![]() |
| Kuliah Daring. Foto : Mbrk |
WKUTM - Berdasarkan Surat Edaran Rektor Universitas Trunojoyo Madura (UTM) Nomor 2/UN46/HK.01/2021 tentang kegiatan kuliah praktikum yang dilakukan secara Luar Jaringan
(Luring). Beberapa
Program Studi (Prodi) telah memberlakukan sistem hybrid learning yang memadukan antara perkuliahan daring dan praktikum secara luring, atas izin pimpinan fakultas
masing-masing. Namun, sistem hybrid learning ini masih
mendapat keluhan dari beberapa pihak.
Agung Latifi, selaku Mahasiswa Prodi Ikom ,mengungkapkan
jika dirinya tidak bisa mengikuti perkuliahan hybrid yang dilakukan oleh
prodinya dengan alasan jarak.
”Perjalanan dari rumah (Bekasi) ke Madura
membutuhkan banyak biaya dan tenaga. Belum lagi untuk tempat tinggal di sana,” ungkap
mahasiswa asal Bekasi tersebut.
Agung juga mengeluhkan jika dosen yang mengadakan
perkuliahan hybrid tersebut tidak memberikan materi susulan bagi
mahasiswa yang tidak mengikuti praktikum luring.
”Pihak dosen juga tidak memberikan kelas pengganti (online)
untuk perkuliahan (red: hybrid ). Sehingga saya merasa terganggu,” keluhnya.
Ia berharap, kedepannya perkuliahan konvensional
segera diberlakukan agar kejadian seperti ini tidak terjadi lagi.
Adapun Ahmad Ubaidillah, selaku Wakil Dekan I (Wadek
I) Fakultas Teknik, menjelaskan jika fakultas teknik pada semester genap ini
sudah mulai memberlakukan perkuliahan hybrid karena ada mata kuliah yang
harus mengadakan praktikum di laboraturium, namun secara luring terbatas.
”Sebenarnya fakultas teknik sudah menerapkan
perkuliahan hybrid, karena untuk mata kuliah yang bersifat praktik
alat-alatnya ada di laboraturium,” ungkapnya.
Adapun pihaknya menjelaskan terkait sistem
pelaksanaan praktikum luring terbatas adalah dengan cara membatasi mahasiswa
yang melaksanakan praktikum sehingga porsi mahasiswa tidak melebihi 50% dalam satu kelas. Pihaknya juga mengeluhkan,
jika perkuliahan hybrid membutuhkan banyak kelas dan dosen pengajar harus bekerja dua kali.
”Dengan sistem kelas yang dikurangi hingga separuh
ini, pasti membutuhkan lebih banyak kelas, dosen yang mengajar pun juga harus
kerja dua kali,” keluhnya.
Senada dengan Ubaidillah, Slamet Subari, selaku
Dekan Fakultas Pertanian, menjelaskan jika pihaknya juga sudah menyiapkan konsep
perkuliahan berbasis hybrid. Namun, masih terkendala pada dana dan
tenaga pengajar.
”Kami kekurangan tenaga kerja, sedangkan di sisi lain kami tidak mendapat alokasi dana untuk tenaga pengajar,” ujar pria asal Surabaya ini.
Menanggapi perihal praktikum, Surokim, selaku Dekan
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Budaya, mengaku jika pihaknya sama sekali tidak
menerima laporan ataupun perizinan, terkait perkuliahan yang diadakan secara luring
pada Prodi Ilmu Komunikasi (Ikom) dan menyarankan jika ada perkuliahan yang
mengharuskan kegiatan praktik, maka bisa dilakukan pada akhir semester.
”Saya tidak menerima laporan jika ada kuliah luring,
tapi saya tahu jika terdapat perkuliahan hybrid di prodi Ikom, dengan
alasan kemaslahatan mahasiswa. Selain itu, jika memang mengharuskan luring,
saya sarankan dilakukan di akhir semester, tapi dengan terbatas,” ungkapnya.
Pria asal Lamongan ini berharap, agar UTM bisa
segera merealisasikan perkuliahan hybrid secara merata dan vaksinasi senin
lalu adalah langkah awal menuju sistem perkuliahan yang lebih baik.
”Semoga pandemi segera berakhir agar perkuliahan konvensional dapat kita lakukan kembali,” harapnya. (Cim/Jie).

