Kamis, 28 September 2017

,

Buletin Sastra Kecubung Edisi 13


Kebebasan memeluk agama adalah salah satu hal yang palingasasi diantara hak asasi manusia. Sebab kebebasan agama langsung bersumber kepada martabat manusia sebagai mahluk Tuhan. Sehingga memunculkan agama-agama dengan Tuhan yang berbeda pula. Karena kebebasan memeluk agama inilah membuat bangsa Indonesia tidak menjadikan dasar negara sebagai negara dengan monoagama.


Acap kali manusia menganggap agama yang dipeluk nya adalah agama yang paling benar. Sehingga rasa paling benar ini memicu sikap untuk menjatuhkan agama lain dan berakhir dengan maraknya konflik. Padahal tujuan adanya agama adalah menciptakan kedamaian dalam hati umat manusia, sehingga terhindar dari kekacauan.

Agama sendiri merupakan sistem yang mengatur tata keimanan (kepercayaan) yang berhubungan langsung antara manusia dan pencipta-Nya. Namun kini, agama sering kali dibuat kedok untuk dirinya sendiri atau golongan tertentu guna mencapai keuntungan bagi golongan tersebut.

Dengan adanya terbitan buletin kecubung bulan ini dengan tema “Pseudo Religiusitas”, diharapakan memberikan pemahaman kepada pembaca melalui tulisan-tulisan agar mampu memberikan sikap toleransinya kepada agama lain. Karena pada dasarnya kita hidup di negara yang beraneka ragam budaya dan agama. Selain itu agar para pembaca tidak menggunakan agama sebagai alat untuk menguntungkan diri sendiri, menciptakan nama baik atau citra diri, dan tidak pula untuk membela suatu kaum disamping mendiskriminasi kaum lain.

Tema yang digarap dalam edisi ke tigabelas ini secara umum ingin memberikan ruang berpikir kepada pembaca bahwa agama bukan sebuah alat atau kambing hitam untuk memperoleh tujuan tertentu. Tetapi agama merupakan perantara antara pencipta dan ciptaannya untuk lebih saling mengenal.

Selamat Membaca!


0 komentar:

Posting Komentar

Sastra