Rabu, 14 Januari 2015

,

Degradasi Kepedulian Mahasiswa


Cover, Buletin Selebaran Edisi 15 Januari 2015
Tidak ada masa yang lebih menyenangkan selain masa awal-awal kuliah. Teman baru, dosen baru, pengalaman, petualangan dan tantangan baru. Semua serba baru sampai datanglah keresahan seputar dunia perkuliahan. Saya pikir, di perkuliahan ini saya dapat melakukan banyak hal berguna bersama-sama. Tapi, jangankan melakukan hal berguna untuk masyarakat. Bahkan untuk mengajak belajar bersama saja susahnya minta ampun. Saya pikir, penolakan teman-teman karena kesibukan masing-masing. 

Seiring waktu, saya mulai berpikir kalau kesibukan dengan tugas kuliah sampai keasyikan pada dunia baru ini sudah tidak wajar. Seakan tak ada hal lain yang harus dicapai selain mendapat IPK bagus dan perlakuan istimewa dari dosen. Bukankah seharusnya sebagai seorang mahasiswa, selain dituntut untuk dapat menguasai keilmuan di bidang yang digeluti, tapi bukan berarti harus acuh pada masyarakat sekitar. Sampai saat ini kepedulian mahasiswa pada masyarakat telah mengalami sebuah degradasi. Mereka lebih mementingkan kepentingan individu ketimbang kegunaan diri di masyarakat. Tuntutan akademik terkait dengan keputusan Permendikbud tentang SNPTN (Standar Nasional Perguruan Tinggi Negeri) yang mengharuskan mahasiswa S1 atau D4 lulus dengan batas waktu maksimal 5 tahun membuat mahasiswa dituntut untuk sesegera mungkin menyelesaikan kuliah maksimal 10 semester. 

Selain itu, akibat tuntutan Permendikbud tersebut membuat para mahasiswa ingin lebih menonjol dari lainnya dan menyebabkan sikap acuh antara sesama mahasiswa. Serta memicu persaingan tidak sehat. Selain itu, ketakutan akan persaingan di dunia kerja menjadi salah satu faktor kurangnya kepedulian sosial di kalangan mahasiswa. Anggapan tentang perusahaan besar hanya mencari mahasiswa dengan IP tinggi membuat mahasiswa hanya mengebu-ngebu mengejar nilai. Sedangkan ilmu yang didapat merupakan tanggung jawab besar untuk diaplikasikan dan sebisa mungkin bermanfaat bagi masyarakat. Namun, yang terjadi saat ini justru sebaliknya. Mahasiswa dirasa sangat kurang dalam pengaplikasikan ilmu yang mereka peroleh pada masyarakat. Semacam virus pseudo intelektual yang saat ini menjangkiti mahasiswa. 

Mereka merasa menjadi orang yang sangat pintar di masyarakat sehingga tidak perlu menghiraukan masyarakat sekitar. Padahal, ironisnya anggapan dan narsisme intelektual hanya di dalam pikiran dan tidak dapat dibuktikan di ranah praktis. Kritis dan pandai beragumen, memahami banyak wacana-wacana besar. Tapi, rasa-rasanya lucu bila melupakan hal-hal kecil yang semestinya berguna; melupakan masyarakat di sekitar mereka. Mahasiswa juga mahluk sosial Pada dasarnya manusia adalah makhluk sosial. Makhluk yang memerlukan orang lain atau sesamanya. Sehingga sebagai mahasiswa, sudah selayaknya memiliki rasa kepedulian atas sesama. Kesadaran akan saling membutuhkan harus tertanam di pikiran kita. 

Maka seharusnya dilakukan adalah meluangkan waktu sejenak untuk bercengkrama dengan sekitar dapat menjadi salah satu cara agar kepedulian pada masyarakat tidak hilang begitu saja. Seperti gotong-royong, kerja bakti, dan turut aktif dalam setiap kegiatan masyarakat. Kepedulian sosial dapat diterapkan dengan baik akan menghasilkan individu yang berbudi luhur. Namun, hidup bukan hanya budi luhur tapi kecerdasan dan budi luhur adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Kecerdasan tanpa budi luhur akan berakibat pada kejahatan atas orang lain. Sedang budi luhur tanpa kecerdasan hanya berujung pada kebodohan. Keselarasan antara budi luhur dengan kecerdasan akan membentuk individu yang hebat. 

Disadari atau tidak, melakukan kegiatan sosial yang merupakan salah satu bentuk kepedulian dan tak lupa dilandasi dengan tingkat kecerdasan yang tinggi akan menghilangkan penyakit acuh tak acuh. Citra kita akan meningkat di mata masyarakat dan lebih menonjol dari orang lain. 

Selain itu, kita akan mudah mendapat pekerjaan karena memiliki banyak relasi. Dan segalanya terjadi otomatis. Menyenangkan bukan?
Tidakkah penat dengan rutinitas perkuliahan yang memaksa kita untuk berpikir secara keras?
Bukankah diri dan lingkungan adalah sebuah mekanisme yang saling berhubungan?
Sudah semestinya jika kita saling mempedulikan.


Alvi Awwaliya, 
Anggota Baru LPM Spirit Mahasiswa 2014.

Sastra