Kamis, 28 November 2013

Fatamorgana Kampus "Taneyan Lanjang"

Oleh : Nofianto Puji Imawan Rona lingkungan adalah gambaran keadaan lingkungan di tempat proyek yang akan dibangun dan didaerah sekitar. Begitulah kalimat yang awal ku baca saat membaca buku mengenai analisa mengenai dampak lingkungan hidup (AMDAL), dengan banyak sekali subtansi dari puluhan bab dalam buku itu. Berarti sangat penting hingga hal itu mengerucut kepada banyaknya bab dan subtansinya dalam buku AMDAL karangan F.Gunarwan suratmo ini. Namun lingkungan yang seperti apa, lingkungan tempat tinggal kita kah, lingkungan kita berasal atau lingkungan kampus kita. Produk yang dihasilkan manusia selalu berdampak pada lingkungan tapi lingkungan sangat berpengaruh pada manusia. Itulah sebuah silogisme, sehingga pertautan antara manusia dan lingkungan menjadi saling mengikat satu sama lain dan harus ada yang rela di korbankan antara keduanya. Jika manusia menjadi lebih maju dalam berbagai aspek maka sebagai yang di korbankan, lingkungan sekitarnya akan lebih di eksploitasi, bila eksploitasi dilakukan secara maksimal maka berujung pada eksploitasi yang berlebihan atau tidak terkendali hingga berpangkal pada habisnya sumber daya alam lingkungan itu sendiri. Dengan mudah pula kita menyebutkan contoh eksploitasi lingkungan secara berlebihan Yang dilakukan manusia, seperti; penebangan hutan di Kalimantan Timur, penggalian pasir liar di Tembelang-Jombang, pengeboran gas bumi di Porong Sidoarjo oleh PT. Minarak Lapindo, eksploitasi minyak dan gas (MIGAS) di Sumenep & Sampang Madura, penggalian di papua, pengerukan batu kapur di bangkalan dan sebagainya. Sama, dengan lingkungan sekitar kita. Yaitu lingkungan kampus kita. Kenapa harus lingkungan kampus kita bukan yang lainya, dikarenakan hal yang kita lihat waktu masuk kuliah di “kampus taneyan lanjang” maka yang terlihat adalah jalan lurus terbentang dari Labang sampai Jl.Kamal-Bangkalan, berjajar warung, ruko-ruko, bank namun tak terlalu padat di sekitar kampus hingga mulai kost, kontraan, baik yang sudah berdiri maupun tahap pembangunan itu bila kita lihat di luar kampus ini. Bila masuk kedalam kampus kalau pagi semua mahasiswa di alihkan pada jalan baru sebagai pintu masuk dan gerbang lama di fungsikan sebagai pintu keluar, walaupun itu berlaku di hari kuliah aktif dari pagi Pkl 06.00-17-00 WIB. Masuk kedalam lagi banyak pembangunan mulai pembangunan pagar mengelilingi kampus, gedung LAB, drainase, jalan, danau buatan, penataan pohon-pohonan, lapangan olah raga di depan gedung A asrama putri dan lain sebagainya. Hal ini menjadi pemandangan kita sehari-hari selama 3 bulan belakangan ini saat kita berada di kampus. Dahulu hutan sekarang gedung-gendung penunjang perkuliahan kaum akdemisi. Dahulu tanah lapang sekarang jalan aspal, dahulu lingkungan sunyi sekarang padat dan lebih ramai aktifitas. Ada pengembangan menimbulkan perubahan dan punya efek positif-negatif secara relatif. Pembangunan terus berjalan, master plan sebagai acuan. Tetapi bagaimana kondisi bangunan yang sudah berdiri di dalam kampus ini. Apakah semuanya bisa di pakai, apakah semuanya layak dipakai, apakah sudah maksimal & sesuai fungsinya bangunan-bangunan yang sudah berdiri ini. Perawatan bangunan benar-benar dilakukan dengan tepat kah. Kalau memang sudah, apakah kalau kita cek semua bangunan di kampus ini secara detail dan teliti. Tidak adakah cacat, tidak adakah yang perlu di bersihkan, tidak adakah yang perlu perbaiki. Kalau memang pengawasan dan perawatan gedung, bagunan dan lainya sudah benar tidak ada yang namanya kran kamar mandi masjid rusak, gazebo rusak, jalan-jalan di kampus belum rata, kantin yang cat tempoknya mengelupas, gedung asaram yan banyak kerusakan di dalamnya, material bekas bangunan yang menumpuk di depan masjid, lampu penerangan kampus yang kurang, kursi di ruang kuliah yang rusak, LCD yang tidak berfungsi, saluran air yang tersumbat dan sekertariat UKM yang kondisi tidak layak jika di tempati. Tapi yakinlah bawah itu tidak akan lama di perbaiki kembali dan lebih baik dari sebelumnya. Itulah jawaban yang rata-rata jika kita membahas masaah-masalah tadi, perbaikan yang kurang cepat, padahal seharusnya bisa di selsaikan dengan cepat. Tapi itulah lingkungan kita, kadang kala lingkungan berpihak pada kita kadang pula lingkungan menggangu kita. Tapi lingkungan kampus kita sama halnya dengan gurun pasir yang dimana pohon-pohonya hanya sekedar fatamorgana semata. Padahal 1 Pohon adalah aset berharga yang efeknya lebih baik dari pada 50 motor bebek. Tapi jika ada orang di beri piihan diberi pohon beringin umurnya 58 tahun atau motor kawasaki ninja 250R. Tak perlu survei atau membagi quisioner untuk mengetahui hal itu pasti sudah tahu. Orang yang hidup di tempat yang kadar oksigenya lebih tinggi maka umurnya bakalan lebih panjang dan lebih sehat, otomatis kalau ingin kadar oksigenya lebih banyak ya harus banyak pepohonan agar fotosintesa lebih maksimal menghasikan oksigen. Ini malah pembangunan kampus yang katanya menata semuanya termasuk pepohonan malah pohon-pohon banyak yang di tebang, jalur kabel fiber optic, jalur listrik yang tertata rapi malah kena penggalian proyek pembangunan LAB hingga buktinya wifi mati, kampus panas menyengat lebih lagi kalau siang, namun mumpung sekarang musim hujan siap-siap saja dengan banjir dan panas kampus menjadi berkurang. Drainase di kampus masih belum rampung di perbaiki, musim hujan tiba poho-pohonan pun tidak begitu banyak. Maka alangkah baiknya jika kita tuntaskan dalam merawat diri sendiri maka setelah itu rawatlah lingkungan kita. Rawatlah pohon-pohon di kampus, rawatlah kebersian akan sampah yang berserakan, hingga mari kita rawat sistem kampus yang belum baik menjadi sedikit baik.


Oleh : Nofianto Puji Imawan

Rona lingkungan adalah gambaran keadaan lingkungan di tempat proyek yang akan dibangun dan didaerah sekitar. 

Begitulah kalimat yang awal ku baca saat membaca buku mengenai analisa mengenai dampak lingkungan hidup (AMDAL), dengan banyak sekali subtansi dari puluhan bab dalam buku itu. Berarti sangat penting hingga hal itu mengerucut kepada banyaknya bab dan subtansinya dalam buku AMDAL karangan F.Gunarwan suratmo ini. 

Namun lingkungan yang seperti apa, lingkungan tempat tinggal kita kah, lingkungan kita berasal atau lingkungan kampus kita. Produk yang dihasilkan manusia selalu berdampak pada lingkungan tapi lingkungan sangat berpengaruh pada manusia. Itulah sebuah silogisme, sehingga pertautan antara manusia dan lingkungan menjadi saling mengikat satu sama lain dan harus ada yang rela di korbankan antara keduanya.

Jika manusia menjadi lebih maju dalam berbagai aspek maka sebagai yang di korbankan, lingkungan sekitarnya akan lebih di eksploitasi, bila eksploitasi dilakukan secara maksimal maka berujung pada eksploitasi yang berlebihan atau tidak terkendali hingga berpangkal pada habisnya sumber daya alam lingkungan itu sendiri. Dengan mudah pula kita menyebutkan contoh eksploitasi lingkungan secara berlebihan Yang dilakukan manusia, seperti; penebangan hutan di Kalimantan Timur, penggalian pasir liar di Tembelang-Jombang, pengeboran gas bumi di Porong Sidoarjo oleh PT. Minarak Lapindo, eksploitasi minyak dan gas (MIGAS) di Sumenep & Sampang Madura, penggalian di papua, pengerukan batu kapur di bangkalan dan sebagainya. Sama, dengan lingkungan sekitar kita. Yaitu lingkungan kampus kita. 

Kenapa harus lingkungan kampus kita bukan yang lainya, dikarenakan hal yang kita lihat waktu masuk kuliah di “kampus taneyan lanjang” maka yang terlihat adalah jalan lurus terbentang dari Labang sampai Jl.Kamal-Bangkalan, berjajar warung, ruko-ruko, bank namun tak terlalu padat di sekitar kampus hingga mulai kost, kontraan, baik yang sudah berdiri maupun tahap pembangunan itu bila kita lihat di luar kampus ini. 

Bila masuk kedalam kampus kalau pagi semua mahasiswa di alihkan pada jalan baru sebagai pintu masuk dan gerbang lama di fungsikan sebagai pintu keluar, walaupun itu berlaku di hari kuliah aktif dari pagi Pkl 06.00-17-00 WIB. Masuk kedalam lagi banyak pembangunan mulai pembangunan pagar mengelilingi kampus, gedung LAB, drainase, jalan, danau buatan, penataan pohon-pohonan, lapangan olah raga di depan gedung A asrama putri dan lain sebagainya. Hal ini menjadi pemandangan kita sehari-hari selama 3 bulan belakangan ini saat kita berada di kampus. Dahulu hutan sekarang gedung-gendung penunjang perkuliahan kaum akdemisi. Dahulu tanah lapang sekarang jalan aspal, dahulu lingkungan sunyi sekarang padat dan lebih ramai aktifitas. Ada pengembangan menimbulkan perubahan dan punya efek positif-negatif secara relatif. 

Pembangunan terus berjalan, master plan sebagai acuan. Tetapi bagaimana kondisi bangunan yang sudah berdiri di dalam kampus ini. Apakah semuanya bisa di pakai, apakah semuanya layak dipakai, apakah sudah maksimal & sesuai fungsinya bangunan-bangunan yang sudah berdiri ini. Perawatan bangunan benar-benar dilakukan dengan tepat kah. Kalau memang sudah, apakah kalau kita cek semua bangunan di kampus ini secara detail dan teliti. Tidak adakah cacat, tidak adakah yang perlu di bersihkan, tidak adakah yang perlu perbaiki. Kalau memang pengawasan dan perawatan gedung, bagunan dan lainya sudah benar tidak ada yang namanya kran kamar mandi masjid rusak, gazebo rusak, jalan-jalan di kampus belum rata, kantin yang cat tempoknya mengelupas, gedung asaram yan banyak kerusakan di dalamnya, material bekas bangunan yang menumpuk di depan masjid, lampu penerangan kampus yang kurang, kursi di ruang kuliah yang rusak, LCD yang tidak berfungsi, saluran air yang tersumbat dan sekertariat UKM yang kondisi tidak layak jika di tempati. 

Tapi yakinlah bawah itu tidak akan lama di perbaiki kembali dan lebih baik dari sebelumnya. Itulah jawaban yang rata-rata jika kita membahas masaah-masalah tadi, perbaikan yang kurang cepat, padahal seharusnya bisa di selsaikan dengan cepat. Tapi itulah lingkungan kita, kadang kala lingkungan berpihak pada kita kadang pula lingkungan menggangu kita. Tapi lingkungan kampus kita sama halnya dengan gurun pasir yang dimana pohon-pohonya hanya sekedar fatamorgana semata. Padahal 1 Pohon adalah aset berharga yang efeknya lebih baik dari pada 50 motor bebek. Tapi jika ada orang di beri piihan diberi pohon beringin umurnya 58 tahun atau motor kawasaki ninja 250R. Tak perlu survei atau membagi quisioner untuk mengetahui hal itu pasti sudah tahu. 

Orang yang hidup di tempat yang kadar oksigenya lebih tinggi maka umurnya bakalan lebih panjang dan lebih sehat, otomatis kalau ingin kadar oksigenya lebih banyak ya harus banyak pepohonan agar fotosintesa lebih maksimal menghasikan oksigen. Ini malah pembangunan kampus yang katanya menata semuanya termasuk pepohonan malah pohon-pohon banyak yang di tebang, jalur kabel fiber optic, jalur listrik yang tertata rapi malah kena penggalian proyek pembangunan LAB hingga buktinya wifi mati, kampus panas menyengat lebih lagi kalau siang, namun mumpung sekarang musim hujan siap-siap saja dengan banjir dan panas kampus menjadi berkurang. Drainase di kampus masih belum rampung di perbaiki, musim hujan tiba poho-pohonan pun tidak begitu banyak. Maka alangkah baiknya jika kita tuntaskan dalam merawat diri sendiri maka setelah itu rawatlah lingkungan kita. Rawatlah pohon-pohon di kampus, rawatlah kebersian akan sampah yang berserakan, hingga mari kita rawat sistem kampus yang belum baik menjadi sedikit baik.

Top Ad 728x90