Rabu, 01 Mei 2013

PETUAH BIJAK KRONI SBY

Orang-orang yang terdampar di masa sekarang tidak akan betul-betul mengerti tentang persoalan masa lalu. Sekalipun aturan yang berlaku adalah persoalan masa lalu akan menjadi PR (Pekerjaan Rumah) untuk masa sekarang. Baik persoalan utang negara, feodalisme, sistem yang bobrok. Semuanya murni urusan masing-masing pribadi yang bersangkutan dengannya. 

Kesenjangan, orang-orang yang masih berjongkok-jongkok merendah – menyembah, cium tangan dan kaki di luar batas kewajaran, dan semua, dan kemiskinan yang sengaja di ciptakan, sudah menjadi urusan masing-masing pribadi. Sebab di sini bukan kampung kepedulian. Kepedulian adalah barang mahal yang sulit ditemukan. Sehingga, kita tidak perlu lagi mengharapkannya, terutama generasi muda. Soal kemiskinan, yang otomatis melahirkan bandit-bandit miskin, atau bajingan kere. Mereka lah yang di sebut anak muda sekarang sebagai: kelaparan yang membutakan. Soal kenapa kesombongan atas nasib orang lain yang dimiskinkan sudah semakin subur saja. If There Is A Will, There Is A Way Seseorang menyuguhi aku kata-kata luar biasa ini di sebuah sore yang cerah. “Kemiskinan dan kelaparan tidak bisa dijadikan alasan agar seseorang bisa melakukan kejahatan”. 

Ujarnya padaku. Aku pikir, jenius juga kata-kata ini, seakan-akan sanggup memberikan solusi agar mereka yang miskin tidak lantas mengatasnamakan kemiskinannya untuk menjadi seorang penjahat. Sebab, kejahatan adalah kejahatan, apapun motifnya. Hukum di Indoesia tidak pernah merunut alasan mengapa seseorang melakukan tindak kejahatan. Maka, kita harus keluar dari susahnya kehidupan dengan merumuskan sendiri langkah-langkah apa yang akan kita ambil untuk keluar dari kemiskinan, tanpa harus mengatasnamakan kelaparan yang membutakan. Dengan kata lain, mengelola kehidupan dengan cara yang rasional adalah jelan terbaik untuk keluar dari keadaan apapun. Tapi aku jadi bertanya, apa setiap orang sanggup mengelola hidupnya dengan cara yang rasional, dengan jalan mencari alternatif jitu untuk keluar dari keadaan? Kalau ukuran kawanku yang sudah lama berkuliah, aku pikir dia akan sanggup melakukan ini. 

Dia masih bisa menyusun proposal dengan program-program jauh ke depan, dimana dalam program itu kita bisa numpang hidup, makan, beristri dan hidup secara layak. Tapi, sanggupkah mereka yang ada di pinggir-pinggir jalan, mereka yang hidup di bawah garis kemiskinan tanpa punya pegangan pendidikan untuk mengelola hidup mereka menjadi lebih baik? Sanggupkah kita menghasilkan “way” seperti apa yang dimaksudkannya ketika perut kita sedang melilit kelaparan? Menurutku, orang-orang yang sombong mesti sekali-kali merasakan kelaparan. Menghadapi orang macam ini, membuat aku tak tahan untuk mengajaknya mabuk dan aku ajak ke Bungurasih – kantor aku mengamen dulu. Kemudian mengadunya berkelahi dengan orang-orang miskin berkulit tipis, bermata merah, perut sedikit kembung, dan tulang dada menonjol keluar. Aku akan carikan dia lawan yang sepadan. 

Pasalnya di sana banyak anak-anak malang macam itu. Kebanyakan dari mereka tak takut mati. Berani gulung-gulung untuk sekedar jotos-jotosan, berkelahi dengannya. Aku ingin menguji mentalnya. Seberapa jauh dia berani bicara dan sombong ketika ia berhadapan langsung dengan mereka. Selain itu bisakah dia berkoar soal if there is a will, there is way, kutipan kebanggaan salah satu kroni Cikeas. Aku jadi berpikir, apakah sebuah nasihat yang luar biasa jenius, harus selalu sombong dengan kehidupan orang lain? Bukankah kita dianggap kaya, karena ada orang-orang miskin hidup di sekitar kita. Lagipula tidak semua orang miskin memiliki militansi seperti Francouis, penyair Prancis, yang sanggup bertahan dari kejamnya Bastile, dan tanpa alasan yang jelas, ia kemudian dibebaskan dan sanggup memberitakan kemenangannya lewat karyanya “Oedipus”. Sedangkan orang-orang miskin di kampung tidak sanggup menyelenggarakan kemenangan hidupnya akan tuntutan-tuntutan jaman. 

Mereka juga tidak sanggup mendeklarasikan kemenangan lewat karya-karya, juga pagelaran. Dan satu-satunya kesanggupan mereka hanya menjadi objek pameran, monumen, ketidakberdayaan yang akhirnya dikenang sepanjang masa dalam sebuah statistik kemiskinan yang mengerikan. Sebagai penutup tulisan jengkel kali ini, anda wajib mengingat hal ini: “Anda bisa dan boleh menjadi bajingan atau penjahat model apapun, asalkan jangan sekali-kali sombong dengan kehidupan orang miskin. Kualat!”.

Citra D. Vresti Trisna

0 komentar:

Posting Komentar

Sastra