Notification

×

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Vandalisme di Toilet : Om Ali Ghufron dan Problematik BPJS Kesehatan

Sabtu, 13 Maret 2021 | 05.15.00 WIB Last Updated 2021-03-13T13:18:17Z

 

BPJS. Pict : Roi

Dahulu, semua permasalahan kesehatan selalu dilakukan oleh satu profesi, dukun. ibu yang akan melahirkan diarahkan ke dukun, orang kesurupan (tapi, istilah medisnya epilepsi) dibawa ke dukun, orang ingin dapat jodoh juga pergi ke dukun. Dukun adalah puncak penyelesaian problem pada masanya. Namun, rakyat saat ini sudah mengenal peran kedokteran untuk menyehatkan bangsa, apalagi pemerintah dengan kartu saktinya yaitu Kartu Indonesia Sehat Badan Penyelanggara Jaminan Sosial atau kartu KIS BPJS, berhasil merebut 82 persen hati masyarakat untuk berobat ke rumah sakit di tahun 2021. Keluarnya slogan ”BPJS Kesehatan Mendengar” untuk lima tahun kedepan dari om Ali Ghufron yang merupakan direktur utama di BPJS kesehatan yang baru dan misinya mencapai 94 persen masyarakat indonesia terdaftar BPJS di tahun 2024 yang memaksa untuk berpikir, ini tenaga kesehatan atau visi dan misi presiden. Program negara ini seakan siap menanggung segala biaya kewarasan masyarakat, entah penyakit fisik atau mental.

 

Berkaca dari kekurangan masa lalu, Indonesia ’berhasil’ menduduki peringkat 101 dari 149 negara terkait indeks tingkat kesehatan masyarakat. Padahal pemerintah sudah gencar-gencarnya melakukan peningkatan di bidang kesehatan. Saat ini pemegang kartu BPJS sebanyak 82 persen, dan angka itu diharapkan naik oleh pemerintah sebesar 94 persen di tahun 2024. Namun, hal ini  seakan hanya menggambarkan jumlah kartu BPJS yang sudah tersebar dan tidak di dukung dengan perbaikan dan perataan fasilitas kesehatan di Indonesia.

 

Mengingat penduduk di daerah terpencil mengharuskan warganya harus turun gunung untuk bisa mengakses BPJS nya di Pusat Kesehatan Masyarat atau Puskesmas. Selain itu, bobroknya kesehatan di Indonesia didukung oleh kurang tersebarnya peralatan dan tenaga medis yang mumpuni juga menjadi alasan masyarakat hanya menyimpan kartu BPJS.


Permasalahan pelik lainnya yaitu pelayanan rumah sakit terhadap pasien pemegang kartu ‘sakti’ BPJS. Pasalnya, perbedaan kelas juga berpengaruh ke pelayanan dokter dan perawat. Permasalahan seperti antrian pendaftaran anggota yang panjang karena tidak sebanding dengan jumlah masyarakat, jadwal pengobatan pasien yang kerap maju mundur, rumah sakit lebih memprioritaskan pasien regular ketimbang anggota BPJS seperti yang pernah dialami pasien di Bandar lampung hingga merenggut nyawa karena masalah tersebut. Hal-hal itu menjadi momok bagi Acmad Yurianto guna merealisasikan misinya memperbaiki nama BPJS.

 

Problematika ini seharusnya segera diselesaikan, mengingat status kesehatan Indonesia yang masih buruk. Masyarakat yang enggan mengikuti BPJS, memilih untuk menahan rasa sakitnya daripada harus membayar pengobatan yang mahal. Memang ada harga yang harus ditebus untuk sesuatu barang dan jasa terbaik. Tetapi, membiarkan kesenjangan dan kurangnya bantuan sama saja menyerahkan masyarakat untuk menggali liang lahatnya sendiri. Para warga yang sudah sangat mempercayai perkembangan ilmu pengetahuan dan medis, memilih untuk kembali ke pengobatan tradisional, karena tidak adanya kecocokan budget dengan harapan kewarasan mereka.

 

Menteri kesehatan harus segera sadar akan posisi masyarakat yang terombang-ambing dalam menentukan cara kesembuhannya. Mutu kesehatan juga perlu ditingkatkan selain mutu pendidikan, karena hal tersebut adalah salah satu syarat menjadi negara maju. Segala aspek kesehatan harus dibenahi dari fisik, mental, lingkungan dan sosial. Untuk mendukung itu, masyarakat juga perlu menerapkan pola hidup sehat, salah satu hal yang masih sering diabaikan. Tidak hanya mengandalkan jasa dokter, masyarakat perlu mengantisipasi kesehatan mereka sendiri, agar menekan jumlah pasien Covid19 dan tidak memberatkan rencana pemerintah guna memperbaiki mutu kesehatan, rumah sakit, dan Puskemas.


Hilmy Adam Roihan

Sosiologi

Universitas Trunojoyo Madura

×
Berita Terbaru Update