WKUTM—Universitas Trunojoyo Madura (UTM), telah melakukan perjanjian Memorandum of Understanding (MOU) bersama Universitas dr. Soebandi Jember terkait Tri Dharma Perguruan Tinggi yaitu, pendidikan, penelitian, pengembangan, dan pengabdian masyarakat (12/05). Hal tersebut dilakukan sebagai upaya untuk menggagas Prodi kedokteran, mengingat Universitas Dr. Soebandi yang memiliki fakultas ilmu kesehatan. Namun, terkait rencana tersebut fasilitas Unit Pelayanan Kesehatan (UPK), yang nantinya sebagai pendukung adanya Prodi Kedokteran, masih belum layak.
Achmad Amzeri selaku Wakil Rektor (warek) I menuturkan alasan Universitas dr. Soebandi melakukan MOU dengan UTM karena kedua belah pihak memiliki kepentingan. Universitas dr. Soebandi baru saja memiliki Fakultas Ekonomi dan Bisnis sehingga berkeinginan belajar terkait Fakultas Ekonomi dan Bisnis yang ada di UTM. Sedangkan pihak UTM berkeinginan belajar dengan Universitas dr. Soebandi terkait pengalaman mengelola fakultas kesehatan. UTM sendiri sedang menggagas pembentukan Program Studi (Prodi) Kedokteran sesuai dengan intruksi Rektor Safi'. Amzeri juga menyebutkan bahwa gagasan tersebut berkaitan dengan tidak adanya Prodi kedokteran di Madura.
”Ya ini mulai digagas, rektor sudah menginstruksikan, bahwa paling tidak dua atau tiga tahun kedepan, kita sudah punya Prodi Kedokteran,” ujar di ruangannya pada (19/05).
Amzeri menjelaskan bahwa persyaratan untuk membangun Prodi Kedokteran yaitu memiliki rumah sakit pendidikan, atau bekerja sama dengan rumah sakit pendidikan minimal tipe C. Adapun di Madura terdapat di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bangkalan, Pamekasan, dan Sumenep.
Selain itu untuk mendukung Prodi Kedokteran sendiri membutuhkan klinik kesehatan. Amzeri mengungkapkan bahwa UPK masih belum layak dan letaknya belum strategis. Seiring mempersiapkan membangun fakultas kesehatan, pihak UTM akan memperbaiki fasilitas kesehatan dengan melibatkan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Palang Merah Indonesia (PMI) dan pihak kemahasiswaan lainnya.
”Di sini kliniknya, meskipun sudah ada tapi belum layak. Nanti pelan-pelan kita tanggung secara khusus, mungkin dua atau tiga tahun kita sudah punya pusat kesehatan atau rumah sakit yang menjadi pendukung Prodi Kedokteran,” jelasnya.
Pihaknya juga mengungkapkan fungsi dari klinik tidak hanya ditujukan untuk fasilitas civitas akademica, melainkan dapat menjadi peluang bisnis bagi UTM. Hal ini berkenaan pula dengan upaya memfungsikan layanan masyarakat umum.
”Ya pasti di mana-mana untuk umum, tapi berbayar untuk umum, namun yang di dalam juga bayar hanya saja tidak terlalu mahal,” ungkapnya.
Adapun Amrin Rozali selaku Analis Barang Milik Negara (BMN) mengungkapkan bahwa rencana pemindahan lokasi Unit Pelayanan Terpadu (UPK) belum memiliki keputusan letak strategis yang bisa dijangkau oleh mahasiswa maupun masyarakat sekitar. Amrin mengatakan seharusnya bisa diakses oleh pihak luar untuk berobat.
”Tidak perlu keluar masuk kampus melalui satpam, paling masuk akal kemungkinan sejajar dengan gedung Sekretariat Bersama (Sekber) dan gedung softskill atau di depan gerbang lama di auditorium, yang lokasinya menghadap jalur pintu utama, ” ujarnya (15/05).
Amrin juga memberikan opsi lain yaitu, membangun bangunan baru yang sejajar di area Anjungan Tunai Mandiri (ATM). Menurutnya di sana terdapat lahan kosong jika dilihat dari segi estetika dan fungsinya, karena mudah diakses banyak orang, khususnya masyarakat sekitar.
Terkait pembentukan klinik kesehatan. Pihaknya menegaskan masih memberikan gambaran saja, terkait rencana pembangunan klinik sebagai fasilitas kampus. Sekaligus tempat pertolongan pertama dalam bidang kesehatan.
”Ya semoga saja pelayanannya bisa membantu orang sekitar, baik mahasiswa, dosen, karyawan, dan lainnya,” tegasnya.
Wildan Alim, selaku mahasiswa Prodi Teknik Mesin angkatan 19, menuturkan bahwa fasilitas UPK yang ada di UTM sendiri cukup memadai. Wildan sendiri tiga kali mengantar temannya untuk berobat ke UPK. Menurutnya jika ada mahasiswa yang sakit, bisa langsung masuk UPK untuk bisa ditindaklanjuti penanganannya.
”Penanganan, tensi darah, obat-obatan juga ada. Pelayanan memuaskan, langsung intensif, langsung dirawat,” tutur mahasiswa teknik mesin pada (15/05).
Namun tata letak UPK sendiri menurut Wildan terlalu pojok, sehingga banyak mahasiswa yang tidak mengetahui. Padahal menurutnya UPK sangat bermanfaat apabila terdapat mahasiswa yang sedang sakit saat berkuliah.
”Tempatnya jangan terlalu pojok, biar nanti teman-teman mahasiswa tahu kalo klinik kesehatan di UTM itu ada,“ pungkasnya
.
Nikmatul Islamiyah selaku mahasiswa Prodi Sastra Inggris (Sasing) angkatan 2020 yang pernah berobat di UPK mengungkapkan jika memerlukan pengobatan lebih lanjut, pihak UPK menyarankan untuk dirujuk ke puskesmas.
“Kalau memerlukan penanganan lebih, disuruh ke puskesmas terdekat, soalnya terbatas gitu di sana,” ungkapnya via WhatApps (21/05).
Nikmatul berharap tata letak UPK perlu dipertimbangkan lagi. Sekaligus memperbaiki pelayanannya, meskipun hal tersebut merupakan fasilitas gratis bagi mahasiswa.
“Harapannya semoga, semakin lebih baik pelayanannya.” pungkas mahasiswa Sasing tersebut.
Adapun terkait harapan rencana pembangunan fakultas kesehatan. Amzeri menuturkan dengan adanya rencana pembangunan fakultas kesehatan, diharapkan bisa bermanfaat bagi masyarakat Madura. Sehingga masyarakat Madura tidak perlu jauh-jauh berobat ke Surabaya.
”Nanti Alumni UTM yang di terima kedokteran, harapannya mampu menjadi tenaga kesehatan di Madura dengan dukungan prodi kedokteran di UTM. Sehingga bisa mencetak, mendidik sarjana kedokteran yang berkualitas dan bermanfaat bagi masyarakat Madura.” pungkasnya. (KHA/IN/AM)
