Sabtu, 27 April 2013

Aku Lupa Bahasa Madura

Bahasa sederhana yang sering kita abaikan. Tidak bisa terelakkan lagi, aku lupa bahasa Madura. Bukankah itu yang terjadi di pulau garam? “Madu – madu” girl band dan boy band menjadi Nabi sebagai peradaban mode. Berpakaian elegan, berpenampilan ala korea dengan bahasa alay merupakan salah satu realita porno publik. Coba kita dengar, tidak hanya di kalangan artis, bahkan mahasiswa mulai menirukan kalimat – kalimat tai kucing. Dulu mungkin kita mengenal kalimat bahasa alay lewat sms, seperti halnya “aku kasik tahu enggak y…!” kemudian muncul lagi dengan kalimat “ masalah buat lohh?”, dan juga “terus aku harus bilang wow gitu?”. Bahasa-bahasa seperti itu, seakan-akan sudah menjadi bahasa dewa yang harus dijunjung tinggi. Kalimat tai kucing tersebut telah menghegemoni remaja saat ini, entah dari mana? Namun yang jelas, hal demikian tidak sekedar kebetulan saja atau tren zaman yang harus kita ikuti. Perlu adanya analisis lebih dalam lagi sebab yang terjadi tidaklah kemudian kita anggap sebagai komunikasi ala anak muda sekarang. Akan tetapi, memang faktanya sangat rendah nasionalisme bangsa kita terhadap bahasa lokal. Padahal, bahasa adalah kekayaan budaya yang perlu kita jaga dan pertahankan. Mengerikan sekali ketika kita membayangkan bahasa ibu sudah mulai dilupakan dan lebih memilih bahasa gaul atau bahasa asing ketimbang warisan bahasa nenek moyang kita sendiri. Secara tidak langsug kita sudah membunuh sebuah bahasa yang berarti kita juga membunuh suatu budaya. Bukankah seperti itu anak muda? Aku lupa bahasa Madura. Ada yang bilang aku ketinggalan zaman, kalau tidak berkomunikasi dengan bahasa tai kucing. Hanya itukah alasannya? Sehingga, kita harus melupakannya. Bukannya bangsa yang besar adalah bangsa yang mencintai budayanya sendiri? Salah satunya dengan kita mempertahankan bahasa daerah kita pada era sekarang ini. Sudah berapa banyak bahasa daerah mulai punah? Sesuai dengan pernyataan PBB, bahwa rata-rata sebuah bahasa lenyap setiap dua minggu. Di seluruh dunia, hampir 6.000-an bahasa terancam kepunahan. Jika demikian, bahasa kita dengan cepat menghilang karena menganggap bahasa Madura sudah tidak relevan lagi, kemudian juga telah terintegrasi dengan bahasa lain. Faktanya bahwa ada bahasa-bahasa yang lebih menonjol daripada yang lain, dan di dunia sekarang ini orang memandang penting untuk mempelajari bahasa populer lainnya, sehingga melupakan bahasa daerahnya sendiri. Sebelumnya kita tidak pernah menyadarinya, masalah bahasa itu bukan masalah. Mungkin itu yang bisa dirangkum dalam pikiran modernis kita. Sedangkan bahasa daerah Madura adalah sebagai ujung tombak dari kekayaan budaya, sekarang dan mungkin besok, apakah masih bisa bertahan? Apakah bahasa Madura akan tetap menjadi alat komunikasi sehari-hari? Atau malah kita akan bilang katrok ketika berkomunikasi memakai bahasa Madura. Penafsiran mengamini akan hal itu, dan itu akan terjadi. Bahasa ibu sudah dianggap ketinggalan zaman dan sudah tidak memenuhi sayarat bahasa modern ala tai kucing. Produk budaya adalah identitas bangsa. Bayangkan bahasa ibu kita sudah diperkosa dengan bahasa-bahasa lain, aku ternodai olehnya. Kalian tidak sadar, orang tua kita tidak sadar, generasi mudapun tidak sadar, terus siapa lagi? Menerima pasrah telanjang, warisan nenek moyang itulah yang dirasa telah punah. Ironisnya, bahasa ibu sudah mulai tergeser oleh bahasa lain, keabsahan bahasa lokal merubah haluan dari tempat tinggalnya. Menjadikan bahasa suku sebagai warisan kenangan. Melangkah, tidaklah secepat Kerapan Sapi. Melunturnya bahasa kita mungkin secepat Kerapan Sapi. Coba kita amati dari sekian banyak masyarakat Madura sudah melupakannya. Lihat saja di desa-desa, orang tua yang berstatus Pegawai Negeri Sampul, (maaf dalam keadaan tidak sadar), sudah mengajari anaknya dalam setiap komunikasi, menerapkan bahasa Indonesia atau yang lebih parah lagi bahasa Inggris. Alasannya hanya semata-mata takut ketinggalan zaman dan ndeso. Padahal, bahasa daerah merupakan bagian dari jati diri dan karekteristik bangsa yang Bhinneka Tunggal Ika. Sehingga, banyak orang Madura sendiri tidak tahu berbahasa Madura, tahu dan hanya sekedar tahu namun tidak fasih sebagaimana orang Madura. Jika ada film “ Alangkah Lucunya Negeri Ini ”. Barangkali untuk orang Madura “ alangkah lucunya bahasa Madura ditinggal pengikut sukunya sendiri ”. Menangislah nenek moyangku, aku mulai melupakanmu, melupakan bahasamu. Tidak lagi aku setia padamu. Aku lupa bahasa Maduraku. Aku sedih, tak ada bahasa cinta yang bisa aku semaikan. Menciantai bahasaku sendiri sudah menjadi sesuatu yang asing, sejatinya redup merambah pada nasionalisme. Hakikatnya bukan lagi sebagai manusia yang tinggal di tempat pemukimannya sendiri, menghianati roh leluhur itulah yang terjadi. Seringkali kita apatis terhadap bahasa lokal, aku sendiri menyadari dan banyak pula saudara-saudaraku berkhianat yang demikian. Akhirnya bahasa daerah semakin lama, semakin asing di daerahnya sendiri. Kasur Merah_Apink 2012


Oleh : Dafir Fallah

Bahasa sederhana yang sering kita abaikan. Tidak bisa terelakkan lagi, aku lupa bahasa Madura. Bukankah itu yang terjadi di pulau garam? “Madu – madu” girl band dan boy band menjadi Nabi sebagai peradaban mode. Berpakaian elegan, berpenampilan ala korea dengan bahasa alay merupakan salah satu realita porno publik. Coba kita dengar, tidak hanya di kalangan artis, bahkan mahasiswa mulai menirukan kalimat – kalimat tai kucing. Dulu mungkin kita mengenal kalimat bahasa alay lewat sms, seperti halnya “aku kasik tahu enggak y…!” kemudian muncul lagi dengan kalimat “ masalah buat lohh?”, dan juga “terus aku harus bilang wow gitu?”.

Bahasa-bahasa seperti itu, seakan-akan sudah menjadi bahasa dewa yang harus dijunjung tinggi. Kalimat tai kucing tersebut telah menghegemoni remaja saat ini, entah dari mana? Namun yang jelas, hal demikian tidak sekedar kebetulan saja atau tren zaman yang harus kita ikuti. Perlu adanya analisis lebih dalam lagi sebab yang terjadi tidaklah kemudian kita anggap sebagai komunikasi ala anak muda sekarang. Akan tetapi, memang faktanya sangat rendah nasionalisme bangsa kita terhadap bahasa lokal. Padahal, bahasa adalah kekayaan budaya yang perlu kita jaga dan pertahankan. Mengerikan sekali ketika kita membayangkan bahasa ibu sudah mulai dilupakan dan lebih memilih bahasa gaul atau bahasa asing ketimbang warisan bahasa nenek moyang kita sendiri. Secara tidak langsug kita sudah membunuh sebuah bahasa yang berarti kita juga membunuh suatu budaya. Bukankah seperti itu anak muda? Aku lupa bahasa Madura. Ada yang bilang aku ketinggalan zaman, kalau tidak berkomunikasi dengan bahasa tai kucing. Hanya itukah alasannya? Sehingga, kita harus melupakannya.

Bukannya bangsa yang besar adalah bangsa yang mencintai budayanya sendiri? Salah satunya dengan kita mempertahankan bahasa daerah kita pada era sekarang ini. Sudah berapa banyak bahasa daerah mulai punah? Sesuai dengan pernyataan PBB, bahwa rata-rata sebuah bahasa lenyap setiap dua minggu. Di seluruh dunia, hampir 6.000-an bahasa terancam kepunahan. Jika demikian, bahasa kita dengan cepat menghilang karena menganggap bahasa Madura sudah tidak relevan lagi, kemudian juga telah terintegrasi dengan bahasa lain. Faktanya bahwa ada bahasa-bahasa yang lebih menonjol daripada yang lain, dan di dunia sekarang ini orang memandang penting untuk mempelajari bahasa populer lainnya, sehingga melupakan bahasa daerahnya sendiri. Sebelumnya kita tidak pernah menyadarinya, masalah bahasa itu bukan masalah. Mungkin itu yang bisa dirangkum dalam pikiran modernis kita.

Sedangkan bahasa daerah Madura adalah sebagai ujung tombak dari kekayaan budaya, sekarang dan mungkin besok, apakah masih bisa bertahan? Apakah bahasa Madura akan tetap menjadi alat komunikasi sehari-hari? Atau malah kita akan bilang katrok ketika berkomunikasi memakai bahasa Madura. Penafsiran mengamini akan hal itu, dan itu akan terjadi. Bahasa ibu sudah dianggap ketinggalan zaman dan sudah tidak memenuhi sayarat bahasa modern ala tai kucing. Produk budaya adalah identitas bangsa. Bayangkan bahasa ibu kita sudah diperkosa dengan bahasa-bahasa lain, aku ternodai olehnya. Kalian tidak sadar, orang tua kita tidak sadar, generasi mudapun tidak sadar, terus siapa lagi? Menerima pasrah telanjang, warisan nenek moyang itulah yang dirasa telah punah. Ironisnya, bahasa ibu sudah mulai tergeser oleh bahasa lain, keabsahan bahasa lokal merubah haluan dari tempat tinggalnya.

Menjadikan bahasa suku sebagai warisan kenangan. Melangkah, tidaklah secepat Kerapan Sapi. Melunturnya bahasa kita mungkin secepat Kerapan Sapi. Coba kita amati dari sekian banyak masyarakat Madura sudah melupakannya. Lihat saja di desa-desa, orang tua yang berstatus Pegawai Negeri Sampul, (maaf dalam keadaan tidak sadar), sudah mengajari anaknya dalam setiap komunikasi, menerapkan bahasa Indonesia atau yang lebih parah lagi bahasa Inggris. Alasannya hanya semata-mata takut ketinggalan zaman dan ndeso. Padahal, bahasa daerah merupakan bagian dari jati diri dan karekteristik bangsa yang Bhinneka Tunggal Ika. Sehingga, banyak orang Madura sendiri tidak tahu berbahasa Madura, tahu dan hanya sekedar tahu namun tidak fasih sebagaimana orang Madura. Jika ada film “ Alangkah Lucunya Negeri Ini ”. Barangkali untuk orang Madura “ alangkah lucunya bahasa Madura ditinggal pengikut sukunya sendiri ”. Menangislah nenek moyangku, aku mulai melupakanmu, melupakan bahasamu.

Tidak lagi aku setia padamu. Aku lupa bahasa Maduraku. Aku sedih, tak ada bahasa cinta yang bisa aku semaikan. Menciantai bahasaku sendiri sudah menjadi sesuatu yang asing, sejatinya redup merambah pada nasionalisme. Hakikatnya bukan lagi sebagai manusia yang tinggal di tempat pemukimannya sendiri, menghianati roh leluhur itulah yang terjadi. Seringkali kita apatis terhadap bahasa lokal, aku sendiri menyadari dan banyak pula saudara-saudaraku berkhianat yang demikian. Akhirnya bahasa daerah semakin lama, semakin asing di daerahnya sendiri. 

Sastra