WKUTM – Sejumlah Massa Mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura (UTM) lakukan aksi demonstrasi di depan Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Bangkalan (11/04). Massa aksi terbagi menjadi dua aliansi, yakni Gerakan Mahasiswa (Gema) UTM dan Trunojoyo Bergerak (TB). Adapun keduanya menyampaikan tuntutan yang serupa, yakni penolakan atas kenaikan harga minyak, Bahan Bakar Minyak (BBM) Pertamax, hingga wacana penundaan Pemilihan Umum (Pemilu).
Abdurrahman Wahed, selaku Koordinator Lapangan (Korlap) TB, mengungkapkan tuntutan yang dibawa merupakan permasalahan yang dirasakan tidak hanya oleh mahasiswa namun juga masyarakat, khususnya di daerah Bangkalan.
”Perihal tuntutan penurunan minyak dikarenakan pendapatan masyarakat masih belum normal dan terkait kenaikan BBM Pertamax, menyebabkan kelangkaan, serta di daerah Bangkalan banyak lampu jalan yang tidak hidup dan masih banyak jalan yang rusak ” ungkapnya (11/04).
Adapun rute penyampaian tuntutan peserta aksi diawali dari titik kumpul peserta aksi yang berlokasi di depan Gerbang Lama UTM pukul 10.00 WIB, menuju Jembatan Suramadu dan dilanjutkan dengan aksi blokade jalur keluar masuk Suramadu pukul 11.00 WIB.
Wahed menuturkan aksi tersebut ditujukan sebagai bentuk peringatan mahasiswa Madura kepada pemerintah daerah maupun pusat, untuk memenuhi tuntutan yang disampaikan.
”Memperingati pimpinan di atas atau Presiden bahwasanya mahasiswa Madura tidak diam,” tuturnya.
Aksi blokade jalur keluar masuk tersebut dilanjutkan dengan penyampaian tuntutan di depan Gedung DPRD Bangkalan (12.00 WIB).
Tuntutan dihiraukan, mahasiswa menerobos masuk hingga menimbulkan kericuhan
Massa aksi yang tidak kunjung dipertemukan dengan ketua DPRD Bangkalan, memaksa masuk Gedung DPRD Bangkalan dan sempat terlibat dorong-dorongan hingga timbulkan korban luka.
Wahed, menjelaskan dikarenakan insiden tersebut pihaknya memutuskan melanjutkan aksi di depan Markas Kepolisian Resor (Mapolres) Bangkalan disertai aksi blokade jalan guna meminta pertanggungjawaban kepada pihak Kepolisian atas timbulnya korban dari pihak TB.
”Dari situ banyak yang terluka karena tindak represif polisi, ada empat massa aksi yang terluka,” jelasnya.
Alith Alarino, selaku Kepala Kepolisian Resor (Kapolres) Bangkalan menanggapi hal tersebut dan berjanji akan menindaklanjuti baik dari pihak kepolisian maupun korban
“Tanggung jawab kami, kalau memang ada aturan hukum yang berlaku, kalau salah akan kami berikan sanksi. Kemudian bagi korban yang cedera juga akan menjadi tanggung jawab kami,” tuturnya di depan massa aksi (11/04).
Selain itu, Muhammad Fahad selaku Ketua DPRD Bangkalan, turut menemui massa aksi di depan Mapolres Bangkalan dan menerima serta menandatangani tuntutan yang disampaikan oleh massa aksi.
”Nanti saya akan mengundang komisi yang bersangkutan untuk melakukan apa yang harus dilakukan seperti yang disampaikan,” ungkapnya di depan massa aksi (11/04).
Terkait kondisi korban, Bernadus Syuita Kuncoro, selaku salah satu peserta aksi yang juga merupakan korban terluka mengungkapkan bahwa kondisinya telah membaik, begitu pun dengan korban lainnya.
”Kondisi saat ini, untuk saya sendiri alhamdulillah telah membaik dan korban sudah dipulangkan,” ungkapnya (11/04).
Terkait tuntutan yang telah disampaikan, Bernadus menyatakan bahwa walau belum sepenuhnya tuntas, ia berharap tuntutan segera terpenuhi.
”Walaupun masih belum sepenuhnya tuntas. Saya harap ada gerakan lanjutan hingga apa yang menjadi tuntutan kami terpenuhi, BBM turun, minyak goreng pun turun,” harapnya. (FRD/PKN)
