WKUTM – Program studi (Prodi) Garam Universitas Trunojoyo Madura (UTM) telah direncanakan sejak Dies Natalis XVIII UTM pada 30 Juli 2019. Prodi Garam tersebut diusulkan demi memenuhi permintaan Prodi kreatif dari pihak UTM dan memenuhi kebutuhan garam internasional. Namun, hingga perenovasian Miniplant Garam Non Pangan rampung, Prodi Garam belum terealisasi lantaran belum adanya kejelasan dari pihak rektorat hingga dibutuhkannya banyak tenaga dosen baru.
Agus Romadhon, Wakil Dekan III (Wadek III) Fakultas Pertanian, menginformasikan saat ini Prodi Garam telah melalui tahap presentasi ke pihak rektorat. Dirinya juga membeberkan kendala dari perealisasian ini adalah belum adanya kejelasan lebih lanjut dari pihak rektorat meskipun telah diadakan presentasi.
”Belum ada kejelasan dari pihak rektorat,” bebernya (04/04).
Adapun, Supriyanto, kepala Biro Administrasi Akademik, Kemahasiswaan, Perencanaan, dan Sistem Informasi (BAAKPSI), berpendapat Prodi garam UTM seharusnya sudah bisa direalisasikan secepatnya meskipun masih dalam proses. Dirinya menuturkan kendala dari perealisasian Prodi ini adalah dibutuhkannya banyak tenaga dosen baru sebab kampus tidak dapat mengurangi kuota dari dosen Prodi ilmu kelautan.
“Mungkin semester depan sudah jalan, karena membutuhkan tenaga dosen dari luar dan tidak bisa langsung jalan,” ungkap pria kelahiran Nganjuk tersebut (05/04).
Adapun Kartika Dewi, dosen Ilmu Kelautan, berpendapat jika Prodi tersebut akan tergabung dengan fakultas pertanian. Menurutnya peluang Prodi Garam terbuka lebar, karena Pulau Madura terkenal dengan Pulau Garam.
”Prodi Garam tetap masuk di Fakultas Pertanian, tetapi tidak masuk di Prodi Ilmu Kelautan. Pulau Madura juga identik dengan Garam, jadi ada peluang untuk membuat Prodi Garam,” ungkapnya (04/04).
Sementara itu, dari pihak mahasiswa, Satria Dwi Putra, mahasiswa Ilmu Kelautan, mengaku belum mengetahui terkait Prodi baru tersebut. Namun, Satria menganggap bahwa dengan adanya Prodi Garam, Prodi Ilmu Kelautan sudah tidak terkonsentrasi kepada mata kuliah garam.
’’kemungkinan Prodi Ilmu Kelautan sudah tidak membahas konsentrasi garam dan jika Prodi Garam sudah direalisasi, dosen akan tetap mengambil dosen baru sebab jika mengambil dosen dari ilmu kelautan masih tidak mencukupi,’’ ujarnya (06/04).
Mohamad Afif Irfani, mahasiswa Manajemen Sumber daya Perairan, berpendapat bahwa Prodi baru yang akan dibentuk menandakan bahwa UTM sudah ada perkembangan dan berharap agar lulusan dari Prodi Garam dapat mengelola tambak garam di Madura.
”Bagus kalau memang ada rencana Prodi baru, itu pertanda UTM sudah berkembang dan lulusan dari Prodi garam nantinya berpotensi mengelola tambak garam di Madura,” harapnya (06/04). (WB/AHR)
