Senin, 24 Februari 2014

Budaya Patriarki dan Feminisme

Oleh : Ike Dewi Lestari Feminisme pertama kali muncul pada abad ke-18, yang diperkenalkan oleh seorang aktivis sosialis utopis, Charles Fourier. Ada tiga gelombang besar dalam perkembangan feminisme, yaitu pada tahun 1851, pada tahun 1960-1980, dan tahun 1991. Gerakan ini dipelopori oleh beberapa tokoh wanita, yaitu B.Anthony, Elizabeth Cady Stanton dan Marry Wollstonecraft melalui surat kabar The Revolution, dimana perempuan mempunyai banyak masalah mulai dari diskriminasi gereja, perceraian, dan prostitusi. Mereka menganggap perlakuan seperti itu muncul karena para perempuan mengalami banyak ketertinggalan, seperti: buta huruf, miskin, dan tidak berkeahlian. Selain itu, perempuan dulu umumnya sering menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), pelecehan seksual, dan pemerkosaan, tidak boleh aktif dalam pemilu, juga diskriminasi dalam pekerjaan. Gerakan ini tidak memberikan hasil yang memuaskan karena pada saat itu tidak banyak mendapatkan dukungan dari kaum perempuan, hingga kemudian muncul buku The Second Sex yang ditulis oleh Simone Beauvoir yang akhirnya dua puluh tahun setelahnya dapat menumbuhkan kesadaran perempuan dan kesamaan hak-hak pria dan wanita dapat terwujud. Perjuangan perempuan adalah perjuangan tersulit dan terlama, bahkan lebih dari perjuangan kemerdekaan. Feminisme di Indonesia sendiri ditandai dengan munculnya beberapa tokoh perempuan seperti: R.A Kartini, Dewi Sartika, dan Cut Nya’ Dien. Mereka berjuang melalui pendidikan, supaya wanita Indonesia tidak buta huruf, juga mengajarkan mengenai keterampilan. Emansipasi ini dapat membebaskan wanita dari selogan zaman dahulu bahwa pekerjaan wanita hanya di sumur, kasur, dan dapur. Sekarang sudah tidak ada lagi pembatasan hak-hak atas perempuan, antara wanita dan lelaki adalah sama. Dengan adanya gerakan perempuan seiring dengan perkembangan zaman, peran wanita semakin penting. Hampir seluruh perempuan di dunia berlatarbelakang pendidikan tinggi dan telah bekerja di luar rumah. Misalnya sebagai guru, dokter, politisi, pekerja seni, bahkan pemimpin negara. Indonesia sendiri pernah dipimpin oleh seorang wanita yaitu mantan presiden Megawati Soekarno Poetri, hal ini menunjukkan bahwa diskriminasi terhadap perempuan telah hilang. Pada dasarnya feminisme menganggap wanita dan lelaki adalah sama. Hal ini membuat para wanita merasa merdeka, tidak terikat oleh siapapun dan bebas dengan apapun keputusannya. Dampak buruknya, mereka tidak lagi memperhatikan kodrat perempuan sebagai ibu yang baik, mengurus suami dan memberikan pendidikan pada anak-anaknya di rumah, karena Perempuan sekarang lebih suka di luar rumah, terjun ke dunia laki-laki dan meninggalkan dunianya. Selain itu, feminisme membuat sebagian perempuan Indonesia memusuhi budaya patriarki dan berusaha menghancurkannya. Tidak heran jika sekarang ini banyak dijumpai lesbian dan wanita karir yang lebih suka melajang. Apalagi seorang Sekretaris Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) dalam musyawarah nasional mengatakan penyebab human trafficking dan kekerasan pada para tenaga kerja adalah tingginya angka buta huruf perempuan usia 15 tahun ke atas yang mencapai 9.48 %, lebih tinggi jika di bandingkan angka buta huruf laki-laki yang hanya 4.3 %. Hal ini membuktikan masih dominannya budaya patriarki dan rendahnya pendidikan kaum perempuan di negeri ini. Budaya patriarki memang menimbulkan masalah bagi perempuan, akan tetapi bukan berarti harus di laksanakannya pemakaian teori feminisme secara penuh untuk menghancurkan budaya ini. Sebagai contoh, keinginan di musnahkannya institusi keluarga yang dianggap hanya akan membuat perempuan terisolasi. Hal itu tentu tidak akan membantu penyelesaian masalah, apalagi nanti jika penghancuran institusi keluarga benar-benar di laksanakan. Mungkin akan muncul masalah baru yang justru jalan keluarnya semakin rumit. Yang terpenting perempuan di dunia sudah mendapatkan haknya masing-masing, karena inti dari feminisme adalah tuntutan akan kesejahteraan bagi perempuan. Sebagaimana mestinya, laki-laki dan perempuan itu saling melengkapi. Semua memiliki peran masing-masing, sehingga kehidupan ini akan seimbang. Tidak harus ada deskriminasi terhadap perempuan ataupun penghancuran terhadap laki-laki dan politik patriarki. Jika seorang perempuan dalam rumah tangganya ingin menjadi wanita karir, ia juga harus ingat akan pentingnya peran wanita sebagai seorang ibu. Mengurus rumah tangga, dan mempunyai perhatian penuh bagi keluarga. Feminisme yang muncul dari barat pada umumnya sangat mempengaruhi kehidupan perempuan di seluruh dunia, dari kaum yang tertindas menjadi berperan penting. Akan tetapi dalam menganut feminisme ini di Indonesia haruslah disesuaikan dengan budaya dan nilai-nilai agama yang ada. Menghindari yang tidak perlu dan menyimpang serta mengambil yang memang penting untuk diperjuangkan.


Oleh : Ike Dewi Lestari

Feminisme pertama kali muncul pada abad ke-18, yang diperkenalkan oleh seorang aktivis sosialis utopis, Charles Fourier. Ada tiga gelombang besar dalam perkembangan feminisme, yaitu pada tahun 1851, pada tahun 1960-1980, dan tahun 1991. Gerakan ini dipelopori oleh beberapa tokoh wanita, yaitu B.Anthony, Elizabeth Cady Stanton dan Marry Wollstonecraft melalui surat kabar The Revolution, dimana perempuan mempunyai banyak masalah mulai dari diskriminasi gereja, perceraian, dan prostitusi. 

Mereka menganggap perlakuan seperti itu muncul karena para perempuan mengalami banyak ketertinggalan, seperti: buta huruf, miskin, dan tidak berkeahlian. Selain itu, perempuan dulu umumnya sering menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), pelecehan seksual, dan pemerkosaan, tidak boleh aktif dalam pemilu, juga diskriminasi dalam pekerjaan. Gerakan ini tidak memberikan hasil yang memuaskan karena pada saat itu tidak banyak mendapatkan dukungan dari kaum perempuan, hingga kemudian muncul buku The Second Sex yang ditulis oleh Simone Beauvoir yang akhirnya dua puluh tahun setelahnya dapat menumbuhkan kesadaran perempuan dan kesamaan hak-hak pria dan wanita dapat terwujud. Perjuangan perempuan adalah perjuangan tersulit dan terlama, bahkan lebih dari perjuangan kemerdekaan. Feminisme di Indonesia sendiri ditandai dengan munculnya beberapa tokoh perempuan seperti: R.A Kartini, Dewi Sartika, dan Cut Nya’ Dien. 

Mereka berjuang melalui pendidikan, supaya wanita Indonesia tidak buta huruf, juga mengajarkan mengenai keterampilan. Emansipasi ini dapat membebaskan wanita dari selogan zaman dahulu bahwa pekerjaan wanita hanya di sumur, kasur, dan dapur. Sekarang sudah tidak ada lagi pembatasan hak-hak atas perempuan, antara wanita dan lelaki adalah sama. Dengan adanya gerakan perempuan seiring dengan perkembangan zaman, peran wanita semakin penting. Hampir seluruh perempuan di dunia berlatarbelakang pendidikan tinggi dan telah bekerja di luar rumah. Misalnya sebagai guru, dokter, politisi, pekerja seni, bahkan pemimpin negara. Indonesia sendiri pernah dipimpin oleh seorang wanita yaitu mantan presiden Megawati Soekarno Poetri, hal ini menunjukkan bahwa diskriminasi terhadap perempuan telah hilang. Pada dasarnya feminisme menganggap wanita dan lelaki adalah sama. Hal ini membuat para wanita merasa merdeka, tidak terikat oleh siapapun dan bebas dengan apapun keputusannya. Dampak buruknya, mereka tidak lagi memperhatikan kodrat perempuan sebagai ibu yang baik, mengurus suami dan memberikan pendidikan pada anak-anaknya di rumah, karena Perempuan sekarang lebih suka di luar rumah, terjun ke dunia laki-laki dan meninggalkan dunianya. Selain itu, feminisme membuat sebagian perempuan Indonesia memusuhi budaya patriarki dan berusaha menghancurkannya. 

Tidak heran jika sekarang ini banyak dijumpai lesbian dan wanita karir yang lebih suka melajang. Apalagi seorang Sekretaris Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) dalam musyawarah nasional mengatakan penyebab human trafficking dan kekerasan pada para tenaga kerja adalah tingginya angka buta huruf perempuan usia 15 tahun ke atas yang mencapai 9.48 %, lebih tinggi jika di bandingkan angka buta huruf laki-laki yang hanya 4.3 %. Hal ini membuktikan masih dominannya budaya patriarki dan rendahnya pendidikan kaum perempuan di negeri ini. Budaya patriarki memang menimbulkan masalah bagi perempuan, akan tetapi bukan berarti harus di laksanakannya pemakaian teori feminisme secara penuh untuk menghancurkan budaya ini. Sebagai contoh, keinginan di musnahkannya institusi keluarga yang dianggap hanya akan membuat perempuan terisolasi. Hal itu tentu tidak akan membantu penyelesaian masalah, apalagi nanti jika penghancuran institusi keluarga benar-benar di laksanakan. Mungkin akan muncul masalah baru yang justru jalan keluarnya semakin rumit. Yang terpenting perempuan di dunia sudah mendapatkan haknya masing-masing, karena inti dari feminisme adalah tuntutan akan kesejahteraan bagi perempuan. Sebagaimana mestinya, laki-laki dan perempuan itu saling melengkapi. 

Semua memiliki peran masing-masing, sehingga kehidupan ini akan seimbang. Tidak harus ada deskriminasi terhadap perempuan ataupun penghancuran terhadap laki-laki dan politik patriarki. Jika seorang perempuan dalam rumah tangganya ingin menjadi wanita karir, ia juga harus ingat akan pentingnya peran wanita sebagai seorang ibu. Mengurus rumah tangga, dan mempunyai perhatian penuh bagi keluarga. Feminisme yang muncul dari barat pada umumnya sangat mempengaruhi kehidupan perempuan di seluruh dunia, dari kaum yang tertindas menjadi berperan penting. Akan tetapi dalam menganut feminisme ini di Indonesia haruslah disesuaikan dengan budaya dan nilai-nilai agama yang ada. Menghindari yang tidak perlu dan menyimpang serta mengambil yang memang penting untuk diperjuangkan.

Sastra