![]() |
| Vaksinasi Gelombang I. Foto : Khum |
WKUTM – Universitas Trunojoyo Madura (UTM) telah melakukan vaksinasi massal kepada 1.044 orang, yang meliputi 835 karyawan dan dosen, 70 security, dan 139 cleaning service. Vaksinasi ini dimulai pada pukul 08.00 WIB hingga selesai yang dilaksanakan pada tiga tempat yaitu di Gedung Pertemuan, Gedung Cakra, dan Gedung Graha Utama(07/03).
Ningwar selaku, Ketua Satuan Tugas
penanganan corona virus disease 2019 (Satgas Covid-19) UTM, menjelaskan
bahwa vaksin tersebut dari Pemerintah Kabupaten Bangkalan yang ditujukan kepada dosen, karyawan,
security, dan cleaning service.
”Rencana mau meminta vaksinasi, tapi
Bupati Bangkalan sudah mendata orang yang ada di UTM baik dosen, karyawan maupun security
serta cleaning service.” jelasnya.
Selanjutnya, ia memaparkan bahwa akan
dilakukan vaksin kedua, yaitu pada tanggal 22 Maret 2021.
”Nanti ada lagi, yaitu tanggal 22 Maret 2021 mendatang”, paparnya.
Ningwar juga menambahkan bahwa, belum ada
informasi jatah vaksin untuk mahasiswa. Menurutnya, hal ini karena lokasi
mahasiswa menyebar, sehingga kemungkinan akan diberikan vaksin lewat
pemerintah di daerah asalnya.
”Belum ada
untuk mahasiswa, karena mahasiswa itu menyebar. Mungkin nanti, lewat
kampungnya, atau pemerintah daerah tempat tinggal”, tambahnya.
Trisia Fajrini, selaku salah satu
dokter yang memberikan vaksin menjelaskan jika
setelah pemberian dosis vaksin
pertama ini, ada pemberian dosis vaksin kedua. Waktu pemberian vaksin kedua
setelah 14 hari kemudian untuk pasien non lanjut usia (lansia), namun untuk
pasien lansia akan
diberikan 14 sampai 28 hari. Perbedaan waktu pemberian tersebut karena respon
imun yang muncul dari pasien non lansia dan lansia berbeda.
”14 hari kemudian untuk non lansia, sedangkan
lansia 28 hari lagi. Perbedaan ini karena respon imun yang muncul untuk lansia
28 hari, tapi kalau
orang biasa yang non lansia 14 hari,” jelasnya.
Dokter asal Bangkalan tersebut juga memaparkan bahwa
ada beberapa efek setelah vaksinasi yang dilaporkan sering terjadi, efek yang
paling banyak yaitu mengantuk dan agak lapar. Tapi untuk sampai efek dengan
gejala yang parah belum ada laporan.
”Efek yang paling banyak dilaporkan
setelah vaksin yaitu mengantuk dan agak lapar, namun untuk laporan efek sampai
dengan gejala yang parah belum ada laporan,” paparnya.
Dirinya menambahkan, untuk efek
mengantuk dan agak lapar tidak bisa dihindari karena merupakan sistem tubuh.
Namun, untuk efek lokal setelah divaksin seperti pada daerah yang dikenakan injeksi
terasa sedikit nyeri, maka bisa dihindari dengan dikompres.
Samsul Gunawan, selaku Staf Akademik
Prodi Ilmu Komunikasi, menjelaskan bahwa, sebelum divaksin terdapat pengecekan
kesehatan. Yaitu, ditanyai perihal riwayat kesehatannya, kemudian didata oleh
petugas kesehatan
dan pengecekan kesehatan secara umum.
”Diberikan pertanyaan sama dokter
riwayat-riwayat sakit, terus punya keluhan apa sebelum divaksin itu. Didata
dulu sama dokter, sebelum vaksinasi dicari data riwayat penyakitnya terus ditensi dilihat tekanan darahnya,” jelasnya.
Ia berharap dengan adanya vaksin dari
pemerintah ini dapat lebih baik lagi dalam menangani pandemi Covid-19.

