Selasa, 17 September 2013

Mahasiswa Penghibur Lelah

Buku panduan mahasiswa yang diberikan adalah ujung otak atau sumber jikalau ditanya apa fungsi mahasiswa, peran mahasiswa, dll oleh senior di waktu ospek. Maka berfikirlah dan tak usah bertanya jikalau kualitas mahasiswa semakin tahun semakin menurun. Memang bukanlah sebagai tolak ukur tetapi Perlukah berkelana untuk mencari arca bernama “mahasiswa” pemikul amanah mengemban banyak tugas bangsa dan negara yang sampai sekarang cuma janji-janji palsu. Baik baru menjadi mahasiswa atau yang sudah lama menjadi mahasiswa banyak pertanyaan yang seakan didiamkan dan dibiarkan berlalu tanpa membawa jawaban yang memuaskan dan pasti. Tentang kisah dongeng perjuangan mahasiswa yang menimbulkan banyak euforia pelengkap pesta, kepercayaaan diri penumbuh semangat agar tidak “ngantuk” dalam menjalani ospek. Hingga yel-yel dicampur teriakan bahkan bau badan para mahasiswa baru waktu ospek. Lebih lazim di sebut “ludah pengering kerongkongan” waktu tersesat di gurun. Jadi mahasiswa bukan cuma simbol atau karena, syarat kerja, terpaksa, disuruh, tidak ada pilihan atau kebanggan saja, namun banyak amplop isi yang perlu di buka sendiri untuk mengetahuinya. Sama dengan hanya sadar diri akan tanggung jawab yang diemban dalam menjalakan amanah absurd ini. Hingga sekarang yang tau diri tak banyak, malah yang tak tau diri makin berkembang biak. Begitu kabar dari beberapa informasi yang hampir mempertanyakan mengenai mahasiswa, baik peran, fungsi, guna, dan lain-lain. Kita tidak akan selalu membandingkan mahasiswa sekarang dengan mahasiswa dulu yang jelas-jelas hidup di jaman dan menerima didikan yang berbeda. Namun apakah cuma karena alasan itu mahasiswa sekarang lebih menurun kualitasnya, dalam segalah bidang baik sumbangsih kepada negara, peran-peran mahasiswa ke rakyat atau lingkunganya secara langsung, mendahulukan kepentingan bersama, menagani masalah kecil di kampus dan mengembalikan paradigma mahasiswa. Banyak kembang kertas yang diucap sampai ludah pun keluar untuk menancapkan kepada telinga para mahasiswa mengenai dongeng tridarma perguruan tinggi. Begitu muluknya tapi sebenarnya itu perlu, kenapa dikatakan muluk? Karena melihat kondisi sekarang yaitu mahasiswa yang lebih mementingkan perutnya sendiri, mahasiswa yang lebih mementingkan kelompoknya, dimana mahasiswa mempunyai sifat dan ciri seperti hedonis, apatis, oportunis, organis, agamis, matrealis, dll hingga mahasiswa yang lupa identitasnya sebagai mahasiswa dan terbuai kebanggaan semu. Jika anda sudah menjadi mahasiswa, maka berdukalah. Jika merasa sudah menjadi mahasiswa aktif, waspadalah. Jika sudah tau menjadi mahasiswa resmi, cepat-cepat keluarlah.


Buku panduan mahasiswa yang diberikan adalah ujung otak atau sumber jikalau ditanya apa fungsi mahasiswa, peran mahasiswa, dll oleh senior di waktu ospek. Maka berfikirlah dan tak usah bertanya jikalau kualitas mahasiswa semakin tahun semakin menurun.

Memang bukanlah sebagai tolak ukur tetapi Perlukah berkelana untuk mencari arca bernama “mahasiswa” pemikul amanah mengemban banyak tugas bangsa dan negara yang sampai sekarang cuma janji-janji palsu. Baik baru menjadi mahasiswa atau yang sudah lama menjadi mahasiswa banyak pertanyaan yang seakan didiamkan dan dibiarkan berlalu tanpa membawa jawaban yang memuaskan dan pasti. Tentang kisah dongeng perjuangan mahasiswa yang menimbulkan banyak euforia pelengkap pesta, kepercayaaan diri penumbuh semangat agar tidak “ngantuk” dalam menjalani ospek. Hingga yel-yel dicampur teriakan bahkan bau badan para mahasiswa baru waktu ospek. Lebih lazim di sebut “ludah pengering kerongkongan” waktu tersesat di gurun.

Jadi mahasiswa bukan cuma simbol atau karena, syarat kerja, terpaksa, disuruh, tidak ada pilihan atau kebanggan saja, namun banyak amplop isi yang perlu di buka sendiri untuk mengetahuinya. Sama dengan hanya sadar diri akan tanggung jawab yang diemban dalam menjalakan amanah absurd ini. Hingga sekarang yang tau diri tak banyak, malah yang tak tau diri makin berkembang biak. Begitu kabar dari beberapa informasi yang hampir mempertanyakan mengenai mahasiswa, baik peran, fungsi, guna, dan lain-lain.

Kita tidak akan selalu membandingkan mahasiswa sekarang dengan mahasiswa dulu yang jelas-jelas hidup di jaman dan menerima didikan yang berbeda. Namun apakah cuma karena alasan itu mahasiswa sekarang lebih menurun kualitasnya, dalam segalah bidang baik sumbangsih kepada negara, peran-peran mahasiswa ke rakyat atau lingkunganya secara langsung, mendahulukan kepentingan bersama, menagani masalah kecil di kampus dan mengembalikan paradigma mahasiswa.

 Banyak kembang kertas yang diucap sampai ludah pun keluar untuk menancapkan kepada telinga para mahasiswa mengenai dongeng tridarma perguruan tinggi. Begitu muluknya tapi sebenarnya itu perlu, kenapa dikatakan muluk? Karena melihat kondisi sekarang yaitu mahasiswa yang lebih mementingkan perutnya sendiri, mahasiswa yang lebih mementingkan kelompoknya, dimana mahasiswa mempunyai sifat dan ciri seperti hedonis, apatis, oportunis, organis, agamis, matrealis, dll hingga mahasiswa yang lupa identitasnya sebagai mahasiswa dan terbuai kebanggaan semu.

 Jika anda sudah menjadi mahasiswa, maka berdukalah.
 Jika merasa sudah menjadi mahasiswa aktif, waspadalah.
 Jika sudah tau menjadi mahasiswa resmi, cepat-cepat keluarlah.

Sastra