Notification

×

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Cerpen: Dunia Pers Tak Semudah Itu, Kawan!

Rabu, 05 Maret 2025 | 01.28.00 WIB Last Updated 2025-03-05T09:29:08Z
Ilustrasi: Pinterest/marciabenetti

Tepat seminggu yang lalu, aku menasihati seorang teman agar tidak melangkah ke dunia jurnalistik. Bukan tanpa alasan aku mengatakannya. Sebut saja, namanya Wawan. Ia tipikal mahasiswa yang mudah panik jika sudah dalam tekanan. Sesederhana ketika orang tuanya telat mengirim uang bulanan selama dua hari, Wawan sudah bingung luar biasa. Sampai-sampai cari pinjaman ke sana - ke mari. Karena pertimbangan itulah, aku menjelaskan pada Wawan bagaimana dunia jurnalistik itu sebenarnya. Sebab semua yang ada tidak sesederhana seperti yang dia lihat di media.

Usai kelas berakhir, Wawan menghampiriku pada hari itu. Ia tahu, sudah setahun aku menjadi bagian dari pers mahasiswa. Aku masih ingat betul alasan yang mendorongnya ingin bergabung dengan pers mahasiswa.

“Karena sepertinya wartawan kampus bisa dapat banyak benefit, bukan? Kau selalu tahu informasi lebih dulu dari pada mahasiswa lain. Bahkan kau kenal dengan semua aparat penting yang ada di kampus. Setelah kupikirkan itu sangat menguntungkan, bro,” ujarnya dengan yakin.

Dalam hati aku tersenyum kecil mendengar alasan Wawan.

“Wan, kau sekarang mungkin lagi lapar mata dengan apa-apa yang menguntungkan. Tolong jangan lupakan kesulitan yang harus dihadapi oleh setiap golongan. Apa kau sudah cari tahu apa saja kesulitan menjadi pers mahasiswa?”

“Tentu saja aku tau, kesulitannya pasti di bagian menulis beritanya, kan? Aku belum pandai menulis, tapi bisa segera belajar,” di akhir kalimat ia meneguk sebotol air.

“Ya, kau tidak sepenuhnya salah. Tapi Wan, untuk bisa menulis kau harus membaca. Kapan terakhir kali kau baca?” tanyaku.

“Setiap hari aku baca Vin.”

“Baca apa?”

“Pesan di WhatsApp.”

Asu!

Tiba-tiba saja aku kehilangan hasrat untuk menjelaskan lebih jauh.

“Kau pernah dengar mahasiswa ditangkap karena melawan pemerintahan Soeharto tahun 90-an?”

Wawan mengerutkan dahi, “bukannya karena mereka komunis ya?”

“Salah, mahasiswa saat itu cuma ingin dapat hak kebebasan bersuara. Karena di zaman Soeharto orang-orang yang tidak selaras dengan pemerintahannya bakal disingkirkan. Nah, situasi pers mirip dengan itu. Kami menjaga agar kebebasan bersuara terus berlanjut. Kami meliput fakta yang sedang terjadi di kampus. Dan kadang, fakta akan tidak disukai oleh beberapa golongan yang merasa dirugikan. Memang kau siap untuk tidak disukai?”

Wawan terdiam, dia nampak mencerna ucapanku barusan. “Enggak tau ya, tergantung,” jawaban itu membuatku mengumpat untuk yang ke dua kali.

“Jurnalis itu pekerjaan yang cenderung pada fakta dan pengolahan data. Untuk bisa menghasilkan berita yang akurat kau perlu pintar mengolah data. Agar bisa pintar mengolah data kau perlu terbiasa membaca. Jika beritamu yang keluar tidak sesuai dengan fakta, maka bersiaplah di buru oleh orang-orang yang kau libatkan dalam tulisanmu. Maka dari itu, Jurnalis sering kali dikenal sebagai orang yang pandai membaca, entah itu membaca tulisan, lingkungan, politik, atau alam.” Wawan menatapku dengan sorot mata yang sulit kujelaskan.

Aku tidak bisa menebak apa yang dipikirkan Wawan sekarang. Entah apakah dia paham atau tidak dengan perkataanku. Sempat terbesit untuk menceritakan padanya bagaimana saat seorang Jurnalis mengalami tekanan, baik dari pihak-pihak tertentu yang tidak senang atas hasil fakta yang ada. Serta sering kali kami mendapat surat peringatan dari pihak kampus atas berita yang merugikan mereka.

Aku hanya ingin agar Wawan menyadari kalau menulis berita tidak sesederhana belajar menulis saja. Apalagi sesederhana membuat postingan di sosial media. Menjadi Jurnalis harus memiliki mental yang tangguh, sebab rintangan akan selalu hadir di sepanjang jalan. Aku ingin mengatakan semua itu, namun kuurungkan karena ragu.

“Memang apa alasanmu jadi jurnalis, Vin?” tanyanya meminta penjelasan.

Aku terdiam sejenak sebelum akhirnya menjawab, “karena memang jalan ini yang kupilih, jadi siap dengan segala konsekuensi.”

Wawan mengangguk-anggukkan kepala, setelah itu dia pamit pergi karena ada kelas. Saat itulah obrolan kami berakhir. Sudah seminggu yang lalu obrolan itu berlangsung. Aku tidak tahu apa dia masih tertarik untuk bergabung di pers kampus atau tidak. Tapi yang pasti, hingga saat ini dia masih belum bergabung menjadi anggota pers mahasiswa.

Nur Anisa
Mahasiswi Program Studi Ilmu Komunikasi 
×
Berita Terbaru Update