Sabtu, 27 April 2013

Globalisasi Budaya Madura

Globalisasi merupakan perkembangan kontemporer yang mempunyai pengaruh dalam mendorong munculnya berbagai kemungkinan tentang perubahan dunia yang akan berlangsung. Pengaruh globalisasi dapat menghilangkan berbagai halangan dan rintangan yang emnjadikan dunia semakin terbuka dan saling bergantung satu sama lain. Bisa dibilang bahwa globalisasi membawa perspektif baru tentang konsep "Dunia Tanpa Batas" yang saat ini menjadi realita dan sangat mempengaruhi perkembangan budaya dan membawa perubahan baru. Menurut SELO SOEMARDJAN, Globalisasi adalah terbentuknya sistem organisasi dan komunikasi antar masyarakat di seluruh dunia untuk mengikuti sistem dan kaidah-kaidah yang sama. Globalisasi membawa arus tersendiri bagi dunia secara umum dan madura secara khusus. Tak dapat dipungkiri, sebuah globalisasi memberikan banyak dampak yang mengikutinya. Dampak positif sebuah globalisasi dapat dilihat dari perubahan dan peningkatan ilmu pengetahuan, teknologi, pola pikir sehingga kebudaan yang diusung manusia akan semakin kompleks. Namun, disamping hal tersebut globalisasi memberikan dampak yang negatif yang begitu kuat. Mulai dari tergerusnya kebudayaan lokal menjadi kebudayaan kebarat-baratan karena kiblat sebuah arus globalisasi selalu saja diawali dari negara barat yang terkadang kebudayaannya tidak sesuai dan tidak dapat di Globalisasi sebagai tantangan: dari persoalan ancaman yang terjadi, sebagai warga masyarakat kita seharusnya mempunyai antisipasi. Banyak hal yang perlu dipertegas dalam menentang arus globaliasi ini, selain kita mempersatukan diri dalam satu kekuatan, yaitu budaya bangsa, juga bagaimana kita dapat menyerap nilai-nilai positif yang ada di wadah globaliasi ini sebagai bentuk kekuatan dalam memaknai sebuah nilai kebangsaan sendiri. Mau tidak mau, kita harus berani mengimplementasikan diri dalam sebuah prilaku yang tegas, disiplin, merawat lingkungan, tanggung jawab, kompetitif, kerja keras, penghargaan terhadap orang lain, sosial, demokratis dan semacamnya, sehingga untuk menuju kearah pertahanan budaya dapat kita satukan, khususnya budaya Madura yang telah membangun ciri dan warna bangsa Madura. Kita sepakat, bahwa yang dimaksud kebudayaan nasional adalah pertemuan dari puncak-puncak kebudayaan daerah. Tapi persoalannya, tiap kebudayaan daerah tidak memiliki kekuatan yang sama. Setiap kelompok etnik memiliki kekuatan yang berbada-beda, baik terkait dengan kekuatan sumber daya alam, sumber daya manusia, atau modal budaya yang dimilikinya. Kebudayaan daerah yang diyakini sarat dengan pesan-pesan filosofis, spiritualitas, moral dan sosial, sebagaimana ditemui diberbagai aktifitas seni dan tradisi masyarakat Madura. Seni tradisi yang merupakan ekspresi hidup dan kehidupan masyarakat pendukungnya, serta menjadi sumber inspirasi gerakan spiritual, moral dan sosial. Dalam lingkaran kecilnya, seni tradisi terbukti memiliki peran signifikan dalam mencairkan ketegangan sosial. Dibalik keterbatasan pranata lokalnya, seni tradisi juga mengandung makna universal – yang paralel dengan agama – membawa pesan mulia bagi keluhuran budi manusia. Konon, etnik Madura memiliki kekuatan tersendiri, sehingga (seharusnya) dapat mempengaruhi kehidupan sosial masyarakat tanpa harus hawatir terhadap masuknya budaya diluarnya. Tapi persoalannya, apakah kebenaran kekuatan ini menjadi realitas bagi masyarakat Madura?. Ada lagi suatu pemikiran yang dikemukakan orang, yaitu kehidupan tradisi (kesenian, sosial dan lainnya) Madura merupakan satu-satunya yang memiliki nilai plus dan sebagai martabat bangsa Madura. Bahkan diimplementasikan setiap kelompok etnik Madura yang eksoduspun tetap mempertahankan nilai-nilai kemaduaraannya meski mereka hidup dalam kondisi budaya yang berbeda. Nah, dari sini kita perlu pahami bersama tentang apa yang dipahami sebagai orang Madura. Apakah indentivikasi kekerasan dan carok menjadi kekuatan indetitas etnik Madura. Atau nilai-nilai lain yang terkandung dalam kehidupan seni tradisi, peninggalan budaya, dan persoalan-persoalan kehidupan dibalik kekerasan dan carok itu. Atau apakah kita telah sepakat bahwa budaya Madura telah menjadi bagian vital bagi kehidupan masyarakatnya?. Atau kita biarkan saja, budaya yang konon adiluhung itu mengalir sendiri sesuai dengan perkembangannya?. Masalahnya, apakah kita pernah mengevaluasi diri dari kacamata budaya? Apakah kita masih pantas disebut sebagai masyarakat atau etnik Madura? Apakah sikap kita dalam kehidupan sehari-hari mencerminkan sikap manusia yang berbudaya Madura? Cerminan diri bangsa adalah bersumber dari individu-individu bangsa. Baik buruknya negara bersumber dari masyarakatnya. Untuk itulah fungsi norma dan nilai sosial tidak akan pernah tergantikan dan pudar fungsi-fungsinya. Penginternalisasian nilai dan norma mutlak dilakukan tiap warga negara untuk melindungi perilaku dan kearifan lokal budaya nasional.

      

           Globalisasi merupakan perkembangan kontemporer yang mempunyai pengaruh dalam mendorong munculnya berbagai kemungkinan tentang perubahan dunia yang akan berlangsung. Pengaruh globalisasi dapat menghilangkan berbagai halangan dan rintangan yang emnjadikan dunia semakin terbuka dan saling bergantung satu sama lain. Bisa dibilang bahwa globalisasi membawa perspektif baru tentang konsep "Dunia Tanpa Batas" yang saat ini menjadi realita dan sangat mempengaruhi perkembangan budaya dan membawa perubahan baru. Menurut SELO SOEMARDJAN, Globalisasi adalah terbentuknya sistem organisasi dan komunikasi antar masyarakat di seluruh dunia untuk mengikuti sistem dan kaidah-kaidah yang sama. Globalisasi membawa arus tersendiri bagi dunia secara umum dan madura secara khusus. Tak dapat dipungkiri, sebuah globalisasi memberikan banyak dampak yang mengikutinya. 

            Dampak positif sebuah globalisasi dapat dilihat dari perubahan dan peningkatan ilmu pengetahuan, teknologi, pola pikir sehingga kebudaan yang diusung manusia akan semakin kompleks. Namun, disamping hal tersebut globalisasi memberikan dampak yang negatif yang begitu kuat. Mulai dari tergerusnya kebudayaan lokal menjadi kebudayaan kebarat-baratan karena kiblat sebuah arus globalisasi selalu saja diawali dari negara barat yang terkadang kebudayaannya tidak sesuai dan tidak dapat di Globalisasi sebagai tantangan: dari persoalan ancaman yang terjadi, sebagai warga masyarakat kita seharusnya mempunyai antisipasi. 

            Banyak hal yang perlu dipertegas dalam menentang arus globaliasi ini, selain kita mempersatukan diri dalam satu kekuatan, yaitu budaya bangsa, juga bagaimana kita dapat menyerap nilai-nilai positif yang ada di wadah globaliasi ini sebagai bentuk kekuatan dalam memaknai sebuah nilai kebangsaan sendiri. Mau tidak mau, kita harus berani mengimplementasikan diri dalam sebuah prilaku yang tegas, disiplin, merawat lingkungan, tanggung jawab, kompetitif, kerja keras, penghargaan terhadap orang lain, sosial, demokratis dan semacamnya, sehingga untuk menuju kearah pertahanan budaya dapat kita satukan, khususnya budaya Madura yang telah membangun ciri dan warna bangsa Madura. Kita sepakat, bahwa yang dimaksud kebudayaan nasional adalah pertemuan dari puncak-puncak kebudayaan daerah. Tapi persoalannya, tiap kebudayaan daerah tidak memiliki kekuatan yang sama. Setiap kelompok etnik memiliki kekuatan yang berbada-beda, baik terkait dengan kekuatan sumber daya alam, sumber daya manusia, atau modal budaya yang dimilikinya. Kebudayaan daerah yang diyakini sarat dengan pesan-pesan filosofis, spiritualitas, moral dan sosial, sebagaimana ditemui diberbagai aktifitas seni dan tradisi masyarakat Madura. 

              Seni tradisi yang merupakan ekspresi hidup dan kehidupan masyarakat pendukungnya, serta menjadi sumber inspirasi gerakan spiritual, moral dan sosial. Dalam lingkaran kecilnya, seni tradisi terbukti memiliki peran signifikan dalam mencairkan ketegangan sosial. Dibalik keterbatasan pranata lokalnya, seni tradisi juga mengandung makna universal – yang paralel dengan agama – membawa pesan mulia bagi keluhuran budi manusia. Konon, etnik Madura memiliki kekuatan tersendiri, sehingga (seharusnya) dapat mempengaruhi kehidupan sosial masyarakat tanpa harus hawatir terhadap masuknya budaya diluarnya. Tapi persoalannya, apakah kebenaran kekuatan ini menjadi realitas bagi masyarakat Madura?. Ada lagi suatu pemikiran yang dikemukakan orang, yaitu kehidupan tradisi (kesenian, sosial dan lainnya) Madura merupakan satu-satunya yang memiliki nilai plus dan sebagai martabat bangsa Madura. 

           Bahkan diimplementasikan setiap kelompok etnik Madura yang eksoduspun tetap mempertahankan nilai-nilai kemaduaraannya meski mereka hidup dalam kondisi budaya yang berbeda. Nah, dari sini kita perlu pahami bersama tentang apa yang dipahami sebagai orang Madura. Apakah indentivikasi kekerasan dan carok menjadi kekuatan indetitas etnik Madura. Atau nilai-nilai lain yang terkandung dalam kehidupan seni tradisi, peninggalan budaya, dan persoalan-persoalan kehidupan dibalik kekerasan dan carok itu. Atau apakah kita telah sepakat bahwa budaya Madura telah menjadi bagian vital bagi kehidupan masyarakatnya?. Atau kita biarkan saja, budaya yang konon adiluhung itu mengalir sendiri sesuai dengan perkembangannya?. Masalahnya, apakah kita pernah mengevaluasi diri dari kacamata budaya? Apakah kita masih pantas disebut sebagai masyarakat atau etnik Madura? Apakah sikap kita dalam kehidupan sehari-hari mencerminkan sikap manusia yang berbudaya Madura? Cerminan diri bangsa adalah bersumber dari individu-individu bangsa. 
Baik buruknya negara bersumber dari masyarakatnya.
      
Untuk itulah fungsi norma dan nilai sosial tidak akan pernah tergantikan dan pudar fungsi-fungsinya. Penginternalisasian nilai dan norma mutlak dilakukan tiap warga negara untuk melindungi perilaku dan kearifan lokal budaya nasional.

Top Ad 728x90