WKUTM – Data dalam survei yang
dilakukan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) pada Juli 2020
lalu, menyatakan bahwa 90% mahasiswa lebih menyukai kuliah tatap muka. Akan
tetapi, hingga menjelang semester ganjil akan berakhir, Universitas Trunojoyo
Madura (UTM) belum mengeluarkan kebijakan terkait kepastian metode pembelajaran
pada semester genap tahun ajaran 2020/2021. Namun, mayoritas mahasiswa
menginginkan kembali perkuliahan dilaksanakan secara luar jaringan (luring),
khususnya bagi mahasiswa yang sedang melakukan praktikum.
Ningwar selaku Ketua Satuan Tugas Covid-19 UTM, hingga mendekati semester
genap tahun ajaran 2020/2021 UTM belum bisa memastikan proses sistem seperti
apa yang akan dilakukan tergantung kondisi karena kasus covid -19 di Bangkalan
yang semakin meningkat. Namun, terkait keluhan mahasiswa terkait praktikum
Ningwar menyampaikan untuk kegiatan praktikum dapat dilakukan di dalam kampus
sesuai dengan aturan yang sudah ada.
”Untuk yang praktikum boleh
luring dan ada jadwalnya. Karena kalau yang eksak sebenarnya tidak bisa untuk daring. Karena itu dibolehkan luring,
namun tetap dengan protokol kesehatan,” ucapnya.
Dari sudut pandang mahasiswa dalam
menanggapi hasil survei dari Kemendikbud, M. Yunus Sholehuddin, mahasiswa
Agribisnis sekaligus asisten dosen praktikum menyampaikan bahwa dirinya setuju
dengan hasil survei tersebut. Ia menganggap jika keefektifan pembelajaran serta
interaksi antara mahasiswa dengan dosen dalam pembelajaran luring tidak
maksimal dibandingkan dengan metode dalam jaringan (daring).
"Karena menurut saya
sendiri walaupun pembelajaran daring memiliki
beberapa keunggulan seperti kegiatan pembelajaran bisa fleksibel tidak terikat
tempat atau lainnya, namun hubungan antara dosen dengan mahasiswa tidak bisa
didapat di pembelajaran daring, tidak semua mahasiswa atau pelajar mampu
menangkap materi saat online," ujarnya.
Dirinya juga mengaku jika lebih
menyukai pembelajaran secara luring
dibandingkan dengan daring.
"Saya sendiri lebih suka luring, karena jika kita luring kita akan lebih
mengetahui langsung permasalahan yang dihadapi saat praktikum, dan mungkin saja
bisa menemukan solusinya, " kata pria asal Pasuruan
itu.
Artika Rahma Pujining Tyas, mahasiswi
prodi Teknologi Industri Pertanian (TIP) mengungkapkan keluhannya terhadap
praktikum secara daring. Seperti
terbatasnya alat penunjang kebutuhan untuk praktikum dan penyampaian materi
praktikum juga kurang maksimal yang membuatnya kurang memahami materi yang
diberikan.
"Praktikum secara daring di
rumah memiliki keterbatasan alat dibandingkan dengan di laboratorium yang sudah
tersedia. Mahasiswa masih minim keperluan penunjang praktikum seperti tidak ada
laptop untuk laporan dan juga kapasitas Random
Access Memory (RAM) untuk mengunduh software.
Penyampaian materi praktikum kurang rinci sehingga ada praktikan yang tidak
dimengerti dengan praktikum yang dilakukannya," keluh mahasisiwi asal
kediri.
Bagi Moh. Nur Ilhami Fajri Santoso,
mahasiswa teknik elektro menyampaikan bahwa dirinya lebih memilih untuk
melakukan pratikum secara luring, karena
sangat berpengaruh pada dunia kerja kedepannya.
"Praktikum secara daring tidak efektif, dimana
kita hanya melakukan simulasi pada laptop. Simulasi yang membutuhkan pada
alatnya langsung, ini akan berdampak bagi kita saat kita terjun pada dunia
pekerjaan sehingga luring sangat diperlukan," ujar mahasiswa asal
Pamekasan tersebut.
Menanggapi kenyataan tersebut, Achmad
Jauhari, selaku Wakil Dekan 3 Fakultas Teknik (FT) sekaligus dosen Pengantar
Teknologi Informasi menambahkan jika praktikum lebih baik dilakukan secara luring karena hal itu berpengaruh di
dunia kerja.
"Kalau praktikum yang pasti
kita butuh interaksi, anda bayangkan saja bagaimana praktikum melalui jaringan online,
padahal di dunia nyata atau pekerjaan tidak bisa dikerjakan secara remote
(sistem kerja yang dilakukan jarak jauh)," ucap pria asal Pamekasan
itu.
Rakhmawati selaku Dosen Satuan
Operasi dan Mesin & Peralatan Industri Fakultas Pertanian menanggapi
terkait survei, dirinya mengungkapkan bahwa jika mahasiswa lebih suka dan ingin
melakukan pembelajaran luring karena
mereka belum terbiasa.
"Itu style ya,
selama awalnya kita sudah melakukan pembelajaran secara luring karena itu sudah menjadi sebuah kebiasaan, jadi
agak sulit untuk mengubah ke online, perlu step by step dan ada
penyesuaian. Tapi kalau sistem daring memang
harus diberlakukan karena corona virus, mau tidak mau kebiasaan itu
harus kita lakukan," tanggapnya.
Rakhmawati berharap bisa
meminimalisasi kendala selama perkuliahan daring terus berlangsung, mengingat vaksin corona
masih dilakukan secara bertahap.
”Melihat dari data secara
global di negara luar maupun di dalam negeri dampak dari pandemi ini sepertinya
belum ada kejelasan. 2021 ini katanya masih bertahap untuk vaksinasinya setiap
orang. Kalau seperti itu, berarti sistem daring tetap jalan dan praktikum daring terus ada. Meskipun
adanya kendala saya berharap bisa meminimalisir kendala yang ada di
mahasiswanya seperti minimnya alat – alat untuk praktikum dengan peralatan yang
seadanya di rumah,” imbuhnya.
Rakhmawati pun juga menyampaikan
bahwa mahasiswa sebaiknya bisa menyesuaikan dengan sistem yang ada, termasuk
perkuliahan secara daring.
”Untuk harapan seluruh
mahasiswa baik itu yang sosial dan eksak mereka tetap belajar sistem yang luring dan daring, mereka harus bisa beradaptasi
pada kegitan yang berbau daring,” jelas wanita asal Sampang itu.
(Lin/Uya)

