Selasa, 06 Mei 2014

TIDAK LUPA

Oleh : Mustaji

Bangun  pagi, menatap sang surya muncul dari timur, aku bangun degan semangat baru. Hari ini akan di mulai perjalanan bersama keluarga baru dan aku sudah bersiap untuk perjalanan ini.rencananya kami akan berangkat dari kampus tercinta pukul 10:00 pagi, tapi rencananya berubah. Sebelum berangkat kami harus berdiskusi dulu tentang perjalanan kami. Aku suka berdiskusi dengan teman-teman ku karena banyak hal baru yang bisa aku dapat. Tidak hanya sebatas apa yang kami bahas , tetapi ada hal-hal lain yang bisa aku pelajari dari teman-teman ku.tak terasa diskusi kami berlanjut hingga siang hari dan kami pun mulai terserang lapar, kami memutuskan untuk makan bersama, dengan menggunakan sehelai daun pisang kami makan bersama , indah rasanya masa itu.
    Ssetelah jam menunjukan pukul 04:00 , kami pun berangkat , dan perjalanan kami di mulai. Mulai dari berjalan kaki bersama, mencari kendaraan umum dan akhirnya kami menyabrang dari pulau madura ke pulau jawa , surabaya adalah kota yang kami tuju. Ada insidan kecil saat kami membeli tiket kapal untuk menyebrang . sabetulnya cerita lama, lagi-lagi aku tidak bisa mengendalikan emosiku, kenapa sangat susah. Meski begitu, untung ada teman-teman yang bisa menjaga ku. Dan akhirnya kami tiba di surabaya pukul 16:00. Butuh waktu satu jam bagi kami untuk istirahat dan sholat.setelah istirahat selesai, kami langsung berangkat ke tempat pertama yaitu Tunjungan Plaza(TP) , kami bingung kenapa harus kesana, dari sekian banyak tempat di surabaya kenapa harus di TP? Tapi kami hanya patuh pada perintah kakak senior kami.
    Ternyata di sana kami di minta untuk mewawancarai beberapa orang sebagai nara sumber. Dengan aturan kami tidak boleh mengaku sabagai mahasiswa ataupun wartawan. Kalau hanya seperti itu pasti aku bisa, itulah hal pertama yang aku pikirkan setelah mendapat tugas itu. Tapi setelah kami jalani, ternyata tidak semudah apa yang terlihat. Di sana kami di bagi menjadi tega kelompok, aku bersama Dian dan Riris.
    Akhirnya kami mendapatkan tiga nara sumber , dengan usaha yang keras tentunya. Kami kira dengan berhasil mendapat nara sumber maka kami telah berhasil mengerjakan tugas pertama, tapi kenytataannya sama sekali tidak.
    Setelah kami semua berkumpul , kami langsung berangkat ke tempat ke dua yaitu taman Bungkul.di sana kami menbdapat arahan dan penilaian tenteng tugas kami di tunjungan plaza, dan hasilnya sangat mengecewakan, kami semua gagal total.karena apa yang seharusnya kami dapat sama sekali tidak kami dapat.
    Sete;ah itu kami mendapat tugas ke dua di taman bungkul, tugasnya masih sama dengan yang pertama yaitu mencari nara sumber untuk mencari informasi tantang taman bungkul . kali ini aku hanya bersama Ike, kami berkeliling beberapa kali di taman bungkul. Kali ini kami lebih bisa mencari informasi dari nara sumber karena telah mendapat pengalaman dari tugas pertama, kami mencari informasi sebanyak mungkin agar kegagalan di tugas pertama tidak terulang lagi.
    Setelah kami yakin dengan apa yang kami dapat, maka kami kembali berkumpul dengan teman-teman yang lainya.setelah kami semua menyampaikan apa yang kami dapat dengan rasa percaya diri yang cukup tinggi, kami kembali mendapati hal-hal yang di luar pemikiran kami, dan tugas ke dua kembali gagal.
    Malam itu kami mendapat banyak sekali ilmu dari kakak-kakak kami, kami semua bisa merasakanya, terutama aku pribadi. Jam sudah menunjukan pukul 11:30 dan kami berangkat menuju tempat ke tiga, dan tempat ke tiga itu adalah stasiun kereta api wonokromo. Kami berjalan kaki sekitar 40 menit dan sampailah kami di tempat yang kami tuju. Di sana kami di beru tugas untuk mengamati hiruk pikuk stasiun wonokromo di malam hari. Kali ini aku satu kelompok dengan katin. Aku sngat takut waktu itu, memang di sana adalah tempat prostitusi,tapi bukan itu yang aku takutkan, aku takut karena aku masuk ke tempat prostitusi bersama seorang wanita yang ketakutan. Walaupun tugasnya hanya duduk dan mengamati, tapi tigas itu lenih berat dari tugas-tugas yang pertama.
    Kami duduk di sebuah warung bersama tiga orang yang tidak kami kenal, tiba-tiba salah seorang pria yang duduk bersama kami mengajak katin bicara,  orang itu memberi tahu kami bahwa tempat itu adalah tempat yang buruk, bukan hanya itu , orang itu juga memberi tahu kami agar kami segera meninggalkan tempet tersebut karena ada kabar bahwa malam itu akan ada razia. Hanya beberapa langkah kami meninggalkan warung kopi, dari kejauhan terdengar suara ribut, ternyata benar ada razia dari patugas keamanan kota surabaya. Dan kami semua meninggalkan tempat itu, kami semua berkumpul di warung kopi di pinggir rel kereta api yang juga tidak jauh dari sarang prostitusi. Di sana kami kembali di beri pengarahan dan di sana juga kami menginap malam itu. Dari sana lah kami tau betapa keras nya hidup di dunia nyata, dan apa yang aku lihat dan aku dengar tidak selalu menjadi suatu kebenaran.
    Aku tidak bisa tidur malam itu, dan aku mengisi waktu dengan minum kopi dan berbincang bersama teman-teman yang tidak tidur dan juga dengan kakak senior kami yang juga tidak tidur. Kami banyak berbincang malam itu, mulai dari masalah asmara, sampai masa depan.
    Setelah merasa cukup beristirahat, kami kembali melanjutkan perjalanan kami ke ke tempat selanjutnya yaitu pasar tradisional yang bernama pasar waru. Saat itu jam masih menunjukan pukul 04:00. Kami naik kendaraan umum ke sana karena memang jarakya cukup jauh. Sesampainya di tempat tujuan , hal yang pertama aku lihat adalah pasar yang sangat dekat dengan rel kereta api. Lalu aku berpikit apakah mereka tidak takut dengan kemungkunan-kemungkunan buruk yang dapat terjadi pad mereka.?
    Di sana kami di beri tugas untuk mengamati , hanya melihat dan mengamati, itu tidak sulit, atau setidajnya itu yang ada di pikiranku.kami di bagi kelompok dan aku bersama dengan ike lagi. Tempat pertama yang kami tuju adalah masjid, kami ingin sholat terlebih dahulu sebelum melaksanakan tugas kami. Setelah berjalan beberapa lama  akhirnya kami menemukan masjid. Setelah selesai melaksanakan kewajiban, kami pun duduk di depan masjid, tiba-tiba ada seorang wanita yang menyapa kami, beliau adalah salah satu pedagang di pasar waru. Kami berbincang dengan wanita tersebut cukup lama dan kami banyak mendapat banyak informasi tentang pasar waru.
    Ternyata pasar ini sudah pernah di relokasi oleh pemerintah ke tempat baru, tetapi para pedagang menolak dengan dalih mereka akan kehilangan pelanggan mereka jika mereka pindah ke tempat yang baru.
    Menurut saya pasar ini adalah pasar yangunik karena selain lokasinya yang dekat dengan rel kereta , pasar ini phanya satu lorong yang memanjang yang sebenarnya bukan lokasi pasar tetapi jalan untuk para penduduk yang berada di sekitar pasar tersebut.
    Setelah selesai mengamati , kami semua kembali ke tempat pertama kami berpisah, setelah beristirahat sejenak , kami kembali meklanjutkan perjalanan ke tempat berikutnya , yaitu terminal bungorasih.setelah berjalan kurang lebih 20 menit akhirnya kami tiba di tempat tujuan kami. Kami vberistirahat untuk mencari makan, setelah itu kami mencari tempat untuk sarapan dan beristirahat. Akhirnya pilihan kami jatuh pada satu tempat di belakang terminal. Setelah selesai sarapan, kami beristirahat sambil minum kopi bersama. Setelah cukup beristirahat, kami kembali di kumpulkan untuk di beri pangarahan dan penilaian  dari hasil yang kami dapat di tempat sebelumnya .dan hasilnya kami gagal lagi, awalnya aku tak tau knpa , tapi setelah di beri materi aku baru tau apa salah ku. Ini ada;ah pelajaran yang sangat berharga untukku, di saat aku mengira akan berhasil mengerjakan tugasku tapi ternyata aku gagal total, dan aku jatuh pada lubang yang sama berkali-kali.
    Setelah di beri pengarahan ,kami di deri tugas selanjutnya di terminal bungorasih.tugas kami selanjutnya adalah , kami harus mewawancarai bebrapa orang yang berprofesi sebagai pengamen , calo, pedagang, dan penumpang. Kami di bagi menjadi tiga kelompok, kali ini aku bersama Iskak dan Dian. Kali ini aku tidak ingin mengulang kesalahan-kesalahan yang sebelumnya telah aku lakukan. Dengan harapan itu aku berangkat dan kali ini aku sudah berbekal empat kali kesalahan.
    Untuk menghemat waktu, kami pun berpencar, Dian dan Iskak aku minta untuk mewawancarai penumpang dan pedagang yang ada di ruang tunggu dengan maksut agar mereka bisa saling mengawasi satu sama lain. Kemudian aku mencari pengamen dan calo di luar. Ya, inilah aku , dengan gaya yang sok hebat, sok pintar, dan sok jadi pemimpin.
    Lalu aku mulai mencari sumber, yang pertama ku temui adalah pedagang asongan, dengan alasan menunggu teman aku pun mengajak orang tersebut berinteraksi. Aku bertanya tentang beberapa hal yang menurutku perlu untuk aku tanyakan. Setelah beberapa lama kami berbisara, ada seorang pengamen yang mendatangi kami dan bberbicara dengan pedagang yang berada di sampingku. Kesempatan ini tidak aku sia-sia kan , aku memesan dua gelas kopi lalu aku mengajak pengamen itu untuk duduk dan minum kopi bersama dengan ku. Cukup banyak obrolan ku dengan pengamen itu , sampai ada seorang pengamen lagi menghampiri kami dan berbicara dengan pengamen yang tadi sedang berbincang dengan ku, tak lama kemudian pengamen dan tukang asongan yang mengobrol dengan ku pergi, serkarang tinggal aku dan pengamen yang baru datang . aku juga mengajak pengamen itu untuk bebincang, aku juga menanyakan beberapa pertanyaan pada nya.
    Setelah merasa cukup dengan pengamen , lalu aku mencari sumber baru yaitu calo. Tetapi , mencari informasi dari calo ternyata jauh lebih susah di bandingkan dengan pengamen dan pengasong. Setelah beberapa kali mencoba dan gagal, akhirnya di percobaab ke empat aku berhasil mendapat informasi yang aku mau dari calo.
    Dari seluruh sumber yang aku dapat, aku bisa menyimpulkan bahwa di terminal bungorasih ini tidak semenakutkan apa yang di katakan oleh orang-orang. Entah itu sungguhan atau aku hanya jadi korban penipuan bersama dari orang-orang yang aku tanyai.
    Setelah mendapat info dari calo, aku segera menghampiri Iskak dan Dian di ruang tunggu. Setelah itu kami keluar dari terminal dan menuju ke tempat pertama kami berkumpul, saat berjalan, kami di hampiri oleh seorang pria yang mengaku berprofesi sebagai supir bus. Menurut pengakuan beliau , di teminal ini sngat ramai dengan tindak kriminal dan beliau menyarankan pada kami untuk berhati-hati. Tentu saja aku kaget dengan pernyataan beliau, karena pernyataan tersebut sabgat berlawanan dengan apa yang aku dapat dari sumber-sunber yang telah aku dapat.
    Setelah itu kami berkumpul dan di beri pengarahan oleh senior kami. Dan sekali lagi aku mendapati diriku dalam kegagalan. Aku sama sekali tidak berhasil mendapatkan apa yang di harapkan. Tentu saja aku kecewa.
    Lalu kami beristirahat , beberapa saat kemudian mas Defir mengajak dua teman kami untuk bertemu dengan LPM dari universitas lain yang juga sedang melakukan kegiatan pra-diklat seprti kami.tak lama mas Dafir dan dua teman kami kembali sambil membawa kantong plastik yang berlogokan indomart yang berisi air mineral yang juga berlogo sama. Fikiran ku tidak enak tantang hal itu.
    Dan ternyata benar , ini adalah sebuah ujian, setelah sebelumnya kami telah mendapat materi tantang ekonomi pasar dan kami telah membuat kesepakatan yang menolak toko seperti indomart, tapi kami masih juga berbelanja di indomart. Dan kami pun kembali gagal karena kami tidak bisa menerapkan dalam kehidupan sehari-hari.
    Setelah semua berakhir di terminal, kami di ajak ke suatu tempat yang di sebut rumah lalat. Di sana kami beristirahat dan membersihkan diri.
    Sore harinya kami mendapat materi tantang SM dari mas Defi. Di sana di jelaskan secara singkat tentang SM. Bukan hanya meteri saja, tapi kami juga bercerita tentang hal-hal yang membuat kamu gagal.
    Malam harinya kami semua di ajak minum kopi dan menikmati malamnya kota surabaya sambil melepaskan lelah.  Kami juga mendapat materi tentang asal mula bahasa indonesia dari mas Bejat.
    Jam sudah menunjukkan pukul 22:00 dan kami harus meninggalkan kota surabaya untuk kembali ke tanah madura. Kali ini kami di temani oleh mas Ilham. Setelah berpamitan dengan semua senior, kami segera melangkan pulang. Dengan naik angkutan umum akhirnya kami sampai di pelabuhan tanjung perak, dengan terburu-buru kami membeli tiket dan menuju ke kapal karena kapal ini adalah kapal yang terakhir menyebrang. Tapi ternyata setelah lelah berlari semuanya sia-sia karena kapal ini berangkat masih lama. Setelah menyebrang dan naik angkutan umum, akhirnya kami sampai di simpang unuversitas Trunojoyo. Dari sana kami berjalan kaki bersama menuju kampus.dan malam itu kami semua menginap di sekret, kecuali Azis dan Iskak karena mereka pulang ke kosan mereka.
    Aku mendapat banyak pelajaran dari perjalanan ini, perjalanan ini sngat berkesan bagiku, aku menyadari salam ini banyak sekali hal-hal penting yang tidak terlalu aku pedulikan. Aku melihat bagaimana seorang manusia berjuang untuk mempertahankan hidupnya, aku sadar betapa mudahnya seirang manusia dapat terpengaruh dengan sesuatu yang indah walaupun itu menyesatkan, aku benar-benar sadar betapa pentingnya seorang sahabat dalam hidup ini, dan aku mengerti tentang kehidupan yang tak hanya terlihat dengan mata telanjang, tapi yang paling penting adalah aku sadar bahwa aku bukanlah siapa-siapa, aku sombong dan selalu membanggakan diri seolah tidak ada orang lain yang lebih dari pada aku. Dan ternyata aku tidak bisa apa-apa, aku tidak hebat dan aku tidak pintar.
    Kini aku sadar itu semua tidak baik dan salah. Dan mulai sekarang , aku akan belajar lebih keras agar aku bisa seprti padi. Aku ingin mengenal diriku lebih jauh lagi, agar aku tau apa yang salah , dengan begitu aku bisa memperbaikinya. Dan aku, tidak akan pernah lupa dengan perjalanan ini.

Sastra