkan dari mobil preman itu berpindah naik ke mobil jemputan.

Tidak lama kemudian kami sampai di tempat tujuan. Hari sudah mulai siang. Perjalanan dari Madura ke Mataram memakan waktu dua hari satu malam. Saat mas-mas sarapan aku malah pergi untuk mandi, yah beberapa hari waktu perjalanan memang tak ada waktu untuk mandi. Mumpung ada kesempatan mending mandi dulu, pikirku.
Disini sekarang tidak hanya kau yang perempuan namun ada juga mbak-mbak yang lain. Yang aku kenal Cuma mbk yang dari Jogjakarta, karena beberapa waktu lalu mbk dari Jogjakarta sebut saja mbk Nin ikut acara di Madura. Mbk Nin mengajak untuk jalan-jalan dan mencari sarapan, aku ikut saja dari pada menganggur. Setelah cari sarapan kami balik ketampat tadi. Sekitar pukul 9 lebih panitia mengajak kita berpindah tempat untuk memulai acara. Semua peserta diangkut ke tempat berlangsungnya acara. Banyaknya perserta dengan kendaraan yang dipersiapkan panitia tidaklah cukup, karena jarak dari tempat pertama ke tempat selanjutnya tidaklah dekat. Jadi kendaraannya pun bolak-balik untuk menjemput peserta yang masih di tempat pertama. Setelah semua peserta sudah sampai ditempat dilaksanakannya acara. Beberapa jam kemudia acara akan dimulai. Acara pertama adalah seminar nasional dengan dua tema yang berbeda. Peserta yang hadir di acara ini belumlah semua, karena beberapa masih dalam perjalanan ke Mataram. Acara berjalan cukup lancar. Setelah selesai seminar waktunya isomah.

Saat malam tiba aku diajak oleh mas-mas untuk ngopi dipinggirjalan depan tempat acara. Aku bertemu banyak orang dari berbagai daerah yang berbeda. Aku bingung menghafal nama mereka, karana saking banyaknya. Setelah ngopi bareng, acara mau dimulai lagi, dan peserta bergegas ketempat berlangsungnya acara. Acara malam ini adalah acara santai yaitu acara semacam pensi diamana perwakilan setiap LPM menampilkan sebuah tampilan. Setelah acara selesi peserta bubar dan pergi ke ruangan untuk tidur.

Besoknya... peserta bangun telat dan akhirnya acara juga molor. Setelah sarapan acara baru dimulai. Acara dimulai kira pukul 10.00 WITA. Matahari cukup menyengat kulit. Acara hari ini adalah PPMI Award 2014, dimana nanti ada dua perwakilan dari setiap kota untuk melakukan game. Game ini semacam siapa yang cepat atau dapat menjawab pertanyaan dari juri dia yang berhak lolos ke sesi berikutnya, tentunya dengan jawaban yang paling banyak dan benar. Setelah acara selsei sekarang isomah. kemudian sehabis isya’ acara baru dimulai lagi. Acara malam ini adalah sesi tanya jawab dari sipembawa materi dan peserta. Acara berlangsung cukup lama. Setelah acara selsei peserta meninggalkan tempat berlangsungnya acara, hanya beberapa dari mereka yang tetap tinggal di tempat. Tak lengkap rasanya sehari tidak ngopi, yah begitulah anak LPM. Sehabis acara selesi aku diajak mas-mas untuk ngopi didepan. Tak terasa waktu berjalan dengan cepat. Malam sudah berganti dengan pagi. Kemudian aku balik ke ruangan untuk tidur. Jarum jam menujuk angka 05.00 WITA. Kubuka pintu kamar, mbak-mbak masih pada tidur semua. aku mulai mengantuk dan tidur berbantalkan tas tanpa alas.

Sekitar pukul 08.30 WITA mbak Nin membangunkanku dan menyurukku untuk pindah ke kasur. Akupun bangun dan pindah kekasur. Tak lama kemudian mbk Nin membanungkanku lagi “deg, ini loh sarapan dulu”. “iyah mbk” jawabku tak jelas dalam kondisi mata masih tertutup. Beberapa menit kemudian mbak Nin membangunkanku lagi “deg ayo bangun acara mau dimulai”, “iyah mbk, mbk dulu aja nanti aku nyusul” jawabku. Tadi malam aku tidak sendiri baliknya namun dengan mbk dari malang sebut saja dia mbk Pia. Beberapa saat setelah mbk Nin berangkat, aku dan mbk Pia mengikuti. Yah acara sudah dimulai. Acara kali ini adalah acara Kongres yang dibuka oleh pengurus PPMI nasional. Acara kongres adalah acara inti dari acara yang diselenggarakan.
Saat waktu istirahatpun tiba. Para peserta banyak yang meninggalkan tempat acra berlangsung itu. mbk Nin mengajakku balik ke kamar. Dikamar tak hanya ada aku dan mbk Nin saja, namun juga ada mbk yang dari Surabaya, Semarang, Jogjakarta, Malang, Kediri dan masih banyak lagi. Disini kami sharing-sharing tentang berbagai macam hal. Seperti tentang bagaimana PPMI, LPM, kampus, bahkan tentang kehidupan masing-masing. Maklum perempuan kalau sudah berkumpul yah begitulah, tak tau dengan kaum laki-laki apakah juga sama?.
Matahari sudah berada di ufuk barat. Panitia menyurh peserta untuk mengemasi barangnya karena acara akan pindah. “Kok pindah-pindah mbk?” aku bertanya pada mbk Nin, “gak tau deg, aku lo udah pindah tempat ketiga ini” jawabnya “walah mbk” tambahku. Setelah semua peserta sudah mengemas barangnya, kemudian peserta diantarkan ke tempat selanjutnya. Setelah sampai ditempat selanjutnya, ada pemberutahuan dari panitia kalau acara akan dimulai sehabis isya’. Yah ada cukup waktu untuk bersiap-siap.

Acara dimulai kembali, acara malam ini adalah laporan pertanggung jawaban dari pengurus nasional, kemudian pembentukan prosedium untuk berjalannya sidang, dan pengesahan pasal-pasal berjalannya sidang. Acara selesai kurang lebih pukul 00.00 WITA dan peserta pergi tidur. Keesokan menjelang siang harinya acara baru bisa dimulai, seperti biasa acara dimulai tidak sesuai jadwal yang sudah ada dan akhirnya molor. Acara berlangsung kondusif. Acara hari ini berjalan sangat lama, acara selesai kira-kira pukul 02.00 WITA.
Sudah menginjak hari ke lima aku di Mataram, acaranya belum selesai. Yah dijadwal memang acara selesai paling lambat hari kamis, sekarang masih hari selasa. Acara hari ini juga molor, dan hari ini adalah acara pemilihan pengurus nasional periode selanjutnya. Namun acara ini bisa dibilang kurang kondusif, karena ada beberapa peserta yang meninggalkan acara yang sedang berlangsung. Namun dari kesepakatan yang sudah dibuat, sidang akan tetap berjalan apabila sebanyak *batas minimal LPM yang ikut acara sidang* hadir maka bisa dilanjutkan meski ada peserta lain yang keluar dari sidang. Akhirnya sidang selesai. Keesokaan haarinya dijadwal dari panitia adalah tour ketempat-tempat yang ada di Mataram. Ini bukanlah tour pariwisata untuk liburan namun tour untuk menambah pengetahuan kita tentang budaya dan adat yang ada di Mataram. Tempat yang kami kunjungi selain museum juga rumah adat yang sampai sekarang masih ditinggali oleh penduduk asli. Tidak hanya itu, kami juga melakukan pembersihan pantai.

Setelah tour selesei tak ada lagi alasan untuk tetap di Mataram, banyak dari peserta yang pulang meninggalkan Mataram. Bisa dihitung tinggal berapa yang masih tinggal. Suasana yang kemarin ramai oleh teman-teman sekarang menjadi sunyi, sepi rasanya. Malam inipun aku tidur sendiri, biasanya ada mbk-mbk yang juga tidur bareng. Tapi, mereka sudah pulang ke tempatnya masing-masing. Besoknya kami tak langsung pulang, kenapa? Karena kami menunggu kendaraan yang menjemput kami. Malamnya kami baru bisa meninggalkan Mataram. Kami balik dari Mataram bersama dengan mbk dari Jogjakarta, mas dari Makasar, Banjarmasin, Jember, Surabaya dan Tulungagung. Yang tadinya kami berangkat ber 17 sekarang pulang ber 12 dengan orang yang berbeda pula.
Ombak malam ini cukup besar, sampai-sampai kapal bergetar dengan keras. Meski kondisi seperti itu aku tetap terlelap, yah karena capek. Kapan aku ndak pernah capek itu? aku heran sendri dengan diriku. Kami sampi di Padang bai sekitar pukul 05.00 pagi. Beberapa dari kami mendapat tumpangan truk menuju ke Surabaya dan ada juga yang naik bus. Hanya tersisa aku dan 5 lainnya. Kami aku dan yang lain tidak langsung pergi dari padang bai, namun kami istirahat di masjid dekat pelabuhan. Tak lama di masjid kami pergi kewarung dekat pelabuhan, yah warung itu adalah warung beberapa hari yang lalu kami datangi saat mau berangkat ke Mataram. Kami menunggu jemputan mas dari Bali. kami menunggu cukup lama yah sekitar dua jam. Setelah sekitar dua jam sebut saja mas Nic sampai di padang bai. Selama perjalan menuju Denpasar aku tidur didalam mobil. Sejam kemudian aku terbangun, kami belum juga sampai. Aku melihat banyak orang berpakaian putih dipantai, yah mereka melakukan sembahyang karena sebentar lagi adalah Nyepi yaitu hari besar umat Hindu.

Sampailah kami di sekret salah satu LPM di Bali. aku kira langsung balik ke Madura ternyata mampir dulu ke sini, pikirku dalam hati. “Mas kapan pulang?” tanyaku pada mas-mas, “iyah nanti pulang kok” jawabnya. Nanti? Nantinya kapan yah? Tanyaku dalam hati. Selain untuk silaturahmu disini kami juga numpang untuk beristirahat. Malam pun tiba, kapan ini pulangnya? Tanyaku dalam hati. Tak puas dengan pertanyaanku sendiri yang tak ada jawaban, langsung aku bertanya pada mas-mas, “mas ini jadi pulang kapan?”, “ini masih nunggu DD” jawabnya “loh mas DD pulang sekarang ta mas?” “iya”. Walah ternyata dari tadi ndak pulang-pulang karena nunggu mas DD datang to, gumamku dalam hati. Sekitar pukul 00.00 WITA kami meninggalkan sekret, dan kami diantarkan oleh teman-teman dari LPM Bali ke trafic light. Tahu sendirikan untuk apa kita kesana, yah untuk cari gandolan untuk pulang. Kali ini kami pulang tidak hanya berlima namun menjadi ber 10. Mbak-mbak dari Manado, yang tadinya juga di Bali *tiba lebih dulu dibanding kami* memutuskan untuk ikut rombongan kami. Lama tak mendapatkan gandolan juga, akhirnya kami naik angkot yang kebetulan lewat. Setelah itu kami turun di tempat biasanya bis berhenti meski itu mungkin bukan halte atau sejenisnya. Disini ada dua bis aku menunggu komando dari mas-mas untuk naik ke bis yang mana. Setelah ada komandu kami naik bis yang ada dibelakang. Sesudah kami naik, aku melihat dua supir bis itu bertengkar memperebutkan penumpang. Kejadian ini bukan pertama kali aku lihat. Ternyata disini itu para supir-supir angkutan umum kalau mencari penumpang itu memaksa, yah itu gambaranku tentang supr-supir disini yang aku tahu.

Perjalanan Denpasar menuju gili manuk tidaklah cepat, didalam bis aku tidur. Yah lumayan lah untuk beristirahat. Kurang lebih tiga jam kamipun sampai di pelabuhan Gili manuk. Setelah membeli tiket kami langsung naik kapal. Perjalanan dari gili manuk ke ketapang tidaklah selama perjalanan dari pelabuhan padang bai menuju Mataram. Sekitar pukul 9.30 WIB kami sampai di Ketapang, beberapa mas-mas pergi mencari gandolan, namun tak ada yang sampai Surabaya. Lama kami menunggu kemudian kami memutuskan untuk ke stasiun kereta api. Kami menunggu datangnya kereta api di salah satu warung dekat stasiun. Cukup lama kami menunggu karen kereta api datang pukul 12.40 WIB. Setalah waktunya tiba kami segar ke stasiun. Hari ini kereta penuh dipadati oleh penumpang. Perjalanan kereta ini memakan waktu yang sangaaaaaaaaaaattttt laammmaaaa. Ditiketnya tertulis juga jam tiba kereta di tempat tujuan, disitu tertlis tiba pukul 21.24 WIB. Woah sangat lama buakan?? Kurang lebih 10 jam didalam kereta duduk. Apa tidak bosan itu? unruk mengurangi rasa bosan, beberapa jam didalam kereta aku tidur, stelah capek tidur, aku terbangun kemudian ngobrol dengan teman-teman yang lain. Dengan berjalannya waktu yang panjang itu akhirnya kita sampai di Surabaya sesuai jadwal yang ada ditiket kereta api. Kemudian kami berjalan menuju rumahnya mas Bjt. Jaraknya tidak terlalu jauh namun juga cukup menguras tenaga. Sampi juga di rumah mas Bjt, ternyata disana juga ada mas-mas SM. Benar-benar lelah, dan aku tidur lebih awal. Keesokan harinya aku pamit dengan mas-mas yang lain untuk pulang ke kampunghalamanku. Dan waktu itulah aku berpisah dengan teman-teman yang lain. Dalam perjalanan pulang aku salalu teringat dengan perjalanan ke Mataram ini. Lelah, letih, sedih senang, bosan dan senang aku lalui dengan teman-teman yang lain. Aku tak akan bisa melupakan perjalanan ini. Mungkinkah aku bisa bertemu dengan teman-teman yang lain? Bisakah bercanda bersama mereka lagi? Kapan waktu itu bisa terwujud? Banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang muncul dibenakku. Yah aku hanya bisa berdoa semoga bisa bertemu teman-teman lagi. Banyak pelajaran, pengetahuan apapun yang belum pernah aku tahu bisa ku ketahui didalam perjalanan ini.

Sastra