![]() |
| Wisuda XXII UTM. Foto : Rah |
WKUTM – Berdasarkan Surat Pengumuman Nomor
B/425/UN46/00.00/2021 Universitas Trunojoyo Madura (UTM) akan menggelar wisuda
semester gasal tahun 2020/2021 secara luar jaringan (luring). Rencananya wisuda
tersebut akan dilaksanakan pada tanggal 27 Maret hingga 4 April 2021 mendatang.
Terkait
hal tersebut, Deni Setya Bagus Yuherawan selaku Wakil Rektor I Bidang Akademik
belum dapat memberikan keterangan. Saat akan ditemui di ruangan (09/02), sekretarisnya mengatakan bahwa saat ini dirinya
belum bisa ditemui, karena masih mengikuti rapat terkait proses Seleksi
Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN).
Adapun
Supriyanto, selaku Kepala Biro Administrasi Akademik Kemahasiswaan Perencanaan
dan Sistem Informasi (BAAKPSI) juga belum bisa memberikan keterangan lebih
lanjut. Pihaknya hanya mengungkapkan bahwa saat ini UTM tinggal menunggu persetujuan dari
pihak Satuan Tugas Penanganan Corona
Virus Disease (Satgas Covid-19) Kabupaten Bangkalan.
”Hari
Jum’at lalu kami sudah melakukan pertemuan, dan saat ini tinggal menunggu
balasan keputusan dari sana (red: Satgas Covid-19 Kabupaten Bangkalan),”
ungkapnya.
Ningwar,
selaku Ketua Satgas Covid-19 UTM menerangkan bahwa perihal izin pelaksanaan
wisuda luring UTM sebenarnya
hanya perlu memberikan pemberitahuan kepada Satgas Covid-19 Kabupaten Bangkalan melalui
panitia pelaksana.
Namun, sampai sekarang panitia pelaksana belum dibentuk, dibuktikan dengan
dirinya yang juga belum melakukan persiapan apapun perihal acara tersebut.
”Nanti
akan dibentuk panitia, ketika sudah terbentuk, panitia tersebut yang akan
melaporkan pelaksanaan wisuda luring ini kepada pihak Satgas Covid-19 Kabupaten
Bangkalan,” ujarnya.
Achmad
Ubaidillah, selaku Wakil Dekan I Fakultas Teknik (FT) menanggapi hal
ini, dirinya mengaku
tidak menjadi masalah apabila kondisi dan keadaannya memungkinkan. Namun,
dirinya tetap berharap bahwa pelaksanaan wisuda kali ini dapat dilakukan secara
daring, mengingat kondisi pandemi saat ini yang belum mereda. Menurutnya,
dengan dilaksanakannya wisuda secara luring, akan banyak protokol yang harus
diterapkan, dan akan ada harga mahal yang harus dibayar apabila dalam
pelaksanaannya nanti terjadi hal yang tidak diinginkan.
"Meski
nanti akan mengurangi tingkat kesakralan prosesi wisuda, saya pribadi lebih
berharap jika wisuda dapat diadakan secara daring, mengingat selain penerapan
protokol kesehatan yang ketat, resiko yang akan dibayar juga sangat mahal jika
sampai terjadi apa-apa," ungkapnya.
Lindasari,
selaku calon wisudawan Fakultas Pertanian (FP) sedikit berbeda, dirinya
mengungkapkan bahwa kebijakan penyelenggaraan wisuda secara luring ini dirasa
sudah tepat. Ia mengacu pada pelaksanaan wisuda di semester lalu yang mampu
dilaksanakan secara luring, meskipun sedang berada di tengah kondisi pandemi.
”Tahun kemarin yang jumlah wisudawan lebih banyak, prosesi wisuda dapat digelar secara luring, apalagi saat ini jumlah calon wisudawan yang lebih sedikit, harusnya lebih memungkinkan untuk diselenggarakan secara luring,” ungkapnya. (WM/ARH).

