Selasa, 06 Mei 2014

,

Tiada Akhir

Oleh : Diyan

“Kamu harus menjaga ibu,” dia menjawab dengan anggukan. Dengan berat hati aku harus tinggalkan Ibu dan adikku. Aku harus tegar didepan mereka, namun apa daya aku tidak bisa menahan air mata ini. “Kakak, haruskah kakak pergi?” kupeluk adikku dengan erat. Tiba saatnya aku harus meninggalkan mereka. “jaga dirimu baik-baik nak” meski ibu mengatakannya dengan senyuman namun senyuman itu tak dapat menutupi kesedihannya.  
Mobil yang tadinya kosong, sekarang sudah dipenuhi oleh tentara Korea. “hei, kau tau kita akan kemana?” seorang yang duduk tepat didepanku bertanya, ku jawab dengan gelengan. “kita akan dikirim ke Busan”, jelasnya. “Busan? Bukankah disana pangkalan Jepang” orang itu tersenyum simpul kearahku. Kenapa tentara Korea dikirim ke pangkalan Jepang? Apa kita akan menyerang mereka?. “Kita ini tentara yang disewa oleh Jepang, makannya kita dikirim kesana” pertanyaanku telah dijawab oleh orang itu, mungkin sudah terlihat jelas diwajahku apa yang ingin ku tanyakan. “Lee jeong suk dari Incheon” kuperkenalkan diriku padanya. “Park ji hoo dari Daegu” balasnya.

***
Mobil yang membawa para prajurit Korea itu tiba di Busan. Di Busan sudah tak terlihat lagi para penduduk pribumi. Yang ada hanya sekumpulan tentara Jepang, tentara Korea dan beberapa para medis. Suasana ini membuat bulu kuduk Lee Jeong Suk merinding, entah apa yang ada dipikirannya sekarang, dia hanya teringat dengan keluarga yang ditinggalkannya.  “Prajurit Korea, turun dari mobil dan segera buat barisan!” perintah dari seorang kolonel Jepang yang bernama Hiruma Miura. Prajurit sewaan itu segera bergegas turun dari mobil dengan tertib. Kolonel Hiruma berjalan di depan para prajurit dengan gagahnya. Para prajurit sewaan itu berbaris dengan sangat rapi, posisi siap pandangan lurus kedepan betapa disiplinnya pemandangan ini. “Persiapkan diri kalian, kalian punya waktu 2 jam dari sekarang untuk mempersiapkan diri kalian. Kemudian segera berkumpul disini. MENGERTI!”, “SIAP MENGERTI!!” jawab para prajurit dengan semangat yang membara.
Lee jeong suk mengambil kalung yang ada didalam saku bajunya. Ia buka linontin kalung itu, terlihat sebuah foto keluarga yang bahagia didalamnya. “Keluargamu?” tanya seorang yang menepuk bahunya dari belakang. “oh.. Ji Hoo” Jeong suk tersenyum kepada kawan barunya itu. “Kalian terlihat bahagia” , “Iya, bagaimana dengan keluargamu Ji Hoo?” Ji Hoo tersenyum, namun senyuman itu tak terlihat bahagia. “Ayah dan ibuku  telah tiada ketika aku berumur lima tahun, hanya aku yang selamat dari serangan yang terjadi di Daegu saat itu”, “Aku turut berduka teman”, “Sudahlah jangan kau merasa kasihan padaku” Ji Hoo menepuk bahu Jeong suk. “Itu adikmu?” tanya Ji hoo kemudian. Jeong suk mengangguk. “Kenalkan dia padaku”, “kenapa aku harus megenalkannya padamu?” raut muka Jeong suk menjadi serius. “Santai teman, aku hanya bercanda. Haha”. Kedua pria itu saling tertawa, mereka bisa tertawa sekarang. Mereka tidak tau apa yang akan terjadi besok, masihkah mereka bisa tertawa.
Tiiit.... Tiiiit... Tiiit.. bunyi peringatan itu merupakan tanda bagi prajurit agar segera berkumpul. Para prajurit itu berlarian menuju lapangan dan membentuk barisan seperti sedia kala. “Pulau Solomon adalah tempat tujuan kita, Kita disana akan melawan sekutu, Kita akan meraih kemenangan yang memang untuk kita. BANZAI!!” “BANZAI!!” Teriak kolonel Hiruma yang di ikuti para prajuritnya “BANZAI!!! BANZAI!!!! BANZAI!!!!”
***
            Perjalanan kami ke pulau Solomon tidaklah semulus yang diharapkan, di tengah-tengah laut pasifik tepatnya di Filipina kami mendapati serangan dari pasukan Amerika. Booomm.. Duaarr... Dorr... Dorr.. suara baku tembak senjata api dari Amerika tidak dapat kami hindari. Rasa takut yang aku rasakan saat berada di Busan tidak lagi kurasakan, malah semangat yang membara yang ku rasakan sekarang. “HEI!! KAU!! APA YANG KAU LAKUKAN!!” Suara kolonel Hiruma membuyarkan lamunanku “CEPAT KE DEK 1!” Perintahnya “SIAP!!” Aku segera berlari ke dek 1. Dorrr... Dorr... Dorr... suara tembakan itu tak kunjung padam. Beberapa jam kemudian pasukan kami dapat melumpuhkan pasukan Amerika. “Kita kehilangan seperempat dari prajurit yang ada, namun kita akan tetap lanjutkan ke pulau Salomon. jendral Kazuto Yamasaki sudah menunggu kita, “BANZAI!!!” “BANZAI!! BANZAI!!! BANZAI!!!” . Serangan tiba-tiba pasukan Amerika telah merusakkan dua kapal kami, dan seperempat prajurit telah gugur.
            Beberapa hari kemudian kami tiba di pulau Solomon, kami berjalan menuju markas. Seorang yang berbadan tegap, dengan wajah yang kaku berjalan kearah kami. Kolonel Hiruma memberi aba-aba ke pada kami untuk memberi hormat ke orang yang berbadan tegap tadi. Apa itu jendral Kazuto Yamasaki? Aku mendengar kalau strategi dari jendral Kazuto tidak pernah terkalahkan. Benarkah dia sehebat itu? “Tunggu peringatan dari ku, sekarang kalian boleh istirahat” kata kolonel Hiruma “ SIAP!!!” jawab para prajurit termasuk aku dengan serempak.

***
            “Kami diserang oleh sekutu saat di laut Filipina”, Lapor kolonel Hiruma “Berapa banyak kerugian dari serangan itu?” tanya Jendral Kazuto dengan nada datar “Kami kehilangan dua kapal dan seperempat dari prajurit yang ada”, Buukk.. kepalan tangan jendral Kazuto mendarat di wajah kolonel Hiruma. Kolonel itu tidak melawan balik dan hanya menunduk pasrah. “Besok pagi kita akan melakukan serangan ke markas sekutu yang ada di Santa Isabel, segera siapkan semua parajurit” “Siap jendral!”
            Tiiit.... Tiiiit... Tiiit.. bunyi yang sudah tidak asing lagi di telinga para prajurit. Semua prajurit Jepang yang bertempat di Choiseul berkumpul membentuk barisan yang rapi. Besok pagi kita akan menyerang sekutu di Santa Isabel. Persiapkan diri kalian untuk menang!!” “BANZAI!!!BANZAI!!!BANZAI!!”.
***
            “Hei, prajurit sewaan, ambilkan aku minum!” perintah seorang prajurit jepang yang memerintah Park Ji hoo. “Kau menyuruhku?”, “iya, siapa lagi. Cepat ambilkan!” prajurit jepang itu memukul kepala Ji hoo dengan kasar. Ji Hoo hanya membalasnya dengan tatapan tajam, “Kau berani hah?!?” prajurit itu terus memukuli Ji Hoo. Jeong suk yang tak tahan melihat kejadian itu mencoba menolong Ji Hoo. Saat Jeong suk mencoba menolong Ji hoo, teman dari prajurit Jepang itu ikut memukuli Ji hoo dan Jeong suk. Niat ingin menolong malah ikut di keroyok. Tak ada yang berani menghentikan perkelahian itu, hingga kolonel Hiruma datang “APA YANG KALIAN LAKUKAN!!” suara kolonel Hiruma menghentikan pertikaian itu. Para prajurit yang terlibat dalam pertikaian itu diam tanpa sepatah katapun dengan posisi siap. “apa yang membuat kalian bertikai? Tidak taukah kalian kondisi yang sedang kita alami?” mereka masih diam dengan pandangan lurus kedepan. “Siapa yang memulai pertikaian ini?” mereka tetap diam “JAWAB!!” Bentak kolonel Hiruma. “prajurit sewaan kolonel” jawab salah seorang prajurit Jepang. “Bukankah kalian yang mulai duluan HAH!” bantah Jeong Suk “CUKUP!!, Masukkan kedua prajurit Korea ini ke sel!!” kata kolonel Hiruma. “apa? Kami tidak salah merekalah yang salah, KOLONEL!! KOLONEL!!” panggil jeong suk, namun kolonel mengabaikannya. Kedua prajurit Korea itu di seret paksa dan dimasukkan kedalam sel bawah tanah.
            “Kalau kau diam dan tak menolongku, ini tak akan terjadi”, “Ji hoo, aku tak dapat hanya diam ketika temanku dilakukan tidak adil”, Ji hoo tersenyum mendengar kata itu. Hanya sinar bulan yang dapat menerangi sel yang meraka tempati. Saat Jeong suk sedang menikmati indahnya sinar bulan, beberapa orang datang menghampiri sel yang dia tempati, beberapa orang itu menghalangi masuknya cahaya bulan. “Ji Hoo? Kau didalam sana?” tanya salah seorang yang menutupi cahaya bulan. “Ah yah, aku disini”, “jangan kawatir teman, kau besok akan di keluarkan dari sel”, “benarkah?” “iya” jawabnya. “maaf aku tak dapat membantumu tadi” tambahnya “sudahlah, lupakan” kata Ji Hoo “baiklah, aku kembali ke camp, semoga beruntung kawan”.
***
            Keesokan paginya. “KITA AKAN BERANGKAT KE SANTA ISABEL, KEMENANGAN ADALAH MILIK KITA!!” “BANZAI!!!” tentara Jepang sudah menyiapkan persiapan dengan rapi. Hanya tinggal waktu apakah mereka dapat mengambil kemenangan dalam perang ini. Duar... Duar... Booommm... Boommm... suara khas senjata dari sebuah perang itu tidak menurunkan semangat dari para prajurit malah membakar semangat mereka. Drrtt... drrrttt.. ddrrtt... Jeong suk sangat trampil dalam tembak menembak, tembakannya tidak pernah melesat. Pemandangan perang begitu mengerikan, banyak tentara dari kedua belah pihak gugur, dan beberapa lainnya lagi luka-luka. “Ji Hoo!!” Jeong Suk memanggil-manggil nama temannya. “sadarlah,, hya!! Ji Hoo!!” Jeong suk berusaha menyadarkan temannya itu “oh, Jeong suk” Ji Hoo tersenyum “bodoh! Aku akan membawamu pulang” Jeong suk berusaha menyeret tubuh temannya itu ke tempat yang menurutnya aman “kau tunggu sini, nanti aku akan kembali”.
            “HEI KAU!! IKUT AKU SERANG PEMIMPINNYA!!” Kata kolonel Hiruma pada Jeong suk, tanpa banyak omong Jeong suk mengikuti perintah atasannya itu. Pasukan Jepang terus maju dan menyerang, meski mereka telah kehilangan setengah dari pasukan, mereka tidak pernah mundur. Kolonel Hiruma dan Jeong Suk menyerang pemimpin sekutu di Santa Isabel. Dengan skill tembaknya, Jeong suk berhasil menembak pemimpin sekutu, dengan tembakan yang dilepaskannya tepat di jantung pemimpin itu. melihat pemimpinnya tertemba mati, pasukan sekutupun mundur dengan sendirinya “KITA BERHASIL!” seru kolonel Hiruma “KEMENANGAN ADA DI TANGAN KI..”  Bruuk.. tubuh kolonel Hiruma jatuh ke tanah. “Kolonel!! Kolonel!!” Jeong suk memanggil-manggil Kolonelnya. “Sam..pa..aiikan ke jjeenn..ddrraa..aalll baahww..wwa kkiii..ta menang.. ah.. dalam .. pe..eerang di saanntta iss...aaa..aabel” dengan sekuat tenaganya ia berkata dengan terbata-bata dan kolonel Hirumapun menghempaskan nafas terakhirnya.
            Jeong suk berlari ke arah jendral Kazuto “Lapor, kolonel Hiruma Miura telah berhasil membuat pasukan sekutu mundur, tapi kolonel Hiruma Miuara gugur tertembak”, “SIAL!!” Jendral Kazuto kecewa karena kolonelnya gugur “KAU!! KUMPULKAN SEMUA PASUKAN!!” “SIAP!!” . Jeong Suk membunyikan alarm peringatan untuk mengumpulkan prajurit yang masih tersisa. Tiiit.... Tiiiit... Tiiit.. prajurit mulai berbaris dengan tertib. “BESOK KITA AKAN MENYERANG KEMBALI SEKUTU!! HABISI MEREKA!! RAIH KEMENANGAN!! KITA TAK KENAL KATA MENYERAH!! MAJU TERUS DAN SERANG MEREKA!! BANZAI!!!” ucapan jendral Kazuto yang membara telah membangkitkan semangat para prajuritnya. “BANZAI!!!BANZAI!!!BANZAI!!” seru para prajurit.

***
            Para prajurit Jepang sudah siap melanjutkan pertempurannya dengan sekutu, para prajurit itu keluar dari benteng yang mereka menangi dari sekutu. “JANGAN SIA-SIA KAN PERJUANGAN MEREKA YANG TELAH GUGUR!! MAJU TERUS!! HANCURKAN LAWAN!! SEEEERRRRAAAAANNGGGG!!!!!” mendengar perintah dari jendral mereka, para prajurit berlari kearah musuh dengan semangat perang yang membara. Di ujung sana sekutu sudah menunggu datangnya pasukan Jepang. Jeong Suk yang ada di barisan depan melihat bahwa sekutu telah emngepung pasukan Jepang. “Mundur!! Mereka telah mengepung kita!! Mereka telah menyiapkan banyak tank!!” Teriak Jeong suk. Jendral yang mendengar peringatan Jeongsuk tidak akan mundur. Pasukan Jepang terdiam ketika melihat banyak tank yang sudah siap menyerang mereka. “APA YANG KAU LAKUKAN!! MAJU!!” terik jendral Kazuto, prajurit Jepang yang berbalik arah ingin mundur malah di tembaki oleh jendral Kazuto “APA KALIAN AKAN MENJADI PENGECUT HAH!! ORANG JEPANG TAK KENAL KATA MUNDUR!! APAPUN YANG TERJADI MAJU DAN HANCURKAN MUSUH!!!”, “Jendral tarik mundur pasukan, kalau tidak kita akan kalah dalam perang ini” bujuk Jeong suk, “APA KATAMU!!” Ucap jendral Kazuto pada Jeong suk dengan mata melotot. Booooommmmm.... Duaaarrrrr... Buuuoooommm... pasukan sekutu mulai menembaki pasukan Jepang dengan Tank . Beberapa prajurit Jepang melakukan bom bunuh diri ke arah Tank , namun tank tak kunjung rusak. Tidak ada harapan lagi untuk memenangkan perang melawan sekutu. Dooorr.. “Arrrgghhh!!” peluru itu mendarat di tubuh Jendral Dooorrr... Doorrr.. “AAARRRRGGGHHH” Jendral merintih kesakitan karena beberapa peluru yang hinggap di tubuhnya. Jeong suk yang ada didekat Jendral segera menyelamatkan jendral yang tertembak itu. Doorrr.. tembakan peluru itu melukai kaki kiri Jeong suk hingga ia dan Jendral terjatuh ke tanah. Buooommm.... Duaaaarr... suara bom dan tembakan terdengar samar-samar oleh Jeong suk. Ngiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiinnnnnnnnnggggggggggg.... pandangannyapun mulai memudar dan iapun tak sadarkan diri.
***
            Byuuurrr.. siraman air itu membangunkanku “Hey kau bangun!!” kubuka mataku, pandanganku buram lama kemudian pandanganku mulai fokus kembali. Kulihat tanganku terikat, tepat disampingku ada jendral Kazuto. Tak jauh dari tempatku ada Ji Hoo yang juga terikat tangannya. “Kalian jadi tentara kami atau mati?” tanya seorang tentara bule pada kami. “Tak sudi aku menjadi bagian dari kalian” Juih.. kata jendral Kazuto sambil meludah. Tentara bule itu menonjok Jendral duagh.. “uhuk.. uhuk..” jendral Kazuto terbatuk dan darah keluar dari mulutnya, dia mulai tak sadarkan diri. “Jendral.. Jendral..” ku coba membangunkannya, namun ia terduduk lemas di tanah.
            “Hey pak, aku mau jadi bagian dari kalian” kata Ji hoo tiba-tiba. Tentara bule itu tersenyum sinis “Baik, segera ganti pakaianmu!” tentara bule itu melepaskan tali yang mengikat tangan Ji Hoo dan melemparkan baju kearahnya. “Ji Hoo, apa yang kamu lakukan? Kamu mau jadi pengkhianat?” tanyaku padanya “Hya jeong suk, apa kau mati disini? Bersetan dengan pengkhianat, cepat bilang mau!”. “Kita hanya punya baju sedikit, jadi siapa yang cepat mendapatkan baju ini, dia yang dapat bergabung menjadi bagian dari kami” kata tentara bule itu. setelah ikatan kami dilepas, dia melempar baju seragam tentara. Aku segera bergegas mengambil seragam itu, dan aku mendapatkan dua seragam. Yang satu akan aku berikan pada jendral Kazuto.
            “Jendral pakailah seragam ini” kusodorkan seragam padanya “aku tak sudi memakainya”, “Jendral jangan kau keras kepala, hanya ini jalan kita supaya bisa selamat” , setelah aku meyakinkan jendral, akhirnya jendral memakai seragam sekutu meski dengan berat hati.

***
            “Kau!! Kau yang memimpin grup ini” kata seorang dari sekutu, dengan menujuk kearah Ji hoo. “SIAP!!” jawab Ji hoo. Setelah sorang yang menunjuk Ji hoo pergi, aku berjalan mendekati Ji Hoo “Ji hoo, ayo kita susun strategi untuk pergi dari sini”, “apa? Pergi? Kenapa kita harus pergi?”, “Ji hoo kenapa kau seperti ini?”, sepertinya Ji hoo sudah berubah “Jeong Suk, kita akan lebih aman di sini dari pada ikut Jepang, buakankah Jepang yang menjajah negeri kita? Jadi kenapa harus membela Jepang?” “Kau memang sudah berubah, dan kau memang sudah benar menjadi bagian dari mereka”, Ji hoo hanya tersenyum kepadaku dan meninggalkanku.
“Maaf jendral, Ji hoo tidak dapat ikut bersama kita”, “Sialan anak itu, kita akan keluar dari sini di pagi buta. Karena pada jam itu penjagaannya tidak begitu ketat” aku menganggukan kepala tanda bahwa aku mengerti perkataan Jendral. “Kumpulkan dulu pasukan secara diam-diam”, tambahnya “Siap Jendral”.
Setelah semua siap kami mulai bergerak. Jendral memberi aba-aba padaku ketika situasi aman, dan aku mengarahkan pasukan jepang yang lain untuk keluar dari sini. Beberapa orang berhasil keluar dari sini, “HEY!! ADA YANG KABUR!!”, “haish.. SIAL!” umpatku. “Cepat lari dan bawa yang lainnya, aku akan urus mereka” kata jendral. “Tidak Jendral yang pergi dan akan aku halangi mereka, karena hanya jendral yang dapat membawa mereka pergi dari sini”, “baiklah, usahakan kau bisa ikut bersama kami” “siap jendral”. Jendral dan pasukan lain meninggalkan markas sekutu, “Ji Hoo? Kau yang melaporkannya?” tanyaku kaget padanya. “Ya, kemana mereka pergi?” “Tak aka ku beritahukan padamu!”. Pemimpin sekutu itu datang, “Ribut-ribut apa ini?” “pasukan Jepang kabur” jelas Ji Hoo. “APA? BODOH! KEMANA SAJA KAU!!” pemimpin sekutu itu mengbil pistol yang akan ditembakkan ke Ji Hoo. Melihat itu segera ku tembak pemimpin sekutu. Dorr.. tembakanku mengenai tangan pemimpin itu. “Argghh, SIAL!! BUNUH MEREKA!!” Perintah pemimpin sekutu. Duar... Duar.. Duar.. tentara sekutu menembak Ji hoo. “Agh.. Jee..oonn  sssuk,, ma..aaf” itulah kata terakhir yang kudengar darinya. Duaar.. Duuarr.. peluru-peluru itu bersarang di tubuhku, pandanganku mulai kabur dan Bruk..
.
***
            Jeong suk ambruk karena tembakan para tentara sekutu. Kedua sahabat itu menghembuskan nafas terakhirnya dan memejamkan mata untuk selamanya.

Sastra