Notification

×

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Semester Genap Tahun Ajaran 2020/2021 Mahasiswa Inginkan Praktikum Luring

Kamis, 14 Januari 2021 | 11.11.00 WIB Last Updated 2021-01-14T19:11:15Z



 

WKUTM – Data dalam survei yang dilakukan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) pada Juli 2020 lalu, menyatakan bahwa 90% mahasiswa lebih menyukai kuliah tatap muka. Akan tetapi, hingga menjelang semester ganjil akan berakhir, Universitas Trunojoyo Madura (UTM) belum mengeluarkan kebijakan terkait kepastian metode pembelajaran pada semester genap tahun ajaran 2020/2021. Namun, mayoritas mahasiswa menginginkan kembali perkuliahan dilaksanakan secara luar jaringan (luring), khususnya bagi mahasiswa yang sedang melakukan praktikum.


Ningwar selaku Ketua Satuan Tugas Covid-19 UTM, hingga mendekati semester genap tahun ajaran 2020/2021 UTM belum bisa memastikan proses sistem seperti apa yang akan dilakukan tergantung kondisi karena kasus covid -19 di Bangkalan yang semakin meningkat. Namun, terkait keluhan mahasiswa terkait praktikum Ningwar menyampaikan untuk kegiatan praktikum dapat dilakukan di dalam kampus sesuai dengan aturan yang sudah ada.


Untuk yang praktikum boleh luring dan ada jadwalnya. Karena kalau yang eksak sebenarnya tidak bisa untuk daring. Karena itu dibolehkan luring, namun tetap dengan protokol kesehatan, ucapnya.


Dari sudut pandang mahasiswa dalam menanggapi hasil survei dari Kemendikbud, M. Yunus Sholehuddin, mahasiswa Agribisnis sekaligus asisten dosen praktikum menyampaikan bahwa dirinya setuju dengan hasil survei tersebut. Ia menganggap jika keefektifan pembelajaran serta interaksi antara mahasiswa dengan dosen dalam pembelajaran luring tidak maksimal dibandingkan dengan metode dalam jaringan (daring).


"Karena menurut saya sendiri walaupun pembelajaran daring memiliki beberapa keunggulan seperti kegiatan pembelajaran bisa fleksibel tidak terikat tempat atau lainnya, namun hubungan antara dosen dengan mahasiswa tidak bisa didapat di pembelajaran daring, tidak semua mahasiswa atau pelajar mampu menangkap materi saat online," ujarnya.


Dirinya juga mengaku jika lebih menyukai pembelajaran secara luring dibandingkan dengan daring.


"Saya sendiri lebih suka luring, karena jika kita luring kita akan lebih mengetahui langsung permasalahan yang dihadapi saat praktikum, dan mungkin saja bisa menemukan solusinya, " kata pria asal Pasuruan itu.


Artika Rahma Pujining Tyas, mahasiswi prodi Teknologi Industri Pertanian (TIP) mengungkapkan keluhannya terhadap praktikum secara daring. Seperti terbatasnya alat penunjang kebutuhan untuk praktikum dan penyampaian materi praktikum juga kurang maksimal yang membuatnya kurang memahami materi yang diberikan.


"Praktikum secara daring di rumah memiliki keterbatasan alat dibandingkan dengan di laboratorium yang sudah tersedia. Mahasiswa masih minim keperluan penunjang praktikum seperti tidak ada laptop untuk laporan dan juga kapasitas Random Access Memory (RAM) untuk mengunduh software. Penyampaian materi praktikum kurang rinci sehingga ada praktikan yang tidak dimengerti dengan praktikum yang dilakukannya," keluh mahasisiwi asal kediri.


Bagi Moh. Nur Ilhami Fajri Santoso, mahasiswa teknik elektro menyampaikan bahwa dirinya lebih memilih untuk melakukan pratikum secara luring, karena sangat berpengaruh pada dunia kerja kedepannya.


"Praktikum secara daring tidak efektif, dimana kita hanya melakukan simulasi pada laptop. Simulasi yang membutuhkan pada alatnya langsung, ini akan berdampak bagi kita saat kita terjun pada dunia pekerjaan sehingga luring sangat diperlukan," ujar mahasiswa asal Pamekasan tersebut.


Menanggapi kenyataan tersebut, Achmad Jauhari, selaku Wakil Dekan 3 Fakultas Teknik (FT) sekaligus dosen Pengantar Teknologi Informasi menambahkan jika praktikum lebih baik dilakukan secara luring karena hal itu berpengaruh di dunia kerja.


"Kalau praktikum yang pasti kita butuh interaksi, anda bayangkan saja bagaimana praktikum melalui jaringan online, padahal di dunia nyata atau pekerjaan tidak bisa dikerjakan secara remote (sistem kerja yang dilakukan jarak jauh)," ucap pria asal Pamekasan itu.


Rakhmawati selaku Dosen Satuan Operasi dan Mesin & Peralatan Industri Fakultas Pertanian menanggapi terkait survei, dirinya mengungkapkan bahwa jika mahasiswa lebih suka dan ingin melakukan pembelajaran luring karena mereka belum terbiasa.


"Itu style ya, selama awalnya kita sudah melakukan pembelajaran secara luring karena itu sudah menjadi sebuah kebiasaan, jadi agak sulit untuk mengubah ke online, perlu step by step dan ada penyesuaian. Tapi kalau sistem daring memang harus diberlakukan karena corona virus, mau tidak mau kebiasaan itu harus kita lakukan," tanggapnya.


Rakhmawati berharap bisa meminimalisasi kendala selama perkuliahan daring terus berlangsung, mengingat vaksin corona masih dilakukan secara bertahap.


Melihat dari data secara global di negara luar maupun di dalam negeri dampak dari pandemi ini sepertinya belum ada kejelasan. 2021 ini katanya masih bertahap untuk vaksinasinya setiap orang. Kalau seperti itu, berarti sistem daring tetap jalan dan praktikum daring terus ada. Meskipun adanya kendala saya berharap bisa meminimalisir kendala yang ada di mahasiswanya seperti minimnya alat – alat untuk praktikum dengan peralatan yang seadanya di rumah, imbuhnya.


Rakhmawati pun juga menyampaikan bahwa mahasiswa sebaiknya bisa menyesuaikan dengan sistem yang ada, termasuk perkuliahan secara daring.


Untuk harapan seluruh mahasiswa baik itu yang sosial dan eksak mereka tetap belajar sistem yang luring dan daring, mereka harus bisa beradaptasi pada kegitan yang berbau daring, jelas wanita asal Sampang itu.

 (Lin/Uya)


×
Berita Terbaru Update