Rabu, 18 Maret 2015

BULETIN OPOSISI EDISI 16-28 MARET 2015

BULETIN OPOSISI EDISI 16-28 MARET 2015. LEMBAGA PERS MAHASISWA SPIRIT MAHASISWA UNIVERSITAS TRUNOJOYO MADURASalam Redaksi Keganjilan atas kecurangan yang dibiarkan, kesalahan yang dianggap biasa, kolusi yang makin dilestarikan, sedangkan korupsi dipandang lumrah, lantas keamanan mulai disepelekan, begitu juga keresahan yang makin dibiarkan, nepotisme semerbak seolah subur dan makmur. Ditempat yang penuh tipuan ketenangan yang seolah-olah tidak ada apa-apa. Padahal dibalik ketenangan tempat ini, tersembunyi banyak hal yang seharusnya kita ketahui malah disembunyikan dengan alasan keamanan. Informasi dimanipulasi untuk kepentingan pribadi, semua sepertinya menjadi oportunis bahkan apatis. Apa yang tidak menguntungkan bagi dirisendiri seolah dikesampingkan, sedangkan yang menguntungkan lebih didahulukan. Semakin hari semakin rancu, pihak yang seharusnya memberikan pelayanan maksimal malah membuat banyak pihak merasa tidak nyaman. Seperti ada yang disembunyikan dan disepakati bersama-sama untuk saling mencari keuntungan melalui kesepakatan menutupi fakta dengan kebohongan yang diamini bersama-sama. Pesimistis, tidak juga. Apatis, jangan dulu. Usahakan kita mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Bagaimana dengan Demonstrasi Kisruh Pemilihan Presiden Mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura 2015 kemarin. Sudah jelas-jelas melakukan kecurangan, tapi beraninya melakukan demo dan menebar ancaman. Tindakan nekad yang terjadi berulangkali, dan syarat keganjilan. Kesalahan yang terbukti dan keputusan yang sudah diberikan, malah ditawar dan dipermasalahkan. Emosi atau ambisi, yang mendasari terjadinya Demonstrasi Mahasiswa Pendukung Calon No.4 dalam Pemilihan Presiden Mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura 2015, untuk diikutkan kembali dalam pemilihan. Sedangkan Calon No.4 jelas-jelas sudah resmi di cabut hak politiknya karena telah melakukan kecurangan dengan menyelundupkan surat suara palsu pada saat proses pencoblosan berlangsung. Namun anehnya, kenapa sudah jelas melakukan pelanggaran, masa pendukung Calon No.4 masih nekad melakukan demonstrasi. Fanatisme atau apa, yang mendasarinya. Memang hal seperti ini bisa terjadi disini. Universitas Trunojoyo Madura bisa dikatakan sebagai Universitas paling fenomenal. Bagaimana tidak, hal yang pasti saja bisa dibuat tidak pasti. Entah dengan kompromi-kompromi atau lobi-lobi. Mungkin dengan ini kita lebih bisa mengingat salahsatu demonstrasi yang pernah terjadi di kampus tercinta kita. Salahsatunya, demonstrasi tentang Transparansi Dana Pembangunan Kampus yang dilakukan GMPK (Gerakan Mahasiswa Peduli Kampus) sampai sekarang tak tau jluntrunganya dan isunya sudah memakan korban seorang mahasiswa, hingga membuat banyak aktivis mahasiswa ketakutan untuk melanjutkan kejelasan dan solusi atas masalah tersebut. Tapi disaat mengetahui banyak masalah atau fakta-fakta yang taksesuai dengan keseharusan (salah), tentang seluruh civitas akademika Universitas Trunojoyo Madura. Baik sistemnya, politiknya, kurikulumnya, kinerjanya, kebijakanya, pembangunanya, dan sebagainya. Lantas apa yang kita lakukan jika sebuah kesalahan terjadi. Apakah kita akan peduli, biasa saja, tidak terlalu memikirkan, atau apatis terhadap apapun yang terjadi di Universitas Trunojoyo Madura. Setidaknya itu sebuah pilihan. Bagaimana kita menyikapi permasalahan yang begitu pelik, kompleks, terstruktur, tentang bagaimana sebuah iklim disini terbentuk dari mulai kebiasaan, kedekatan, dan kebudayaan yang sulit dihilangkan. Seperti praktik nepotisme, kolusi, dan korupsi. Yang seolah mengakar hingga sulit hilang bahkan berkurang. Motif apa sebenarnya yang melatarbelakangi terjadinya permasalahan Pemilihan Presiden Mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura 2015 hingga ada statmen pada saat demo berlangsung. “ Jika pemilihan tetap dilanjutkan, pihak pendemo akan membuka aib pimpinan Universitas Trunojoyo Madura”. Lantas apa yang sebenarnya terjadi?, aib apa?, kenapa bisa muncul ancaman tersebut?, untuk lebih jelasnya kita akan dijabarkan secara runut di Laporan Utama didalam Buletin Oposisi, terutama alur bagaimana terjadinya sampai keputusan dan penyelsaian tentang Kisruh Pemilihan Presiden Mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura. Semua pasti tak ingin sebuah permasalah menjadi berlarut-larut. Tapi permasalahan di Universitas Trunojoyo Madura seolah tak berhenti sampai disini. Seperti pembangunan Sekertariat Bersama Universitas Trunojoyo yang menuai banyak protes. Bagaimana tidak, pembangunan Sekertariat Baru malah menimbulkan masalah baru. Keluhan demi keluhan dilayangkan Unit Kegiatan Mahasiswa. Karena merasa tidak cocok dengan Sekertariat Baru, yang baru beberapa bulan selesai dibangun. Dengan ukuran yang tidak sesuai dan fasilitas yangg sudah rusak, dari mulai atap bocor, volume ruangan yang berbeda, dan kualitas bangunan yang buruk, menimbulkan banyak pertanyaan bahkan keresahan. Terutama bagi Unit Kegiatan Mahasiswa. Untuk lebih jelasnya, Liputan Khusus pada Buletin Oposisi ini bakalan menjelaskan mengenai bagaimana bisa Sekertariat Bersama yang baru membuat masalah baru pula di Universitas Trunojoyo Madura. Tidak hanya itu, redaksi telah menyiapkan beberapa News Flash, salahsatunya tentang Pertemuan Akbar Mahasiswa Bidikmisi Universitas Trunojoyo Madura 2015 yang sedikit diragukan beberapa kalangan mahasiswa “untuk apa sih Ikatan Mahasiswa Bidikmisi, apa sih kerjanya.” Begitulah kutipan dalam News Flash Pertemuan Akbar Mahasiswa Bidikmisi Universitas Trunojoyo Madura. Untuk lebih jelasnya bisa dilihat pada News Flash Buletin Oposisi. Sedangkan untuk News Flash yang selanjutnya, redaksi telah menyuguhkan berita tentang Lembaga Pengelola Dana Pendidikan yang melakukan sosialisasi tentang apa itu Lembaga Pengelola Dana pendidikan dan apa fungsinya. Namun kali ini sosialisasi yang tidak didukung oleh pihak universitas, membuat penyelenggara merasa kewalahan dengan sistem administrasi yang masih menunggu kepastian pengukuhan Presiden Mahasiswa yang masih terkendala waktu. Walaupun awal tahun 2015 disambut oleh berbagai masalah yang kompleks dan saling berhubungan. Sehingga bisa dikatakan menghambat agenda dan jadwal banyak kegiatan. Jika permasalah yang ada tidak segera dituntaskan. Maka yang ditakutkan adalah tidak berjalanya beberapa agenda dan kegiatan yang semestinya berjalan dan lumpuhnya aktivitas kegiatan mahasiswa dan beberapa hal lainya. Pastinya merugikan banyak hal dalam berbagai aspek. Jika tidak segera menemukan soslusi yang tepat untuk masalah yang cukup kompleks dan rutin ini. Ditakutkan mahasiswa yang semakin dirugikan. Mengingat begitu seringnya permasalahan kisruh dan kecurangan Pemilihan Presiden Mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura yang setiap periode selalu terjadi. Menjadikan banyak pertanyaan dikalangan mahasiswa tentang apa fungsi, kinerja, dan untuk apa Presiden Mahasiswa berserta struktural dibawahnya. Toh, banyak struktural yang tidak bekerja sesuai fungsinya. Seperti Dewan Perwakilan Mahasiswa, Mahkamah Konstitusi Mahasiswa, dan Mentri-Mentri Dibawah Presiden Mahasiswa, yang hanya Melakukan Kegiatan Formalitas dan Seremonial semata. Banyak kalangan mahasiswa yang meragukan bahkan apatis dengan Badan Eksekutif Mahasiswa. Karena yang seharusnya menjadi wakil mahasiswa malah mendahulukan kepentingan golongan dan kepentingan pribadi. Wakil mahasiswa malah tidak banyak diketahui mahasiswa, bahkan sekarang banyak yang tidak tau, tidak kenal, dan tidak mengerti untuk apa dan siapa Badang Eksekutif Mahasiswa Di Universitas Trunojoyo Madura. Mungkin memang benar. Kini yang berteriak atas nama mahasiswa hanya orang-orang yang syarat kepentingan dan pembohong besar yang mengaku mewakili mahasiswa. Lawong mahasiswanya sendiri tidak merasa diwakili dan diperjuangkan. Sedangkan yang mewakili jalan sendiri dan merasa tidak dipedulikan mahasiswa, karena mahasiswa kini begitu apatis dan tidak peduli kepada mereka. Sehingga semakin tidak peduli satu sama lain. Apalagi tirani yang begitu kuat masih berlaku di kampus ini. Dimana yang kuat dan memiliki banyak massa akan menjadi lebih dominan atas kaum minoritas dan yang oposisi semakin ditekan dan tersisih. Bisa berjanji dengan lantang dan pasti, bisa berteriak ditengah demonstrasi, begitu lantang dalam beraspirasi, dan pura-pura peduli pada mahasiswa yang diberlakukan tidak adil, namun setelah mencapai kursi dan jabatan yang diinginkan. Semuanya menjadi nihil dan basi. Karena mementingkan golongan sendiri adalah bentuk terimakasih yang wajib dijalankan, tanpa harus pikirduakali untuk tidak patuh pada golongan sendiri. Birokrasi dan dinamika perpolitikan mahasiswa di Universitas Trunojoyo Madura memang dipenuhi orang-orang yang pandai dan pintar dalam berbicara, tapi apakah wakil-wakil mahasiswa yang katanya dipilih dan diberiamanat oleh mahasiswa dapat melaksanakan apa yang sudah diamanatkan. Sedangkan kepada yang seharusnya dibela malah lupa. Pimpinan Redaksi Nofianto Puji Imawan


Salam Redaksi 

Keganjilan atas kecurangan yang dibiarkan, kesalahan yang dianggap biasa, kolusi yang makin dilestarikan, sedangkan korupsi dipandang lumrah, lantas keamanan mulai disepelekan, begitu juga keresahan yang makin dibiarkan, nepotisme semerbak seolah subur dan makmur. Ditempat yang penuh tipuan ketenangan yang seolah-olah tidak ada apa-apa. Padahal dibalik ketenangan tempat ini, tersembunyi banyak hal yang seharusnya kita ketahui malah disembunyikan dengan alasan keamanan. Informasi dimanipulasi untuk kepentingan pribadi, semua sepertinya menjadi oportunis bahkan apatis. 

Apa yang tidak menguntungkan bagi dirisendiri seolah dikesampingkan, sedangkan yang menguntungkan lebih didahulukan. Semakin hari semakin rancu, pihak yang seharusnya memberikan pelayanan maksimal malah membuat banyak pihak merasa tidak nyaman. Seperti ada yang disembunyikan dan disepakati bersama-sama untuk saling mencari keuntungan melalui kesepakatan menutupi fakta dengan kebohongan yang diamini bersama-sama. Pesimistis, tidak juga. Apatis, jangan dulu. Usahakan kita mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Bagaimana dengan Demonstrasi Kisruh Pemilihan Presiden Mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura 2015 kemarin. Sudah jelas-jelas melakukan kecurangan, tapi beraninya melakukan demo dan menebar ancaman. Tindakan nekad yang terjadi berulangkali, dan syarat keganjilan. 

Kesalahan yang terbukti dan keputusan yang sudah diberikan, malah ditawar dan dipermasalahkan. Emosi atau ambisi, yang mendasari terjadinya Demonstrasi Mahasiswa Pendukung Calon No.4 dalam Pemilihan Presiden Mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura 2015, untuk diikutkan kembali dalam pemilihan. Sedangkan Calon No.4 jelas-jelas sudah resmi di cabut hak politiknya karena telah melakukan kecurangan dengan menyelundupkan surat suara palsu pada saat proses pencoblosan berlangsung. Namun anehnya, kenapa sudah jelas melakukan pelanggaran, masa pendukung Calon No.4 masih nekad melakukan demonstrasi. Fanatisme atau apa, yang mendasarinya. Memang hal seperti ini bisa terjadi disini. Universitas Trunojoyo Madura bisa dikatakan sebagai Universitas paling fenomenal. Bagaimana tidak, hal yang pasti saja bisa dibuat tidak pasti. Entah dengan kompromi-kompromi atau lobi-lobi. Mungkin dengan ini kita lebih bisa mengingat salahsatu demonstrasi yang pernah terjadi di kampus tercinta kita. Salahsatunya, demonstrasi tentang Transparansi Dana Pembangunan Kampus yang dilakukan GMPK (Gerakan Mahasiswa Peduli Kampus) sampai sekarang tak tau jluntrunganya dan isunya sudah memakan korban seorang mahasiswa, hingga membuat banyak aktivis mahasiswa ketakutan untuk melanjutkan kejelasan dan solusi atas masalah tersebut. 

Tapi disaat mengetahui banyak masalah atau fakta-fakta yang taksesuai dengan keseharusan (salah), tentang seluruh civitas akademika Universitas Trunojoyo Madura. Baik sistemnya, politiknya, kurikulumnya, kinerjanya, kebijakanya, pembangunanya, dan sebagainya. Lantas apa yang kita lakukan jika sebuah kesalahan terjadi. Apakah kita akan peduli, biasa saja, tidak terlalu memikirkan, atau apatis terhadap apapun yang terjadi di Universitas Trunojoyo Madura. Setidaknya itu sebuah pilihan. Bagaimana kita menyikapi permasalahan yang begitu pelik, kompleks, terstruktur, tentang bagaimana sebuah iklim disini terbentuk dari mulai kebiasaan, kedekatan, dan kebudayaan yang sulit dihilangkan. Seperti praktik nepotisme, kolusi, dan korupsi. Yang seolah mengakar hingga sulit hilang bahkan berkurang. Motif apa sebenarnya yang melatarbelakangi terjadinya permasalahan Pemilihan Presiden Mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura 2015 hingga ada statmen pada saat demo berlangsung. 

“ Jika pemilihan tetap dilanjutkan, pihak pendemo akan membuka aib pimpinan Universitas Trunojoyo Madura”. Lantas apa yang sebenarnya terjadi?, aib apa?, kenapa bisa muncul ancaman tersebut?, untuk lebih jelasnya kita akan dijabarkan secara runut di Laporan Utama didalam Buletin Oposisi, terutama alur bagaimana terjadinya sampai keputusan dan penyelsaian tentang Kisruh Pemilihan Presiden Mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura. Semua pasti tak ingin sebuah permasalah menjadi berlarut-larut. Tapi permasalahan di Universitas Trunojoyo Madura seolah tak berhenti sampai disini. Seperti pembangunan Sekertariat Bersama Universitas Trunojoyo yang menuai banyak protes. Bagaimana tidak, pembangunan Sekertariat Baru malah menimbulkan masalah baru. Keluhan demi keluhan dilayangkan Unit Kegiatan Mahasiswa. Karena merasa tidak cocok dengan Sekertariat Baru, yang baru beberapa bulan selesai dibangun. Dengan ukuran yang tidak sesuai dan fasilitas yangg sudah rusak, dari mulai atap bocor, volume ruangan yang berbeda, dan kualitas bangunan yang buruk, menimbulkan banyak pertanyaan bahkan keresahan. Terutama bagi Unit Kegiatan Mahasiswa. Untuk lebih jelasnya, Liputan Khusus pada Buletin Oposisi ini bakalan menjelaskan mengenai bagaimana bisa Sekertariat Bersama yang baru membuat masalah baru pula di Universitas Trunojoyo Madura. Tidak hanya itu, redaksi telah menyiapkan beberapa News Flash, salahsatunya tentang Pertemuan Akbar Mahasiswa Bidikmisi Universitas Trunojoyo Madura 2015 yang sedikit diragukan beberapa kalangan mahasiswa “untuk apa sih Ikatan Mahasiswa Bidikmisi, apa sih kerjanya.” Begitulah kutipan dalam News Flash Pertemuan Akbar Mahasiswa Bidikmisi Universitas Trunojoyo Madura. 

Untuk lebih jelasnya bisa dilihat pada News Flash Buletin Oposisi. Sedangkan untuk News Flash yang selanjutnya, redaksi telah menyuguhkan berita tentang Lembaga Pengelola Dana Pendidikan yang melakukan sosialisasi tentang apa itu Lembaga Pengelola Dana pendidikan dan apa fungsinya. Namun kali ini sosialisasi yang tidak didukung oleh pihak universitas, membuat penyelenggara merasa kewalahan dengan sistem administrasi yang masih menunggu kepastian pengukuhan Presiden Mahasiswa yang masih terkendala waktu. Walaupun awal tahun 2015 disambut oleh berbagai masalah yang kompleks dan saling berhubungan. Sehingga bisa dikatakan menghambat agenda dan jadwal banyak kegiatan. Jika permasalah yang ada tidak segera dituntaskan. Maka yang ditakutkan adalah tidak berjalanya beberapa agenda dan kegiatan yang semestinya berjalan dan lumpuhnya aktivitas kegiatan mahasiswa dan beberapa hal lainya. Pastinya merugikan banyak hal dalam berbagai aspek. Jika tidak segera menemukan soslusi yang tepat untuk masalah yang cukup kompleks dan rutin ini. Ditakutkan mahasiswa yang semakin dirugikan. Mengingat begitu seringnya permasalahan kisruh dan kecurangan Pemilihan Presiden Mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura yang setiap periode selalu terjadi. 

Menjadikan banyak pertanyaan dikalangan mahasiswa tentang apa fungsi, kinerja, dan untuk apa Presiden Mahasiswa berserta struktural dibawahnya. Toh, banyak struktural yang tidak bekerja sesuai fungsinya. Seperti Dewan Perwakilan Mahasiswa, Mahkamah Konstitusi Mahasiswa, dan Mentri-Mentri Dibawah Presiden Mahasiswa, yang hanya Melakukan Kegiatan Formalitas dan Seremonial semata. Banyak kalangan mahasiswa yang meragukan bahkan apatis dengan Badan Eksekutif Mahasiswa. Karena yang seharusnya menjadi wakil mahasiswa malah mendahulukan kepentingan golongan dan kepentingan pribadi. Wakil mahasiswa malah tidak banyak diketahui mahasiswa, bahkan sekarang banyak yang tidak tau, tidak kenal, dan tidak mengerti untuk apa dan siapa Badang Eksekutif Mahasiswa Di Universitas Trunojoyo Madura. Mungkin memang benar. Kini yang berteriak atas nama mahasiswa hanya orang-orang yang syarat kepentingan dan pembohong besar yang mengaku mewakili mahasiswa.

Lawong mahasiswanya sendiri tidak merasa diwakili dan diperjuangkan. Sedangkan yang mewakili jalan sendiri dan merasa tidak dipedulikan mahasiswa, karena mahasiswa kini begitu apatis dan tidak peduli kepada mereka. Sehingga semakin tidak peduli satu sama lain. Apalagi tirani yang begitu kuat masih berlaku di kampus ini. Dimana yang kuat dan memiliki banyak massa akan menjadi lebih dominan atas kaum minoritas dan yang oposisi semakin ditekan dan tersisih. Bisa berjanji dengan lantang dan pasti, bisa berteriak ditengah demonstrasi, begitu lantang dalam beraspirasi, dan pura-pura peduli pada mahasiswa yang diberlakukan tidak adil, namun setelah mencapai kursi dan jabatan yang diinginkan. Semuanya menjadi nihil dan basi. Karena mementingkan golongan sendiri adalah bentuk terimakasih yang wajib dijalankan, tanpa harus pikirduakali untuk tidak patuh pada golongan sendiri. Birokrasi dan dinamika perpolitikan mahasiswa di Universitas Trunojoyo Madura memang dipenuhi orang-orang yang pandai dan pintar dalam berbicara, tapi apakah wakil-wakil mahasiswa yang katanya dipilih dan diberiamanat oleh mahasiswa dapat melaksanakan apa yang sudah diamanatkan. Sedangkan kepada yang seharusnya dibela malah lupa. 

Pimpinan Redaksi
Nofianto Puji Imawan 

Buletin Oposisi Lembaga Pers Mahasiswa Spirit Mahasiswa Madura. Universitas Trunojoyo Madura. Buletin Oposisi Yang Terbit Dwi Mingguan.  


OR 

Sastra