Judul film: Budi pekerti
Tahun rilis: September 2023
Genre film: Drama isu sosial
Sutradara: Wregas Bhanut
Sebuah film yang berlatarkan kota Yogyakarta ini, mendapat sambutan meriah dari dunia perfilm-an Indonesia, bahkan mendapat penghargaan di ajang Santa Barbara International Film Festival [SBIFF] 2024. Apa sih yang menarik dari film yang digarap oleh Wregas Bhanutedja ini, hingga bisa mendapat penghargaan di kancah internasional?
Film Budi Pekerti disutradarai oleh Wregas Bhanutedja, Film Penyalin Cahaya yang pernah digarap sebelumnya, mengangkat isu pelecehan seksual di lingkungan perguruan tinggi, berhasil mendapat piala citra sebagai sutradara terbaik. Kemudian, Wregas kembali hadir dengan karya barunya ini dan dalam masa seminggu penayangannya, film Budi Pekerti sudah ditonton sebanyak 165.461 kali.
Film Budi Pekerti, tayang perdana di Festival Film Internasional Toronto pada 9 September 2023 lalu. Selain itu, Budi Pekerti juga menjadi film pembuka di Jakarta Film Week pada 2023 lalu.
Cerita bermula dari seorang guru Budi Pekerti (BP) bernama Bu Prani yang sedang mengantre untuk membeli kue putu, tetapi diserobot oleh seorang pria. Alhasil perdebatan terjadi antara Bu Prani dan pria tersebut. Tanpa disadari, video perdebatan antar keduanya tersebar di internet. Dalam video itu, Bu Prani tampak membentak si nenek tua penjual Putu dengan kata “Asui” (anjing).
Video yang telah terlanjur viral itu mematahkan peluang Bu Prani diangkat menjadi wakil kepala sekolah walau telah mengabdi selama 20 tahun. Selain gagal menjadi wakil kepala sekolah, Bu Prani juga tengah merawat dan secara rutin menemani suaminya yang mengidap bipolar berobat ke psikiater.
Anak-anak Bu Prani, Tita dan Muklas, merasa khawatir dengan kondisi sang ibu. Terutama setelah Bu Prani meluruskan maksud ucapannya pada video yang viral tersebut. Ia sesungguhnya tak bermaksud mengatakan “Asui” (anjing) melainkan “Ah suwi” (ah lama).
Kedua anak Bu Prani pun kemudian memutuskan mengunggah video klarifikasi, tetapi tidak membuahkan hasil yang diharapkan. Emosi warganet sudah terlanjur memanas oleh video viral Bu Prani, sehingga justru dipenuhi dengan komentar yang menghakimi, alih-alih mencari kebenaran omongan Bu Prani.
Bu Prani pun mencari bantuan atas kesialan yang menimpanya. Salah satunya pada mantan muridnya yang bekerja di Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan Lembaga Bantuan Hukum (LBH).
“Ibu itu nggak meso. Ibu iku ngomong ‘Ah suwi’, duduk ‘Asui’,” ujar Bu Prani dalam bahasa Jawa kepada para mantan muridnya. Jika diartikan “Ibu enggak ngomong kotor. Ibu bilang ‘ah lama’, bukan ‘anjing.”
Beruntung mantan murid Bu Prani berkenan membantu, meski bantuan tersebut tak bertahan lama, akibat komentar netizen yang semakin menyudutkan Bu Prani, dan memengaruhi karier muridnya.
Video viral tersebut juga memengaruhi karier anak-anak Bu Prani. Terutama Muklas yang merupakan influencer kesehatan dan terapi mental. Muklas mendapat banyak kecaman negatif dari warganet akibat konten motivasinya dinilai tidak sesuai dengan apa yang sebenarnya terjadi di keluarganya. Terutama pernyataan Bu Prani dalam video yang disebut memaki seorang pedagang.
Lewat kehidupan keluarga Bu Prani yang hancur setelah video soal dirinya viral, Wregas mengajak penonton untuk berefleksi bagaimana kita sering kali mudah menghakimi orang yang tak dikenal di dunia maya, tanpa tahu dampak yang dapat ditimbulkan pada orang tersebut. Kita kerap lupa bahwa ada kehidupan di balik akun-akun media sosial yang kita caci hanya karena kesalahan tutur.
Isu cyberbullying yang diangkat dalam film ini seolah memberikan teguran kepada masyarakat untuk tidak melihat fakta hanya dari potongan video yang beredar. Berkaca pada kasus Bu Prani, kekuatan orang-orang dalam menggunakan media sosial jika salah digunakan, dapat seketika menghancurkan kehidupan orang lain.
Wregas juga mengombinasikan berbagai elemen untuk menguatkan cerita dalam film Budi Pekerti, baik penekanan warna kuning mulai dari dari seragam guru, masker yang dipakai pemain, otopet, dan helm yang dapat membantu meredakan stres dan mengendalikan emosi. Hingga masker berwarna kuning yang digambarkan seperti paruh burung. Dirinya mengibaratkan keluarga Bu Prani selayak keluarga burung yang dicaci oleh kawanan burung lain, tanpa diberi kesempatan untuk berkicau.
Meski diisi dengan penggunaan simbol yang beragam, film Budi Pekerti tetap berhasil dikemas menjadi tontonan yang ringan dan memiliki cerita yang kuat. Tidak heran jika film ini mendapat 17 nominasi Festival Film Indonesia 2023.
Aisyah Nurainy Kusuma Wardani
Mahasiswi Program Studi Ilmu Komunikasi
