Judul buku: Who Rules the World?
Penulis: Noam Chomsky
Jenis buku: Antologi esai
Penerbit: Bentang
Halaman: 398 + XIV halaman
Sejak dahulu, tepatnya pasca Perang Dunia II, Amerika melabelkan diri sebagai “Juru Damai Dunia”. Berbagai kebijakan luar negeri Amerika diarahkan pada cawe-cawe konflik negara lain, dengan dalih menjaga kedamaian dan keamanan dunia.
Noam Chomsky menjelaskan hal itu dalam buku antologi esai berjudul Who Rules the World?. Melalui buku yang pertama kali terbit 10 tahun silam ini, ia menjelaskan keterlibatan Amerika Serikat dalam konflik di penjuru dunia, khususnya Timur Tengah dalam 23 esai.
Ahli bahasa dan pengamat politik asal Amerika tersebut memaparkan bahwa, Amerika banyak menggelontorkan dana untuk menyokong kebijakan luar negeri. Bahkan saat buku ini ditulis hingga terbit, pada masa George W. Bush dan Barack Obama, Amerika disebut menghabiskan 4.4 triliun dolar atau kalau dibandingkan dengan kurs rupiah saat ini, setara dengan 69.4 kuadriliun rupiah untuk biaya agresi militer di Timur Tengah. Angka tersebut terus meningkat seiring berjalannya waktu.
Pemburuan Osama Bin Laden
Anggaran yang Amerika gelontorkan tersebut digunakan untuk memperluas pengaruh dan melegitimasi peran Amerika sebagai “Juru Damai Dunia”. Sebagian besar anggaran digunakan untuk memburu Osama Bin Laden, sosok yang diklaim bertanggung jawab atas kejadian penabrakan pesawat pada gedung WTC di New York.
Pemburuan tersebut disebut bermasalah oleh Chomsky, lantaran, kerap diisi dengan agenda yang sekadar cocoklogi. Saat itu, Amerika mengecap berbagai kelompok Islam radikal sebagai teroris dunia, atas dasar penyerangan kelompok Osama Bin Laden, Al-Qaeda terhadap Amerika. Namun, ironisnya Amerika justru menjadi teroris yang lebih kejam, jika ditinjau dari jumlah korban yang berguguran pada saat pemburuan.
Salah satu aksi keji Amerika adalah melakukan serangan ke berbagai kelompok Islam radikal yang ditengarai terafiliasi dengan Al-Qaeda, salah satunya Taliban. Serangan tersebut berupa pengeboman ke sejumlah wilayah Afganistan yang juga berisi warga sipil. Dengan harapan, Taliban membocorkan informasi keberadaan Osama Bin Laden. Nahasnya, aksi tersebut mengakibatkan konflik serius di Afganistan, yang berujung pada jutaan warga mati dan kelaparan. Kelompok Anti-Taliban di Afganistan sekali pun menolak aksi pengeboman Amerika yang tidak manusiawi.
Bahkan ketika Osama Bin Laden berhasil ditangkap tanpa perlawanan, Amerika dengan sewenang-wenang membunuh sosok tersebut. Meski dianggap sebagai teroris yang bertanggung jawab atas matinya jutaan manusia, aksi yang dilakukan Amerika pada masa Obama tersebut tak dapat dibenarkan, karena dinilai melanggar piagam Magna Carta. Dalam piagam itu disebutkan bahwa tak ada orang yang boleh dihukum tanpa melalui pengadilan (proses pembuktian).
Tempuh Berbagai Cara untuk Lindungi Israel
Selain pengeboman Afganistan, Amerika juga kerap seenaknya sendiri turut campur dalam konflik di Timur Tengah. Chomsky menyebut konflik antara Israel dan Palestina memanas ulah Amerika yang menghalangi upaya penyelesaian.
Dewan Keamanan PBB kerap menekankan perdamaian antara kedua belah pihak, bahkan banyak negara meminta Israel menghentikan ekspansi wilayah dan agresi militer di Palestina. Namun, dikarenakan hak veto yang dimiliki Amerika, penyelesaian tersebut memakan waktu yang sangat panjang untuk mencapai titik temu.
Sialnya, keputusan yang diambil Amerika penuh bias. Alih-alih bersikap sebagai pihak yang menanggapi konflik secara netral. Tak jarang Amerika menggelontorkan dana untuk berbagai sektor Israel, salah satunya militer, yang digunakan untuk melanjutkan agresi militer ke Palestina. Namun, di waktu bersamaan, mengecam tindakan perlawanan yang dilakukan oleh warga Palestina.
Chomsky menyatakan bahwa Amerika memang ingin mempertahankan Israel. Sebab, dengan memiliki kekuasaan atas Israel, Amerika dapat lebih mudah dalam cawe-cawe konflik Timur Tengah, lantaran lokasi Israel yang strategis untuk penempatan militer.
Amerika di Masa Mendatang
Kini, berbagai negara, khususnya di Timur Tengah berharap besar atas perubahan kebijakan luar negeri Amerika di masa mendatang. Hal ini bersamaan dengan dilantiknya Donald Trump sebagai presiden Amerika pada Senin kemarin (20/1). Trump disebut sebagai sosok anti perang dan akan lebih fokus pada urusan ekonomi.
Meski begitu, Chomsky, berkaca pada kebijakan luar negeri Amerika sejak dahulu, ragu atas hal itu. Bahkan dalam buku Who Rules the World?, Chomsky menyebutkan bahwa tak ada Presiden Amerika yang dengan tegas benar-benar menarik seluruh personel militer Amerika yang ditempatkan di Timur Tengah dan menyatakan tidak pada Israel.
Chomsky memiliki pandangan berbeda dengan anggapan umum. Ia justru menyatakan Trump sebagai sosok berbahaya, sekaligus salah satu presiden terburuk Amerika yang dinilai memegang teguh supremasi kulit putih. Hal ini, juga berkaitan dengan pernyataan Trump yang akan mempertahankan Israel. Meski tak banyak menyebutkan tentang Timur Tengah, Chomsky meyakini Trump akan seperti presiden sebelum-sebelumnya yang ingin menjadikan Amerika “Juru Damai Dunia” walau dalam realitanya, justru main hakim dan memperkeruh konflik.
Hal ini juga terbukti dengan keputusan Trump pasca dilantik kembali menjadi presiden. Ia langsung mencabut berbagai kebijakan presiden sebelumnya, Joe Biden, seperti mencabut keputusan Joe Biden yang menghapus Kuba dari daftar negara pendukung terorisme, hingga mencabut larangan Israel membangun pemukiman permanen di Tepi Barat. Pencabutan-pencabutan itu menunjukkan sikap Trump yang ingin menguatkan kebijakan luar negeri Amerika.
Buku Who Rules the World? Merupakan gambaran penguasaan Amerika atas politik dunia. Chomsky menyatakan bahwa penguasa dunia bukanlah mereka yang hanya memiliki kekayaan melimpah. Tetapi, mereka yang dapat menentukan norma. Cara itulah yang digunakan Amerika dalam melakukan agresi militer ke negara yang dinilai tidak sejalan dengan norma yang dipegang Amerika dan negara barat lainnya.
Aditya Nur Firdaus
Mahasiswa Program Studi Sastra Inggris
