Sumber foto: Pinterest/Diana Dien
Catatan terakhir Sabrang
Jika suatu hari kau menyadari ada yang hilang dari negaramu, bisa jadi kau telah membersihkan rasa apati yang sudah lama menumpuk dalam hati. Tumpukan ketidakpedulian yang menghasilkan malam-malam suram berbekal lentera temaram. Maka ketika masa itu tiba, kutitipkan pesanku agar senantiasa menjaga kepedulian itu agar tidak lagi menghilang.
Konon, mereka yang bersedia menjaga masyarakat serta negaranya untuk tetap bersikap adil adalah pemuda-pemudi yang memiliki darah juang. Maka aku memanggil mereka yang memiliki darah juang tersebut untuk membantu saudaranya yang mengalami ketidakadilan. Kupanggil semua jiwa-jiwa yang resah.
Jangan pernah ragu untuk mengutarakan apa yang dirasakan oleh hati nurani tentang memperjuangkan kebenaran. Meskipun kau diancam oleh jerat borgol ketakutan, jangan pernah menyerah dan mari tetap sampaikan kebenaran. Meskipun melalui pesan-pesan yang disembunyikan dalam untaian syair yang sudah lama terpendam.
2058
***
Suara sirine polisi yang mengganggu telinga memenuhi seisi jalan raya, mobil-mobil seketika memecah jalan agar mereka bisa lewat tanpa hambatan. Pagi ini terdengar kabar kalau lagi-lagi ada yang ditangkap karena telah melanggar aturan nomor empat, yakni menyebarkan sastra lama. Sastra lama adalah tulisan yang berisi benih-benih perlawanan kepada pemerintah. Karena ingin menjaga kedamaian negara dari orang-orang radikal yang selalu melawan, layaknya virus yang menggerogoti tubuh. Maka untuk menghilangkan virus tersebut pemerintah membuat larangan membaca dan menyebarkan sastra lama.
Sudah sekitar sepuluh tahun yang lalu pemerintah mengeluarkan lima larangan fundamental. Mulai dari di sekolah dasar sampai dengan perguruan tinggi, larangan tersebut seringkali dibacakan. Alasan dikeluarkannya ialah untuk menjaga anak-anak agar terhindar dari pemikiran rusak yang tidak ada gunanya. Lima larangan tersebut berisi; larangan menyebarkan komentar buruk mengenai pemerintah, larangan melanggar aturan yang sudah ditetapkan oleh pemerintah, larangan membaca buku yang masuk daftar hitam, larangan membaca, menulis, dan menyebarkan sastra lama, serta larangan menyebarkan unsur apapun yang bersifat merendahkan tentara dan polisi.
Di sekolah dasar hingga menengah pertama, para guru diharuskan untuk dapat menjelaskan kepada murid alasan yang baik dan masuk akal agar dapat diterima. Seperti halnya larangan tersebut dibuat agar mereka terhindar dari siapapun yang berpotensi menjadi seorang pemberontak. Masa depan pemberontakan tidak akan baik, mereka tidak memiliki tujuan jelas dalam hidup dan tidak akan mampu mencapai cita-citanya. Hal-hal semacam itu yang telah ditanamkan guru pada murid mereka. Hal itu juga yang telah aku dengar sejak aku duduk di bangku sekolah dasar.
Percayalah, tidak ada yang lebih membenci seorang pemberontak selain aku ketika berada di kelas. Maksudku, mendengar kata pemberontak saja sudah memperjelas bahwa mereka seorang antagonis yang ingin melawan pemerintah. Dan aku tidak suka dengan antagonis, sebab selalu saja menjadi musuh tokoh utama.
Akan tetapi pagi ini, orang yang tengah ditangkap oleh polisi adalah salah satu rekan seperjuanganku. Mobilku berhenti sepanjang 500 meter dari penangkapannya. Lalu-lalang kendaraan serta suara klakson nyatanya tak berhasil membuatku beranjak dari posisiku sekarang. Kami telah membuat janji untuk bertemu di salah satu sudut kota, namun entah bagaimana ia bisa tertangkap sebelum sampai ke tempat tujuan. Suara dering ponsel tiba-tiba membuyarkan lamunanku. Tertera nama Gilang di sana.
“Halo!”
“Halo, Lang.”
“Brang, ternyata selama ini Budi mata-mata, dia tentara.”
Aku menghela napas, Budi adalah rekan kami yang bergabung dua bulan lalu. Dia berkata menyukai dan merasakan hal yang sama ketika membaca karya sastra yang kami sebar sebagai bentuk perlawanan. Karya sastra itu biasanya berupa puisi yang disebar melalui internet dan media sosial. Kami selalu menyebarnya secara anonim, hanya inisial nama yang tertulis di akhir karya, sehingga identitas penulisnya akan sulit dilacak. Kami akhirnya mengizinkan Budi bergabung sebagai rekan setelah melalui proses panjang, namun ternyata proses panjang itu tidaklah cukup.
“Kau ada di mana sekarang?”
“Sisi utara tempat kumpul utama."
“Suruh semuanya untuk sembunyi, Budi tahu semua wajah para anggota. Jadi suruh mereka semua hati-hati.”
Setelah mengatakan itu terdengar seseorang mengetuk kaca jendela mobil. Seketika kumatikan ponsel. Di luar terlihat pria berpakaian hitam yang sedang menungguku membuka kaca mobil. Kuamati gerak-geriknya beberapa saat; ia terlihat tidak sabaran. Tanpa suara, aku menghidupkan mobil lalu segera pergi dari sana. Dan benar saja, seperti dugaanku, mereka sudah mengetahui lokasiku.
“Sial!”
***
Bau anyir seketika memenuhi rongga hidung saat pertama kali aku mulai sadar. Cahaya remang-remang seakan menambah sensasi pusing kepalaku yang baru saja terkena pukulan. Beginikah rasanya? Aku pernah membaca buku daftar hitam yang menggambarkan keadaan di tahun 1998-an. Tentang sejarah pemerintah yang pernah menangkap masyarakatnya secara diam-diam. Dan lucunya sekarang, setelah puluhan tahun berlalu, catatan sejarah itu kembali terulang. Seketika berbagai pertanyaan muncul di kepalaku.
Seperti, bagaimana jika aku menuruti kata guru di sekolah agar tidak melanggar lima larangan? Bagaimana jika aku tidak penasaran dengan buku-buku itu? Bagaimana jika aku tidak menuruti apa kata hati dan bersikap acuh? Akankah tidak ada yang duduk di sini sekarang?
Ah, berbagai pertanyaan konyol ini terus berputar di kepalaku tanpa henti, berhasil berhenti saat terdengar seseorang masuk ke dalam ruangan. Pria itu duduk tepat di hadapanku, sesaat kemudian menanyakan pertanyaan.
“Mengapa kau memilih jalan sulit? Bukannya pemerintah sudah memberikan fasilitas yang memudahkanmu?”
Pertanyaan tak terduga itu membuatku tersenyum simpul. Ingatanku seketika berputar saat asal mula semua ini. Saat itu aku duduk di Sekolah Menengah Atas, sekolahku termasuk dalam sekolah elite yang ada di kota. Semua fasilitas lengkap ada di dalamnya. Hingga sampai suatu ketika, saat aku menunggu di halte bus, seseorang tiba-tiba saja memberiku buku lalu pergi begitu saja. Buku itu bersampul cokelat polos, tak ada tulisan maupun gambar. Dengan rasa penasaran aku membukanya. Pada halaman pertama tertulis “Puisi Lama”.
Aku langsung menutupnya, jantungku berdetak kencang. Sepanjang perjalanan pulang aku tak berani membukanya, tak berani juga berkata pada ayah dan bunda. Namun malamnya, karena penasaran, aku membaca puisi pertama, aku lupa siapa penulisnya.
………
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih perih
…….. (Chairil Anwar)
Selama sekolah aku tak pernah membaca tulisan semacam ini. Di sekolahan, kami hanya disuguhi bacaan tentang teori yang menambah pengetahuan. Kupikir tak ada yang aneh dari buku itu, mengapa dilarang. Hingga tanpa terasa aku membaca semua isinya dalam semalam. Tak ada yang berubah, kupikir seketika aku akan menjadi pemberontak. Ternyata tidak. Aku sekolah seperti bisa, menghabiskan waktu bersama teman. Akan tetapi hanya satu hal yang tak lagi sama, ketika guru mulai menjelaskan tentang bahaya membaca sastra lama, dalam hati aku berkata jika sastra lama tak seseram seperti yang dikatakan. Namun aku hanya diam, dan diam-diam mencari bacaan terlarang lainnya. Hingga membuatku sadar, pemerintahan yang sekarang adalah pemerintahan yang sama seperti puluhan tahun silam. Saat kebebasan bersuara dibungkam. Pada saat itu mereka berhasil keluar dari pemerintahan yang membungkam, aku tidak tahu bagaimana itu bisa terulang sekarang. Di sekolah tak ada buku pengetahuan sejarah negara.
“Jawab!”
Lamunanku seketika buyar.
“Aku hanya suka menulis dan membaca, itu saja.”
Sepertinya jawabanku tidak menyenangkan pria itu, “lihat saja, besok kau akan menyusul rekan-rekanmu!”
Lagi-lagi aku tersenyum tipis, jika memang aku akan menyusul mereka, maka aku akan datang dengan lapang dada. Ah, sepertinya memang sudah waktunya.
***
Aku ingin berjalan dengan gagah
Hingga tanpa ragu berkata
Aku ingin membesarkan jiwa-jiwa
Hingga harmoni sastra senantiasa bersuara
Akan tetapi, jika masaku telah tiba
Tatkala mimpi-mimpi masih menjadi wacana
Maka ingatlah bait ini,
Bahwa darah juang tak pernah bisa dibungkam,
maka teruslah lontarkan kebenaran hingga anak cucu mendatang
— Sabrang, 2058.
Nur Anisa
Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi

Komentar