Jumat, 26 April 2013

FANTASIKU BERNAMA GLADIATOR CELURIT

http://tapaksuci-europe.com/INDO/IMAGES/weapons/Celurit.jpg  Fantasiku Bernama Gladiator Celurit “Imagination is more important than knowledge” Albert Einsten. “Mengapa bermimpi saja mesti dirampas?” 

ujar salah seorang dosen pada sebuah kesempatan. Benakku seketika terpusat pada kata bermimpi. Imajinasi, khayalan, angan – angan, mimpi atau fantasi memposisikan dirinya pada masa dan tempat yang berlainan. Yang lalu, saat ini, dan yang akan datang: di sini, di sana, di situ dan seterusnya. Ia terus bergerak dan berpindah dari satu jiwa ke jiwa lain. Sesekali berubah ke dalam dunia nyata, namun kerap mengendap begitu saja. Pada kesempatan yang berbeda, seorang teman jauh ingin berwisata ke Madura. Ia ingin melihat Karapan Sapi. 

Seorang lagi ingin mengunjungi makam ulama terkenal. Tidak hanya kedua temanku saja, mungkin calon wisatawan yang akan berkunjung ke Pulau Madura secara spontan akan menyebutkan kedua tujuan wisata: Karapan Sapi dan Makam Ulama. Saat ini, hegemoni pariwisata Pulau Madura setidaknya bertambah satu, yaitu Jembatan Suramadu. Lantas tidak adakah tujuan wisata di Pulau Madura yang menarik turis untuk datang selain Karapan Sapi, Jembatan Suramadu, dan Makam Ulama? Apabila saya seorang turis, tentunya saya akan mengunjungi sebuah tempat yang memiliki tujuan wisata yang unik dan tidak bisa ditemukan di tempat lain. Sebuah wisata yang mencerminkan karakteristik daerah tersebut. Baik dari segi geografis, budaya, adat istiadat, kebiasaan, dan karakter penduduknya. 

Bill Faulkner membagi potensi pariwisata di Indonesia menjadi lima aspek, yaitu warisan budaya yang kaya, bentang alam yang indah, dekat pasar pertumbuhan asia, penduduk potensial, dan tenaga kerja yang murah. Pada konteks Pulau Madura, semua aspek semestinya sudah terpenuhi. Akan tetapi, pariwisata yang selalu dikenal oleh masyarakat Indonesia hanyalah Karapan Sapi, Jembatan Suramadu, dan Makam Ulama. Van der Linden menyebut orang Madura sebagai orang yang berdarah panas dan van Deventer mencirikannya sebagai manusia yang lebih mempunyai nyali. Acap kali, setiap tulisan ataupun diskusi mengenai karakter orang Madura yang muncul adalah kalimat - kalimat klise. Semua orang tahu akan hal itu. Oleh karena itu, banyak ilmuwan dalam negeri maupun luar melakukan penelitian mengenai Madura. 

Sekali lagi jika saya seorang turis, justru dengan stereotip tentang orang Madura saya tertarik untuk melancong ke pulau tersebut. Namun, ciri itulah tidak tercermin pada pariwisata di Madura. Itulah sebab Karapan Sapi begitu terkenal, namun itu saja tidak cukup menarik wisatawan mancanegara untuk berbondong – bondong ke Pulau Madura. Fantasiku semakin liar mencari objek wisata yang cocok untuk Madura. Sesuatu menegangkan, memacu adrenalin, menguras nyali, dan melibatkan wisatawan jika mampu. Gladiator Celurit mungkin merepresentasikan karakter Pulau Madura. Bukannya ingin mempertontonkan adegan saling bunuh pada sebuah arena. 

Ini hanyalah pertunjukan pertarungan celurit tumpul oleh para petarung yang telah dilatih dan dibekali ilmu kebal. Kombinasi antara pencak silat khas Madura dengan senjata celurit dan sedikit bumbu smackdown. Itu hanya fantasiku. Orang lain tidak bisa merusak ataupun merampasnya. Akan memicu sebuah masalah tatkala imaji tersebut saya letakkan pada dunia riil. Terkadang imaji pun saling berbenturan ketika tiap orang berebutan meletakkan pada dunia nyata. Ada yang sukses, tidak sedikit pula yang gagal. Pada tahap ini, saya sedikit memahami alasan Einsten lebih mementingkan imajinasi dibandingkan ilmu pengetahuan. Karena setiap imajinasi bisa disesuaikan ke dalam ilmu pengetahuan, namun tidak semua ilmu pengetahuan bisa disesuaikan ke dalam imajinasi. 

Sehingga ilmu pengetahuan nampak kering tanpa imajinasi, khayalan, mimpi, angan-angan, ataupun fantasi. One 4 All Prinsipnya kebudayaan berjalan dinamis, tidak ada yang statis. Segala kemungkinan bisa terjadi pada kebudayaan. Terkadang maju atau mundur, mengalami perluasan atau penyempitan, bahkan bertahan (survival) atau invasi. Semua sifat kebudayaan akan begitu nampak tatkala berhadapan dengan pariwisata. Parawisata pada gilirannya bergeser untuk melibatkan kepentingan manusia, yang pada tingkatan tertentu cenderung lebih bertentangan dengan kebudayaan. Upaya-upaya ekonomi mendorong setiap daerah berlomba untuk melibatkan kebudayaan masuk ke dalam industri pariwisata.

Setiap daerah memiliki agenda atau citra tersendiri untuk menarik wisatawan mancanegara. Ada Solo dengan Spirit of Java, Jogja melalui Never Ending Asia, Jember mengadakan Jember Fashion Carnaval (JFC), melekat slogan Everyday Is Sunday In Bali, dan Semarang Pesona Asia (SPA) di Semarang. Meskipun SPA banyak yang menilai mengalami kegagalan, namun idenya cukup bagus untuk menarik wisatawan mancanegara. Sampai saat ini, saya sendiri belum mendengar agenda pariwisata di Pulau Madura. Masing – masing kabupaten di Pulau Madura bergerak sendiri. Tanpa kerjasama yang semakin membuat pariwisata Madura kurang greget. Seandainya keempat kabupaten mau dan mampu bekerja sama dalam menyelenggarakan agenda pariwisata, hal tersebut dapat memberikan tujuan wisata tahunan atau mungkin bulanan. 

Madura sendiri juga tidak bisa dipisahkan dengan empat kabupaten begitu saja. Mereka adalah entitas budaya yang memiliki persamaan dan kaya akan perbedaan yang membuatnya semakin menarik untuk dikunjungi. Dengan karakteristik iklim, watak, budaya, sejarah, dan alam yang dimiliki dan yang menjadi ciri khas Madura membuat pulau ini memiliki nilai lebih. Empat kabupaten bergotong-royong membahagiakan dan membangun pariwisata demi masyarakat Madura dan terlebih Indonesia. Secara tidak langsung, akan meningkatkan perekonomian masyarakat Madura. Mungkin kita akan mengenal Madura dengan slogan Bravery of Indonesian atau The Challenge Island. Ah, sering kali saya berkhayal. Paling tidak khayalanku tidak dirampas meskipun khayalan ini perangkap yang biasa ditemui manusia antara yang absolut dan yang relatif.

Sastra