Notification

×

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Diundang sebagai Narasumber Dies Natalis ke-22 UTM, Buya Yahya Soroti Isu Rumah Tangga

Jumat, 09 Juni 2023 | 09.58.00 WIB Last Updated 2023-07-02T07:54:13Z
WKUTM – Universitas Trunojoyo Madura (UTM) buka Dies Natalis ke-22 UTM dengan menggelar acara Mutiara Hikmah & Bedah Buku yang judul Pedoman Perempuan Muslimah di Gedung Pertemuan R.P. Mohammad Noer, Jumat (09/06). Adapun narasumber acara tersebut, Kyai haji Yahya Zainul Ma’arif atau yang lebih dikenal sebagai Buya Yahya menyoroti isu peran perempuan dan laki-laki dalam rumah tangga.

Menanggapi buku Pedoman perempuan Muslimah, Buya Yahya berkomentar bahwa dalam rumah tangga, ada sejumlah tuntutan yang perlu dipenuhi oleh seorang istri guna menjadi perempuan muslimah. Salah satunya adalah dengan menyanggupi permintaan suami, karena seusai menikah, surga seorang perempuan terletak pada suami. Begitu pula ketika istri hendak berkarier, syarat yang perlu dipenuhi adalah meminta restu terdahulu kepada suami, guna memastikan pekerjaan yang akan digeluti merupakan pekerjaan yang terhormat

”Meminta izin supaya peran  seorang ibu atau istri tidak hilang, pekerjaan yang dijalani sang istri halal, dan yang terakhir tidak menyombongkan diri ketika gaji sang istri lebih tinggi dari suaminya,” tuturnya di hadapan peserta (09/06).

Lebih lanjut, Buya Yahya juga menjelaskan walau gaji istri lebih tinggi dari sang suami, peranan suami tetap sebagai kepala rumah tangga. Hal ini yang mendasari mengapa hak cerai diberikan kepada laki-laki alih-alih perempuan guna memastikan peran suami dan istri berjalan dengan sesuai. Dikarenakan ketika istri meminta cerai umumnya maksud tersiratnya adalah agar sang suami berbenah.

”Istri hanya menginginkan sang suami berubah menjadi lebih baik, melalui gertakan spontan,” ucap lulusan universitas al-Ahgaff tersebut.

Meski suami sebagai kepala keluarga memiliki lebih banyak wewenang, Buya Yahya mengimbau agar suami tidak bertindak semena-mena kepada sang istri. Pada dasarnya laki-laki yang baik adalah yang dapat memahami dan lebih peka terhadap perempuan. Hal ini diibaratkan dengan perempuan sebagai tulang rusuk, yang berarti harus diperlakukan secara halus, karena jika diperlakukan secara kasar maka akan patah.

”Kini marak seorang perempuan yang merasa tertindas karena adanya sebuah hadis yang sering dipergunakan untuk hal-hal yang dianggap menindas kaum perempuan. Maka, pergunakanlah akal sebelum hati agar kita memahami hal tersebut,” imbau pria kelahiran 1973 tersebut.

Adapun Taufiqurrahman Hasbullah, selaku ketua pelaksana, menyampaikan alasan diadakannya acara tersebut guna memberikan ruang kepada perempuan dalam memperjuangkan emansipasi wanita. Selain itu sesuai dengan nama buku yang dibedah, yaitu agar menjadi pedoman dan membawa kemaslahatan bagi perempuan.

”Semoga memberi manfaat yang besar khususnya terhadap masyarakat sekitar UTM maupun semua masyarakat Indonesia,” pungkasnya. (TFA/FRD)

×
Berita Terbaru Update