![]() |
| Wisuda XXVI. Foto : Wdy |
WKUTM – Universitas Trunojoyo Madura (UTM) belum memastikan sistem pelaksanaan wisuda ganjil yang akan dilaksanakan pada 27 Maret 2021 mendatang. Adapun keputusan pelaksanaan wisuda secara luar jaringan (luring) atau dalam jaringan (daring) dipertimbangkan dari rapat pihak rektorium dan audiensi bersama calon wisudawan (01/03).
Mengenai hal tersebut, Supriyanto, selaku Kepala Biro
Administrasi Akademik dan Kemahasiswaan (BAAKPSI) mengungkapkan jika pihaknya
masih belum bisa
memberikan informasi lebih lanjut, karena dari pihak kampus sendiri
masih melakukan rapat perihal pelaksanaan wisuda tersebut.
”Belum tahu saya, kan masih dirapatkan,” ungkap Supriyanto.
Sebagai Ketua Pelaksana wisuda tahun ini, Supriyanto
juga mengungkapkan jika pihaknya bertugas untuk menyukseskan acara, adapun segala
kebijakan wisuda nanti ditentukan oleh pimpinan.
”Tugas saya yaitu melaksanakan suksesnya wisuda,
penentu kebijakan itu dari pimpinan. Saya hanya pelaksana kebijakan pimpinan.
Sudah rapat atau belum pimpinan ini kan belum tahu, karena ini permasalahan
pimpinan”, ungkap pria asal Nganjuk tersebut.
Mengenai tuntutan audiensi dari mahasiswa, Supriyanto menjelaskan jika
audiensi merupakan permintaan mahasiswa dan pihak kampus masih melakukan
koordinasi untuk
menimbang baik dan buruknya.
”Mengenai audiensi itu permintaan mahasiswa, sedangkan kami masih
merapatkan sehingga kita mengetahui seperti apa plus dan minusnya dari
keputusan yang akan diambil nanti. Selain itu, jika antara kami dan mahasiswa
memiliki keinginan yang berbeda, tentu kami akan mencari solusi yang tepat
sehingga tidak ada klaster di UTM,” jelasnya.
Lebih lanjut, pihaknya mengungkapkan jika
pertimbangan dari pelaksanaan wisuda ini juga berasal dari kebijakan satuan
tugas corona virus disease 2019 (satgas Covid-19) Bangkalan, dan saat ini pihak kampus telah
mengirimkan surat izin, namun belum ada keputusan akan luring atau daring.
”Sudah mengirim surat namun tidak ada balasan, perkara
nanti luring atau daring itu gampang. Yang penting izinnya dulu. Semisal nanti
luring boleh ataupun tidak, tergantung dari satgas covid 19 Bangkalan,”
jelasnya.
Saat ditanya mengenai evaluasi yang telah dilakukan UTM
terkait wisuda luring sebelumnya. Supriyanto mengungkapkan jika wisuda luring tidak
efektif, karena memiliki sesi yang cukup banyak, sehingga menjadikan senat merasa kelelahan.
”Jadi sesi-sesi sepertinya tidak efektif karena
ternyata capek, terutama senatnya,” ungkapnya.
Rizky Eka Suci Ramadhani selaku calon wisudawan dari
Fakultas Hukum (FH), mengungkapkan bahwa ia ingin wisuda kali ini bisa dilaksanakan dengan prosesi
tatap muka seperti biasa.
“Kalau keinginan dan harapan wisuda kali ini sebenarnya seperti halnya
wisuda pada umumnya dengan prosesi seperti biasanya dan bisa tatap muka. Tetapi tidak bisa dipungkiri
juga dengan keadaan pandemi saat inipun tidak bisa memaksakan juga harus wisuda
secara langsung,”ungkapnya.
Lailul selaku calon wisudawan FH juga berharap agar wisuda kali dapat diadakan offline, dengan pihak UTM
dapat memperketat protokol kesehatan. Serta jika harus online, ia
berharap tidak ada hal-hal yang mempersulit jalannya wisuda.
”Kalaupun jadi offline hanya berharap protokol
kesehatan diterapkan lebih ketat. Jika online diharap tidak ada hal yang
dapat mempersulit wisudawan untuk bergabung di link, karena kondisi
jaringan setiap orang tidak sama,” harapnya. (Mel/Cha)

