Rabu, 13 April 2016

Videologis Persepsi Vol-8 LPM Spirit-Mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura

Resensi Novel : Anna Karenina Oleh: Ike Dewi Lestari Anggota LPM Spirit-Mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura 
Sinopsis

Novel tebal ini mengisahkan tentang kisah cinta rumit seorang wanita cantik bernama Anna Karenina. Sebagai istri dari lelaki cerdas kalangan atas, ia memiliki segalanya termasuk suami kaya yang sangat menyayanginya dan putra tunggal yang lucu juga menyenangkan. Hingga suatu hari cobaan itu menghantam keluarga Anna. Ketika ia menghadiri acara pesta dansa di kediaman Schcerbatskaya, Anna bertemu dengan lelaki muda tampan beribawa bernama Vronsky. Lelaki itu menyukai Anna dan tidak peduli akan perjodohannya dengan Kitty.

Hal ini membuat Kitty kecewa hingga suatu hari ia telah mendapatkan pengganti Vronsky, yaitu Constantine Levin seorang petani kaya yang berkarisma dan luar biasa. Disisi lain, cobaan mulai datang sedikit demi sedikit pada keluarga besar Anna. Suatu hari Anna sadar bahwa ternyata ia tidak mencintai suaminya melainkan Vronsky. Hubungan gelap yang ia lakukan mulai berani dimunculkannya secara terang-terangan. Ia lebih memilih dihina dan dikucilkan oleh masyarakat demi bisa hidup bersama Vronsky yang menurutnya adalah segalanya.

Suami Anna yang mulanya ingin menceraikan istri yang amat dicintainya ini memutuskan untuk merubah keputusannya. Semua itu membuat hidup Anna semakin merana karena harus berlama-lama diasingkan oleh masyarakat, tidak bisa bertemu dengan anaknya, juga tak bisa secara terang-terangan bersama Vronsky terus menerus. Cobaan berat yang bagaikan buah simalakama membuatnya mengakhiri hidup dengan menabarakkan diri pada kereta api, sesuai kematian mengerikan yang pernah ia lihat.

Novel yang ditulis pada abad 19 ini tidak sekedar ingin menunjukkan percintaan Anna dengan Vronsky ataupun Kitty dengan Levin. Lebih daripada itu, Tolstoy ingin menunjukkan bahwa perempuan pada masa itu benar-benar dianggap tak bisa apa-apa. Laki-laki mendominasi dalam segala bidang, sampai perempuan tidak boleh memilih lelaki yang harus dinikahinya. Perselingkuhan juga benar-benar dianggap tabu sehingga berakibat tekanan dari masyarakat yang luar biasa. Selain itu, jabatan dan harga diri juga dianggap sangat penting sehingga seseorang akan melakukan apapun demi mempertahankan semua itu.

Jika dihubungkan dengan kehidupan masyarakat Indonesia khususnya sebelum adanya emansipasi, wanita Indonesia juga mengalami hal yang hampir serupa. Bedanya, wanita Indonesia zaman dahulu tidak bisa hidup dengan banyak uang kecuali jika mau menjadi gundik Belanda. Wanita Indonesia, pada usia yang sudah dianggap pantas untuk menikah harus dipingit sampai ada lelaki yang datang melamar. Dominasi lelaki pada abad-abad itu memang luar biasa, patriarki sangat kental, dan wanita dituntut selalu patuh pada aturan lelaki.

Leo Tolstoy membungkus hal-hal tersebut dalam satu kisah cinta tragedy. Bahasanya lugas, tegas dan penuh simbol-simbol alam. Novel ini benar-benar layak untuk dibaca bagi siapapun yang mengaku mencintai sastra. Akan tetapi ada beberapa bagian yang membuat novel ini sedikit berat dan membosankan, yaitu ketika halaman-halamannya dipenuhi penjelasan tentang system pertanian di Rusia kala itu.

0 komentar:

Posting Komentar

Sastra