Minggu, 21 September 2014

,

Kembang Kertas Perguruan Tinggi

“Ibarat kembang kertas; terlihat bagus dan indah bentuknya, tapi hancur luluh seketika tercebur dalam genangan air. Begitulah potret pendidikan di Indonesia saat ini: menghadirkan teori-teori di berbagai diskusi dan penelitian, tapi nihil implementasi dan relevansinya.” Meski Indonesia tergolong sebagai Bangsa Timur, namun dalam hal rujukan teori, tokoh-tokoh intelektualnya justru berkiblat pada sarjana barat. Akibatnya, cara pandang mahasiswa dikonstruksi oleh pemikiran Barat. Hal ini dapat dibuktikan dari penelitian-penelitian sosial yang dihasilkan megadopsi metode dan teori-teori barat. Dari sini akan timbul banyak pertanyaan: adakah relevansi teori Barat dengan fenomena yang terjadi di Indonesia? Sedangkan kita ketahui bersama bila tujuan dari penelitian sosial adalah untuk memetakan dan memberikan solusi atas permasalahan yang terjadi di masyarakat. Selain itu, tidak banyak mahasiswa atau dosen tidak memahami bila lahirnya teori Barat tersebut berangkat dari kondisi sosial, ekonomi, historis, dan budaya yang berbeda dari masyarakat di Indonesia. Sehingga pada tahap implementasi teori Barat kerap berbeda sama sekali dengan yang ada di Indonesia. Seperti contoh, jika Karl Marx mengatakan dikotomi kelas borjuis dan proletar akibat merebaknya kapitalisme ketika terjadinya revolusi industri di Perancis, dapatkah kita menerapkan kajian yang sama terhadap kesenjangan sosial yang terjadi di Indonesia? Mungkin, kita bisa merenungkan sejenak: mengapa penelitian di Indonesia jarang dijadikan legitimasi dalam mengatasi masalah-masalah sosial masyarakat? Saya melihat, masyarakat Indonesia mengalami gejala inverioritas yang akut pada hasil kajian dan olah pikir orang Indonesia. Sehingga pada praktiknya, intelektual kita terlihat sangat mengagung-agungkan teori Barat. Teori ditempatkan pada sebuah peran yang sangat vital dalam kehidupan manusia, sehingga ketika mendeskripsikan sesuatu tanpa mengutip landasan teori para sarjana Barat seakan-akan tidak sah dan kurang pas. Sehingga tanpa disadari, rasa inverioritas mahasiswa dan tenaga pengajarnya membuat hasil-hasil penelitian sosial kerap tidak relevan dalam kehidupan masyarakat. Kembang Kertas Meminjam istilah salah seorang guru—teori diumpamakan sebagai kembang kertas. Ia terlihat menawan, mirip dengan kembang sesungguhnya. Namun, ketika tercebur ke dalam air, ia akan hancur. Dalam hal ini, teori dianggap sebagai penghias yang sedap dalam kajian ilmu pengetahuan. Dan keberadaannya bukan sekadar pelengkap syarat sebuah laporan penelitian, akan tetapi esensi sesungguhnya adalah perannya yang diharapkan mampu untuk diimplementasikan di kehidupan nyata. Tapi sayang, teori hanyalah kembang kertas; penghias tulisan untuk menarik hati pembacanya. Di kehidupan nyata, ia tak berarti apa-apa, selain sebagai referensi untuk menyelesaikan tugas kuliah. Alhasil, beribu-ribu teori diciptakan manusia, pada akhirnya hanya berhenti ke dalam teks landasan teori penelitian. Gejala ini menunjukkan proses adopsi nilai-nilai Barat yang masih prematur ke dalam tubuh pendidikan Indonesia. Dan efeknya tentu sangat kontras terhadap hakikat pendidikan itu sendiri. Pendidikan yang semula bertujuan mencerdaskan masyarakat, kini hanya sebagai alat untuk meniti karir dan cita-cita. Mahasiswa tidak lagi berpikir tentang “apa yang akan saya berikan untuk mengembangkan masyarakat?”, akan tetapi, “pekerjaan apa yang cocok untuk mengembangkan bidang studi saya nanti? Selama bertahun-tahun para siswa menempuh pendidikan di bangku sekolah, hanya dilatih untuk menjadi sosok individualis dan liberalis. Mereka tak ubahnya sebagai individu yang memisahkan diri dari segerumbulan masyarakat yang lain. Sehingga muncul tembok yang menjulang tinggi antara masyarakat biasa dengan kaum akademisi. Dan pendidikan di Indonesia hari ini membuat kaum akademisi tercerabut dari akar kebudayaannya. Masyarakat tidak lagi leluasa untuk meminta sumbangsih ideologis dari para kaum akademisi, sebab ada ‘keengganan’ komunikasi diantara keduanya. Selain itu, masalah yang paling mendasar adalah ketidaksesuaian antara teori dengan praktik kehidupan yang ada di masyarakat. Bercermin pada Pendidikan Pondok Untungnya, kekeliruan epistimologi pendidikan di Indonesia hanya terjadi di beberapa institusi pendidikan. Sedangkan beberapa institusi lainnya memperlihatkan tradisi pendidikan yang apik dalam catatan sejarah. Salah satu cermin pendidikan berbasis ‘back to society’ telah lama diterapkan di pondok pesantren, padepokan, dll. Di dalam sistem yang dijalankan oleh lembaga tersebut secara nyata melahirkan para lulusan yang ‘tahu’ apa dan untuk apa tanggung jawab mereka bagi masyarakat di lingkungannya. Dalam pendidikan pondok, nilai-nilai kultural dan spiritual adalah kembang-kembang yang secara nyata berasal dari alam. Ia bukan lagi terbuat dari kertas yang mudah hancur, akan tetapi berasal dari hakikat manusia yang berhati nurani. Karena segala kebijaksanaan dan hasil olah pikir yang masuk dalam kurikulum pesantren tidak lepas dari hasil perenungan dan interaksi dengan masyarakat dalam kurun waktu yang lama. Sehingga, melalui petuah-petuah yang disampaikan sang guru, nilai-nilai sosial kemanusiaan akan merasuk ke dalam alam bawah sadar para santri. Bukanlah dakwaan yang berlebihan jika pada realitasnya terdapat keunggulan lebih di dalam sistem pendidikan pondok dibandingkan sekolah-sekolah formal. Pendidikan pondok yang berakar dari budaya masyarakat Indonesia diyakini telah membawa pengaruh dan manfaat yang banyak bagi masyarakat sekitar pondok. Bahkan, banyak diantara pondok pesantren yang terkenal, justru dikenal dengan sebutan nama daerah tempat pondok tersebut berada, dan bukan bukan nama pondok itu sendiri. Sampai saat ini, mayoritas lembaga pendidikan di Indonesia masih setia dengan sistem pendidikan Barat. Sebuah sistem yang setiap tahunnya mencetak lembaran-lembaran penelitian untuk melengkapi syarat pengukuhan gelar sarjana. Di sisi lain, tidak sedikit pondok pesantren yang melakukan aktivitas pendidikan untuk mengembagkan masyarakat sekitarnya. Menyikapi pendidikan di Indonesia yang notabene market oriented, maka yang perlu dilakukan adalah mengkaji relevansi penggunaan teori Barat dalam sistem pendidikan kita agar sistem pendidikan kita tidak menjadi kembang kertas yang hanya bagus bentuknya, tetapi tidak aplikatif. Selain itu, yang tak kalah penting adalah kembali melakukan kajian kurikulum pendidikan kita agar tidak hanya berdasarkan kebutuhan industri saja, tapi juga berguna bagi masyarakat. Riris Aditia N 22 September 2014



“Ibarat kembang kertas; terlihat bagus dan indah bentuknya, tapi hancur luluh seketika tercebur dalam genangan air. Begitulah potret pendidikan di Indonesia saat ini: menghadirkan teori-teori di berbagai diskusi dan penelitian, tapi nihil implementasi dan relevansinya.”

Meski Indonesia tergolong sebagai Bangsa Timur, namun dalam hal rujukan teori, tokoh-tokoh intelektualnya justru berkiblat pada sarjana barat. Akibatnya, cara pandang mahasiswa dikonstruksi oleh pemikiran Barat. Hal ini dapat dibuktikan dari penelitian-penelitian sosial yang dihasilkan megadopsi metode dan teori-teori barat. Dari sini akan timbul banyak pertanyaan: adakah relevansi teori Barat dengan fenomena yang terjadi di Indonesia? Sedangkan kita ketahui bersama bila tujuan dari penelitian sosial adalah untuk memetakan dan memberikan solusi atas permasalahan yang terjadi di masyarakat.

 Selain itu, tidak banyak mahasiswa atau dosen tidak memahami bila lahirnya teori Barat tersebut berangkat dari kondisi sosial, ekonomi, historis, dan budaya yang berbeda dari masyarakat di Indonesia. Sehingga pada tahap implementasi teori Barat kerap berbeda sama sekali dengan yang ada di Indonesia.

Seperti contoh, jika Karl Marx mengatakan dikotomi kelas borjuis dan proletar akibat merebaknya kapitalisme ketika terjadinya revolusi industri di Perancis, dapatkah kita menerapkan kajian yang sama terhadap kesenjangan sosial yang terjadi di Indonesia? Mungkin, kita bisa merenungkan sejenak: mengapa penelitian di Indonesia jarang dijadikan legitimasi dalam mengatasi masalah-masalah sosial masyarakat?

Saya melihat, masyarakat Indonesia mengalami gejala inverioritas yang akut pada hasil kajian dan olah pikir orang Indonesia. Sehingga pada praktiknya, intelektual kita terlihat sangat mengagung-agungkan teori Barat. Teori ditempatkan pada sebuah peran yang sangat vital dalam kehidupan manusia, sehingga ketika mendeskripsikan sesuatu tanpa mengutip landasan teori para sarjana Barat seakan-akan tidak sah dan kurang pas. Sehingga tanpa disadari, rasa inverioritas mahasiswa dan tenaga pengajarnya membuat hasil-hasil penelitian sosial kerap tidak relevan dalam kehidupan masyarakat.

Kembang Kertas

Meminjam istilah salah seorang guru—teori diumpamakan sebagai kembang kertas. Ia terlihat menawan, mirip dengan kembang sesungguhnya. Namun, ketika tercebur ke dalam air, ia akan hancur. Dalam hal ini, teori dianggap sebagai penghias yang sedap dalam kajian ilmu pengetahuan. Dan keberadaannya bukan sekadar pelengkap syarat sebuah laporan penelitian, akan tetapi esensi sesungguhnya adalah perannya yang diharapkan mampu untuk diimplementasikan di kehidupan nyata. Tapi sayang, teori hanyalah kembang kertas; penghias tulisan untuk menarik hati pembacanya. Di kehidupan nyata, ia tak berarti apa-apa, selain sebagai referensi untuk menyelesaikan tugas kuliah.

Alhasil, beribu-ribu teori diciptakan manusia, pada akhirnya hanya berhenti ke dalam teks landasan teori penelitian. Gejala ini menunjukkan proses adopsi nilai-nilai Barat yang masih prematur ke dalam tubuh pendidikan Indonesia. Dan efeknya tentu sangat kontras terhadap hakikat pendidikan itu sendiri. Pendidikan yang semula bertujuan mencerdaskan masyarakat, kini hanya sebagai alat untuk meniti karir dan cita-cita. Mahasiswa tidak lagi berpikir tentang “apa yang akan saya berikan untuk mengembangkan masyarakat?”, akan tetapi, “pekerjaan apa yang cocok untuk mengembangkan bidang studi saya nanti?

Selama bertahun-tahun para siswa menempuh pendidikan di bangku sekolah, hanya dilatih untuk menjadi sosok individualis dan liberalis. Mereka tak ubahnya sebagai individu yang memisahkan diri dari segerumbulan masyarakat yang lain. Sehingga muncul tembok yang menjulang tinggi antara masyarakat biasa dengan kaum akademisi. Dan pendidikan di Indonesia hari ini membuat kaum akademisi tercerabut dari akar kebudayaannya. Masyarakat tidak lagi leluasa untuk meminta sumbangsih ideologis dari para kaum akademisi, sebab ada ‘keengganan’ komunikasi diantara keduanya. Selain itu, masalah yang paling mendasar adalah ketidaksesuaian antara teori dengan praktik kehidupan yang ada di masyarakat. 

Bercermin pada Pendidikan Pondok

Untungnya, kekeliruan epistimologi pendidikan di Indonesia hanya terjadi di beberapa institusi pendidikan. Sedangkan beberapa institusi lainnya memperlihatkan tradisi pendidikan yang apik dalam catatan sejarah. Salah satu cermin pendidikan berbasis ‘back to society’ telah lama diterapkan di pondok pesantren, padepokan, dll. Di dalam sistem yang dijalankan oleh lembaga tersebut secara nyata melahirkan para lulusan yang ‘tahu’ apa dan untuk apa tanggung jawab mereka bagi masyarakat di lingkungannya.

Dalam pendidikan pondok, nilai-nilai kultural dan spiritual adalah kembang-kembang yang secara nyata berasal dari alam. Ia bukan lagi terbuat dari kertas yang mudah hancur, akan tetapi berasal dari hakikat manusia yang berhati nurani. Karena segala kebijaksanaan dan hasil olah pikir yang masuk dalam kurikulum pesantren tidak lepas dari hasil perenungan dan interaksi dengan masyarakat dalam kurun waktu yang lama. Sehingga, melalui petuah-petuah yang disampaikan sang guru, nilai-nilai sosial kemanusiaan akan merasuk ke dalam alam bawah sadar para santri. 

Bukanlah dakwaan yang berlebihan jika pada realitasnya terdapat keunggulan lebih di dalam sistem pendidikan pondok dibandingkan sekolah-sekolah formal. Pendidikan pondok yang berakar dari budaya masyarakat Indonesia diyakini telah membawa pengaruh dan manfaat yang banyak bagi masyarakat sekitar pondok. Bahkan, banyak diantara pondok pesantren yang terkenal, justru dikenal dengan sebutan nama daerah tempat pondok tersebut berada, dan bukan bukan nama pondok itu sendiri.

Sampai saat ini, mayoritas lembaga pendidikan di Indonesia masih setia dengan sistem pendidikan Barat. Sebuah sistem yang setiap tahunnya mencetak lembaran-lembaran penelitian untuk melengkapi syarat pengukuhan gelar sarjana. Di sisi lain, tidak sedikit pondok pesantren yang melakukan aktivitas pendidikan untuk mengembagkan masyarakat sekitarnya.

Menyikapi pendidikan di Indonesia yang notabene market oriented, maka yang perlu dilakukan adalah mengkaji relevansi penggunaan teori Barat dalam sistem pendidikan kita agar sistem pendidikan kita tidak menjadi kembang kertas yang hanya bagus bentuknya, tetapi tidak aplikatif. Selain itu, yang tak kalah penting adalah kembali melakukan kajian kurikulum pendidikan kita agar tidak hanya berdasarkan kebutuhan industri saja, tapi juga berguna bagi masyarakat.

Riris Aditia N

22 September 2014

Sastra