Minggu, 14 April 2019

Telatah

Telatah
Sementara kurang beberapa waktu
Tengah malam sudah di depan pintu,
Rapat sisir tanduk membuat jalan di rambutmu,
Diam-diam ada yang menjadi cerminmu.

Dia tak dipaku dinding
Atau siaga di wastafel kamar mandi,
Gigih menantimu memasang tali
Bra atau melepas kaos kaki.

Rekam warna-warna pagi bibirmu
Dan nyeri di sekujur rasa malumu,
Sementara kurang beberapa waktu
Diam-diam ada yang menjadi aku.

Kebuli
Ialah kebuli yang menambatkan kampung halaman di lidah. 
Masa kanak datang mengunyah, 
angin menggenggam panjang benang layang bapak 
dan aku memaku di talang sawah.

Perdu dan ilalang, 
aroma bambu belakang rumah minta dihirup ulang. 
Ibu menjahit pesanan baju, 
mesin berbunyi di alun tua kaki kiri kanan.

Burung-burung membuat sarang di dahan rendah. 
Aku suka memanjat pohon yang ditanam ibu. 
Bapak pulang mengaduk semen, 
kakak menangisi hidupnya sebagai gadis desa.

Kebuli seperti tanah penuh rempah. 
Menambatkan yang tiba-tiba datang, tiba-tiba hilang. 
Membuat jembatan yang disusun dari kunyah ke kunyah, 
kampung halaman pulang ke telan.



Moch. Didi Kurniawan 
Mahasiswa Program Studi Ilmu Hukum

0 komentar:

Posting Komentar

Sastra